Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Yang sebenarnya


__ADS_3

"KAK ANSELL?!" teriak Tata kaget.


"Kau tahu namaku?" Ansell menaikkan sebelah alisnya. Senyum miring terbit dari bibirnya. "Baguslah! kau tahu nama orang yang akan membunuhmu." Ucap Ansell dengan kekehan seramnya.


Tata terdiam di tempatnya. Tidak menyangka bahwa senior di sekolahnya ternyata adalah seorang pembunuh. Tata menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia sudah di pojokan oleh Ansell.


"Hendak mencari jalan keluar, baby?"


Baby palamu! Mungkin itu yang akan di katakan Tata jika situasinya saat ini, tidaklah menyeramkan.


Ansell mengangkat tangannya yang memegang pisau. Tata menahan nafas, saat pisau itu mendekat ke pipinya. Sebuah ringisan terdengar, saat pisau Ansell menggores pipi Tata.


Ansell menyeringai pelan.


Tringg


Tringg


Suara deringan telpon menghentikan aktivitas Ansell, membuat Tata menghela nafas lega. Laki-laki itu berdecak sebal.


"Tunggu di sini! Jangan kabur." Peringat Ansell lalu menancapkan pisaunya ke pohon. Tepatnya di samping kepala Tata.


Tata menatap takut-takut pisau itu.


"Ada apa?" tanya Ansell pada si penelpon yang mengganggu aktivitasnya.


"....."


"Ayolah! Aku juga ingin berburu!"


Tata yang hendak melarikan diri, terhenti mendengar ucapan Ansell. Gadis itu melirik kecil punggung Ansell. Berburu kata lo? Maksudnya berburu Manusia?


"Aku juga berburu karna Diangela belakangan ini tidak memberiku mayat untuk ku kuliti dan ku cabik-cabik! Padahal kan dia psikopat gila!"


Degh!


Tata lagi-lagi menghentikan langkahnya. Jantungnya terasa mau copot saat mendengar perkataan Ansell. Mau tidak mau ia harus mengakui kalau Diangela juga adalah seorang pembunuh.


Kak Dian psikopat?


Nama Stella langsung terbersit di pikiran Tata. Stella adalah pacar Diangela, dan Diangela adalah seorang psikopat! Ada kemungkinan Stella dalam bahaya bukan?


Gue harus segera ngasih tahu Stella!


Ucap Tata dalam hati.


"Sejak dia pacaran, dia jadi nggak bawa mayat lagi ke rumah!"


Tata masih diam di tempatnya dengan sikap waspada. Gadis itu segera mencabut pisau yang tertancap di pohon, untuk jaga-jaga jikalau hal yang tidak di inginkan terjadi.

__ADS_1


Tata berjalan mundur dengan pelan, lalu setelah agak jauh dia berbalik.


"APA?!"


Teriakan Ansell menghentikan pergerakan Tata. Gadis itu hampir saja mengumpat karna terkejut, jikalau ia tidak segera membekap mulutnya.


"Diangela tidak akan membunuh orang, sampai dia berhasil membunuh Stella?"


Degh!


Tata membelalakan matanya. Ia tercekat. Gadis itu tanpa sengaja, menjatuhkan pisau di tangan kanannya. Tanpa di komando, tangannya bergetar. Kakinya terasa seperti jeli, dan hampir membuatnya jatuh jika saja Tata tidak mempertahankan pijakannya.


Bunuh? Stella? Oleh kak Dian?


Tata mengerjap-ngerjapkan matanya. Jantungnya kembali berdetak kencang, dan nafasnya mulai tidak beraturan. Rasa cemas, takut, dan gelisah bercampur aduk dalm dirinya saat ini mengetahui Diangela ingin membunuh Stella.


"Siapa di sana?" tanya Ansell saat mendengar sesuatu yang jatuh. Laki-laki itu mematikan sambungan telponnya, lalu melangkah mendekat pada sumber suara.


Tata memejamkan kedua matanya sambil merutuki dirinya sendiri.


Anj1rr! Gue belum lari lagi!


Tata menggigit bibir bawahnya, ia menunduk lalu menatap pisau yang tergelatak di samping kakinya. Tanpa pikir panjang, Tata mengambil pisau itu.


Setelah membulatkan tekadnya, Tata berbalik lalu menodongkan pisau itu ke arah Ansell yang sudah ada di depannya beberapa meter jauhnya..


Kecemasan melanda Tata. Keringat  dingin yang bercucuran dari pelipisnya lebih banyak dari tadi. Dengan ketakutan yang teramat besar, ia menunggu perkataan Ansell selanjutnya.


Semoga kak Ansell nggak ngomong kata bunuh itu lagi! Semoga kak Ansell nggak ngomong kata bunuh itu lagi! Tata terus merapalkan itu beberapa kali di dalam hatinya, sambil memejamkan matanya.


"Siapa?"


Tata membukan matanya. "Hah?" tanyanya bingung.


Di tempatnya Ansell menggaruk tengkuknya, sambil memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. "Emmm. Kau siapa?"


"Hah?" Tata mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Apa ia tidak salah dengar? "Mak-maksudnya?"


"Kau siapa? Kenapa ada di sini? Dan....." Ansell menunjuk pisau yang di pegang oleh kedua tangan tata. "Kenapa kau menodongkan pisau itu padaku?"


Tata mengernyit bingung. Ada apa ini? Kak Ansell kok tiba-tiba jadi lupa? Apa jangan-jangan ini permainannya lagi?!


"Jangan-jangan kau pembunuh, dan sekarang kau mau membunuhku?" tanya Ansell terkejut.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Tata melongo kaget. Bukannya Ansell yang pembunuh, ya?


WHATT THE???!!!!! Pembunuh pala mu! Bahkan dengan kuda-kuda yang kek gini, gue yakin gue nggak bakalan bisa bunuh kelinci! Apalagi bunuh pembunuh asli, lagi!


"Jangan pura-pura nggak tahu! Dasar pembunuh!" maki Tata dengan takut-takut.

__ADS_1


Ansell melangkah maju membuat Tata ikut melangkah mundur.


"Berhenti di sana!" Tata ikut melangkah mundur. "Jangan maju atau gue akan nusuk lo!" ancamnya dengan suara yang tidak meyakinkan. "Stop it!" teriak Tata panik.


Saat Ansell sudah dekat dengan Tata, gadis itu memejamkan mata lalu mengayunkan pisaunya ke arah Ansell. Tapi sepertinya pergerakannya di tahan oleh Ansell.


"Pipimu kenapa berdarah?" Tata segera membuka kedua matanya. Ia melotot kaget saat wajah Ansell dekat sekali dengan wajahnya. Bisa gadis itu rasakan, Ansell menyentuh lukanya dengan lembut.


Walaupun menyentuhnya dengan lembut, tapi itu tetap saja terasa sakit hingga membuat Tata meringis pelan.


"Eh, apa sakit?" tanyanya membuat Tata semakin bingung dengan situasi saat ini. Laki-laki ini pura-pura bodoh atau hanya untuk mempermainkan dirinya saja?!


Tata segera mendorong Ansell lalu berlari dari sana. Melihat Tata yang berlari, Ansell hanya bisa mengernyit. Setelah Tata hilang dari pandangannya, laki-laki itu mengedikan bahunya lalu beranjak pergi dari sana.


•••


"STELLA!!!!" teriak Tata menyolonong masuk ke rumah Stella. Gadis itu tanpa permisi langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya di sana sambil berusaha menetralkan nafasnya yang tidak beraturan.


Stella muncul dari dapur. Ia kebingungan sendiri melihat Tata yang ngos-ngosan.


"Ada apa?" tanya Stella lalu ikut duduk di sebelah Tata. Gadis itu meletakan cangkir berisi coklat panasnya ke meja.


Tata menolehkan wajah pada Stella. "Gawat La!!" ucap nya. "Ad hah da hah be hah rita hah," ujarnya tak jelas karna nafasnya masih tak beraturan.


Stella menaikan sebelah alisnya.


Tata melirik cangkir yang terletak di meja. Gadis itu segera saja mengambil cangkir itu.


"Eh, eh itu masih pa-"


Tata melotot saat merasakan lidahnya tersengat oleh rasa panas. "Brushh. Ahhhh! Hanas, hanas." Tata menjulurkan lidahnya lalu mengipasinya dengan tangannya.


Stella berdecak. "Main ambil aja sih! Jadinya kena karma tuh!"


Tata memasang wajah cemberut mendengar itu. Setelah di rasa lidahnya sudah membaik, Tata kembali memasukan lidahnya ke mulutnya.


"Kenapa ngos-ngosan?" tanya Stella ikut bersandar ke punggung sofa.


"Oh, iya!" Tata mendekat pada Stella. "La! Lo udah beneran jatuh cinta sama kak Dian?" tanyanya dengan mimik wajah serius.


Stella melirik kecil Tata. Gadis itu merapatkan bibirnya, lalu tersenyum malu-malu saat mengingat hadiah ulang tahun yang di berikan oleh Diangela. "Emmmmm, kayaknya." Ucapnya pelan.


Tata menepuk jidatnya, sambil menghela nafas. "Mending lo putusin kak Dian sekarang!"


Stella menoleh kaget. Ia hendak membantah, tapi di urungkan saat melihat raut wajah Tata yang serius. "Emmm, kenapa harus putus?" tanyanya.


Tata memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang ia lalu membuangnya perlahan. Tata kembali mendekat pada Stella.


"Kak Dian itu psikopat!"

__ADS_1


__ADS_2