Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Kubunuh tidak ya?


__ADS_3

"*****!!!! Seriusan lo!" Tata menggebrak meja kelas dengan keras. Membuat semua pasang mata menoleh sinis pada mereka.


"Ish!! Tata! Liptint gue jadi belepotan, kan!" gerutu seorang gadis sambil bercermin. Ia berusaha menghapus liptintnya yang belepotan hingga ke pipi, akibat suara cempreng Tata yang mengejutkannya.


Tata meringis pelan. "Maaf-maaf. Nanti gue beliin liptint Dior deh, yang mau lo beli itu."


Gadis bernama Jane itu menoleh antusias, "janji ya. Beliinnya yang Dior Addict Lip Tatto ya!"


Tata mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Besok dah, langsung gue bawain."


Di tempatnya Jane memekik senang. Semua murid kelas lantas ikut-ikutan protes.


"Tata, teriakan lo bikin gue jantungan tahu! Gue punya penyakit jantung. Nanti beliin gue sepatu Dior ya."


"Eh, ini gue lagi nulis, kecoret gara-gara teriakan lo. Nanti beliin kaos Gucci, ya."


"Gue lagi ngobrol, kepotong sama teriakan lo. Istirahat beliin gue rokok."


Tata memberengut kesal, "punya penyakit jantung apaan! Gue tahu, lo nggak punya penyakit jantung! Eh, Adi. Lo lagi. Sejak kapan lo mau nulis? Bawa tas aja enggak! Di kira kaos Gucci murah apa! Dan buat lo. Gue beliin dah sebatang!" ucap Tata membuat ketiga laki-laki yang meyuarakan protes tadi kompak mendengus.


Stella menarik lengan Tata untuk duduk. "Udah ih! Aku mau lanjutin ceritanya."


"Oh, iya." Tata langsung kembali duduk. "Sampai di mana tadi?"


"Sampai di aku masuk rumah deket sekolah dan kepergok sama laki-laki serem tapi ganteng."


Tata mengangguk-ngangguk hingga akhirnya melebarkan mata, dan hendak berteriak kaget lagi, jika bukan karna Stella membekap mulutnya.


Stella meletakan jari telunjuknya di bibir mungilnya, "ssttt. Jangan teriak. Nanti di marahin lagi sama murid lain."


Tata mengangguk pelan. Gadis itu melepas bekapan Stella. "Coba sebutin ciri-cirinya."


Stella mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke dagu. "Emmm, kalau nggak salah, rambutnya jabrik. Alisnya tebel, sama tatapan matanya yang tajem! Serem deh, pokoknya. Dia juga aneh! Masa dia bilang aku harus bilang makasih sama dia, karna aku nggak jadi mangsanya dia."


Tata melebarkan matanya. "Aduhh, Stella sayang!!!! Lo tahu nggak siapa dia?" tanyanya dengan ekspresi takut.


Stella menggeleng polos. "Emang siapa?"


Tata mengusap wajahnya, ia memijat pelan pangkal hidungnya. "Dia itu Diangela. Orang paling di takuti sama di hindari oleh se-antero sekolah. Catet! Se-antero sekolah. Julukannya juga devil prince."


Dengan polos Stella mencatat itu di buku tulis yang sedari tadi sudah tergeletak di meja.


"Napa di tulis dodol!" Tata menggeram sebal.

__ADS_1


Stella lantas mendongak lalu mengernyitkan dahi bingung. "Katanya suruh catet!"


"Catet di otak sayang! Di otak!" Tata menunjuk-nunjuk dahinya.


"Ohh. Terus kalau si Diangela-diangela itu, orang yang paling di takuti di sekolah ini, kenapa emangnya?"


"Kenapa?" Tata memasang wajah geram, marah, bercampul kesal akan kepolosan temannya itu. "Kenapa lo bilang?! Lo nggak tahu aja dia it—" ucapan Tata berhenti karna suara bariton seseorang yang langsung membuat suasana kelas menjadi hening.


"Ada yang namanya Auristella?" Tanya Diangela di tengah-tengah kelas.


"Aku." Tanpa rasa takut, Stella mengacungkan tangan tinggi-tinggi.


Semua murid di kelas XI IPA 2 itu menahan nafas.


Tata menoleh sebal. Ia mencubit pelan paha gadis polos itu. Ia menatap was-was pada Diangela yang berjalan mendekati bangku mereka.


Setelah sampai, Diangela mengeluarkan sesuatu di saku celananya.


"Nih, name tag lo ketinggalan." Diangela melempar name tag milik Stella ke meja.


Semua orang hampir berseru kaget.


Stella mengambil name tag itu, "makasih." Diangela mengangguk kemudian berbalik hendak berjalan. Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar gumaman Stella.


"Lo bilang apa?" Tanya Diangela tajam.


"Yang barusan."


Tata melotot lalu menggelengkan kepalanya panik, mengisyaratkan pada Stella, bahwa ia tidak boleh memberitahukan gumamannya.


Tapi pada dasarnya Stella itu polos. Ia malah memberitahukannya. "Oh, itu. Aku bilang orang yang di juluki devil prince sama di takuti se-antero sekolah, kemarin malah diem waktu di keroyok preman." ucap Stella membuat semua murid di kelas menoleh dan melotot.


Mereka tidak menyangka Stella seberani itu.


Stella menepuk dahinya, "oh ya satu lagi. Situ pernah bilang kalau aku nggak punya attitude, nggak ngaca? Lihat baju yang kamu pakek. Ke sekolah tapi pakek baju bebas." semua murid menganga sempurna, seolah rahang mereka akan terjatuh.


Tata di tempatnya meringis pelan.


Diangela? Jangan di tanya. Bahu laki-laki itu naik turun menahan amarahnya. Berani sekali seonggok kotoran ini bicara begitu padanya. Karna dia membiarkan sikapnya kemarin, bukan berarti dia akan mengabaikannya dan berdiam diri saja harga dirinya di lukai hari ini.


"Nunduk kalau kalian nggak mau kena." perintah Diangela pada murid-murid yang duduknya di depan Stella. Mereka sontak saja menunduk.


Diangela mengambil pisau di sakunya lalu melemparkan itu ke meja Stella, tepat di depannya.

__ADS_1


"Peringatan buat lo. Gue kemarin bisa aja habisin lo sama preman-preman sial*n itu, pakai pisau itu." Diangela berucap dingin. "Dan lagi, gue ke sini bukan buat belajar. Setelah ini gue juga bakal balik."


"Asal lo tahu. Lo satu-satunya orang yang selamat, setelah masuk gitu aja ke territory gue." saat sedang marah, Diangela mengubah ucapannya menjadi Lo-Gue. Ia menggunakannya saat marah besar saja! Catat! Berarti Stella berhasil membuat Diangela marah besar.


Semua murid di kelas lagi-lagi di buat terkejut dengan satu fakta itu. Mereka jelas tahu apa yang di maksud dengan perkataan Diangela. Memang benar, setiap ada orang yang dengan sembarang masuk ke territory laki-laki itu, semuanya pasti masuk UGD.


Baik itu laki-laki atau perempuan. Dan Stella sangat beruntung karna tidak di hajar oleh laki-laki itu.


Stella di tempatnya mematung. Ia menatap punggung Diangela yang telah berlalu dengan kesal. Gadis itu sama sekali tidak terkejut dengan lemparan pisau itu. Entah kenapa, dia juga tidak tahu.


"*****!!! Nggak bisa nafas gue." Tata berucap dengan nafas terengah-engah.


Semua orang di kelas menatap Stella dengan pandangan sinis. Mereka saling berbisik-bisik dengan teman sebangkunya.


Yang pastinya setelah kejadian itu, orang-orang akan menjauhi Stella. Tidak mau terkena imbas oleh Diangela, karna mendekatinya.


•••


"Cih! Kau manis juga jika sedang tidur." Diangela memandang Stella yang tengah tidur menghadap ke balkon.


Diangela saat ini sedang berjongkok di pegangan balkon kamar Stella tanpa rasa takut sekalipun. Tangan kanannya memegang setangkai bunga Mawar merah.


Laki-laki itu turun dari pegangan balkon. Bunga Mawar di tangannya di pindahkan ke mulutnya. Ia mengapit bunga itu.


Ia berusaha membuka pintu balkon, tapi di sayangnya itu di kunci. Ia pun mencoba membuka jendela, dan berhasil. Itu tidak di kunci.


Diangela pun melompat masuk ke kamar Stella, masih dengan mulutnya yang mengapit bunga Mawar. Ekor matanya memindai ruangan itu.


Kekehan sinis meluncur dari bibirnya ketika ia menyadari, semua barang di sini berhubungan dengan Domba.


Diangela berjalan menuju ranjang yang di tiduri Stella. Ia lalu duduk di tepi ranjang.


Tangannya mengambil bunga Mawar di mulutnya. Ia lalu mengelus pipi bulat Stella dengan kelopak bunga itu.


"Auristella, yang artinya bintang emas. Cukup bagus juga." tatapan laki-laki itu turun ke boneka Domba yang di peluk Stella. "Kau suka  Domba? Kalau begitu aku akan memanggilmu Little Sheep."


"Baiklah!" Diangela menghela nafas panjang. "Jadi, Little Sheep pemberani ini kubunuh atau tidak ya?"


Diangela mencabut kelopak bunga Mawar satu persatu sembari menggumamkan sesuatu. "Kubunuh atau tidak. Kubunuh atau tidak. Kubunuh atau tidak."


"Tidak." Diangela menukikan kedua alis tebalnya, ketika kelopak bunga Mawar yang di cabutnya tadi adalah yang terakhir. "Kubunuh!" ucapnya mengacungkan tangkai bunga Mawar itu, lalu membuangnya asal.


Diangela kembali menatap Stella. Tangannya terulur lalu mengusap lembut hidung mancungnya.

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu. Tapi dengan cara yang berbeda. Pertama, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kedua, aku akan membunuh mu. Ketiga, aku akan memberikan mayatmu pada Ansell untuk ia kuliti. Dan Keempat, jari dan bola matamu akan tersimpan di toples dengan pengawet, untuk koleksi Jazztin."


Diangela menyeringai pelan. "Rencana yang bagus bukan? Little Sheep."


__ADS_2