
Diangela duduk di sofa dekat jendela kamarnya, memandang keluar sambil menyesap kopi. Kebiasaanya setiap malam.
Tapi kali ini, laki-laki itu memandang Laptop di pangkuannya. Layar Laptop itu menunjukan balkon kamar Stella. Itu adalah rekaman CCTV, yang ia pasang untuk berjaga-jaga jika dugannya benar.
Matanya menyipit ketika melihat seseorang berhoodie hitam, tengah berusaha naik ke balkon kamar Stella. Penampilannya persis seperti laki-laki yang waktu itu pernah menabrak dirinya.
Diangela sontak berdiri ketika melihat orang itu membawa pisau. Ia lantas melempar Laptop itu ke sembarang arah lalu meraih jaket dan kuncinya lalu berlari keluar.
"Woy, Diangela sial*n! Jangan mengotori lantai seenaknya!" Teriak Jazztin pada Diangela yang berlari di lantai yang masih basah. Laki-laki itu sedang mengepel lantai ruang tamu.
Diangela menghiraukan teriakkan Jazztin, ia segera berlari menuju motornya yang sudah terparkir di depan mansion. Untungnya ia belum memasukannya ke basement.
Ketika sudah sampai, ia buru-buru naik dan menjalankannya dengan kecepatan penuh menuju rumah Stella.
Setelah sampai di depan gerbang rumah Stella, Diangela langsung turun dari motornya tanpa memarkirkannya terlebih dahulu hingga membuat motornya jatuh. Laki-laki itu dengan gesit memanjat gerbang rumah Stella yang memang tinggi.
Ia lalu memanjat pohon mangga dan meloncat ke balkon. Terlihat jendela kamar sudah terbuka. Tanpa ba-bi-bu, Diangela langsung masuk ke kamar dengan posisi siaga. Ia menggenggam erat pisau lipat di saku jaketnya.
Kedua matanya terus memindai ruangan itu dengan waspada. Diangela mengernyit ketika tidak melihat ada orang lain, seperti di CCTV.
Laki-laki itu langsung menoleh pada Stella dan menghela nafas lega melihat gadis itu baik-baik saja.
"Tunggu! Kenapa aku mengkhawatirkan gadis ini?" tanya Diangela menyadari hal itu. "Ah, iya. Aku pasti menkhawatirkannya karna tidak mau mangsaku di bunuh orang lain! Ya! Pasti aku mengkwatirkannya karna itu. Hanya itu! Tidak ada yang lain." Ucapnya.
Diangela menoleh pada Stella, lalu berjalan menuju ranjang, dan duduk di tepinya. Ia memperhatikan wajah Stella dengan intens. Wajahnya selalu mengingatkannya pada seseorang.
"Sial*n!" umpat Diangela ketika lagi-lagi wajah seorang gadis terlintas di benaknya, setiap melihat wajah Stella. Laki-laki itu langsung keluar dari kamar, menutup pintu jendela dan meloncat ke dahan pohon mangga.
__ADS_1
"Oh, jadi kau yang selalu keluar masuk ke kamar putriku?" Diangela langsung mengalihkan pandangannya pada seorang wanita paruh baya, yang berada di bawah pohon. Laki-laki itu langsung melompat ke bawah, membuatnya berhadapan langsung dengan Zanna.
"Putri? Bahkan kau belum pernah menikah." Ucap Diangela membuat Zanna terkejut.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa tahu itu?" tanya Zanna. Wanita itu memasang posisi waspada.
"Biar ku beritahukan satu hal. Pertama, aku ini bukan laki-laki yang selalu keluar masuk ke kamar Stella. Aku ke sini karna, melihat dari CCTV yang aku pasang ada laki-laki yang membawa pisau masuk ke kamar Stella. Aku ke sini hanya untuk memastikan keadaannya."
Zanna menyipitkan matanya. "Dan itu kau! Kau juga membawa pisau."
Diangela menaikan sebelah alisnya. "Tidak aku sangka ternyata kau ini pintar. Kau bahkan tahu aku menyembunyikan pisau di saku jaketku." Diangela mengeluarkan pisau lipatnya. "Aku membawa ini untuk berjaga-jaga, jika nanti aku terlibat pertarungan dengan orang yang masuk ke kamar Stella."
"Memangnya kau punya bukti apa?" tanya Zanna. "Untuk apa kau susa-susah melindungi Stella. Bahkan kau tidak mengenalnya, kan?"
"Aku bisa membuktikannya lewat CCTV yang aku pasang, di sini."
"Aku memasangnya untuk berjaga-jaga. Karna sepertinya Stella sedang di ikuti oleh seseorang. Dan satu hal lagi, aku ini mengenal baik putrimu. Aku satu sekolah dengannya dan aku ini kekasih Stella." Jelas Diangela lalu bersandar di pohon mangga sambil bersedekap. Laki-laki itu terlihat santai, walau sudah di pergok oleh Zanna.
Zanna mengernyit. "Kekasih? Mana mungkin!"
"Kalau tidak percaya, tanya saja pada Stella besok." Diangela mengedikan bahunya. "Aku ini berusaha melindungi Stella." Laki-laki itu memainkan pisau lipatnya.
"Jika kau masih tidak percaya aku ini kekasihnya Stella, aku akan membuktikannya. Pertama, Stella suka Cheesee cake. Kedua, Stella suka hal-hal yang berhubungan dengan Domba. Ketiga, dia tidak pernah ke Mall. Keempat, dia tidak punya handphone. Dan kelima, dia tidak ingat masa kecilnya."
"Bisa saja kau menyuruh orang untuk mencari informasi tentang putriku."
"Ya. aku memang menyuruh orang untuk mencari tahu itu. Tapi untuk poin ketiga dan kelima, Stella sendiri yang memberitahukannya padaku." Diangela memasukan pisau lipatnya ke saku, lalu berjalan mendekat pada Zanna.
__ADS_1
"Yang paling penting, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu." Ucap Diangela.
Zanna masih memasang sikap waspada. "Apa?!"
"Siapa kau sebenarnya?"
Zanna menaikan sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"
"Siapa kau sebenarnya? Data mu itu di kunci. Bahkan hacker terbaik di Itali saja, hanya bisa mendapat satu informasi tentang dirimu. Kenapa data orang biasa sepertimu bisa di kunci dengan begitu ketat?" Diangela menyipitkan matanya.
"Kenapa kau begitu ingin tahu tentang diriku dan Stella?" tanya Zanna.
"Oh, ya. Data ayah kandungnya Stella juga di kunci sangat ketat. Bahkan satu informasi pun tidak bisa ku dapatkan. Dan siapa ibu kandung Stella yang sebenarnya?"
Zanna menghela nafas.
"Kenapa kau juga selalu berpindah-pindah. Dulu kau ini pernah tinggal di mana? Kenapa Stella tidak masuk sekolah TK,SD, SMP, di semua sekolah Indonesia. Jika kau ini memang dari luar negri, kenapa tidak ada catatan kalau kau dan Stella ini warga imigran?" Diangela kembali melontarkan berbagai pertanyaan.
"Baiklah kalau begitu! Aku juga ingin bertanya padamu. Kenapa, kau ingin tahu hal itu?" tanya Zanna.
Diangela mundur lalu kembali bersandar di pohon mangga. Laki-laki itu mengeluarkan Yoyo dan memainkannya. "Sudah kubilang, kan! Stella itu kekasihku. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya."
"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu?" Zanna bertanya sambil menatap tajam pada Diangela.
"Terserah. Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Intinya aku hanya ingin melindungi Stella." Sebagai mangsaku. lanjut Diangela dalam hati.
Zanna menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi aku akan memberitahumu satu hal. Ayahnya Stella itu adalah seoarang ilmuwan dan mafia."
__ADS_1