Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Duo setan


__ADS_3

Matahari mulai naik. Panasnya yang tadi terasa hangat, kini mulai terasa menyengat di kulit Stella. Bahkan kini keringat mulai keluar melalui pori-pori tubuhnya. Saat ini ia sedang duduk di kursi taman. Sendirian. Tata pergi untuk membeli minum, dan Diangela yang menghilang entah kemana.


Kedua tangannya ia gunakan untuk mengibas-ngibas, ke area tubuhnya yang kepanasan. Yaitu wajahnya. Gerakan tangannya lantas berhenti ketika netra birunya menangkap dua bocah kecil, berjalan ke arahnya dengan muka pongah khasnya.


Yup! Itu adalah Ethan dan Erlan. Perasaan Stella semakin tidak enak, kala jarak kedua bocah itu sudah dekat dengannya.


Aishh!!! Tu bocah kenapa ke sini lagi!  Batin Stella jengah dengan wajahnya yang ia hadapkan ke arah berlawanan dari Ethan dan Erlan.


"Hello!" sapa keduanya begitu sudah sampai tepat di depan Stella.


Stella terdiam. Tidak membalas sapaan itu, dan berlagak seolah tidak mendengarnya. Ekspresi cueknya sebisa mungkin ia tunjukan. Stella sudah mempunyai firasat kalau kedua bocah ini pasti akan menghancurkan moodnya.


Ethan dan Erlan di tempatnya saling melemparkan tatapan bingung, dengan sebelah alisnya yang terangkat. Ethan maju satu langkah, lalu ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Stella.


Karna merasa risih, Stella menepis tangan mungil Ethan. "Apaan sih?!" gerutunya sambil memberengut kesal.


"Kirain jadi patung!" celetuk Erlan lalu bersedekap.


"Patung matamu!" dumal Stella dengan sengaja menunjukan ekspresi  risihnya agar duo kembar ini segera pergi.


"Aduh!!! Nggak baik lo marah-marah! Nanti cepat tua." Ethan dengan sok-sokan memberikan wejangan tak berguna pada Stella dengan wajah jumawanya.


Stella hanya bisa mendengus. "Mau ngapain sih?! Kak Ian sama Aiden kemana?" tanya Stella masih dengan nada ketus.


"Ekhem!!" Ethan dan Erlan kompak berdekhem. "Kami ingin kau menjadi anjing kami!" ucap keduanya tanpa beban dengan senyuman lebar.


Stella sontak melebarkan matanya sambil mengernyit pelan. "Hah? Anjing?" tanpa bisa di tahan Stella terkesiap kaget! Berani-beraninya bocah ini mau dirinya menjadi anjing mereka? Huh! Mereka tidak pernah merasakan di pukul oleh bidadari ya?


"Anjing matamu!!!!!! Jadi kenalan kalian saja ogah!!" tolak Stella mentah-mentah sambil memutar kedua bola matanya.


Ethan maju lalu duduk di samping Stella. "Kau yakin?" tanyanya setelah menopang kepalanya. Sedangkan Erlan masih di tempatnya, menatap Stella dengan matanya yang sengaja di sipitkan.


"Tentu saja yakin! Kenapa harus di tanya lagi!" gerutu Stella lalu mengembungkan pipinya.


"Hah!" Erlan menghela nafas panjang seolah ia punya beban besar. Tangannya yang bersedekap ia turunkan lalu ia masukan ke saku celananya. "Kau tau tidak keuntungan menjadi anjing kita?"


Stella mendelik. "Apa? Dapat pakaian bagus, makanan dan kalung anjing? Kalau yang seperti itu aku juga punya tahu!!!!" kata Stella nyolot.


Ethan berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ish, ish!!! Bukan hanya itu saja tahu!!"


Stella menoleh kesal pada Ethan. "Terus apa?!" tanya dengan geraman tertahan. Tanpa Stella sadari, kedua alisnya mencuram tajam dan rahangnya mengeras. Entahlah! Kadang Stella juga tidak menyadari kalau ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi marah. Padahal ia sudah menahan sekuat tenaga.


Mungkin karna saat ini kadar kejengkelannya mencapai limit akibat ocehan kembara-kembar setan ini.


Erlan ikut duduk di samping Ethan. "Sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa bersatu tanpa restu keluarga."


Stella memalingkan wajahnya ke samping dengan wajah kesal. Ini anak ngoceh apa sih?!


Ethan menjentikkan jarinya. "Betul itu!! Kau tahukan kalau ayah kami tidak suka padamu!"


Stella memutar kedua bola matanya. Dengan senyum miring ia kembali menoleh pada Ethan dan Erlan. "To the point bisa?" seulas senyum Stella tunjukan dengan paksa.


"Ck! Ck! Kau ini bodoh ya?"


Stella menganga. "B-bodoh?"


Erlan mengangguk dengan kedua matanya yang terpejam. "Diangela dan kau ini sepasang kekasih, kan?"


Stella terdiam sebentar. Merasa bingung kenapa Erlan menanyakan hal yang sudah jelas? "Tentu saja! Kalian juga sudah tahu kan?" balasnya.


"Tapi hubungan kalian tidak akan berjalan mulus tanpa restu keluarga bukan?" Ethan menaik-naikan kedua alisnya.


Stella menyipitkan matanya. "Maksudnya?"


Ethan dan Erlan menepuk dahinya. "Kau ini bodoh atau apa?" sahut keduanya gemas.


Erlan menilik Stella dari ujung kaki hingga kepalanya tanpa terlewat. "Tubuhmu, tubuh orang dewasa. Tapi pikiranmu masih bodoh!" sarkasnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Stella mengerjap tak percaya. Rahangnya turun ke bawah seolah akan lepas. "Kalia-"

__ADS_1


"Itu artinya kau harus mencari sekutu untuk membantumu agar mendapat restu." ucap Ethan menginterupsi perkataan Stella.


"Iya!!! Bukankah kami adalah sekutu yang tepat? Kami bisa membujuk ayah agar merestui hubungan kalian!!" timpal Erlan.


Stella berdiri lalu berkacak pinggang. Ia menatap sengit pada Ethan dan Erlan yang masih menunjukan wajah santai nya. "Nggak. Mau!!!!" tegas Stella dengan penekanan di setiap katanya.


Ethan dan Erlan menghela nafas panjang seraya berdecak pelan.


"Kau tidak tahu dampak dari menolak kami ya?" tanya Ethan.


Stella mencebikkan bibir seraya memalingkan wajah dengan kedua tangannya yang di lipat di dada. "Tidak ada dampaknya juga tahu!"


"Baiklah! Kau tidak akan mendapatkan sekutu. Itu artinya kau juga tidak akan mendapat restu! Jika kau tidak mendapat restu, kau tidak akan bisa menjalin kasih dengan Diangela!" ucap Ethan dengan nada jumawa. Berharap dengan perkataannya dapat membuat Stella bertekuk lutut.


Stella melirik kecil Ethan lalu kembali menelengkan matanya ke samping sambil mencebikan bibir. "Menjalin kasih apanya! Orang cuma aku doang yanh suka sama kak Ian." Gumamnya agak kesal ketika menyadari satu fakta yang menohoknya itu.


"Hah? Hanya kau yang suka sama Diangela?" tanya Erlan tak percaya saat tak sengaja perkataan Stella tertangkap oleh indra pendengarannya.


Stella menoleh kaget. "K-kapan aku bilang begitu?" elak Stella berusaha tak terlihat bohong.


Ethan terdiam. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ujung bibirnya terasa berkedut. Perlahan namun pasti kedua ujung bibirnya ini tertarik ke atas, dan.... "Hahahaha hahahahahaha!!!! Ini sangat lucu bukan?" tawa membahana terdengar.


"Tentu saja dia- hahahahahahah. Cintanya bertepuk sebelah tangan! Hahahaha!" Erlan yang tadinya juga menampilkan raut wajah terkejut, langsung ikut terbahak sambil memukul-mukul kursi taman itu.


"Kasihan sekali kau!" ucap Ethan di sela-sela kesibukannya yang sedang tertawa.


Stella menatap kesal pada Ethan dan Erlan. Dasar duo setan!! Makinya dalam hati.


"Kau sudah jadi sad girl di usia semuda ini!!! Hahahahaha! Bahkan aku lebih kasihan padamu di bandingkan pada para pengemis!" ucap Erlan di sela-sela tawanya.


Stella menurunkan tangannya lalu menghentikan kaki kesal. Netra birunya menatap tajam Ethan dan Erlan. "Sad girl apanya? Aku nggak sad kok!!!" sanggahnya mulai kehabisan kesabaran.


"Dan lagi!! Sejak kapan psikopat punya simpati sampai-sampai simpati pada seorang pengemis!" lanjut Stella, berusaha menohok Ethan dan Erlan dengan perkataannya barusan.


Ethan mendongak menatap Stella setelah tawanya terhenti. Tapi kemudian ia kembali tertawa. "Hahahaha- itulah kenapa kami menyebutmu bodo- tidak! Kami seharusnya menyebutmu tidak punya otak!"


"Tidak punya otak? Itu bukannya kalian ya?" delik Stella.


Ethan sontak berdiri. "Tunggu! Yang paling membuatku heran adalah, kenapa Diangela menyetujui hubungan ini? Di lihat dari sifat maniaknya untuk membunuh, mana mungkin ia mau jadi kekasih dari perempuan ini?"


"Iya juga ya? Padahal dia selalu menganggap manusia lain sebagai kotoran saja!" timpal Erlan ikut terheran-heran.


"Oh begitu! Berarti Diangela menganggap kalian kotoran dong? Hahaha!" Stella tertawa meremehkan.


Erlan berdecak. "Ck! Tentu saja tidak! Dia menganggap manusia kotoran hanya pada orang yang pantas saja!"


"Ah, aku tidak mengerti maksud kalian! Kenapa tidak katakan intinya saja!" ucap Stella mulai jengah.


"Aku bertanya dulu padamu! Kenapa Diangela menyetujui hubungan ini?" selidik Erthan.


Stella terdiam. Selama beberapa detik keheningan terjadi, sebelum suara helaan nafas panjang Stella terdengar. "Itu karna aku yang memintanya." balasnya berusaha agar matanya tak bertubrukan dengan mata hitam legam Ethan dan Erlan.


"Emmm. Kak Ian menjadikan ku kekasih hanya untuk di bunuhnya! Katanya dia ingin melihat ekspresi orang yang dibunuh oleh orang yang di cintainya sendiri! Tapi aku keburu tahu kalau kak Ian itu psikopat! Karna nggak mau hubungan kita berakhir, akhirnya kau ngajuin permintaan!" lanjutnya.


"Permintaan?" Ethan mengusap-ngusap dagunya. Bocah itu kemudian menumpukan kaki kirinya ke kaki kanannya. "Berdasarkan watak Diangela, dia tidak akan menuruti permintaan siapapun bahkan keluarganya sendiri!"


"Emmm. Pokoknya kak Ian nggak bisa menolak permintaan ku! Ceritanya panjang!"


"Ok! Jadi apa permintaanmu?" tanya Erlan lalu bersedekap.


Stella sebenarnya tidak mau mengatakan ini pada siapapun. Tapi ia juga tidak mau terus kena oceh oleh Ethan dan Erlan jika ia tidak menjawab rasa penasaran kedua bocah ini. "Permintaan ku adalah; aku akan membuat kak Ian jatuh cinta padaku dalam waktu satu bulan."


"Kau yakin bisa menaklukan si bedebah itu dalam waktu satu bulan?" tanya Ethan tak percaya.


"Emm. Ya!" kata Stella yakin.


Erlan terkekeh pelan. "Heh? Dari mana kau dapatkan kepercayaan diri seperti itu?"


"Apa yang terjadi jika kau tidak berhasil membuat Diangela jatuh cinta padamu?" tanya Ethan.

__ADS_1


"Mati." ucap Stella tanpa ekspresi.


"Mati?" beo Erlan berusaha memastikan apakah yang di dengar nya salah atau tidak.


"Kau sungguh ingin mempertaruhkan nyawamu hanya untuk perasaan sesaat saja?" Ethan mengakhiri ucapannya dengan decakan sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Erlan lantas berdiri. "Yang benar saja!"


"Manusia memang benar-benar bodoh!" sahut Ethan.


"Oh, ya? Berarti kau bodoh dong?"


"Ck! Memangnya pembunuh kejam seperti kami, pantas di sebut manusia?" tanya Erlan.


"Ya..... tidak juga! Tapi bukankah faktanya kalian ini manusia ya?"


"Ya! Kita memang manusia! Tapi manusia elit yang cerdas, tidak seperti kau yang bodoh dan miskin!" timpal Ethan. Bocah itu ikut berdiri daro duduknya.


"W-what?!"


"Yah kita lanjutkan pembicaraan kita! Tidak usah banyak bacot!" ucapan Erlan lantas membuat Stella mendelik.


"Iya! Mulutmu perlu di jahit!"


"Bukannya kalian ya yang banyak bacot?"


"Pokoknya kau harus menjadi anjing kami agar kami menjadi sekutumu!" ucap Ethan.


"Sudah kubilang kan! Aku. Nggak. Mau!"


"Sudahlah kalau tidak mau! Padahal ini bisa jadi batu loncatan untukmu, agar membuat Diangela menyukaimu!" Erlan kembali duduk ke kursi di ikuti oleh Ethan.


"Iya! Kau menyia-nyiakan kesempatan besar!" Ethan menguap lebar setelah menyelesaikan perkataannya.


"Kesempatan besar apanya?" Stella memutar kedua bola matanya.


"Kau tahu kan kalau kami ini keluarganya! Kita tahu sifat Diangela, makanan kesukaannya, apa yang membuatnya terkesan, dan segala hal lainnya! Jika kau jadi sekutu kami, kami mungkin bisa memberikan mu informasi itu! Kami juga akan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Diangela padamu, agar kau bisa mengenalnya lebih dalam!" yang menjawab kali ini adalah Ethan. Sedangkan Erlan masih terdiam dan menatap tajam pada Stella.


Erlan tak habis pikir dengan para manusia yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi perasaan bodoh yang impulsif! Tapi itu sepertinya cocok untuk Stella yang bodoh, naif juga dinamis.


"Kalau hal begituan aku bisa tanya sama kak Ansell!" kata Stella.


"Ansell?" beo Ethan. "Si laki-laki yang mengidap penyakit finding Dori?"


Stella mengernyit pelan. "Penyakit Finding Dori?"


"Ya! Bukankah si Dori juga pelupa ya?"


"Ah, iya juga ya! Kak Ansell kan mengidap penyakit Alzheimer." Gumam Stella. "Kalau begitu aku bisa tanya sama om Stevano!"


"Memangnya kau punya nomornya? Alamat rumahnya? Tidak selamanya Si tua bangka itu ada di rumah Jazztin. Lagi pula dia itu gila kerja! Memangnya kau pikir bisa bebas bertemu begitu saja dengannya?"


"Aku bisa tanya pada kak Jazztin!"


"Jazztin? Si gila kebersihan itu? Mana mungkin dia memberimu alamatnya! Yang ada kau hanya akan di anggap kuman olehnya!"


"Kalau begitu aku tanya Aiden saja!"


"Aiden itu anak- maksudnya orangnya begitu teliti. Pasti dia akan bertanya alasan mu meminta alamat Stevano! Dari watakmu, sepertinya kau tidak pandai berbohong!"


"Jadi?"


"Jika kau tidak bisa berbohong, mungkin kau akan mengungkapkan semuanya bukan? Termasuk dirimu yang bukan ibu aslinya?"


"Aku pandai berbohong kok! Buktinya Aiden tetap memanggilku ibu!"


"Dia ini bodoh atau apa sih?!" Erlan yang sedari tak bersuara dan hanya memperhatikan perdebatan antara Stella dan Ethan, mulai bersuara dingin. Nadanya yang kelewat tajam seolah menusuk kulit Stella.


Stella menatap Ethan tak suka. "Kau yang bodoh?!"

__ADS_1


"Aiden sud—"


"Ibu!!"


__ADS_2