
Diangela hanya bisa pasrah, saat dirinya di tarik kesana-sini oleh Stella. Setelah mereka menonton drama musikal, dan makan Cheesee cake di restoran dessert, Diangela mengajak Stella pergi ke Mall.
Ternyata pilihannya mengajak Stella ke sini, sangat-sangatlah salah. Gadis itu tidak henti-hentinya berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, dan tentunya dengan dirinya yang di seret oleh Stella.
Gadis itu seperti tidak pernah ke Mall saja!
Diangela menghentikan langkahnya, lalu menarik Stella untuk berbalik. Tarikannya yang cukup kuat, membuat Stella sampai menubruk dada bidangnya.
Diangela menggeram, "apa kau tidak lelah? Aku malas harus di seret ke sana-sini oleh mu! Kita sudah hampir mengunjungi semua toko di Mall. Kakiku sudah kram, terus-terusan berjalan." Diangela sebisa mungkin menahan amarahnya.
Stella mengembungkan pipinya. Ia berucap ketus, "kau sendiri yang mengajakku ke sini. Kenapa malah memarahi aku!" cibirnya.
Diangela tersenyum paksa. Ia ingin sekali menepis perkataan Stella dengan kalimat pedasnya, tapi ia tidak bisa menyangkalnya karna fakta yang satu itu.
"Ya. Memang aku yang mengajakmu ke sini, karna mungkin kau ingin membeli sesuatu. Apa kau pikir aku tidak malu, setelah kau memegang barang dan bertanya harganya, di semua toko yang tadi kita kunjungi, tapi kau tidak jadi membelinya? Bahkan tadi kita sempat di sindir juga, kan!" ucap Diangela dengan bahu naik turun. Laki-laki itu memalingkan wajah, dan memejamkan matanya untuk meredam amarahnya yang sudah di ubun-ubun.
Stella menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. "Maaf. Aku terlalu senang, karna ini pertama kalinya aku ke Mall."
Ucapan Stella lantas membuat Diangela menoleh kaget. "Pertama kali? Kau raksasa yang baru keluar dari gua?" tanya Diangela tak percaya.
__ADS_1
Stella mendongak lalu mendelik, "raksasa apanya! Aku ini perempuan imut, tahu!" ucapnya sebal.
"Heh? Imut? Ya. Kau memang imut!" Stella tersenyum senang. "Benar-benar imut, sampai membuat mataku buta saat melihatmu!" Stella melunturkan senyumnya ketika mendengar ucapan Diangela yang bernada mengejek.
Stella menghentakan kaki, ia berbalik lalu berjalan cepat meninggalkan Diangela.
Diangela menghela nafas, lalu berjalan menyusul Stella. "Hey! Jangan lari-lari. Nanti jatuh!" teriak Diangela saat melihat Stella yang mulai berlari.
Saat sedang mengejar Stella, bahu Diangela di tabrak dengan keras oleh seseorang berhoodie hitam, membuat Diangela terhuyung ke samping.
Tanpa mengucapkan maaf, orang itu malah berlalu begitu saja. Diangela menggeram, ia lalu berbalik dengan wajah marah. Tatapan tajamnya ia layangkan ke arah punggung laki-laki itu.
Seketika matanya menyipit saat ia merasa familiar dengan perawakan orang itu.
Diangela pernah melihatnya beberapa kali. Pertama saat di lampu merah, ketika ia dan Stella dalam perjalanan menuju gedung teater. Kedua saat ia dan Stella menonton drama musikal, orang itu juga ada. Ketiga, ia juga sempat melihatnya sekilas di pantulan kaca toko, ketika dirinya di seret ke macam-macam toko oleh Stella.
Dan keempat, adalah yang ini. Orang itu seperti menguntit Stella. Karna jika orang itu menguntitnya, ia mungkin sudah ketahuan sejak dulu.
Dan mungkin dia adalah orang yang pernah ke balkon kamar Stella. Bukan tanpa alasan Diangela mengatakan itu, beberapa jam yang lalu saat dia ke masuk ke kamar Stella melalui balkon, ia melihat ada beberapa jejak kaki di lantai.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Diangela berlari mengejar laki-laki berhoodie tadi, yang di yakininya sebagai stalker. Ia bahkan melupakan Stella yang sekarang ini sedang marah-marah.
Diangela mempercepat langkahnya, ketika orang yang di kejarnya mulai berlari dalam tempo yang cepat. Sepertinya, dia sadar sedang di ikuti.
"****!" desis Diangela ketika melihat orang yang di kejarnya belok ke kiri. Jika ia tidak bergerak cepat, bisa-bisa ia kehilangan jejaknya.
Dan benar saja. Diangela kehilangan jejak laki-laki itu, ketika sudah sampai di belokan yang sama. Banyaknya kerumunan orang yang berlalu lalang, menjadi salah satu alasan terbesarnya kehilangan jejak laki-laki itu.
"Sial!" Diangela menjambak rambut frustasi. Walau begitu, ia tidak menyerah. Mata laki-laki itu berusaha mencari orang dengan pakaian hitam. Dan nihil! Ia tidak menemukannya.
Laki-laki itu lalu merogoh handphone di saku celananya. Handphone mahal, yang harganya bahkan hampir sama dengan 1 ginjal.
Diangela lalu menelpon seseorang. "Pasang Cctv di balkon kamar Stella. Pastikan itu di simpan di tempat di mana orang lain tidak bisa melihatnya." Perintah Diangela pada orang suruhannya.
Setelahnya, ia mematikan sambungan telpon itu lalu kembali memasukannya ke saku celana. Ia lalu berbalik hendak pulang.
Diangela menghentikan langkahnya. Dahinya terlipat sempurna ketika ia ingat sesuatu. "Ah, iya. Little Sheep-ku terlupakan."
****
__ADS_1
Episode selanjutnya.
"Apa yang dia lakukan di sana?" kesal Diangela saat melihat Stella yang tengah mandi bola bersama anak kecil, di tempat bermain anak-anak.