Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Anak anjing


__ADS_3

"Ambil!" Stella berjengit kaget ketika mendengar suara teriakan bersamaan dengan sebuah boneka yang di lempar ke arahnya, begitu ia keluar dari  gerbangrumahnya.


Stella menghalangi wajahnya agar boneka kecil itu tidak mendarat di wajahnya. Perlahan ia menurunkan tangannya.


Stella mengernyit ketika melihat kembara-kembar setan yang tak lain adalah Ethan dan Erlan, yang kini tengah berdiri tak jauh darinya. Kedua bocah itu tersenyum miring dan bersedekap.


"Kau tidak dengar?" tanya Ethan. "Aku bilang ambil!" Ethan menunjuk boneka beruang kecil yang berada di belakang Stella dengan dagunya. Stella menoleh ke belakang, dan mengambil boneka itu.


"Ini?" Stella mengacungkan boneka itu pada Ethan juga Erlan.


"Bawa itu kemari." Perintah Erlan.


Stella berjalan ke arah keduanya sambil mengernyit. Setelah sampai ia menyodorkan boneka itu pada mereka.


Ethan memutar kedua bola matanya. "Apa kau tidak bisa menyamakan tinggi mu dengan tinggi kami? Leherku sakit harus mendongak terus!" gerutu Ethan yang di angguki oleh Erlan.


Stella menaikan sebelah alisnya. Tanpa bertanya, ia berjongkok lalu menyodorkan boneka kecil itu pada mereka.


"Ini! Kalian kenapa ada di sini?" tanya Stella sambil tersenyum.


Erlan merebut dengan kasar boneka yang ada di tangan Stella. Kemudian ia mengusap-ngusap kepala Stella. Stella hanya bisa mengerutkan dahi di perlakukan seperti itu.


"Kenapa mengerutkan dahi?" tanya Ethan.


"Hah?"


"Kau tidak suka?" giliran Erlan yang menjawab.


"Hah?"


"Ck! Aneh!" Erlan menurunkan tangannya dari kepala Stella. Ia menyipitkan mata sambil berpikir. "Anak anjing di rumahku senang di perlakukan seperti itu!"


"Hah? Anak anjing?" bingung Stella. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti dengan situasi saat ini.


Ethan mengangguk. Ia lalu mengusap-ngusap kepala Stella. "Seperti ini. Biasanya anak anjing di rumah kami, selalu senang di perlakukan seperti ini."


"A-anak anjing? Kalian menganggapmu sebagai seekor anak anjing?" kaget Stella tak percaya.


Keduanya mengangguk. "Tentu saja! Kau sudah menjadi anjing kami!" ucap keduanya dengan wajah pongah.


Stella mendelik. "Kapan aku menyetujuinya!" bantahnya sambil memberengut kesal.


"Tadi! Saat kau mengambil boneka ini." Sahut Erlan.

__ADS_1


"Bukankah anak anjing selalu mengambil sesuatu yang di lemparkan oleh majikannya?" tanya Ethan.


Stella berdecak. Ia berdiri, lalu berkacak pinggang. "Aku sama sekali bukan anjing!" tegasnya.


Kedua bocah itu nampak berpikir keras. "Kalau begitu kau mau jadi anjing kami?" tanya keduanya kompak membuat Stella melebarkan kedua matanya.


"Nggak mau lah!"


"Kenapa?" tanya keduanya sambil memiringkan kepala ke kiri.


"Masih nanya kenapa?"


"Kau tahu? Jika kau menjadi anjing kami! Kau akan mendapat makanan! Pakaian mewah berbahankan sutra asli! Dan juga kalung anjing!" Ethan tersenyum lebar sembari menunjukan kalung anjing yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya.


Stella terperangah kaget! "Dasar anak kecil yang tidak punya atitude!" cibir Stella lalu berbalik dan berlari kecil. Seperti biasanya setiap weekend, ia selalu jogging.


"Ambil!" sebuah boneka beruang kecil mendarat di depan Stella. Stella menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap kesal pada kembara-kembar setan itu yang saat ini tengah tersenyum miring dengan wajah pongahnya.


"Kami tidak butuh jawabanmu! Mulai hari kau anjing kami!" ucap keduanya membuat Stella memutar kedua bola matanya.


"Kau tahu, kan! Kalau anjing tak pernah menggonggong pada majikannya! Jika dia melakukan itu, kita bunuh saja!" Erlan menaik-naikan kedua alisnya sambil memainkan pisau lipat di tangannya, untuk menakut-nakuti Stella.


"Kau-"


Stella berbalik dan mendapati Aiden bersama Diangela.


Aiden berjongkok lalu mengambil boneka kecil itu, dan merobeknya dengan mudah. Walaupun saat ini Aiden berdiri di bantu oleh tongkat truknya, kengerian serta intimidasinya sanggup membuat siapapun bergidik ngeri termasuk Ethan dan Erlan.


"Kami tidak memerintah siapapun kok!" elak Ethan tanpa menatap wajah Aiden.


Aiden menyipitkan matanya.


"Kita tidak memerintah kok! Beneran! Iya kan kak?" tanya Erlan pada Stella sambil tersenyum.


Kak? Hah! Tadi saja menyuruhku menjadi anjing kalian! Sekarang malah memanggilku kak!


"Hmm." Dekhem Stella karna tidak mau memperpanjang masalah. Stella lalu menatap Diangela. Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya, karna ketahuan menatap Stella sedari tadi.


"Kak Ian sama Aiden kenapa ada di sini?" tanya Stella menatap Aiden dan Diangela bergantian.


Aiden mendongak lalu tersenyum. "Kami ingin jogging bersama ibu." Ucapnya yang di angguki oleh Diangela.


Stella berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Aiden. Gadis itu tersenyum lalu mengusap-ngusap surai lembut Aiden.

__ADS_1


Ethan dan Erlan yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Stella dan Aiden mendengus.


"Padahal dia 2 tahun lebih muda dariku! Tapi aku malah terintimidasi oleh tatapannya!" ucap Erlan pada Ethan.


"Iya! Aku juga bingung. Kenapa Aiden kalau marah itu seramnya seperti ayah ketika marah!" gerutu Ethan.


"Lihatlah itu!" Erlan menunjuk Aiden yang tengah tersenyum dan tertawa dengan dagunya. "Dasar muka dua!" cibir Erlan.


"Ck! Aku juga bingung! Kenapa Aiden mau menunjukan wajah cerianya pada perempuan itu! Padahal dia kan selalu menunjukan wajah dinginnya."


"Dia memang bermuka dua!"


"Ethan! Erlan!" panggil Aiden tiba-tiba membuat kedua bocah itu berjengit kaget. "Ayo! Kenapa malah diam di sana? Bukankah kalian ikut karna ingin ikut jogging dengan kami?"


Ethan dan Erlan saling bertatapan. Mereka lalu berjalan ke arah Aiden.


•••....••••....••••....••••....••••....••••....••••....•••


Stella melirik kecil pada Diangela yang tengah duduk di sampingnya. Entah kenapa tenggorokannya saat ini tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Stella mengarahkan tatapannya pada Aiden yang sedang bermain bersama Ethan dan Erlan begitu Diangela menatap ke arahnya.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Diangela.


Stella menggeleng cepat.


"Lalu kenapa kau sedari tadi terus menatapku?"


"Siapa juga yang menatapmu." Gumam Stella sambil membuang muka.


Diangela menyipitkan mata. Ia mendekat pada Stella. "Aneh! Kenapa kau tidak mengoceh seperti biasanya?" tanya Diangela membuat Stella bergeser ke samping untuk menjauhi Diangela.


Diangela mengernyit. Ia ikut bergeser dan mendekat pada Stella.


Stella menatap kecil pada Diangela sambil meringis dan mengerutkan dahi. Ia lalu ikut bergeser ke samping dan Diangela juga ikut bergeser ke samping hingga akhirnya ia ke ujung kursi taman dan terjatuh.


"Awwwwsss." Stella meringis pelan.


Diangela menaikan sebelah alisnya. "Kau ini kenapa sih?! Kau sepertinya sedari tadi menghindari kontak mata denganku!" ucap Diangela. Stella memalingkan wajahnya.


"Bukankah kau mau membuatku jatuh cinta padamu ya? Kenapa sekarang malah menghindari ku?" tanyanya.


Stella berdiri lalu menepuk-nepuk pahanya, kemudian beranjak pergi dari sana yang di ikuti oleh Diangela. Diangela mencekal lengan Stella.


"Apa karna kejadian kemarin?" tanya Diangela membuat Stella memejamkan mata rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya. .

__ADS_1


Aishh! Kenapa malah di sebut sih! Gerutu Stella dalam hati. Gadis itu terpaku kemudian menghela nafas tertahan. Dengan pelan ia mendongak lalu membuka matanya


__ADS_2