
Jazztin menyesap alkoholnya pelan-pelan. Berusaha menikmati rasa pahit nan manis di lidahnya. Tenggorokannya terasa terbakar ketika cairan itu tertelan.
Dengungan musik dan godaan dari berbagai wanita, ia abaikan. Ia tidak berminat untuk membunuh saat ini. Ia hanya ingin minum alkohol saja, dan melupakan masalahnya sejenak. Masalah yang telah merantai jiwa dan raganya. Masalah yang tidak bisa ia lupakan. Kenangan menyakitkan itu! Tidak bisa berhenti berputar di kepalanya. Membuat kepalanya serasa mau pecah.
Ah!!! Lihat? Sekarang ia malah memikirkan kenangan itu lagi! Jazztin menenggak habis cairan alkohol dalam gelasnya hingga tandas. Alkohol sama sekali tak membantunya! Ia sudah minum hingga 2 botol penuh, tapi ia tidak mabuk dan masih saja memikirkan masalahnya.
Jazztin menghentakan gelas ke meja bartender dengan keras, membuat pramusaji terkejut. Jazztin berdiri, membayar minuman alkoholnya lalu melenggang pergi.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat objek yang terlihat aneh! Bahkan sekarang objek itu tengah menjadi pusat perhatian. Objek itu adalah seorang gadis.
Penampilannya lah yang membuat semua orang di club ini terheran-heran. Gadis itu memakai sweater berwarna biru bermotif beruang, dengan kerah berwarna putih dan bawahan rok putih yang hanya menutupi setengah pahanya.
Rambutnya di kuncir dua dengan topi biru yang menghiasi kepalanya. Ia memakai kaos kaki berwarna biru dengan motif pelangi dan sepatu berwarna hitam. Gadis itu memeluk boneka kelinci berwarna biru.
Wajahnya sendiri terlihat imut. Wajah yang bulat dengan pipi tembam. Bibir mungil berwarna merah muda alami. Dan bermata belo. Ekspresinya saat ini membuatnya terlihat imut.
Gadis itu terlihat kebingungan dengan kepalanya yang terus celingukan ke kanan dan ke kiri.
(Anggap aja lagi meluk boneka sambil berdiri, dan latar belakangnya di club)
Jazztin mengerutkan dahi melihat penampilan gadis itu. Mana ada perempuan yang pergi ke club dengan pakaian seperti itu. Tapi entah kenapa saat ini Jazztin tidak mau beranjak pergi dari tempatnya, dan hanya ingin memandangi gadis itu terus menerus.
Jazztin memukul kepalanya. "Apa aku mabuk?" bisiknya. "Bisa-bisanya berpikir seperti itu!"
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Setelahnya ia mendongak dan kembali menatap gadis itu. Tapi kemudian alisnya menukik, ketika melihat ada pria hidung belang yang tengah menggoda gadis itu. Gadis itu terlihat kebingungan.
Di lihat dari wajahnya, sepertinya dia hanya seorang gadis polos. Itu terlihat jelas saat pria hidung belang itu mencolek dagunya, gadis itu hanya menampakan raut wajah bingung. Jika memang gadis itu seperti wanita club lainnya, yang tidak melawan saat di goda, mana mungkin menunjukan raut wajah bingung. Sebagian besar dari mereka pasti akan membalasnya.
Jazztin melebarkan matanya saat melihat tangan pria itu hendak menyentuh paha mulus dan putih gadis itu. Kakinya tiba-tiba bergerak cepat menuju pria itu, lalu memukulnya dengan kekuatan penuhnya hingga membuat pria itu tergeletak pingsan.
Walaupun suara musik masih berdengung keras, tapi suara ricuh dari orang-orang dapat terdengar.
"Jazztin?"
Jazztin sontak menoleh ketika namanya di panggil. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Kenapa gadis yang tidak pernah di temuinya itu mengetahui namanya?
Gadis itu melangkah maju. "Kau..... Jazztin, kan?" tanyanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dengan kepalanya yang ia miringkan ke kiri.
Jazztin terdiam. Ia terpanah oleh ekspresi gadis itu. Kenapa ekspresinya menggemaskan begitu? Batinnya dengan mata yang menatap lekat gadis itu.
Belum sempat menjawab, satpam malah datang kemudian mengusir Jazztin dan gadis itu.
"Kau benar Jazztin, kan?" tanya gadis itu terus mendekatkan wajahnya pada wajah Jazztin.
Jazztin mendorong wajah gadis itu karna terlalu dekat dengan wajahnya. "Siapa kau? Kenapa tahu nama ku? Dan lagi, gara-gara kau aku jadi di keluarkan dari club!!" yah! Sebenarnya sih aku juga mau keluar dari club tadi! Lanjut Jazztin dalam hati.
"Klab?" beonya sambil memiringkan kepala ke samping. "Apa..... itu?"
Jazztin menghentikan langkahnya. Ia menyipitkan mata. "Tempat tadi! Aku tahu kau itu polos, tapi tidak usah di ****-begoin!" sarkas Jazztin sambil mendelik.
"Polos? ****?" gumamnya. "Ah, tunggu!" teriaknya lalu mengejar Jazztin.
"Jangan mengikutiku!"
Gadis itu mundur satu langkah karna terkejut Jazztin tiba-tiba berbalik. "Kau....... laki-laki yang ada di layar besar itu kan? Jazztin...... kan?"
Jazztin memutar bola matanya, "layar apanya?" sahutnya kesal. "Dan lagi, dari mana kau tahu nama ku? siapa kau?!"
"Emmmm. Aku....." gadis itu nampak sedang berusaha mengingat. Tatapannya ke atas. "Quin! Quinsha!" ucapnya sambil tersenyum menatap Jazztin. "Emmmm. Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini." Ucapnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ia melangkah maju, mendekat pada Jazztin. "Aku biasanya selalu di......" Quin mengernyit. Berusaha merangkai kalimat yang pas. "Di.... Apa ya namanya? Di putih!" ucapnya.
Jazztin memundurkan kepala sambil mengernyit. "Pu-putih?"
Quin mengangguk lucu. "Putih! Tempat aku diam semuanya putih!"
Jazztin menatap aneh pada Quin. "Apaan sih! Nggak jelas!" cibirnya lalu kembali berjalan menuju mobilnya.
Quin mengejar Jazztin. "Kau benar-benar Jazztin, kan?" tanyanya lagi pantang menyerah. "Yang ada di layar besar itu, kan? Kenapa tidak menjawab? Kau benar-benar Jazztin, kan? Nishad Jazztin Anederea, kan?"
__ADS_1
Jazztin menggeram sebal, merasa jengah dengan keberadaan Quin. Bukankah tadi dia sudah bilang, 'dari mana kau tahu namaku?' bukankah seharusnya itu sudah menjawab pertanyaan gadis ini!
Jazztin tiba-tiba berbalik lalu menarik Quin dan memojokannya ke kap mobilnya. "Aku paling tidak suka dengan perempuan cerewet! Jadi diam dan menyingkirlah sebelum aku bunuh!" ancamnya.
Bukannya takut dengan intimidasi Jazztin, Quin malah mengerjap-ngerjapkan mata polos. "Kau Jazztin, kan?" tanyanya lagi membuat Jazztin mengerang frustasi.
"Aishhh!! Kau ini menyebalkan sekali!"
Jazztin mengeluarkan pisau lipatnya. Ia mengarahkan pisau itu ke leher Quin. "Diam atau kubunuh!"
Quin menatap sekilas pisau itu berlagak tak peduli, dan kembali menatap Jazztin. "Kau Jazztin, kan?"
Jazztin merapatkan bibirnya, berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak. Karna butuh pelampiasan dari rasa marahnya yang di tahan, akhirnya Jazztin menggoreskan pisau lipatnya ke pipi tembam Quin.
"Awsss." Quin sontak menyentuh pipinya yang terluka. Tapi ia merasakan ada cairan kental yang menyentuh jarinya. Perlahan ia membawa tangan itu ke hadapannya. Pupil hitamnya melebar ketika melihat cairan kental berwarna merah di jari-jari tangannya.
Jazztin tersenyum miring melihat ekspresi Quin. Gadis ini pasti ketakutan, pikir Jazztin.
"Selai!" gumam Quin.
"Ap? Apa? Selai?" tanya Jazztin bingung.
Quin mendongak menatap Jazztin lalu mengangguk antusias. "Emm! Selai stroberi." Ucapnya.
Jazztin mengernyit bingung. "Bicaralah yang jelas bodoh!" sentaknya.
Quin menunjukan jarinya yang tertempel darah. "Ini! Selai stroberi!" katanya tak percaya lalu kembali menyentuh pipinya yang tergores pisau. "Pipiku mengeluarkan selai Stroberi!!!! Selai Stroberi!!" teriaknya tesenyum lebar sambil meloncat-loncat kecil, kesenangan.
Rahang Jazztin menganga sempurna. Fix!! Dia orang gila. Itulah yang ada di pikiran Jazztin saat ini.
"Apa pipi kananku juga akan mengeluarkan selai jika pisau itu di tempel di pipi kananku?" tanya Quin menyengir lebar. Ia mengambil pisau Jazztin, lalu dengan sengaja menggoreskan pisau itu ke pipi kanannya.
"Wowww! Ini juga ngeluarin selai!"
Tenggorokan Jazztin tercekat. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, melihat perbuatan gadis aneh di depannya ini! Dia ini hanya pura-pura bodoh atau bodoh beneran?
Jazztin mengedikan bahu. Memanfaatkan Quin yang asik dengan pisaunya, Jazztin diam-diam melangkah menuju mobilnya.
Teriakan itu membuat Jazztin memejamkan mata sambil mendesis dan mengumpat kecil. Jazztin berbalik menghadap Quin. "No!" tegasnya.
Quin mengerucutkan bibirnya ke depan. Matanya menatap tajam Jazztin. Bukannya terlihat seram, itu malah terlihat imut. "Aku ikut sama kamu juga cuma karna mau ketemu sama Ian!!"
Gerakan Jazztin yang hendak membuka pintu mobil terhenti. Laki-laki itu menoleh. "Ian? Diangela maksudnya?"
Quin mengangguk. "Iya!"
"Kau kenal dia?"
Quin mengangguk.
"Dimana kau mengenalnya?"
Quin memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal. Ia tak menggubris pertanyaan Jazztin. Sengaja!
"Kau tidak punya mulut? Kenapa tidak menjawab?"
Quin malah mendelik lalu meleletkan lidahnya. "Kau juga tadi tidak menjawab ku!! Bagaimana rasanya?" ejeknya.
Jazztin mencibir pelan. "Dasar childish!" ujarnya pelan lalu membuka pintu mobil dan masuk. "Ayo masuk!" ajak Jazztin.
Sebenarnya alasan Jazztin mengajaknya hanya penasaran, kenapa gadis aneh itu bisa mengetahui dirinya dan Diangela.
"Kemana?" tanya Quin bingung.
Jazztin meremas stir mobil kuat-kuat. "Tentu saja ke mobilku!! Cepat duduk di samping ku!" geramnya. "Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang bodoh!"
Quin berjalan menuju pintu mobil sambil memelototi Jazztin. Ketika sampai di pintu mobil, Quin hanya memandangnya sambil menelengkan kepala ke kiri dengan ekspresi bingung.
"Ada apa lagi sih?!" desis Jazztin melihat Quin yang hanya terdiam.
"Bagaimana cara masuknya?" tanya Quin dengan muka polosnya.
__ADS_1
"Hah?" Jazztin menaikan sebelah alisnya sambil mengerjap pelan. "Aishhh!!" Jazztin memalingkan wajahnya ke samping dengan ekspresi gemas. "Dia membuatku darah tinggi!" geramnya berbisik pelan.
Jazztin kembali menoleh. "TENTU SAJA DENGAN MEMBUKA PINTUNYA!!!!" teriaknya kesal.
Quin tersentak kecil. Gadis itu mencuatkan bibir ke depan, sambil memberengut sebal. "Aku tidak tahu!" ucapnya pelan. Quin melirik pisau lipat di tangannya yang berlumuran darahnya sendiri, lalu tatapannya beralih ke pintu mobil. Aha!! Dia mendapat ide.
Jazztin menyipitkan mata curiga melihat wajah berbinar Quin. Ia merasakan firasat buruk akan hal itu.
Dukk!!! Dukk!!! Dukk!!
Dan benar saja!! Quin menusuk-nusuk pisau lipat itu ke kaca mobilnya berkali-kali. Melihat itu, Jazztin sontak melepas sabuk pengamannya. Dengan cekatan ia membuka pintu mobil dan berlari menuju Quin, lalu menghentikan aksi gilanya itu.
"Kau ini bodoh atau apa?!!! Mau ku beli kan otak, hah?!!" bentak Jazztin lalu menatap khawatir pada kaca mobilnya yang sudah retak. "Ah, ya ampun!! Ferrari kesayanganku!" ucapnya sambil mengusap-ngusap kaca mobilnya dengan lembut.
Di belakangnya, Quin menatap sebal pada Jazztin. Ia mengangkat tangannya yang di tarik oleh Jazztin dengan kuat. Pergelangan tangannya merah!
Jazztin kembali berbalik lalu menatap tajam Quin. Saat ini ia ingin memarahi gadis aneh itu habis-habisan, tapi sepertinya itu akan membuang waktu saja!
Mengalah, Jazztin membukakan pintu mobil. "Cepat masuk dan duduk!" perintahnya.
Quin menatap Jazztin dan kursi mobil bergantian.
"Cepat masuk dan duduk!" geram Jazztin sekali lagi.
"I-iya!" kata Quin lalu masuk dan duduk, lalu Jazztin menutup pintu mobilnya.
"Obati pipimu pakai ini." Begitu masuk ke mobil, Jazztin melempar kotak p3k ke paha Quin. Setelahnya ia menjalankan mobil.
Di tempatnya, Quin menatap bingung pada kota p3k itu. Gadis itu memukul-mukul tutup kotak beberapa kali. Tidak berhasil! Kotaknya tidak terbuka! Quin mengangkat kotak itu, lalu menggigit setiap sudut kotak. Cara ini juga tidak berhasil.
Quin meletakan kotak p3k itu ke pahanya. Ia mengangkat jari telunjuknya lalu memutar-mutarnya. "Simsalabim abdra-- abdrrrrraaaa, adbeebbb, adbbrrra. Puah!! Abrakadabra!! Simsalabim adra-abrakadabra! Bukalah!!"
Semua perbuatan Quin tentunya tak luput dari mata Jazztin, membuat laki-laki itu mati-matian menahan amarahnya. Karna sudah tak tahan oleh aksi konyol Quin, Jazztin lalu menginjak pedal rem dengan keras, membuat Quin yang tidak memakai sabuk pengaman terpental ke depan, dan kepalanya terantuk dengan keras ke dashboard mobil. Alhasil, Quin pingsan. Dan Jazztin kebingungan.
••••
Aiden William Abhivandya
Erlano Gilgamesh Landegre dan Ethan Alterio Landegre
Stevano Caesar Landegre
Aristide Keano
Jovanka Lovata/ Tata
Quinsha Qiana Qalesha
Diangela ketika sudah bercukur
Jazztin
Ansell
__ADS_1