Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Sisi lain dari Aiden


__ADS_3

"Lancang sekali dia menyentuh tangan ibu ku! Dasar sial4n!" desis Aiden ketika melihat Diangela yang mencekal lengan Stella.


Anak itu turun dari ayunannya. Sebenarnya, ia sama sekali tak berminat main di tempat bermain anak-anak ini. Ia hanya ingin terlihat seperti anak pada umunya yang terlihat lugu dan polos, pada ibu nya. Ia tidak ingin menunjukan sisi lain dirinya.


Aiden menghentikan langkahnya, saat melihat seorang laki-laki di balik pohon besar yang berpakaian serba hitam tengah memotret sesuatu. Aiden lalu ikut melihat ke arah objek yang di foto oleh laki-laki itu.


Aiden menggeram marah, saat tahu objek yang di foto itu adalah ibunya.


"Ahhh! Untung saja aku membawa tas ini!" gumam Aiden sambil menyeringai.


Anak itu lalu melangkah menggunakan tongkat truknya dengan cepat. Walaupun menggunakan tongkat, tapi ia sama sekali tidak kesusahan. Ia bisa berjalan dan berlari cepat jika dia mau, karna ia sudah terlatih.


"Kau mau ke mana?" tanya Ethan melihat Aiden yang hendak pergi.


"Ada orang yang mencurigakan! Aku akan menggunakan timbangan neraca untuk menghukumnya." Jawab Aiden lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Ti-timbangan neraca?" gumam Ethan dan Erlan bersamaan. Mereka menjatuhkan es krim cup yang di pegangnya begitu mendengar kata 'timbangan neraca. '


Seketika pikiran mereka teringat akan perbuatan gila yang di lakukan Aiden untuk menghukum orang yang mengamggunya dengan timbangan neracanya. Anak itu selalu mempermainkan korban terlebih dahulu sebelum membunuhnya.


Wajah lugu nan polos itu hanyalah topeng belaka.


Ethan dan Erlan bergidik ngeri.


"Kita pergi saja!"


•••


"Apa karna kejadian kemarin?" tanya Diangela membuat Stella memejamkan mata rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya. .


Aishh! Kenapa malah di sebut sih! Gerutu Stella dalam hati. Gadis itu terpaku kemudian menghela nafas tertahan. Dengan pelan ia mendongak lalu membuka matanya


"O..." Stella mengernyit melihat Tata yang sedang berlari.


"Tata!" Stella berteriak lalu melambaikan tangan kanannya. Stella berusaha melepaskan tangan kirinya yang di cekal oleh Diangela.


"Bisa lepasin nggak?" tanya Stella pelan tanpa menatap Diangela. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Diangela.


"Jawab dulu pertanyaan ku!" ucap Diangela.


"Y-yang mana?"


Diangela memutar kedua bola matanya. "Tidak usah berpura-pura tidak tahu!" Diangela menarik lengan Stella membuat jarak antara mereka menipis.


Stella kelabakan. "Ng-nggak tahu!" ucapnya agak tergagap, lalu kembali berusaha melepaskan tangannya.


"Jawab!" Diangela kembali menarik Stella mendekat ke arahnya.


Stella berdecak sebal lalu mendongak. "IYA! Puas!" teriaknya lalu menggigit lengan Diangela yang mencekal lengannya dengan keras.


Diangela sampai meringis dan mendorong Stella agar menjauh. Stella melepaskan gigitannya lalu menendang tulang kering Diangela, kemudian berbalik setelah meleletkan lidah pada Diangela yang tengah meringis kesakitan.

__ADS_1


"Dia kenapa sih?!" tanya Diangela bingung sambil menatap punggung tangannya yang terdapat bekas gigitan Stella.


"Sudah kuduga kan! Dia itu anjing!" celetuk Ethan.


Diangela berbalik dan menatap heran pada kedua bocah tengik itu.


"Dimana Aiden?" tanya Diangela.


Kedua bocil itu mengedikan bahu. "Kami tidak tahu!"


"Sepertinya dia akan menggunakan timbangan neraca nya. Dia mengikuti seorang pria. Katanya dia mencurigakan!" ucap Erlan.


"Timbangan neraca? Aishhh!" Diangela menghela nafas panjang. "Ke arah mana dia pergi?" tanya Diangela.


Ethan menunjuk ke arah belakangnya. "Ke sana!" ucapnya.


Diangela pun lalu segera berlari ke arah yang di tunjuk oleh Ethan.


"Bukankah arahnya ke sana ya?" bingung Erlan.


"Pembalasan!" sahut Ethan dengan seringainya. "Sekarang tidak ada penganggu!"


"Maksudnya?"


"Maksudnya, kita bisa dengan bebas menyuruh-nyuruh anjing baru kita!" balas Ethan sambil menatap Stella yang tengah berbincang dengan Tata.


"Kalau begitu ayo"


•••


Saat ini laki-laki itu sudah terbaring lemah dengan luka di sekuju tubuhnya. Tentu saja itu perbuatan Aiden.


"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku!" Aiden memukul kan kaki tongkatnya pada luka di kaki laki-laki itu. "Siapa yang menyuruhmu!!!" ucapnya lagi sembari menekan lebih keras.


"Aaaaaa." Laki-laki itu hanya hisa berteriak saja. "A-aku tidak mau bilang! Tidak akan pernah! Le-lebih baik aku ma-mati!" ucapnya dengan nafas tersenggal.


"Oh, ya?" Aiden tersenyum mirinh lalu berjongkok kemudian menarik dagu laki-laki itu mendekat ke arahnya. "Kau tahu? Tidak pernah ada seorang pun yang tidak menjawab pertanyaan ku!" bisiknya dengan mata yang menatap tajam pada laki-laki itu.


"Ah, ya! Kau mau bermain dengan ku?"


"Bermain? Yang benar saja! Aku bukan anak kecil!" teriak si laki-laki.


Aiden memasang air muka sedih. "Kenapa tidak mau ikut? Padahal permainan ini seru loh!" ucapnya dengan nada suara sedih. "Kau yakin tidak mau ikut?"


"Anak kecil, selamanya tetap akan jadi anak kecil! Lihat sekarang? Kau tidak bisa menyembunyikan sisi ke kanak-kanakan mu!" ejek si laki-laki itu sambil meludah.


Aiden langsung memasang wajah datar. Ia lalu kembali mendekat. "Kau tahu saat kita mati, kebaikan dan keburukan kita akan di timbang bukan?"


"Apa?"


Aiden mengambil tasnya yang tergeletak di sampingnya lalu membukanya dan mengambil sesuatu dari sana. "Ini dia timbangannya." Ucapnya sambil terkekeh seram.

__ADS_1


"Ini juga permaianan yang akan kita mainkan!" ucapnya dengan seringai lebar membuat si laki-laki bergidik ngeri.


Di depannya sekarang ini hanyalah seorang anak kecil berusia 7 tahun, dan ia terintimidasi oleh anak ini? Ia ingin sekali menyangkalnya! Tapi tidak bisa karna nyatanya bulu kuduknya saat ini sudah berdiri. Rasa takut yang jarang ia rasakan hadir kembali.


"Aku tidak pernah bilang akan ikut main!" ucap si laki-laki. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk jika ia melakukan permainan ini.


Aiden memiringkan kepalanya. "Aku tidak butuh persetujuanmu!" ucapnya sambil tersenyum.


"Peraturannya. Satu! Kebaikan dan keburukanmu nanti akan di timbang di sini! Untuk menentukan kebaikan dan keburukan mu, kita akan melakukan permainan gunting, batu, kertas. Jika aku kalah, maka," Aiden mengambil batu kecil di sekitarnya, dan menyimpannya di timbangan sebelah kiri, "kebaikanmu akan bertambah! Tapi jika aku yang menang, keburukan mu yang bertambah!" jelas Aiden. Anak itu menyimpan kerikil di timbangan sebelah kanan


Anak itu lalu mengeluarkan laptopnya dari tas dan membukanya. Selama beberapa menit, ia sibuk berkutat dengan laptopnya. Begitu selesai ia membalikan laptopnya ke arah si laki-laki.


Laki-laki itu membelalakkan matanya ketika melihat keluarga kecilnya di layar laptop itu. "K-kau! Kau mau melakukan apa?! Jangan pernah sakiti keluargaku! Atau aku akan membunuhku!" teriak si laki-laki berusaha mencekik Aiden.


"Aisshhh! Menjijikan!" Aiden mendorong si laki-laki dengan keras menggunakan tongkat truknya. "Tanganmu berdarah! Nanti aku harus bilang apa jika ibu lihat noda darah di kerah baju ku?" Aiden menepuk-nepuk pundaknya.


"A.... Ke-kenapa aku tidak bisa melihat bagian kanan ini? Ke-kenapa?" laki-laki tadi meraba-raba ke depan ketika menyadari mata kanannya tidak bisa melihat. Ia menyentuh mata itu, dan merasakan sebuah benda menusuk matanya.


Aiden yang melihat itu langsung mendongak. "Ah, maaf! Aku lupa mencabut tongkatku!" ucapnya dengan nada suara bersalah. Ia lalu mencabut dengan keras tongkatnya yang menancap di mata kanan si laki-laki yang memciptkan suara lengkingan yang keras.


"Ma-mataku!" gumam si laki-laki. Rasa sakit di mata kanannya mulai menyengat.


Aiden menatap remeh pada si laki-laki. "Cih! Segitu saja kau sudah menangis! Padahal ini cuma awalnya saja!" Aiden mendekat dengan laptop nya. "Kau tahu, jika timbanganmu lebih banyak keburukan, maka satu persatu keluargamu ini akan aku habisi!" ucap Aiden.


Si laki-laki mendongak. "Habisi? Silahkan saja jika bisa! Memangnya dengan cara apa kau melakukannya?" ucapnya dengan nada suara yang meremehkan.


Aiden memundurkan wajahnya. Ia tampak berpikir. "Kalau begitu kita buktikan dengan menentukan kebaikan dan keburukan mh!" ucap Aiden. "Kita bermain gunting, batu, kertas. Jika kau kalah, lengan anak perempuan mu aku ambil!" seringai Aiden.


"Baik! Ayo lakukan! Aku tidak pernah kalah dalam permainan gunting, batu, kertas."


Aiden tersenyum miring. Rencanaku berhasil!


"Gunting, batu, kertas!" ucap mereka bersamaan.


Si laki-laki batu, dan Aiden kertas. Di tempatnya laki-laki itu terpaku. Sedangkan Aiden tertawa iblis saat melihat ia yang menang. "Hahahahaha." Tiba-tiba ia menghentikan tawanya. "Sekarang aku akan mengambil tangannya." Ucapnya dingin.


Aiden meraih walkie-talkie di sakunya. "Lakukanlah!" ucapnya pada seseorang di sebrang sana. "Nah, sekarang kita tinggal menunggu. Si laki-laki langsung menatap layar laptop yang menunjukan rekaman CCTV di kamar anaknya yang tengah berbaring di ranjangnya.


"Ja-jangan, jangan!" gumamnya sambil memegangi layar laptop itu.


"1.... 2.... Dan-"


Darrr!!!!


Suara ledakan dari laptop terdengar.


"Aishhh!!! Waktunya tidak tepat. Aku bahkan belum menyelesaikan hitunganku!" gerutu Aiden.


Sedangkan di tempatnya, si laki-laki langsung meneteskan air matanya melihat tangan kanan anaknya yang tiba-tiba meledak.


•••

__ADS_1


Note: Janganlah kamu menjadi pembaca ghaib yang tidak meninggalkan jejak! Setidaknya Like dan Commentlah! Thanks 😊


__ADS_2