
Diangela berjalan menyusuri jalan sepi, sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana.
Ia sedang mencari mangsa yang tepat malam ini. Kalau bisa, itu harus laki-laki.
Ia menyeringai senang ketika melihat sekumpulan preman di depan. Diangela menutupi mulutnya dengan kerah Hoodie hitamnya.
Laki-laki itu berjalan melewati para preman sambil menunduk.
"Heh. Lo nggak lihat kita?" suara itu menghentikan langkah Diangela. Ia menoleh.
"Apa?" tanya Diangela dengan suara menantang.
"Ck! Lo berani ngelawan kita?" tanya salah satu preman dengan tato yang memenuhi lengan kirinya. Preman itu melangkah mendekat pada Diangela.
Diangela memasang wajah tenang.
"Anak kecil nggak tahu diri! Beraninya lo lewat di wilayah kita, tanpa permisi!" ucapnya dengan wajah bengis.
"Hahaha! *****! Anak kecil itu lebih tinggi dari lo." preman dengan tubuh krempeng itu tertawa. Suara preman lainnya ikut bersahutan.
"Potong aja kakinya, biar jadi pendek."
"Wajah gantengnya copotin, buat gue!"
"Wah ide bagus tuh!" ucap seorang preman dengan tubuh tinggi dan tegap. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Diangela, preman itu adalah bossnya.
Preman bertato yang berada di depan Diangela, lantas menyingkir melihat bossnya yang maju mendekat.
Tinggi boss preman itu melebihi tinggi Diangela. Boss itu menatap remeh pada Diangela yang memalingkan pandangan ke bawah.
"Heh! Lo takut?" tanyanya dengan suara mengejek. "Tatap mata gue sial—"
Ucapan preman itu berhenti, kala Diangela menendang kakinya dengan teknik menendang Wasabari, dari bela diri Jujitsu yang berasal dari Jepang.
"Itu tempat yang cocok untukmu menatapku." Diangela berucap dingin. Mata elangnya menatap tajam boss preman yang sudah terjatuh di jalan beraspal.
Sontak saja, perbuatan Diangela membuat para preman marah. Mereka bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri laki-laki itu.
Kelima preman itu mengelilingi Diangela setelah membantu bossnya berdiri.
"Cih! Tadi jalannya licin, jadi gue jatuh. Jangan ngira lo udah buat gue jatuh. Itu cuma keberuntungan lo." alibi si boss preman dengan garis wajah yang menahan amarah.
Sedangkan Diangela masih berdiri di tempatnya dengan tenang. Kedua tangannya juga masih berada dalam saku celananya.
"Pukulin dia sampai ******." perintah si boss preman.
"Siap!" semuanya lantas mendekat pada Diangela. Mereka mulai memukuli Diangela, mulai dari wajah, perut, kaki, ulu hati, dan pelipisnya secara bergantian.
Tapi Diangela malah tertawa, membuat para preman berhenti memukulinya.
__ADS_1
"Dia udah jadi gila karna di pukuli." celetuk salah satu preman.
Diangela tiba-tiba menghentikan tawanya, "ini yang di sebut pukulan oleh kalian? Rasanya seperti di gigit nyamuk. Gatal!" ucap Diangela dengan nada suara yang merendahkan.
"Sial*n." para preman kompak mengumpat. Mereka kembali memukuli Diangela.
Diangela mendengus pelan. Pukulan mereka tidak ada rasanya. Laki-laki itu mengenggam erat pisau lipat di sakunya. Ia hendak melakukan perlawanan sebelum suara cempreng seorang perempuan, menghentikan pergerakan para preman.
"BERHENTIIII!!!!!" sontak para preman menoleh pada seorang gadis yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.
Gadis itu memeluk tas belanjaan, pipi bulatnya tambah bulat karna gadis itu mengembungkannya. Dari ekspresinya, sepertinya dia marah.
Rambut pirangnya tersibak ketika angin malam berhembus pelan. Gadis itu berjalan mendekat, mata birunya menatap tajam pada para preman.
"Om-om preman jangan mukulin abang itu!" dengan polos dan tanpa rasa takut, gadis itu berucap dan menatap tajam pada boss preman.
"Dede gemesh, ngapain malem-malem di sini." celetuk preman bertubuh krempeng dengan nada jenaka.
"Diam!" perintah boss preman yang langsung membuat si preman krempeng menutup mulutnya rapat-rapat.
Sedangkan di tempatnya, Diangela mengumpat kesal. Ia hampir menjalankan aksinya, untuk membunuh. Padahal mangsanya sudah masuk kriteria paling diinginkannya, tapi semua itu kacau karna seorang gadis.
Yah, ia tinggal membunuh gadis itu dengan pada preman, kan? Apa susahnya. Diangela mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dia bangkit berdiri.
"Ngapain lo di sini? Cepet pergi dari sini sebelum gue mukul lo!" teriak si boss preman, serasa bicara pada orang yang jauhnya berpuluh-puluh meter, padahal orang yang di teriakinya itu berada di depannya.
Gadis itu memundurkan wajahnya, "Om ngomongnya jangan muncrat dong! Stella nggak bawa payung." ucapnya polos.
"Berani lo sama gue?!" bentaknya.
Gadis yang bernama Stella itu segera saja menutupi wajahnya dengan tas belanjaannya agar tidak terciprat hujan buatan dari mulut si boss preman.
"Huh! Untung aja aku sempat nutupin wajah ku, jadinya nggak kena hujan Om preman." gumamnya yang masih dapat di dengar oleh semua orang karna heningnya keadaan saat itu.
Si boss preman menggeram marah. "Gue kasih lo kesempatan, karna lo cewek. Pergi atau gue hajar lo sekarang!"
Stella memasang raut wajah sedih, "kok Stella di usir sih! Stella kan cuma mau main, Polisi tangkep pencuri sama Om. Padahal aku udah terlanjur telpon Polisi buat ikut main di sini." Gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Semua sontak terkejut mendengar perkataan Stella, terkecuali Diangela. Laki-laki itu mendengus, ia mengeluarkan pisau lipatnya.
Saat ia hendak menusuk preman di depannya, ia berhenti ketika melihat wajah Stella saat si preman yang hendak di tusuknya bergeser.
Degh!
Wajah Stella mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang istimewa baginya, dan dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Rambut pirangnya, pipi bulatnya, mata birunya dan senyumnya, membuat Diangela merasa waktu berhenti saat ini. Dia tertegun lama.
Rasa hangat mulai menjalari seluruh tubuhnya, rindunya pada gadis itu kian memuncak saat Stella mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
'Dia' juga sering melakukan itu ketika sedang kesal. Dan sialnya, nama, gerak-gerik, dan keberanian juga kepolosannya sangat mirip dengan 'gadis itu.'
Diangela mendengus sebal. Atmosfer dari sekitar tubuhnya mendadak berubah menjadi menyeramkan. Laki-laki itu mengarahkan pisau lipatnya pada leher si preman yang bergeser tadi.
Diangela berbisik pelan, "cepat, suruh bossmu pergi dari sini." perintahnya dengan nada rendah tapi mengancam.
Preman itu menoleh kaku pada Diangela, bulu kuduknya meremang mendengar bisikannya yang mengancam. Karna refleks ia mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah bossnya yang sedang berteriak.
"Jangan percaya sama ucapan dia! Dia pasti bohong! Paling cuma gertak sambal doang!" teriak si boss preman, ketika melihat anak buahnya memasang raut wajah takut.
"Boss." bisik preman yang di ancam tadi. Si boss preman menoleh dengan wajah sangarnya.
"Apa?" tanyanya ngegas.
"Mendingan kita pergi sekarang. Kelihatan dari wajah tu cewek, nggak mungkin dia bohong." bisiknya.
"Ck! Lo jan—"
Suara sirene mobil Polisi terdengar. Membuat para preman kelabakan. Mereka bersiap melarikan diri.
"Ayo kita kabur. Dan lo." si boss preman menunjuk Diangela, "urusan kita belum selesai. Kalau nanti gue liat lo lewat sini lagi, gue bakal langsung abisin lo di sini." Ancamnya lalu berlari pergi menyusul anak buahnya yang sudah berlari duluan.
Stella tersenyum senang, "untung aja, Tata nitip beli mobil-mobilan Polisi. Jadinya bisa ngusir mereka, hihi." gadis itu cekikikan.
Pandangannya lalu beralih pada Diangela yang babak belur. Gadis itu melangkah mendekat pada laki-laki itu.
"Eh, abang nggak papa?" tanya Stella dengan raut wajah khawatirnya.
Diangela diam tak menjawab.
Stella berkali-kali mengibaskan tangannya di depan wajah tampan Diangela. "Halo, abangnya masih idup, kan? Lukanya nggak separah itu, kan, sampai buat abang jadi patung?" tanyanya dengan kerlipan mata polosnya.
Diangela mendengus. "Jangan sok jadi pahlawan kesiangan." ucapnya lalu berjalan menjauh. Meninggalkan Stella yang melongo di tempatnya.
"Dasar nggak tahu terimakasih! Aku udah tolongin juga." Stella mengembungkan pipi kirinya, "lagian ini juga udah malem, bukan siang. Jadinya bukan pahlawan kesiangan, tapi pahlawan kemaleman!"
***
Nishad Jazztin Anederea
Ansell Arian Rendra
Diangela Dominico Edard
__ADS_1
Auristella Allisya Lesham Shaenette