
"Jadi, kau sudah tahu kalau kami semua ini psikopat?" tanya Stevano pada Stella.
Stella mengangguk. "Iya."
Stevano menyipitkan matanya. "Kau tidak takut?"
"Aku pribadi sendiri tidak takut. Tapi sepertinya tubuhku tidak." Stella menujuk kedua kakinya bergetar. "Kakiku gemeteran sejak tadi." Akunya.
Stevano tertawa kecil. "Kau lucu juga! Aku tidak tahu ternyata Stella-stella ini punya paras yang cantik."
"Terimakasih atas pujiannya."
Stevano mendekat pada Stella. Ia menoleh sebentar pada Diangela, dan Aris yang tengah berbincang. "Kau harus membuat Diangela jatuh cinta." bisik Stevano.
"Hah?" Stella jadi kebingungan. Ia pikir ayahnya Diangela akan menentangnya berhubungan dengan Diangela, mengingat paman nya itu sedari tadi melemparkan tatapan tak suka padanya.
Stevano mengangguk. "Iya. Aku bertaruh dengan adikku, kalau Diangela jatuh cinta padamu dia akan memberikan lengan kanannya. Sedangkan jika Diangela tidak mencintaimu, aku akan memberikan ginjalku padanya."
Stella meringis pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jadi taruhan antara psikopat itu dengan anggota tubuhnya ya? Gadis itu tertawa canggung. "Ya tentu saja! Aku akan melakukannya tanpa di komando."
Stevano tersenyum puas. Ia kembali bersandar ke sofa.
Di tempatnya, Stella celingukan ke kanan dan ke kiri. "Ngomong-ngomong kak Ansell sama kak Jazztin kemana?"
"Paling juga di kamarnya." Jawabnya acuh tak acuh. "Oh, ya kau mau ikut makan siang dengan kami, di rumahnya Aris?" ajak Stevano. "Kami kesini juga untuk mengundang ketiga anakku itu, untuk ikut makan siang bersama kami. Tapi kami selalu gagal membujuk mereka untuk ikut. Apa kau bisa membujuk mereka?"
"Apa tidak papa aku iku makan siang? Sepertinya paman itu tidak suka padaku." Stella menatap Aris yang sedang berbincang dengan Diangela. Sesekali pria itu melirik tajam pada Stella.
Stevano ikut menoleh pada Aris. "Perset4n dengan itu! Pokoknya kau harus membujuk ketiga anakku dan ikut makan siang."
"Baiklah!" Stella menyetujuinya saja. Hitung-hitung untuk mengenal baik keluarga Diangela, dan sebagai batu loncatannya agar mengenal Diangela lebih dekat.
•••
Prank!
Boom!
Stella memejamkan matanya saat suara barang pecah dan ledakan terdengar. Saat ini ia sudah duduk di sofa, tepatnya di rumah paman nya Diangela, Aristide Keano.
Ia menatap ngeri pada anak-anaknya Aris yang bermain seenaknya. Mereka juga memecahkan porselen yang kelihatan mahal, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Apalagi ayahnya, Aris tidak menegur mereka.
Stella jadi tertawa canggung melihat itu. Di hadapannya ada Aris yang tengah duduk sambil berkutat dengan laptopnya. Di sebelah Aris, ada Diangela yang tengah menyesap kopi hitamnya.
Dan di sebelah kanan dan kiri Stella, ada Ansell dan Stevano.
"Apakah mereka selalu seribut ini?" bisik Stella pada Stevano. Baru beberapa saat mereka saling mengenal, hubungan keduanya sudah begitu akrab.
__ADS_1
"Ya." Jawab Stevano. "Dan apa kau tahut tadi itu suara ledakan apa?"
Stella menatap Stevano penuh harap lalu mengangguk. "Itu suara-"
"UNCLE ARIS!!!! ANAK MU MELEDAKAN DAPUR! JADI BAGAIMANA AKU MEMASAK!" teriak Jazztin kesal menyela perkataan Stevano.
Meledakan dapur? Meledakan dapur? Meledakan dapur? Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Stella.
"Pakai dapur cadangan saja!" balas Aris cuek. Jazztin memutar kedua bola matanya, lalu berlalu dari sama sambil mengumpati anak paman nya yang baru berusia 6 tahun itu, yang meledakan dapur dengan bom buatannya sendiri.
Si pelaku yang meledakan bom itu laku keluar dari tempat persembunyiannya ketika melihat Jazztin sudah berlalu. Anak laki-laki itu bersorak senang. Ia berlari menghampiri ayahnya, Aris.
"Ayah!" panggilnya. "Aku berhasil membuat bom ku sendiri dan meledakannya!" ucapnya bangga. "Bagaimana?" tanyanya sambil menaik-naikan kedua alisnya.
Aris berkata tanpa menoleh. "Kurang besar kekuatan ledakannya. Keahlianmu masih dangkal!"
Anak itu mendengus pelan sambil menunduk. Seorang anak perempuan yang tadi memecahkan porselen mahal, ikut menghampiri ayahnya bersama dengan sebuah handphon di tangannya.
"Ayah! Aku berhasil meretas server pemerintah." Ucapnya anak berusia 8 tahun itu dengan bangga dan menunjukannya pada Aris.
"Kau sudah bisa meretas situs dark web?"
Anak perempuan itu menggeleng.
"Kalau begitu kau tak cukup pintar." Ucapnya dingin. "Pergi sana!" usinrnya yang langsung membuat kedua anak tadi melenggang pergi bersama sebuah makian yang di layangkan untuk ayahnya itu.
Stella di tempatnya hanya bisa melongo.
"Anaknya ada berapa? Kenapa aku melihat banyak anak kecil disini? Belum lagi yang di luar." Bisik Stella.
"Anaknya ada 12." Stevano yang menjawab. Stella menoleh kaget.
"Du-dua belas?" tanyanya tak percaya.
Stevano mengangguk.
"AKU MAU CERAI!" suara teriakan seorang perempuan membuat Stella menoleh.
"Itu menantunya Aris." Ucap Stevano.
"Cerai ya cerai! Jadi rumah gimana?" tanya seorang laki-laki yang merupakan suami dari perempuan itu.
"Dan itu anak pertamanya Aris." Stella mengangguk mendengar perkataan Stevano.
"Apa mereka sering bertengkar?" tanya Stella.
"Setiap hari tanpa terlewat." Jawab Ansell dan Stevano kompak.
__ADS_1
"Rumah ada 20! Satu orang 10 lah!"
"Mobil gimana?
"Mobil ada 10. Satu orang 5 lah!"
"Anak cuma satu, gimana?"
"Emmmm...... buat satu lagi lah!"
Stella hampir tersedak salivanya sendiri mendengar itu.
Anak pertama Aris yang bernama Aldrich itu tersenyum miring. "Ok! Yuk..." ucapnya dengan senyum miring lalu menggendong istrinya itu ala bridal style.
"Eh, eh! Kenapa menggendongku! Aku bisa berjalan sendiri tahu!" pekik perempuan itu.
Arnold, adik dari Aldrich yang baru turun dari tangga dan melihat itu mendengus. "Lahir anak kembar, nggak jadi cerai lo!" ucapnya lalu berjalan menuju meja makan dengan gelas berisi cairan berwarna hijau di tangannya.
Stella kembali menolehkan kepala ke depan. Sebenarnya apa yang salah dengan keluarga ini?
"Hai kakak!" sapa anak kembar laki-laki bernama Ethan dan Erlan pada Stella.
Stella tersenyum melihat itu. "Hai." Sepertinya anak kembar ini normal. Tidak seperti anak kecil tadi yang berani mengumpati ayahnya sendiri.
"Kau mau minum ini?" tanya keduanya kompak sambil menyodorkan gelas berisi cairan hijau yang di pegang nya.
"Ah, terima kasih." Stella hendak meraih gelas itu sebelum Diangela menendang bokong kedua bocah kecil itu hingga terjatuh.
"Kak Ian, kenap-"
"Kalian hendak meracuni kekasihku, Erlan Ethan?" tanya Diangela sambil menatap sengit pada kedua anak kecil yang berusia 9 tahun itu.
"Cih! Kau menggagalkan rencana ku Diangela, sial4n!" cibir Ethan yang sudah bangkit berdiri.
"Meracuni?" gumam Stella. Stevano mendekat ke telinga Stella. "Cairan di gelas yang di pegang duo kembar itu, bukan jus atau minuman. Melainkan racun." Ucap Stevano membuat Stella menoleh kaku pada kedua anak kecil itu yang sekarang tengah berdebat dengan Diangela.
"Ra-racun? Kalau begitu." Stella menatap pada Arnold yang sedang duduk di meja makan sambil meminum cairan berwarna hijau di gelas yang di bawanya tadi.
Stevano mengangguk. "Iya. Itu racun."
Stella menganga kaget. "Mereka minum racun? Anak kecil ini juga?" Stella menunjuk Ethan dan Erlan.
Stevano mengangguk.
"Mereka sengaja minum racun, agar kebal dari racun. Itu sudah jadi budaya keluarga Landegre. Karna keluarga Landegre itu punya banyak musuh, dan terkadang makanan kita di racuni juga. Jadinya kita terbiasa mengonsumsi racun sejak kecil agar kebal dari racun." Jawab Ansell.
"Tumben sekali kau ingat itu." Ucap Stevano.
__ADS_1
"Hah." Stella tertawa canggung. Ia memejamkan kedua matanya sambil merapatkan bibirnya.
KELUARGA APA INI SEBENARNYA?!!