
"Stella, kamu punya pacar?" tanya Zanna pada putrinya yang tengah sibuk makan.
Stella mendongak, gadis itu mengangguk. "Punya. Emangnya kenapa?"
Mata Zanna menyipit. "Apa namanya Diangela?"
Sekali lagi Stella mengangguk. "Iya. Kok Bunda bisa tahu." Ucapnya.
Zanna berdekhem. "Apa dia orangnya baik?"
Stella mengerutkan dahinya bingung. Kenapa bundanya bertanya ini itu mengenai Diangela? "Baik kok orangnya. Kemarin aja ngasih aku Cheesee cake yang banyak." Walaupun begitu gadis itu tetap menjawabnya.
Zanna membulatkan bibirnya. "Ohhh gitu." Ia jadi mengernyit ketika menyadari sesuatu. "Oh, ya. Ngomong-ngomong waktu semalem anak itu nggak manggil aku tante, tapi kau." Gumam Zanna.
"Apa bun?" tanya Stella ketika mendengar suara Zanna yang terdengar patah-patah di telinganya.
Zanna menggeleng lalu tersenyum. "Nggak papa kok."
Stella meraih gelas berisi susu lalu meminumnya. "Ngomong-ngomong bunda kenapa bisa tahu tentang kak Ian?" tanyanya setelah meneguk susu hingga tandas.
"Y-ya ta-tahu aja! Pokoknya Bunda bisa tahu apapun tentang kamu." Zanna jadi gelagapan. "Nggak usah di pikirin, sana berangkat! Nanti telat lagi."
Stella ber-oh- ria. Gadis itu berdiri. "Yaudah Stella berangkat ya bun."
"Iya. Hati-hati!"
•••
Stella berteriak kaget ketika, mobil angkot yang di naikinya rem mendadak. Gadis itu melepas earphone yang terpasang di telinganya dengan kesal. Padahal ia sedang asik-asiknya mendengarkan musik.
"Pak ada apa sih? Kok rem mendadak?" tanya Stella yang kebetulan duduknya tepat di belakang sopir. Di depannya adalah pintu keluar angkot.
"Ada anak sekolah yang ngalangin tiba-tiba di depan." jawab si sopir angkot.
"Hei." Panggilan itu membuat Stella menoleh ke arah pintu keluar. Ia mengernyit ketika mendapati Diangela di sana, tengah bersandar di pintu sembari memegang helmnya.
"Kak Ian." Gumamnya.
"Anj1rrr ada cogan!" pekik seorang perempuan seumuran Stella. Dia juga anak sekolahan.
"Dia manggil siapa ya?"
__ADS_1
"Manggil gue mungkin!"
"Halu aja lo! Mana mungkin dia nyamperin lo yang buluk."
"Ish! Biasa aja dong!"
"Gamau tahu pokoknya dia milik gue! Titik."
Suara bisik-bisik dari arah samping membuat Stella menoleh. Tunggu! Cewek tadi bilang apa? Kak Ian kekasihnya ingin di miliki olehnya? Berarti nanti jika cewek itu beneran jadi milik kak Iannya, berarti dia tidak akan mendapat Cheesee cake lagi dong?!
Nggak! Nggak boleh! Ini nggak boleh di biarin. Enak aja, mau nyuri Cheesee cakenya Stella.
Stella menatap sinis pada cewek yang berada tepat di sampingnya, yang mengatakan Diangela miliknya. "Nggak boleh! Kak Ian pacar aku." Ucapnya kesal membuat gadis di sampingnya menoleh.
"Apa?"
"Itu." Stella menunjuk Diangela dengan dagunya. "Pacar aku."
Gadis itu menjawab dengan delikan. "Ngarep!" katanya sinis.
"Pak. Saya ambil pacar saya, ya pak! Ini uangnya." Ucap Diangela memberikan selembar uang berwarna biru.
Laki-laki itu menoleh pada Stella, lalu mengulurkan tangannya. "Sini! Kenapa langsung berangkat sih! Aku kan udah bilang bakalan jemput." Ujar Diangela agak kesal. Laki-laki itu bahkan rela bangun pagi demi mengantar jemput gadis itu.
"Ohhhh, yang itu! Kirain bohongan." Ucapnya lalu meraih tangan Diangela dan turun dari mobil angkot itu.
Sekumpulan anak sekolahan di angkutan itu melongo. Terutama si cewek yang bilang "ngarep" pada Stella.
Sebelum turun Stella sempat menjulurkan lidahnya pada si cewek tadi.
•••
"Hahahaha. Lucu banget ih, inget kejadian tadi pagi. Enak aja, cewek itu mau ngambil Cheesee cakenya Stella." Ujar Stella itu dengan wajah sumringah. Gadis itu tengah menepuk-nepuk pipinya. Ia sedang memakai serum.
"Ngomong-ngomong kak Ian ngapain ada di sini?" tanya Stella lalu menoleh pada Diangela yang tengah tiduran di ranjangnya.
Laki-laki itu menoleh. "Menjagamu." Ucapnya singkat.
Sejak kejadian laki-laki yang masuk ke kamar Stella, Diangela memang berencana untuk menjaga Stella setiap malam sampai gadis itu terlelap dan sampai dia merasa, tidak akan ada bahaya yang datang.
Stella jadi tertawa mendengar itu. "Emangnya aku anak kecil apa! Sampai kudu di jagain segala."
__ADS_1
Diangela mendengus malas. "Ya emang anak kecil. Anak kecil!" Ucapnya dengan sengaja, yang membuat Stella mendelik.
"Aku bukan anak kecil ya! Jadi jangan panggil aku anak kecil. Panggil aku Stella!" Ujar Stella menggebu-gebu. Wait! Kok ia jadi merasa familiar dengan perkataannya barusan. Itu seperti dialog dalam film kartu Shiva yang terkadang ia tonton di pagi hari.
"Ya, ya terserah. Lagian aku kan jagain pacarku." Ucap Diangela ogah-ogahan. Untuk mengucapkan perkataan tadi, laki-laki itu berlatih terlebih dahulu agar nantinya tidak terdengar kaku.
Sebenarnya ia juga merasa jijik dengan kata-kata seperti, menjagamu, menyebut Stella pacarnya, atau kata-kata puitis yang manis seperti di bumbui oleh gula itu. Lalu bersandiwara ini itu demi menjalankan misinya.
"Pacar apanya! Aku pacaran sama kak Ian cuma karna mau Cheesee cake aja! Nggak ada yang lain! Jadi kak Ian nggak boleh ngarepin cinta sama aku." Nasihatnya lalu mengoleskan lip balm di bibirnya yang terasa kering.
"Siapa juga yang ngarep!" batin Diangela sambil memutar kedua bola matanya.
Laki-laki itu bangkit dari tidurnya. Ia menoleh pada nakas, di sana ada mangkuk berisi mie kuah. "Ini makan malammu?" tanyanya.
Stella mengangguk tanpa menoleh.
"Bukannya makan mie instan saat malam itu nggak baik ya? Kenapa Little Sheep malah makan?"
"Ya, terserah aku lah!"
"Ya, ya terserah kau saja!" Diangela memutar kedua bola matanya. "Ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku melihat mie instan. Biasanya cuman lihat di TV."
"Masa sih! Yang bener?" tanya Stella kaget.
Diangela menatap Stella. "Iya. Beneran kok." Laki-laki itu menatap kembali mie itu. Ia jadi mengernyit ketika melihat beberapa perubahan pada mie instan tersebut.
Diangela langsung berjengit kaget bahkan sampai meloncat mundur ke ranjang Stella, ketika ia menyadari sesuatu yang aneh di mie itu.
"Mienya...." Ujar Diangela sambil menunjuk mangkuk mie. Stella yang melihat itu mengernyit.
"Mienya kenapa?"
"Mienya...."
"Kenapa? Mienya ada ulernya?" tanyanya lalu melangkah maju menuju nakas, mengambil mangkuk itu ketika sudah sampai, dan memperhatikan mienya dengan intens. "Nggak ada apa-apanya kok." Kata Stella.
"Mienya jadi tambah banyak." Stella menatap kaget pada Diangela lalu tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?" tanya Diangela kesal.
"Ini itu bukan tambah banyak. Tapi mengembang! Mienya mengembang karna terlalu lama di anggurin. Dasar bodoh!"
__ADS_1
Diangela berdecih. "Mana aku tahu. Aku kan tidak pernah makan makanan murahan, seperti mie instan! Orang kaya sepertiku setiap hari, makannya di masakan oleh chef terbaik." Ucapnya dengan nada jumawa yang langsung membuat Stella tertohok.
"Iya, iya yang anak sultan." Cibirnya sambil meleletkan lidah.