
"Dasar, merepotkan!" gerutu Jazztin sambil memanggul Quin ke bahunya. Ia berjalan menuju mansionnya.
Dengan kasar, Jazztin membangting tubuh Quin ke ranjang king sizenya. Ia bergegas mengambil kotak p3k, dan es batu. Setelahnya ia membuka kotak itu, mengambil obat merah dan perban.
Jazztin menuangkan obat merah itu ke kapas, lalu menepuk-nepukannya ke pipi Quin yang tergores dengan kasar. Sebelumnya ia membersihkan darah di pipinya dengan tisu basah.
"Aku berharap kau mati sekalian!" Jazztin menatap risih pada Quin, sambil memasangkan perban ke lukanya. Setelah membalut pipi Quin yang tergores, ia lalu mengompres jidat Quin yang untungnya tidak berdarah, tapi hanya benjol saja.
Gerakan Jazztin terhenti ketika ia teringat sesuatu. "Kenapa aku melakukan ini?" tanyanya pada diri sendiri. Jazztin lalu menatap es batu yang di balut kain di tangannya, dengan tatapan bingung.
"Aishh! Menyebalkan!" Jazztin berdiri lalu membanting es batu itu ke lantai. "Kenapa aku harus repot-repot mengobati dia? Dan lagi, kenapa aku membawanya ke kamar ku?" ucapnya lagi dengan kesal.
Jazztin lalu membereskan kotak p3k dan es batu itu sambil mendumal kesal, ia menyimpan kotak dan es batu itu ke tempatnya semula. Jazztin menatap Quin sambil mencibir pelan. Ia lalu melangkah maju, menarik Quin hingga posisinya menjadi duduk.
Awalnya Jazztin ingin menggusur Quin! Tapu sepertinya itu hanya akan mengotori lantainya. Dengan amat sangat terpaksa, Jazztin membopong Quin lalu membawanya menuruni tangga dan melemparnya ke sofa.
Setelahnya Jazztin berjalan pergi ke ruang bawah tanah. Tempat di mana Diangela, Ansell dan dirinya membunuh.
"Kumohon jangan!! Aaaaaaaaa! Biarkan aku pergi hiks hikss, a-aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Kumoh- aaaaa." Jeritan dan tangisan pilu terdengar saat Jazztin masuk ruangan itu.
Terlihat dari tempatnya berada, Ansell tengah bersenang-senang dengan mangsanya. Biasanya yang melakukan itu adalah Diangela! Tapi sekarang laki-laki itu menghilang entah kemana.
"Ada orang! To-tolong, tolong aku." wanita itu merangkak maju menuju Jazztin, dengan keadaan yang mengenaskan. Matanya sudah tidak ada sebelah, telinganya juga. Jari-jari tangannya terpotong habis. Tubuhnya penuh sayatan, dan luka tusukan.
Kakinya terlihat melepuh. Di lihat dari lukanya, itu bekas di pukul dengan besi yang baru di panaskan. Kulit pipinya terkelupas, menampakan dagingnya yang berwarna merah. Hidungnya sudah tidak ada.
Jazztin menatap jijik pada wanita itu. Ia menendangnya ketika wanita itu hampir menyentuh ujung sepatunya. "Aku tidak suka terkena darah! Apalagi darah kotor sepertimu!" cibir Jazztin.
"Kau minum-minum?" tanya Ansell yang berjongkok dengan sekujur tubuhnya yang di penuhi darah korban itu. "Ah! Lihatlah serangga itu! Berusaha melarikan diri!" Ansell tersenyum remeh melihat mangsanya yang tengah berusaha merangkak menuju pintu yang terbuka.
"Cepatlah habisi dia! Suaranya melukai gendang telingaku." Jazztin duduk di kursi plastik yang ada di sana, dengan tatapannya yang memancarkan ketidaksukaan pada wanita itu.
"Ok! Baiklah, baiklah! Aku akan menghabisinya. " Ucapanya Ansell lantas membuat wanita itu merangkak lebih cepat dengan ketakutan.
Ansell berdiri, ia melangkah menuju mangsanya itu. Tapi kemudian, langkahnya terhenti ketika suara teriakan perempuan terdengar.
"Jazztin! Jazztin! Kau di sana?"
Jazztin sontak berdiri, ketika mengenali teriakan itu. Ya! Itu adalah teriakan dari gadis bodoh dan gila bernama Quin, itu!!
Ansell menoleh pada Jazztin. "Kau membawa mangsa?" tanyanya.
Jazztin menggeleng. Ia baru ingat, bahwa ia belum menutup pintu yang menuju ke ruang bawah tanah. Dengan cepat, ia maju hendak menghentikan Quin menuju ruangan ini. Tapi terlambat! Quin dengan boneka kelincinya terlihat berdiri di ujung pintu.
__ADS_1
"Aishh!!!! Kenapa dia malah bangun sih?!" gerutu Jazztin.
"Kau kenal?" tanya Ansell.
Dia tempatnya, Quin menelengkan kepala ke kiri ketika melihat seorang wanita dengan luka di sekujur tubuhnya meminta tolong padanya.
"To-tolong aku! Kumohon!" lirih wanita itu tak bertenaga.
Quin berjongkok. "Kau meminta tolong padaku?" tanyanya. Wanita itu mengangguk semangat, pikirnya ia akan di tolong oleh gadis ini karna sepertinya gadis ini mengenal salah satu pria yang ada di sini.
Jazztin yang hendak berjalan dan membawa Quin pergi, tercekat. Tubuhnya membeku dan matanya melebar sempurna. Matanya tak berkedip satu kali pun melihat pemandangan di depannya.
Ansell pun sama. Laki-laki itu sampai menjatuhkan parang di tangannya, dan rahangnya menganga lebar. Tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Ansell mengucek-ngucek kedua matanya sekedar memastikan.
Ternyata penglihatannya tidak salah! Gadis dengan wajah dan tatapan polos itu, tengah mencabik-cabik leher mangsanya dengan pisau lipatnya. Gadis itu tersenyum senang.
"Sudah!" Quin bertepuk tangan senang setelah memastikan wanita yang meminta tolong padanya itu mati. "Aku sudah menolongmu." Gadis itu lalu mengelus-ngelus kepala wanita itu. "Semoga kau senang di alam sana." Ucapnya lagi.
Quin mendongak menatap Jazztin yang masih membeku. "Jazztin!" panggil Quin tersenyum senang karna berhasil menemukan laki-laki itu. Gadis itu lalu berlari kecil menuju Jazztin. "Jazztin aku lapar!" ucapnya dengan manja begitu sampai di depan Jazztin.
•••
Ansell dan Jazztin saling melempar tatapan bingung. Di depan mereka sekarang, ada Quin yang tengah asik melahap kue dengan tangannya.
"Di club." Balas Jazztin dengan mata yang tak lepas dari Quin.
"Dia psikopat?"
Jazztin menoleh pada Ansell. "Dia bahkan tidak tahu cara membuka pintu mobil!!!" bisiknya lagi sambil agak mendesis.
Ansell memundurkan wajahnya. "Apa?!" laki-laki itu menaikan sebelah alisnya dengan pupil matanya yang melebar.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Quin dengan pipinya yang belepotan dengan krim kue. Quin meremas kue di depannya dengan tangan, membawanya ke mulutnya lalu memakannya.
Jazztin mengernyit jijik melihat cara makan Quin yang serampangan. "Kau tidak lihat di sana ada sendok dan garpu?"
"Siapa namamu?" tanya Ansell.
Quin mengalihkan tatapannya pada Ansell. "Quin!"
"Nama lengkapnya?"
"Quinsha Qiana Qalesha!"
__ADS_1
"Kenapa kau bisa bersama dengan Jazztin?"
"Dia yang mengemis untuk ikut bersamaku." Ucap Jazztin.
Quin menatap ke atas sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya ke bibir. Dahinya mengerut karna gadis itu tengah berpikir.
Ansell mengigit bibir bawahnya gemas. Ia mendekatkan kepalanya pada Jazztin. "Kenapa dia begitu menggemaskan?!" bisik Ansell.
"Menggemaskan apanya?" delik Jazztin.
"Matamu buta ya?" cibir Ansell lalu kembali mendekat pada Quin.
"Aku ikut Jazztin karna aku melihatnya di layar besar." Ucap Quin.
"Layar?" beo Ansell. Quin mengangguk dengan ekspresi menggemaskan.
"Emm. Di layar yang biasanya ada orang tengah membunuh seperti yang kau lakukan!"
Ansel mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
Jazztin mendekat pada Ansell. "Sudah kubilang kan, dia itu aneh!"
Ansell menoleh lalu mendorong jidat Jazztin agar menjauh. "Kau yang aneh!" ejeknya lalu kembali menoleh pada Quin. "Oh, ya! Kenapa kau membunuh wanita tadi? Bukankah dia meminta tolong padamu?"
"Dia membunuhnya karna dia memang aneh." Timpal Jazztin membuat Ansell menoleh gemas.
"Bisakah kau diam!" geramnya lalu kembali menatap Quin.
"Dia kan meminta tolong, ya aku membantunya." Jawab Quin.
"Membantunya? Dengan membunuhnya?"
Quin menipiskan bibir lalu menggeleng kaku seperti robot. "Aku mengakhiri penderitaannya dengan membunuhnya." Katanya lalu kembali mengambil kue dengan tangannya dan memakannya. "Percuma dia hidup dengan keadaan seperti itu. Jari-jarinya tidak ada, sebelah matanya tidak ada, hidungnya tidak ada, sebelah telinganya tida ada, dan di sekujur tubuhnya pasti akan meninggalkan bekas luka, setelah di obati."
"Dengan begitu, dia akan menjadi bahan cemoohan orang-orang bukan? Pasti banyak yang membullynya. Kemudian membuatnya frustasi dan tertekan! Dan aku yakin 90% dia akan bunuh diri. Bukankah lebih baik aku membunuhnya duluan? Dengan begitu dia tidak akan menderita!"
Jawaban Quin mampu membuat Jaaztin dan Ansell tercengang.
Gerakan Quin yang hendak kembali makan, terhenti ketika matanya melihat objek yang di carinya selama ini. Quin tersenyum senang saat Diangela berjalan menuju tempat mereka.
"Ian!!!" teriak Quin lalu berlari dan memeluk Diangela.
•••
__ADS_1
Hai, huhu. Dah lama ya, aku ndak up! PTS aku, jadinya tak up, apalagi sama tugas-tugasku yang udah menumpuk. Aku ngerjain tugas sama PTSnya beberapa hari ini.