
"Ibu!!" perkataan Erlan terpotong oleh panggilan Aiden. Anak itu berjalan ke arah Stella dengan senyum lebarnya.
Stella berbalik, lalu tersenyum. Saat Aiden sudah dekat dengannya, Stella langsung berjongkok dan memeluk Aiden lalu menggendongnya.
"Ibu mencari ku?" tanyanya sambil mengalungkan tangannya ke leher Stella.
Stella mengangguk. "Iya. Aiden dari mana saja?" tanya Stella sembari merapihkan rambut Aiden yang berantakan.
"Oh itu. Aku habis bermain di..." Aiden menoleh ke belakang. Telunjuknya terarah ke pohon besar. "Sana." Lanjutnya kembali menoleh pada Stella dan tersenyum.
"Kita bicaranya di sana saja ya! Di sini ada duo setan!" sindir Stella sambil mendelik pada Ethan dan Erlan.
Aiden mengangguk lalu dengan manjanya ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Stella, dengan senyum manisnya. Sedetik kemudian ekspresinya menjadi dingin. Matanya menatap tajam pada Ethan dan Erlan. Kilat matanya seolah menghunus bagai pedang bila di dekat orang lain. Tapi bila di dekat Stella, kilat matanya berbinar dan menggambarkan anak kecil ceria pada umumnya.
Ethan dan Erlan di tempatnya juga balas menatap sengit pada Aiden.
"Oh, ya di mana kak Ian?" tanya Stella.
Dengan cepat, Aiden mengubah ekspresinya menjadi ceria lalu mengangkat wajahnya dan menatap Stella. "Dia sedang ada urusan. Nanti juga balik lagi." Aiden mengakhiri ucapannya dengan senyum tipis.
Ethan menyipitkan mata melihat ekspresi Aiden yang berubah ketika sedang bersama Stella. "Cih! Dasar muka dua!"
Erlan juga ikut berdecih. Ia lalu bersedekap dan matanya terus mengikuti segala pergerakan Aiden yang di gendong Stella. Matanya menyipit. Erlan meniup sejumput rambutnya yang menghalangi penglihatannya. "Aku heran kenapa Aiden bersikap seperti itu, padahal dia sendiri sudah tahu kalau Stella itu bukan ibu kandung aslinya." Ujarnya dengan mata yang tak lepas dari Aiden.
•••
"Semuanya tiga puluh ribu, mbak." Ucap kasir sembari menyodorkan kantong plastik pada Tata. Tata juga menyodorkan selembar uang berwarna biru pada kasir.
"Kembaliannya dua puluh ribu. Makasih." Tata menerima kembalian dan struk belanjaan sambil tersenyum tipis. Setelahnya ia langsung keluar.
Begitu keluar, Tata langsung mengernyit dan memejamkan mata lalu menghalangi wajahnya dengan tangan kirinya, ketika sinar matahari menusuk matanya.
Pelan-pelan ia menurunkan tangannya setelah matanya sedikit terbuka, dan menyesuaikan diri. Selepasnya Tata langsung bergegas pergi.
"Panas banget!" ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya. Padahal baru beberapa langkah ia menjauh dari supermarket, tapi ia sudah kepanasan.
Tanpa pikir panjang, Tata mengambil minuman soda dingin dari kantong plastik dan meminumnya. Ketika sedang asik minum sambil berjalan, matanya tanpa sengaja menangkap satu objek yang tak jauh darinya.
Tanpa bisa di cegah, Tata tersedak lalu terbatuk ketika menyadari objek itu adalah orang yang belakangan ini ia hindari. Yup! Itu adalah Ansell. Di lihat dari tempatnya berada, laki-laki itu nampak sedang celingukan ke kanan ke kiri dengan ekspresi bingung.
"Kenapa harus ketemu kak Ansell di sini, lagi!" gerutu Tata setelah batuknya reda. Tata langsung melebarkan mata dan memalingkan wajah ketika matanya tak sengaja bertubrukan dengan mata Ansell.
"Aishhh!!" Tata langsung menutupi wajahnya dengan kantong plastik lalu berjalan cepat. "Semoga nggak lihat, semoga nggak lihat." Tata merapalkan kalimat itu berulang kali. Berharap Ansell tak melihat dirinya.
Tata mempercepat langkahnya menjadi berlari. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Tata melirik sedikit ke belakang. Tepatnya ke tempat dimana ia melihat Ansell.
Gadis itu memperlambat langkahnya dengan kepala yang masih menoleh ke belakang. Kerutan di dahinya nampak jelas, ketika melihat Ansell sudah tak di tempatnya lagi.
Brukk!
Tata terpental ke belakang ketika dirinya menabrak sesuatu yang keras, hingga dirinya terjatuh.
"Maaf, maaf." Ucap Tata lalu membereskan belanjaannya yang berserakan lalu mendongak. Senyumnya langsung luntur ketika melihat Ansell berdiri menjulang di depannya dengan wajah dingin. Ekspresinya persis saat laki-laki itu hendak membunuhnya di gang.
Tubuhnya langsung mengirimkan sinyal bahaya, membuat bulu kuduk Tata berdiri dan tubuhnya gemetar. Ia menelan salivanya susah payah seolah ia menelan sebongkah batu besar. Dengan refleks, Tata langsung mundur, berdiri lalu berbalik dan memasang ancang-ancang, hendak berlari.
__ADS_1
Belum satu langkah pun Tata berlari, tangannya sudah di cekal oleh Ansell.
"Mau kemana? Kenapa lari?"
Di tempatnya Tata merapatkan bibirnya lalu memejamkan mata rapat-rapat sambil merutuki Ansell. Dengan kaku ia menoleh ke belakang.
"O-ohh. Ha-hai." Tata melambaikan tangan dan senyum paksa dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya.
Ansell menyipitkan mata. "Aku merasa pernah melihatmu, tapi...." laki-laki itu mengernyitkan dahi sambil berusaha berpikir. "Di mana ya?" tanyanya.
Tata melebarkan matanya. "Kita nggak pernah ketemu kok." Ucap Tata lalu berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Ansell.
"Aku tidak bilang kalau kita pernah bertemu. Aku hanya bilang aku merasa pernah melihatmu." Ansell semakin menyipitkan mata dan melayangkan tatapan curiga pada Tata yang sudah membeku akibat perkataannya.
Bola mata Tata bergerak tak beraturan sambil mendesis pelan. Ia terus menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Ansell.
Ansell menunduk ketika botol kaleng minuman menyentuh ujung sepatunya. "Kau tidak memunguti belanjaanmu?" tanyanya sambil menelengkan kepala.
"Bisa nggak lepasin tangan lo." Cicit Tata denga kepala yang menunduk dalam-dalam.
"Ah, iya!" Ansell langsung melirik tangannya kemudian melepaskannya. "Maaf! Aku lupa."
Tata mengepalkan tangannya yang sudah berkeringat. Dengan kaku ia berjongkok dan memunguti belanjaannya yang kembali jatuh karna ia kaget saat melihat Ansell.
Setelahnya, Tata langsung berdiri lalu berbalik dan hendak berjalan.
"Ah iya aku ingat!" ucapan Ansell langsung membuat Tata berhenti. Tubuhnya membeku dengan matanya yang melebar.
Otaknya langsung blank karna memikirkan ini dan itu. Apa jangan-jangan Ansell sudah ingat kejadian waktu itu? Jika ingat apa mungkin dia akan di bunuh? Itulah pikiran-pikiran yang terus tergiang-ngiang di kepala Tata.
Degh!
Jantung Tata seakan berhenti berdetak. Lututnya terasa lemas, dan keringat semakin membanjiri wajah serta tubuhnya. Nafasnya kian memburu. Jantungnya mulai berdetak cepat, bola matanya kini bergerak tak beraturan.
Tubuhnya terasa kaku untuk ia gerakan. Tangannya meremas kantong plastik yang di pengangnya. Rasa cemas dan takut mulai melanda dirinya.
Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata.
"Tapi aku tidak akan membunuhnu karna kau temannya Stella. Nanti dia sedih jikau kau mati!"
Mendengar itu, bahu Tata langsung merosot. Seolah beban besar yang menumpuk dalam dirinya hilang begitu saja. Walau begitu, Tata tak menghilangkan sikap waspadanya. Laki-laki di belakangnya ini tetaplah seorang pembunuh.
"Oh, ya! Apa kau tahu arah menuju taman?" tanya Ansell.
Tata melirik ke samping dengan dahi mengkerut. "Ke-kenapa mau ke taman?"
"Ibunya Stella bilang, kalau Stella sedang joging ke taman. Aku tidak tahu dimana."
Tata perlahan membalikan tubuhnya. Deru nafasnya kini sudah melambat bersamaan dengan detak jantungnya yang mulai menenang.
"Gu-gue juga mau ke sana—"
"Apa kau tidak bisa berbicara menggunakan bahasa formal? Atau menyebut dirimu dengan nama, seperti Stella? Itu lebih membuatmu terlihat feminim. Dan aku suka wanita feminim, karna biasanya kulit mereka halus dan memudahkan ku untuk menyayat-nyayat kulit mereka."
Oh lord!!!! Baru saja Tata merasa tenang, kini kegelisahan dan ketakutan mulai melanda dirinya lagi. Jika bisa memilih, Tata lebih baik dadah-dadahan dengan ikan piranha di sungai Amazon. Bertemu hewan ganas itu ribuan kali lipat lebih baik daripada bertemu Ansell.
__ADS_1
"Y-ya. Ikuti aku saja k-kalau mau ke taman." Cicit Tata tanpa menatap Ansell, lalu berjalan mendahului laki-laki itu. Ansell berbalik lalu berjalan mengikuti Tata.
Selama perjalanan, hening mendominasi mereka berdua, membuat suasana terasa awkward. Tapi sepertinya yang merasa awkward hanya Tata saja! Ansell malah bersikap cuek.
Di tempatnya, Tata mencuri pandang pada Ansell beberapa kali. Sekedar memastikan bahwa laki-laki itu tidak akan menikamnya dengan pisau di balik sakunya itu dengan tiba-tiba.
"Ada yang mau kau tanyakan?" tanya Ansell karna merasa di perhatikan. Laki-laki itu menoleh pada Tata. "Sedari tadi kau terus curi pandang padaku." Pungkas Ansell menyipitkan matanya.
Tata menggigit bibir bawahnya sambil merutuki dirinya sendiri. "Y-ya...." Tata melirik kecil pada Ansell. "Emmm, s-sebenarnya a....." Tata merapatkan bibirnya. "Ada yang...... ingin ku.... Tanyakan."
Anj1rr!!! Kok gue malah ngomong gitu sih!!! Tata sontak memalingkan wajahnya lalu menampar mulutnya sendiri.
Ansell menaikan sebelah alisnya. "Tanyakan saja!"
Tata langsung kembali menoleh ke depan. "A..... kak Ansell kan punya penyakit Alzheimer, kenapa nggak di obatin ke rumah sakit?" pertanyaan itu spontan meluncur dari mulut Tata begitu saja!
Mendadak, Ansell menghentikan langkahnya. Kelopak matanya turun ke bawah nyaris terpejam, hingga menciptakan tatapan dingin. Ekspresinya benar-benar datar bak manekin. Atmosfer di sekitarnya berubah, membuat Tata bergidik ngeri.
Gadis itu juga menghentikan langkahnya lalu memberanikan diri untuk berbalik dan menatap Ansell.
Apa gue salah tanya ya? Gimana kalau kak Ansell kalap terus bunuh gue? Aishh!!! Ini mulut kok malah asal ceplas-ceplos sih?!!! Rutuk Tata dalam hati.
"Rumah sakit ya?" lirih Ansell dengan nada miris. Pandangannya ke bawah. Menatap ujung sepatunya. Ansell melebarkan matanya ketika ingatan itu datang kembali menghantam kepalanya. Rasa pening mulai menyerangnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat sambil berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdetak keras dan brutal.
Ansell meremas dadanya ketika rasa sakit di hatinya mulai terasa bersamaan dengan kepingan ingatan yang mulai memenuhi pikirannya.
"Kak Ansell nggak papa?" tanya Tata mendekat, ketika melihat Ansell yang terlihat kesakitan. Tata menepuk bahu Ansell.
Ansell langsung membuka matanya ketika tepukan Tata menyadarkannya. Ia terlalu berlarut dalam pikirannya.
"A... Aku tidak papa." Ucap Ansell lalu menepis pelan tangan Tata kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Apa kau tidak menunjukan jalannya lagi?" Ansell menoleh ke belakang.
Tata mengerjap lalu berbalik dan melangkah. "Emmm. Kak Ansell." panggil Tata pelan.
"Hmm."
"Maafkan aku jika pertanyaan tadi membuatmu tersinggung." Ucap Tata diplomatis.
"Alasan kenapa aku tidak mengobati penyakit ku ini karna......" Ansell mengernyit lalu mendongak ke atas. "Sepertinya aku mulai menyukai penyakit ku ini." Lanjutnya lalu memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Menyukai?" tanya Tata tanpa suara sambil menelengkan kepalanya ke kiri.
"Aku bisa melupakan ingatan menyakitkan karna penyakit ku ini. Bukankah itu hebat?" Ansell menoleh pada Tata. Ansell tidak tahu kenapa dia malah mengatakan alasannya tidak menyembuhkan penyakitnya ini pada gadis yang baru di temuinya beberapa kali saja.
Tata terhenti mendengar perkataan Ansell. Gadis itu menatap punggung Ansell. "Tapi, bagaimana jika yang di lupakan itu orang yang kak Ansell sayangi?" tanya Tata membuat Ansell menghentikan langkahnya.
"Orang yang di sayang?" gumam Ansell. Laki-laki itu mendongak menatap langit. Wajah seorang wanita yang sedang berlari sambil menoleh ke belakang dengan senyumnya dan rambutnya tersibak karna angin, tiba-tiba terlintas samar-samar di langit biru itu.
"Aku...." Ansell kembali menunduk lalu berusaha mengenyahkan wajah wanita itu di pikirannya. "Aku tidak punya seseorang yang ku sayang untukku lupakan." Pungkas Ansell lalu kembali berjalan.
Tata yang berjalan di belakang Ansell masih terdiam menatap punggung tegap laki-laki itu. Sekilas Tata mendengar nada sedih dari perkataan Ansell barusan. Sorot matanya pun menjadi lembut bercampur sayu. Ketika bicara pasti menatap langit.
Tata ikut mendongak menatap langit. "Nggak ada apa-apa kok di langit. Tapi kak Ansell kok terus natap langit." Gumam Tata sambil menatap menyelidik ke langit biru yang terbentang di atasnya.
"Sepertinya kita sudah sampai." Ucap Ansell ketika kakinya sudah berpijak memasuki wilayah taman. "Oh! Itu Stella dan Aiden." Ansell menoleh ke belakang. "Kau tidak ikut?" tanyanya melihat Tata yang berdiri di tempatnya dengan kepalanya mendongak ke atas.
__ADS_1
Tata menunduk dan menatap Ansell. "O-oh! Tentu saja aku ikut! Aku beli minuman ini untuk Stella." Balasnya lalu berjalan mendahului Ansell.