Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Cheesee cake


__ADS_3

Suara bisik-bisik terdengar ketika Stella berjalan di koridor sekolah. Mereka menjauh ketika gadis itu berjalan. Stella mengerutkan dahi bingung.


Pandangannya memindai setiap murid yang membicarakan dirinya dengan mata menyipit. Mendapat tatapan dari Stella, mereka tiba-tiba memalingkan muka dan sibuk sendiri, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ada apaan sih?!" tanyanya bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu berhenti melangkah.


"Mereka kenapa ngejauh pas aku lagi jalan? Apa cuma perasaanku aja ya?" Stella kembali berjalan menuju segorombolan laki-laki di belokan koridor yang menuju ke kelasnya. Ia mencoba menguji apakah mereka akan menjauh atau tidak seperti yang lainnya.


Suara langkah kaki membuat segorombolan laki-laki itu menoleh pada Stella. Awalnya raut wajah mereka biasa saja, tapi tiba-tiba mereka membelalak dan langsung pergi begitu saja.


"Kenapa sih?!" Stella menghentak-hentakan kakinya dengan raut wajah kesal. "Ada yang salah sama wajah aku?" tanyanya. Kemudian ia mengambil cermin kecil di sakunya dan bercermin.


Gadis itu memeriksa dengan teliti wajahnya di cerminnya. "Nggak ada yang aneh sama wajah aku. Terus kenapa mereka malah ngehindar ya?" Stella memiringkan wajahnya. "Tunggu!" gumamnya lalu perlahan mengarahkan cerminnya ke samping. Matanya menyipit ketika menyadari ada orang di belakangnya.


Stella bisa melihat itu melalui cerminnya. orang itu sedang menunduk, lalu ia tiba-tiba mendongak membuat Stella berjengit kaget hingga membuat cermin di tangannya terjatuh dan ia refleks berbalik.


"Aaaaaaaaa." Jerit gadis itu. Tapi kemudian dia mengernyit ketika tahu sosok di depannya itu. "devil kok bisa ada di belakangku sih?! Ngagetin aja!" tanyanya agak kesal.


"Devil? namaku bukan itu." Ucapnya datar.


Stella menjentikkan jari. "Oh, iya. Nama kakak itu....... siapa ya? aku lupa. Kalau nggak salah..." Stella mengetuk-ngetuk dagunya. Pandangannya ke atas, kebiasaannya ketika sedang berpikir. "Si......Siangel?" tebaknya ragu-ragu sambil memandang Diangela di depannya.


Diangela menggeleng singkat.


"Oh, iya! Dianjing!" Stella menjentikan jari sambil tersenyum lebar. Murid-murid di sekitar membelalak mendengar itu.


"Iya, kan? Namanya Dianjing kan?" ucapnya sambil mendekat. Kedua alisnya naik turun.


Diangela masih memasang wajah datar. Ia meraih pinggang Stella lalu ia tarik mendekat padanya hingga tubuh mereka bertubrukan.


Stella terkesiap pelan.


Merasa tidak nyaman, Stella langsung memukul-mukul dada Diangela dan berusaha lepas dari pelukannya. Dan tentu saja itu semua sia-sia.


Diangela mendekatkan wajahnya, ia berbisik geram. "Namaku Diangela. Panggil saja Ian. Kau itu sungguh keterlaluan tidak mengingat nama kekasaihmu sendiri." Diangela mengetuk-ngetuk dahi Stella agak keras. "Ingat itu. Gadis bodoh!"


Stella menggeram sebal. Ia mendorong Diangela sekuat tenaga, dan berhasil lolos. Itu pun karna laki-laki itu yang sengaja melepaskannya.


"Kekasih apanya? Aku nggak mau!" Stella melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan mukanya dengan angkuh.


Diangela tersenyum miring. Ia mendekat, lalu meraih dagu gadis itu dan mengarahkan ke depan wajahnya. "Sudah kubilangkan! Aku tidak butuh jawabanmu." Ucapnya dengan nada meremehkan.


Wajah Stella memerah karna marah, ia hendak berteriak tapi tidak jadi ketika Diangela kembali bicara.

__ADS_1


"Kau tahu tidak keuntungan jadi miliknya Diangela?"


Stella kembali ke raut wajah biasanya. "Apa?" tanyanya penasaran.


Diangela mendekat lalu berbisik di telinga gadis itu. "Makan Cheesee cake sepuasnya. Dan aku akan membawamu jalan-jalan setiap akhir minggu. Bukankah kau senang pergi ke Mall, kemarin?"


Diangela menjauhkan wajah dan tubuhnya. Ia bersedekap. "Bagaimana?" tanyanya dengan senyum miring.


Mata Stella menyipit. Ia kembali melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajah dengan angkuh. "Tidak ada jaminan kalau perkataanmu benar."


"Istirahat aku akan memberimu Chesse cake. Bagaimana? Kalau nggak percaya lihat saja nanti!"


Stella melirik kecil Diangela. "Beneran?"


Diangela mengangguk. Stella kemudian menoleh sepenuhnya. "Ok! Kalau begitu Stella mau jadi pacar dev— kak Ian. Tapi nanti istirahat bawain cheesee cake ya."


"Datang aja ke rumah kecil deket sekolah, yang waktu itu kamu pernah masuk sembarangan."


...¶¶¶...


"eh, eh. Lo mau bawa gue kemana?" tanya Tata yang kelabakan karna di seret oleh Stella.


"Makan Cheesee cake." Ucap Stella sambil menoleh ke belakang.


"Udah ikut aja."


Sekarang mereka sudah di luar sekolah.


"Wait, wait! Lo mau bawa gue kemana?" tanya Tata panik ketika Stella menyeretnya menuju base camp Diangela.


"Ke sana." Stella menunjuk base camp itu.


Sontak Tata menghentikan langkahnya, yang membuat Stella ikut berhenti. "Ngapain makan Cheesee cake di sana? Yang ada kita yang di makan sama mereka."


"Emangnya mereka Sumanto apa?! Lagian ini juga Kak Ian yang nyuruh aku ke sini." Stella kembali menyeret Tata ke base camp itu.


Setelah sampai di depan pintu Stella mengetuk-ngetuknya beberapa kali. "Kak Ian. Kak Ian."


Tata yang berada di belakang Stella menepuk bahu gadis itu. "Lo beneran di suruh ke sini sama Kak Dian? Kita nggak bakalan di marahin, kan?"


"Tenang aja, Tata." Stella lalu kembali mengetuk pintu.


Suara pintu di buka terdengar, menampilkan sosok Diangela yang tengah menguap. Sepertinya dia habis bangun tidur.

__ADS_1


"Oh, si gadis bodoh? Masuk!" ucap Diangela datar.


Stella menoleh ke belakang pada Tata yang sedari tadi mengkeret ke punggungnya.


"Ayo. Kak Iannya nggak marah, kan?" Stella menarik Tata masuk. Tanpa di persilahkan, Stella langsung duduk di sofa dengan Tata.


"Eh, ini beneran nggak papa?" tanya Tata sambil berbisik. Matanya terus menatap waspada ke segala arah.


"Nggak papa Tata. Nggak usah khawatir." Stella menepuk-nepuk paha Tata untuk menenangkannya.


"Nih." Diangela meletakan Cheese cake berbentuk bulat sedang di meja, bersama piring kecil, sendok, dan pisau.


Mata Stella berbinar melihat kue kesukaannya itu. Sedangkan Tata, masih dalam posisi waspada.


"Kuenya kak Ian potongin. Nih!" Stella menyodorkan pisau dan piring kecil.


Diangela tersenyum paksa. "Dengan senang hati." Ucapnya agak menggeram. Ia pun memotong kue itu dengan bentuk segitiga, setelah di potong dan di simpan di piring, ia memberikannya pada Stella.


"Kau mau juga Lady?" tanya Diangela pada Tata. Tata sontak menggeleng.


"Ng-nggak! Aku potong sendiri aja." Dengan ragu-ragu, Tata mengulurkan tangannya ke depan, meminta pisau.


"Oh, ternyata kau ini gadis yang mandiri ya! Tidak seperti gadis yang duduk di sofa, dia manja! Untuk potong kue saja minta bantuan orang lain. Ck, ck! dia hanya tahu cara makan saja!" sindir Diangela pada Stella yang tengah makan Cheesee cake dengan serampangan.


Stella mendongak dengan pipinya yang mengembung karna di mulutnya penuh kue. Krim kue belepotan hingga ke hidung dan pipi gadis itu. "Apa?!" tanyanya galak.


"Enggak!" Diangela lalu memberikan pisau di tangannya pada Tata yang sedang menatap bingung ke arahnya.


Tata pun, memotong kuenya sambil memperhatikan interaksi mereka. "Kok bisa-bisanya si Stella ngobrol setenang itu sama kak Dian. Tapi kak Dian juga, nggak serem kayak yang di gosipkan sama orang-orang." Tata membatin sambil memakan kuenya.


"Udah, ih! Jangan ngasih banyak-banyak." Ucap Stella ketika Diangela menambah sepotong kue lagi di piring Stella, setelah sebelumnya memberikan dua potong kue.


Diangela menaikan sebelah alisnya. "Kenapa? Bukannya kau suka kue ini? Harusnya kau makan yang banyak, agar kau agak gemuk sedikit. Tubuhmu itu cebol."


"Ce-cebol? Siapa yang cebol?" tanya Stella marah.


Diangela mendongak menatap Stella. "Kau lah! Makanya makan yang banyak."


"Ok! Lihat saja! Aku pasti gemuk." ucap Stella berapi-rapi.


Tata menoleh kaget pada Stella. "Orang lain mah, mau kurus. Ini malah mau gendut! Dasar Stella."


Tanpa di sadari Stella dan Tata, Diangela menyeringai pelan. "Ya! Makan yang banyak agar kau gemuk. Biar nanti tubuhmu empuk saat aku menusuk-nusuknya." Batin Diangela.

__ADS_1


__ADS_2