Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Apa kau sudah mencintaiku?


__ADS_3

Ketika sampai di rumahnya, Diangela membanting ponselnya kuat-kuat ke lantai hingga hancur berkeping-keping.


Perbuatan itu tentunya tidak luput dari Jazztin dan Ansell. Mereka bertanya-tanya kenapa Dingela datang-datang kerumah langsung membanting ponselnya?


Mereka hafal betul kalau Diangela saat marah tidak akan sampai membanting benda apapun. Itu yang artinya ia benar-benar marah saat ini.


"Kau kenapa?" tanya Ansell sambil berjalan mendekat pada Diangela yang, masih menatap tajam pada handphonenya yang sudah hancur berkeping-keping dengan bahunya yang naik turun.


Bisa di lihat rahang laki-laki itu mengeras. Diangela melirik tajam pada Ansell yang mendekat.


Jazztin di tempatnya bergumam kecil. "Untung aku tidak menghampirinya. Jika tidak aku akan menjadi samsaknya."


Ansell tersentak oleh tatapan mengintimidasi Diangela. Bisa ia rasakan bulu kuduknya merinding melihat raut wajah Diangela saat ini. Atmosfer menyeramkan, di sekitar Diangela seolah menyuruh Ansell untuk segera beranjak dari sana.


"Hey, bung! Tenanglah!" Ucap Ansell  sambil berjalan mundur. Laki-laki itu tertawa canggung.


Sekuat tenaga, Diangela mencoba menahan agar emosinya tidak meluap keluar yang akibatnya ia bisa saja menghancurkan mansion ini.


Laki-laki itu mengatur nafasnya yang tidak beraturan sambil memejamkan matanya. Wajah Stella yang terlintas di kepalanya membuatnya sedikit menjadi lebih tenang.


Hanya membayangkan wajah Stella tidak membuatnya puas. Diangela ingin melihat wajah polos gadis itu lebih dekat.


Tanpa membuang waktu, Diangela berlalu dari sana.


"Whatt the?" tanya Ansell bingung melihat Diangela pergi keluar. "Jadi dia kembali ke rumah, hanya untuk membanting handphone nya?"


"Kaki ku bahkan sudah gemetaran, melihat kau marah! Ku pikir aku akan di jadikan samsak olehnya seperti biasa jika dia marah."


•••


Tok tok!


Stella menoleh ke jendela kamarnya yang sudah tertutup gorden saat mendegar suara ketokan.


Tanpa bisa di tahan bibirnya tersenyum kecil. Stella sudah bisa menduga siapa orang di balik jendela itu.


Ia pun melangkah dan membuka jendela.


Stella tersentak kaget saat Diangela langsung meloncat dan memeluknya erat ketika pintu jendela di buka. Stella merasa familiar dengan situasi ini.


Diangela memejamkan matanya sambil menghirup aroma Stella dalam-dalam.


"Kak Ian kenapa?" bibir Stella rasanya kelu untuk mengajukan pertanyaan itu. Ia hanya diam mematung tanpa membalas pelukan Diangela. Kedua matanya melotot, ia masih di dera rasa terkejut.


"Little Sheep. Kenapa kau seperti obat penenang?" bisik Diangela membuat Stella mengerjap sadar.


"Lepasin!" Stella memberontak.


"Nggak mau!"


"Ih, lepasin kak Ian!" rengek Stella sambil berusaha mendorong dada bidang laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" Diangela semakin mengeratkan pelukannya.


Stella meringis pelan. "Lepasin ih! Nggak nyaman."


"Biarin! Yang penting aku nyaman."


"Ih, lepasin!" dengan sekuat tenaga Stella mendorong Diangela. Dan itu berhasil karna Diangela yang mengalah.


"Cih! Dasar pelit." Cibir Diangela lalu berjalan menuju ranjang dan berbaring di sana.


Stella mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya, mengancam Diangela dengan itu.


"Kau mau memukul ku? Kemari dan puku lah! Tapi setelahnya aku akan menghukummu." Tantang Diangela membuat nyali Stella ciut.


"Huh. Aku tidak mau membuang waktu ku untuk hak tidak berguna seperti itu." Stella memalingkan wajahnya lalu berjalan menuju meja belajar.


Diangela tersenyum miring. Kemarahan yang sebelumnya menguasai dirinya langsung lenyap saat melihat Stella. Gadis itu memang obat penenang untuknya.


Setelah beberapa menit amarahnya reda, Diangela bangkit dari tidurnya. Ia menatap punggung Stella. "Apa kau pernah melihat wajah ayahmu?" tanya Diangela to the point, mengajukan pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan.


Stella yang tengah mengerjakan tugasnya menoleh kaget. "Apa kak Ian tidak bisa berbasa-basi terlebih dahulu sebelum bertanya? Bisa-bisanya langsung menanyakan hal itu padaku?" omelnya lalu kembali mengerjakan tugasnya.


Diangela bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju meja belajar Stella. Ia bersandar di tembok sambil melipat kedua tangannya di dada. "Jika aku tidak berbasa-basi, aku akan bertanya seperti ini. Siapa ayahmu? Apa dia sudah mati?" tanya Diangela sambil menatap gadis itu.


Stella mendelik sebal, ia mencebikan bibirnya. Gadis itu diam tidak menjawab perkataan Diangela, dan kembali fokus pada tugas sekolahnya.


Diangela menolehkan wajah ke depan. "Jadi, apa kau tahu siapa ayahmu yang sebenarnya?"


"Sepertinya kau tidak mau tahu, segala hal tentang ayahmu ya?"


Stella menopang pipinya. Ia jadi tidak bersemangat untuk mengerjakan tugasnya itu. "Udah tahu! Ngapain nanya!?" ucapnya sambil mendelik.


Stella meraih gelas di depannya yang berisi air, lalu meminumnya.


Diangela mengernyit ketika menyadari sesuatu. Ia dan Stella sudah menjalani hubungan ini selama  tiga minggu lamanya. Jadi apakah gadis itu sudah mencintainya?


"Oh, ya. Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Diangela mengutarakan pikirannya.


"Brusshh! Uhuk uhuk!" Stella menyemburkan air di mulutnya akibat keterjutannya oleh perkataan spontan Diangela.


"Apa?!" Stella agak berteriak sambil merubah posisi duduknya menghadap Diangela.


Diangela menaikan sebelah alisnya. "Aku bilang, apa kau sudah mencintaiku?"


Stella membelalakan kedua matanya. Ia pikir tadi dirinya salah dengar, tapi ternyata itu benar. "Pe-pertanyaan macam apa itu?!" tanyanya agak gelagapan.


Diangela mendekatkan diri pada Stella. Ia menundukan badannya, dan tangan kanannya menopang ke meja belajar, sedangkan tangan kirinya ke kepala kursi hingga ia jadinya mengurung Stella.


"Oh. Jadi kau belum mencintaiku ya?" tanyanya agak kecewa. Dalam hati, Diangela menyakinkan dirinya, bahwa ia kecewa tidak bisa membunuh gadis itu secepatnya, bukan kecewa karna Stella belum mencintainya.


Stella tidak tahu harus meringis atau mendesis mendengar perkataan Diangela yang menurutnya sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Stella melotot sebal. "Iya! Kenapa?" ucapnya tidak yakin, karna sekarang ia merasakan dengan jelas kalau jantungnya berdetak kencang saat dirinya di tatap dengan intens oleh Diangela.


"Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang membiarkan ku tenggelam di kolam?" sinis Stella, mengingat kejadian tadi siang.


Diangela tampak berpikir. "Jadi jika aku tidak membiarkan mu tenggelam di kolam, apa kau akan jatuh cinta padaku?"


"Emmm. Mungkin." Ucap Stella agak ragu.


"Kalau begitu, ikut aku sekarang." Diangela menarik Stella tanpa persetujuan.


"Eh, eh mau kemana? Aku masih memakai piyama." Protes Stella.


Diangela menghiraukan protesan Stella dan membawanya keluar dari rumahnya. Stella hanya bisa pasrah, karna dia tahu perkataan Diangela tidak bisa di bantah.


Stella mengernyit pelan ketika Diangela membawanya ke sekolah, malam-malam begini.


"Kita mau ngapain ke sekolah?" tanya Stella.


Diangela tak menggubris perkataan Stella dan langsung membawanya masuk ke sekolah. Lampu sekolah menyala jadinya tidak gelap.


Stella hanya bisa pasrah saat dirinya di tarik masuk.


Lo loh! Ini bukannya jalan ke kolam renang ya? Batin Stella


Ngapain kak Ian bawa aku ke sini?


Setelah sampai di kolam renang, Diangela menggendong Stella ala bridal style dan membawanya menuju kolam.


Stella bergeming tidak tahu harus bereaksi seperti apa, saking terkejutnya dengan sikap Diangela hari ini.


Gadis itu melotot menyadari Diangela membawanya mendekat ke kolam renang. Seketika sekelebat ingatan saat dirinya yang tenggelam di kolam ini, terngiang-ngiang.


"Tunggu. Tunggu! Mau ngap-" ucapan Stella terpotong karna Diangela sudah melempar gadis itu ke kolam renang.


Walaupun rasa takut menjalari tubuhnya, tapi rasa bingung, kaget serta marah akan sikap Diangela hari ini lebih kentara dari pada rasa takut itu sendiri.


Kenapa malah di lempar sih?! Batin Stella kesal. Stella mengapit hidungnya agar tidak kemasukan air.


Dalam hati ia merangkai berbagai kalimat cacian dan makian untuk Diangela.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Diangela langsung ikut masuk ke kolam sedetik setelah Stella tercebur. Ia berenang menuju Stella.


Senyum miring terbit saat ia melihat ekspresi wajah Stella. Setelah dekat dengan gadis itu, ia meraih pinggang Stella dan membawanya naik ke atas permukaan.


"Hah hah. Kak Ian udah gil-"


"Aku tidak membiarkan mu tenggelam. Jadi apa kau sekarang sudah mencintaiku?" tanya Diangela sambil tersenyum. Menyela makian yang akan keluar dari mulut Stella.


Rahang Stella menganga sempurna. Kedua matanya melotot, seolah bola matanya itu akan meloncat keluar. Diangela melemparnya ke kolam hanya untuk pertanyaan yang ia anggap konyol itu? Jadi perkataannya saat di kamar itu bukanlah main-main?


"Haha." Stella tertawa datar sambil menatap tajam, Diangela yang menampilkan wajah tanpa dosanya.

__ADS_1


__ADS_2