Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
d.r Crombell


__ADS_3

Diangela mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada pegangan kursi berbahan kayu, yang tengah ia duduki. Tangan yang satunya lagi memegang ponsel lipat, yang modelnya terlihat jadul.


Sedari tadi, ia tak henti-hentinya mengotak-ngatik ponsel itu untuk mencari secuil informasi. Apapun itu.


Diangela membuka kontak, dan tidak ada satupun nomor handphone yang tersimpan di sana. Pesannya pun kosong.


Dengan ini, Diangela menduga, bahwa ponsel ini gunanya hanya untuk menerima panggilan dan pesan.  Ekor matanya melirik sebentar ke arah ranjangnya, ketika suara menggigil terdengar.


Diangela menghela napas panjang, melihat Quin yang saat ini tengah tidur di ranjangnya. Gadis itu begitu polos. Tidak mengerti akan perbedaan gender, dan memaksanya agar ia dapat tidur di kamarnya.


Laki-laki itu berdiri dari duduknya setelah sebelumnya menyimpan ponsel itu ke meja. Ia berjalan menuju jendela dan menutupnya. Sepertinya Quin kedinginan karna angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela yang di buka. Ia juga kemudian menaikan suhu pemanas ruangan.


Langkahnya lalu berlanjut menuju ranjang. Tangannya terangkat mengambil selimut tebal, yang sudah teronggok di lutut Quin. Diangela menaikan selimut itu hingga ke bahunya, agar gadis itu tidak kedinginan.


Drttt drtt drttt


Suara getar ponsel, terdengar. Dengan langkah cepat, Diangela segera berjalan menuju meja dan mengambil ponsel jadul yang sudah bergetar itu. Mata Diangela menyipit, melihat nomor yang menelpon, sama dengan nomor yang saat itu pernah mengirimkan pesan padanya! Itu adalah nomor telepon, d.r Crombell.


Tanpa pikir panjang, Diangela segera mengangkat telpon itu.


"Kau sudah melakukannya?" sambut d.r Crombell dengan bahasa Italia fasih.

__ADS_1


Diangela terkekeh pelan. "Maksudmu, bermain, tuan putri, pangeran, dan raja?" balas Diangela dengan bahasa Italy yang juga fasih. Walaupun sudah beberapa tahun, ia tidak menggunakan bahasa Italy, tapi ia masih ingat betul bahasa itu.


"Woww!!! Kau berhasil mengambil ponsel dari Kaiden?" decaknya tak percaya. "Padahal dia adalah pembunuh bayaran, terhebat ku! Dia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan saat tengah menyelesaikan misi."


"Itu berarti kau cukup bodoh! Kau tidak mengajarinya dengan baik, sehingga suruhanmu tidak melakukan perintahmu dengan benar! Bisa-bisanya dia lengah?"


"Ah! Begitu? Tapi faktanya, kau tidak bisa mengalahkannya, bukan?" terdengar kekehan mengejek di ujung telpon.


Diangela mengeram marah. Ia mengetatkan rahangnya. Suara gemeluk gigi terdengar. Matanya meenyorot dengan tajam.


"Ada apa? Kau tidak bisa menjawab? Pengontrolan emosi masih saja jelek ya!"


"Siapa dia!?"


"057? Itu bukan dia, kan? Kau sengaja mengirimnya karna merencanakan sesuatu, kan?"


"Ya! Aku memang merencanakan sesuatu! Bukankah, kau sedari dulu ingin bertemu dengan teman masa kecilmu itu? Aku sudah mempertemukanmu dengannya!"


"Quin bukanlah dia?!" tegas Diangela setengah berteriak.


"Wow wow!! Tenanglah bung! Seperti biasanya, kau mudah terpancing ya? Oh, ya! Ngomong-ngomong, nama baruku untuknya bagus tidak? Quinsha Qiana Qalesha."

__ADS_1


"Aku sedang tidak ingin bercanda, tua bangka sial4n!"


"Memangnya siapa yang sedang bercanda? Jika aku sedang bercanda, saat ini kau pasti tengah tertawa, 056!"


Dengan sekuat tenaga, Diangela berusaha meredam emosinya. Matanya terpejam erat. Urat lehernya menegang sempurna. Tangannya mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.


"Apa. Alasanmu. Mengirimnya. Ke. Sini!" geram Diangela dengan matanya yang masih terpejam rapat. I melakukan itu agar emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun, tidak meledak.


"Tidak ada tujuan apa-apa! Hanya untuk kesenangan ku saja! Ah, iya! Ingat untuk selalu menjaga tuan putri."


Diangela tak tahan lagi!! Tangannya gatal ingin memukul wajah menyebalkan, si tua bangka itu. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, hendak memaki dan mencaci d.r Crombell.


"Satu lagi! Kau juga pernah di ajari teknik bertarung dan membunuh, oleh si bod0h ini!"


Tut... tut.... tut


Sambungan telpon terputus begitu saja. Membuat Diangela kembali mengatupkan mulutnya dengan perasaan marah yang telah menguasai dirinya saat ini. Diangela melempar ponsel jadul itu ke kursi yang tadi ia duduki.


Dengan tergesa-gesa, ia segera berjalan keluar dari kamar. Hendak menyalurkan emosinya dengan memukul samsak.


Biasanya ia selalu menghancurkan seluruh barang yang ada di kamarnya, bila ia tengah marah. Tapi sekarang ada seorang gadis yang tengah tertidur di kamarnya. Jadi ia tidak bisa melakukan itu.

__ADS_1


•••


Seperti yang kubilang tadi, tanganku sakit gara² COD sana sini apalagi ke tempat yang jauh. Jadinya nggak bisa up banyak. Tenang aje, besok bkl up kok.


__ADS_2