
Stella menyandarkan kepalanya ke kaca mobil sambil agak mengernyit mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keluarga paman Aris itu, benar-benar..... ah! Ia tidak mengerti harus menjelaskannya seperti apa.
Mungkinkah keluarga paman Aris itu gila? Absurd? Atau karna mereka semua lahir di lingkungan yang penuh dengan psikopat, makanya sifatnya aneh seperti itu?
Stella segera menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepala beberapa kali, untuk mengusir pemikirannya sambil meringis dan berkata tapi 'tidak' dengan pelan.
"Keluarga uncle Aris memang seperti itu." Celetuk Diangela yang sedari tadi memperhatikan segala gerak-gerik Stella.
Stella menoleh lalu mendekat. "Apa kerabat mu yang lain juga seperti itu?" tanya Stella.
Diangela mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak tahu."
Stella memundurkan wajahnya sambil mengernyit dan mengerucutkan bibir. "Masa sih?! Masa kak Ian nggak tau keadaan kerabat kak Ian sendiri?!" tanya Stella heran.
Diangela menoleh. "Aku. Tidak. Akrab. Dengan. Kerabatku!" balas Diangela dengan penekanan di setiap katanya.
"Ok! Ok!" Stella kembali bersandar di kursinya dengan pandangan ke depan dan kedua tangan yang di lipat di dada.
Gadis itu mengembungkan pipinya.
"Di masa depan, keluarga kita tidak akan seperti itu kan?" spontan Stella membuat Diangela terbatuk lalu merem mobilnya tiba-tiba yang kemudian, menciptakan suara klakson mobil dan makian protes pengendara lain.
Diangela menoleh tak percaya. "Keluarga? Kita?" tanyanya sambil agak tertawa paksa. "Bermimpilah kau!" sarkasnya sambil mendelik lalu kembali menjalankan mobilnya.
Stella memberengut kesal. "Tidak ada yang tahu, kan? Mungkin saja nanti kita menikah dan berkeluarga denganmu." Ketus Stella kemudian bersedekap.
"Betul!" Diangela menoleh pada Stella. "Tidak ada yang tahu, kan? Mungkin saja bulan depat kau akan menjadi mayat yang mengenakan baju pengantin sebagai permintaan terakhirmu." Cibir laki-laki itu lalu kembali menoleh ke depan.
Stella menatap Diangela tak percaya dengan mulut yang menganga lebar. "Aku tidak akan mati semudah itu tahu!" sahutnya. "Jika memang bulan depan aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta, dan kau akan membunuhku, aku akan melawanmu!" Stella menaikan dagunya.
Diangela terkekeh. "Lawan?" tanyanya dengan nada remeh tanpa menatap Stella.
Stella mengangguk yakin. "Ya, tentu saja! Memangnya hanya kau yang tahu cara membunuh!"
"Oh, ya?" tanya Diangela sambil tersenyum miring.
"Kau meremehkan ku, hah?" Stella menegakan tubuhnya lalu mendekat pada Diangela sembari berkacak pinggang. "Tunggu saja! Aku akan membunuh mu!" ucapnya dengan mata berapi-rapi.
Diangela melirik kecil pada Stella. Senyum miring terbit lagi di bibirnya. "Kalau begitu bagaimana kau akan membunuhku?"
Stella mengatupkan mulutnya, lalu mengernyit pelan. Ia jadi kebingungan sendiri. Bahu Stella merosot. Gadis itu kembali bersandar di kursi dengan bola matanya yang bergerak tak beraturan.
"Emmm.... a.... I-itu... aku punya caranya sendiri."
"Oh, ya? Apa?" tanya Diangela dengan sebelah alis yang terangkat.
"Aku tidak mau memberitahu mu!" ucap Stella lalu bersedekap dan memalingkan wajahnya.
"Jangan-jangan kau memang tidak tahu caranya membunuh?"
"A-aku tahu kok!" elak Stella. "Kenapa pula aku harus memberitahu cara ku untuk membunuh, pada orang yang akan aku bunuh?" tanyanya lalu kembali menoleh dan mendekat pada Diangela. "Itu namanya spoiler! SPOILER!"
"Bilang saja kalau kau memang tidak tahu!" ejek Diangela dengan senyum miringnya.
Stella berdecak. Ekor matanya lalu menangkap handphone Diangela yang sedikit keluar dari saku celananya. Stella mendekat dengan perlahan, tangannya terangkat untuk mengambil handphone itu sambil terus menatap Diangela dan handphone itu bergantian.
"Aku tahu! Aku tahu!" teriaknya spontan saat Diangela hendak memutar tuas mobil.
"Jangan menoleh! Aku bilang jangan menoleh!" teriaknya lagi dengan panik saat melihat Diangela yang hendak menoleh padanya. Ia lalu dengan cepat mengambil handphone Diangela.
"Ada apa sih?!" tanya Diangela sambil mengernyit.
"Tidak!" Stella menggeleng dengan senyumnya sembari menyembunyikan handphone Diangela di balik tubuhnya. "Bukan apa-apa kok!" ucap Stella tertawa canggung, kemudian dia menoleh ke arah kaca mobil dan mengambil handphone Diangela di balik punggungnya.
Stella menyalakan handphone itu, dan untungnya itu tidak memakai kata sandi sama sekali. Dengan Pelan Stella menoleh pada Diangela yang fokus menyetir.
Merasa situasi aman, ia kembali menoleh dan membuka browser pencariaan di handphone Diangela.
Di tempatnya, Diangela melirik kecil Stella. Laki-laki itu sudah tahu kalau Stella mengambil handphonenya. Diangela jadi mengangkat kepalanya untuk mengintip.
__ADS_1
Dengan cepat Diangela menoleh ke depan saat Stella kembali menoleh padanya dengan mata menyipit. Tapi kemudian gadis itu kembali menoleh.
Diangela mendekat dengan pelan. Laki-laki itu hampir terbahak saat melihat apa yang di ketik Stella di kolom pencarian.
"Cara membunuh yang baik dan benar?" celetuk Diangela dengan tawa remeh. "Di mana-mana yang namanya membunuh mu itu bukan perbuatan baik dan benar!" lanjut Diangela membuat Stella menoleh cepat pad Diangela.
"Kau mengintip?" tanya Stella. "Cih! Sungguh tidak sopan." Stella mendelik pelan.
"Tidak sopan? Bukannya kau yang tidak sopan ya, memakai handphone orang lain tanpa meminta persetujuan dari si pemiliknya?"
"A-aku sudah minta izin! Dalam hati!" Stella lalu mengeluarkan handphone yang ia sembunyikan itu. "Nih! Aku tidak butuh!" ucapnya sambil melempar handphone mahal itu ke paha Diangela.
Stella menukikan kedua aliasnya sambil bersedekap dengan bibir yang mencuat ke depan. Mulutnya tak henti-hentinya berkomat-kamit mengatakan ini itu perihal kejadian tadi, karna tidak menerima dirinya di kalahkan begitu saja.
"Memanganya kenapa kalau aku pakai handphone mu itu?"
"Cih! Aku juga tidak mau menggunakan itu!"
"Sok-sokan bilang kalau membunuh itu bukan perbuatan baik dan benar. Kalau tahu bukan perbuatan baik dan benar, kenapa di lakukan?"
"Kudengar psikopat itu rata-rata pintar semua! Ternyata ada satu psikopat idiot di sini!"
"Tidik Sipin? Bikinnyi kiu Ying tidak sipin yi, mimikiy hindphini iring liyin tinpi pirsitijiyin diri si pimiliknyi? Cih! Hanya handphone berlogo Apel saja di sombongkan! Nanti aku akan beli yang lebih sehat! Handphone merk Stroberi!"
Diangdela hanya memperhatikan sambil mengangguk-ngangguk kecil mendengar gumaman Stella. Laki-laki itu menopang wajahnya ke stir mobil.
"Kau sudah selesai bicara?" tanya Diangela. "Kita sudah sampai dari tadi!"
"Belum!" sentak Stella lalu kembali mengoceh.
30 menit kemudian.
Diangela mengangangkat tangannya lalu menatap arlogi yang di pakainya.
Diangela menghela nafas panjang. "Apa kau tidak bisa berhenti mengoceh?"
Stella melirik tajam pada Diangela. "Belum! Kenapa? Mau membunuh ku? Bunuh saja! Dasar psikopat idiot!" sarkas Stella lalu kembali mendumel.
Stella menghiraukan perkataan Diangela dan terus mendumel. Diangela yang melihat itu memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menahan emosinya. Ia membuka matanya lalu menatap tajam Stella.
"Diam atau aku cium sekarang juga!"
Stella melengos pelan. "Lakukan saja! Paling cuman gertak sambal doang!"
Diangela maju mendekat pada Stella.
"Ka-kau mau apa?!" panik Stella melihat wajah Diangela yang sudah berada tepat di depan wajahnya.
Diangela hendak maju mendekat lagi. Tapi tubuhnya tertahan sesuatu. Ia mencobanya lagi, dan tubuhnya kembali tertahan. Laki-laki itu kemudian melirik ke belakang dan menyadari bahwa ia tertahan oleh sabuk pengaman yang masih melekat di tubuhnya.
Diangela memejamkan matanya. Sebenarnya apa yang sedang kulakukan ini?
"Mesum!" ucap Stella.
"Ap-apa? Mesum?" Diangela terkekeh pelan. Berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Aku tidak tertarik pada tubuh mu yang besarnya seperti bola bekel!" cibir Diangela lalu mundur, membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil.
Stella di tempatnya masih terpaku. "Apa? Tadi kejadian apa?!" gumamnya.
"Kau mau keluar atau tidak!" ucap Diangela yang langsung membuat Stella tersentak lalu menoleh. Gadis itu dengan cepat membuka sabuk pengaman nya lalu keluar dari mobil.
"Cepat keluar!" perintah Diangela tanpa menatap wajah Stella.
Stella menyipitkan mata di tempatnya. Gadis itu melangkah mendekat oada Diangela. "Tadi kau mau melakukan apa?"
"Ti-tidak! Aku tidak melakukan apa-apa!"
Stella semakin menyipitkan mata curiga. Gadis itu bersedekap lalu mengangkat dagunnya tinggi-tinggi. "Lalu kenapa mendekat pada ku?" tanyanya tajam.
"Aku tidak melakukan apa-apa!"
__ADS_1
Stella maju satu langkah. "Oh, ya?"
Diangela mengangguk lalu mundur satu langkah. Stella yang menyadari itu, ikut maju satu langkah yang di ikuti Diangela yang mundur satu langkah.
"Kenapa wajahmu terlihat gugup?" Diangela masih tak menatap Stella. Laki-laki itu terus melangkah mundur saat Stella melangkah maju.
"KENAPA?!" Stella mengurung Diangela yang sudah terpojok di gerbang rumahnya. "Kau terlihat seperti orang yang ketahuan mencuri?" lanjutnya.
Diangela menghela nafas tertahan. Laki-laki itu lalu menatap Stella. "Aku." Diangela menepis kedua tangan Stella yang mengurungnya. "Cuma." Laki-laki itu maju satu langkah yang membuat Stella mundur. "Mau." Satu langkah maju, satu langkah mundur. "Membantumu!" Diangela maju dua langkah, dan Stella mudur tiga langkah. Diangela menghentikan langkahnya, saat Stella sudah terpojok di kepala mobilnya. Laki-laki itu lalu memajukan wajahnya. "Membuka sabuk pengaman mu! Jelas?" bisiknya lalu berbalik.
Stella memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Kau tidak masuk?"
Stella tersentak lalu melangkah maju mendekati Diangela. Ketika sudah berada di depan laki-laki itu, Stella menarik kerah baju Diangela membuat wajah keduanya berdekatan. Gadis itu jadi kesal mengingat dirinya yang terintimidasi oleh laki-laki ini begitu saja!
Stella lalu dengan cepat mengecup bibir Diangela. "Ini kan yang mau kau lakukan tadi?" tanyanya.
Diangela terpaku di tempatnya. Ekspresi laki-laki itu sepenuhnya terkejut. Matanya mengerjap-ngerjap pelan.
Stella yang menyadari perbuatan spontannya, lantas melepaskan tangannya lalu tertawa canggung. "Hahaha. Bu-bukan itu yang mau kau lakukan ya?"
"Ka-kalau begitu a-aku pulang dulu." Ucap Stella dengan gagap dan keringat dingin yang mulai bercucuran. Dengan cepat Stella berlari menuju gerbang rumahnya.
"Aishh!! Ini kenapa tidak bisa di buka!" Stella terus mendorong gerbang rumahnya sambil melirik dan tersenyum canggung pada Diangela yang masih terpaku di tempatnya.
"Ahh!!! Kenapa tidak bisa di buka! Apa gerbangnya rusak!" gerutu Stella lalu dengan keras berusaha mendorong gerbang tinggi itu.
Diangela menggelengkan kepalanya. Berusaha mengusir pikirannya yang konyol. "Cara membukanya bukan di dorong! Tapi di geser ke samping." Ucap Diangela.
Stella memejamkan mata rapat-rapat sambil mendesah. Gadis itu meringis kecil menyadari perbuatannya. Dengan wajah salting, ia menoleh lalu tersenyum paksa pada Diangela.
"Te-terima kasih!" ucapnya lalu menggeser gerbang rumahnya dan masuk.
Diangela menatap kepergian Stella dengan perasaan aneh. Tangan laki-laki itu perlahan terangkat dan menyentuh dadanya.
"Ah! Aku pasti sudah gila! Kenapa jantungku berdetak kencang?"
•••
"Saat orang berciuman, jantung mereka akan berdetak dua kali lebih cepat. Kecepatan nafas meningkat rata-rata 20 kali per menit, dan tekanan darah meningkat drastis. Setelah itu, jantung akan mulai berdetak lebih kencang lagi dan membuat orang itu pusing, sehingga mereka berpikir kalau mereka tengah jatuh cinta. Tapi semua itu hanyalah tiupuan kontak fisik! Bukan jatuh cinta!" Diangela terus menggumam kan kata-kata itu sambil menyetir mobilnya.
"Itu hanya tipuan kontak fisik! Bukan jatuh cinta!" Diangela mengangguk-ngangguk. "Aish!! Tapi aku kan tidak berciuman! Dia yang menciu- tidak! Mengecup ku! Kejadiannya hanya 2 det- bukan 1 detik!"
"Itu juga pasti hanya tipuan kontak fisik! Bukan jatuh cinta! Sebentar lagi juga jantung ini tidak akan berdetak kencang lagi." Ucap Diangela sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.
"Tapi...... KENAPA SAMPAI SEKARANG BELUM BERHENTI JUGA!!!" teriak Diangela yang terbaring di ranjangnya. Laki-laki itu menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan cepat ia bangkit, lalu memegangi dadanya yang masih bergemuruh.
Diangela menghela nafas frustasi. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menghentikan jantungnya yang berdetak cepat. Mulai dari mengetuk-ngetukan sendok ke kepalanya, memukul-mukul dadanya, memfokuskan diri ke hal lain, bahkan sampai mandi air dingin tapi laju jantungnya yang cepat tidak berhenti juga.
Sekarang ia mencoba tidur, tapi tidak bisa. Diangela menjambak rambutnya frustasi. Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 3 dini hari. Sekali lagi ia memejamkan mata rapat-rapat sambil menghela nafas panjang.
"Aaahhh!!! Aku tidak boleh menutup mata!!" gerutu Diangela saat ingatan Stella yang meciumnya sekilas berputar di kepalanya.
Diangela turun dari ranjangnya sambil mengacak-ngacak rambutnya.
••••
"Oy, Diangela! Kau sudah bang- Astaga! Ya ampun!" Aiden berjengit kaget melihat penampilan Diangela yang kacau. Matanya tampak seperti panda, wajahnya terlihat menyedihkan, dan rambut jabriknya berantakan yang membuatnya tambah sempurna.
"Kau kenapa?" tanya Aiden lalu melangkah masuk.
"Aku tidak tidur semalaman!" lirihnya tak bertenaga. Ia mengangkat tangannya ke dadanya. Debarannya sudah berkurang.
"Aku mau jogging dengan ibu! Kau bisa menemaniku? Si Jazztin tidak bisa mengantarku! Katanya kau tahu di mana rumahnya."
"Ibu?" Diangela menoleh cepat.
Aiden mengangguk. "Iya. Ibu Bella. Tapi Jazztin bilang kau memanggilnya Stella."
__ADS_1
STELLA? STELLA? STELLA? STELLa? STELla? STElla? STella? Stella? stella? Nama itu terus terngiang-ngiang di kepala Diangela, membuat laki-laki itu mau tak mau teringat kejadian kemarin.
"Aishhh!!!" Diangela menjambak rambutnya frustasi, ketika debaran jantungnya kembali cepat tanpa bisa ia kontrol.