
Angin malam berhembus pelan. Menyapu dedaunan kering ditepi jalan hening yang gelap, dan tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Diangela berjalan ditepi. Seperti biasa, ia menggunakan hoodie hitamnya. Kedua tangannya ia masukan dalam saku celana.
Langkahnya begitu pelan. Seolah menikmati suasana sepi malam ini. Yang menemaninya sekarang hanyalah suara binatang-binatang kecil, seperti jangkrik dan lainnya. Pandangannya ke bawah—lebih tepatnya ke ujung sepatunya yang terlihat mahal dan bersih.
Pikirannya melayang begitu saja. Seolah jiwanya saat ini tengah tidak ada di dalam tubuhnya, dan melayang-layang diantara pikirannya yang kemelut dan kacau, dengan berbagai pertanyaan dan opininya sendiri.
Ia terjebak dalam labirin penasarannya, hingga kelima indranya tidak bisa merasakan apapun.
Siapa Zanna sebenarnya? Apa hubungan wanita itu dengan dia? Kenapa Zanna bisa ada dihutan itu? Di Italy? Makam yang dikunjunginya juga siapa? Dan kenapa d.r Crombell bilang, ia bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya jika pergi ke hutan itu. Padahal kedatangannya ke sana, sama sekali tidak menjawab pertanyaannya selama ini sama sekali! Justru semakin menambah pikirannya.
Apa mungkin ia melewatkan sesuatu? Apakah mungkin jika Zanna adalah kunci dari pertanyaannya selama ini? Ataukah d.r Crombell memang benar-benar menipunya?
Buk!
Tanpa sengaja, Diangela menabrak bahu seseorang. Membuat lamunannya buyar, dan mata hitam kelamnya mengerjap sadar. Ditatapnya orang yang ia tabrak, hendak mengucapkan maaf.
"Ah, ma-" Diangela kembali mengatupkan mulutnya, saat melihat orang yang ia tabrak malah pergi begitu saja. Laki-laki itu lantas mengerutkan dahinya. Sambil mengedikkan bahu, ia kembali berbalik dan berjalan.
Tapi kemudian dahinya kembali mengerut. Merasakan kefamiliaran dengan sosok yang ia tabrak tadi. Diangela memiringkan kepalanya sambil meringis pelan, berusaha mengingat.
Pupil matanya melebar ketika teringat sesuatu. Dengan panik, ia segera berbalik. Kosong. Tidak ada siapapun dibelakangnya. Orang itu raib begitu saja, padahal baru beberapa detik lamanya ia berbalik.
Diangela memindai area sekitar jalan dengan menyipitkan matanya. Ia segera memasang posisi siaga—jaga-jaga kalau misalnya ada bahaya yang akan melandanya nanti.
Setelah beberapa menit lamanya memindai area sekitar, Diangela melonggarkan kewaspadaannya saat mengetahui tidak ada tanda-tanda orang lain disekitarnya.
"Sebenarnya siapa dia?" tanya Diangela pelan nyaris berbisik. Ia berbalik dengan decakan sebalnya. Alangkah terkejutnya ia saat berbalik, orang yang tadi ia tabrak ada didepannya menggunakan topeng hitam. Seperti biasa, ia menggunakan setelannya yang serba hitam.
Ya! Itu adalah orang yang waktu itu, Diangela anggap sebagai stalkernya Stella.
Diangela segera merubah mimik wajahnya menjadi datar. Berusaha bersikap tenang, walau sebenarnya ia sedang memasang sikap waspada dengan memegang pisau lipat dibalik saku celananya.
__ADS_1
Dengan mata menyipit, Diangela bertanya. "Siapa kau? Kenapa kau mengikuti Stella waktu itu?" sebenarnya laki-laki itu juga penasaran, kenapa si stalker ini bisa berada dibelakangnya saat ia dalam posisi siaga? Biasanya, ia, selalu peka dengan suara sekecil apapun.
"Aku bertanya padamu! Siapa kau?! Kau tidak dengar?" Diangela kembali bertanya dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kau-"
"Ssssttt." Pria bertopeng itu menyimpan telunjuknya dibibir. Ia melirik sekilas ke kanan. Diangela mengerutkan dahi melihat itu. "3 orang akan mati." Bisiknya.
Diangela mengernyit pelan. "Apa?"
Pria itu mendekatkan wajahnya yang dibingkai topeng itu, ke wajah Diangela. "Mereka. Mereka yang terbunuh, adalah orang yang akan melukai tuan putri." Lanjutnya lagi dengan suara serak dan berat.
Diangela menukikan alisnya tajam. "Perset4n dengan apa yang kau katakan!! Lebih baik kau segera menyerah saja, dan katakan siapa kau sebenarnya!" Diangela berusaha mengintimidasi pria di depannya dengan tatapan tajam dan bekunya.
Pria itu mengabaikan tatapan Diangela, dan kembali bicara hal yang tidak jelas. "Kau harus waspada, dan lindungi tuan putri!"
Diangela merasa dipermainkan oleh pria itu. Kini amarah mendominasi dirinya. Suara gemeluk giginya terdengar, rahangnya mengetat dan matanya semakin menyorot dengan tajam. Di balik saku celananya, Diangela mengepalkan tangannya. Berusaha menahan emosinya. Sungguh! Pengendalian emosinya sangatlah rendah.
"Karna kau adalah pangeran! Jadi kau harus menjaga tuan putri dari serangan musuh." Balas pria itu membuat Diangela mendengus sambil memutar kedua bola matanya.
"Bicaralah yang jelas!" Diangela maju selangkah, memangkas jarak diantara mereka. Mendekat pada pria misterius itu, agar bisa mengintimidasinya lagi. Tapi kali ini lebih tajam dan kentara dari yang sebelumnya. Tempat, dan suasananya seolah mendukung perbuatan Diangela.
"Sebentar lagi, akan ada bahaya yang menghampiri tuan putri. Pelakunya bersembunyi dibalik kegelapan, dan menunggu sang pangeran lengah, kemudian membunuh tuan putri."
Bahu Diangela naik-turun. Hembusan napasnya begitu cepat, karna rasa kesal. "Kau-"
"Berhati-hatilah." Pria itu menginterupsi perkataan Diangela untuk yang kesekian kalinya. "Ada banyak Serigala berbulu Domba didekatmu. Gunakanlah logikamu, bukan hatimu, dalam setiap tindakan yang kau ambil. Raja akan senang jika kau berhasil melindungi tuan putri."
Dalam hitungan detik, Diangela melayangkan pisau lipat yang sedari tadi digenggamnya dibalik saku, karna sudah kesal dengan perkataan tidak jelas pria itu.
Tapi sayangnya, refleks pria itu sangatlah bagus dan berhasil menghindari pisau itu. Dengan gesit dan cepat, Diangela kembali melayangkan pisaunya tanpa ampun.
__ADS_1
Kedua alis Diangela mencuram tajam, melihat pria itu menghindari semua serangannya dengan tenang dan enteng. Seolah ia tahu semua pergerakan Diangela. Ketika ada celah, pria itu memukul tangan Diangela yang memegang pisau hingga pisau itu jatuh dari genggaman tangan Diangela.
Tak habis pikir, kini Diangela menggunakan tangannya untuk menyerang pria itu. Memukul dengan segela teknik beladiri yang ia pelajari selama ini. Menendangnya beberapa kali dengan tendangan terbaiknya.
"Kau mau merobohkanku dengan berkali-kali memukul kakiku?" sinis sang pria bertopeng itu. "Kau meremehkanku anak muda!" ucapnya dengan nada remeh.
Diangela menggeram marah. Ia lalu kembali memukuli dan menendang pria itu tanpa lelah.
Karna merasa risih dengan serangan Diangela, akhirnya pria itu membalas serangan Diangela tak kalah gesitnya, dan berhenti menghindarinya. Segala pukulannya bak seorang atlet tinju profesional. Diangela bahkan kewalahan meladeni serangan pria itu.
Pasokan oksigen di dadanya mulai menipis. Keringat mulai bercucuran, dan napasnya mulai tersenggal. Belum pernah ia seperti ini, saat bertarung dengan orang lain. Biasanya ia selalu unggul dalam setiap pertarungan. Kini ia layaknya seekor semut yang tengah berhadapan dengan seekor gajah.
Perbedaan kekuatan mereka benar-benar jauh. Layaknya bumi dan langit.
Dengan mengerahkan semua sisa kekuatannya, Diangela menendang kaki pria itu dengan teknik wasabari, dari bela diri Jiujitsu yang berasal dari Jepang.
Diangela melebarkan matanya ketika pria itu masih bergeming ditempatnya. Tidak terjatuh oleh tekiniknya. Pria itu hanya terkekeh mengejek.
"Wasabari itu," pria itu mengangkat kaki kanannya, lalu menendang balik kaki Diangela dengan teknik wasabari. "Gerakannya menyapu lantai!" di detik itu juga, Diangela terjatuh dengan ekspresi terkejutnya yang belum pernah ia tunjukan selama ini.
Aku....... Kalah?
"Ilmu bela dirimu masih terlalu dangkal, anak muda. Kau mau merobohkanku dengan menendang kakiku berkali-kali? Pemikiran yang bodoh dan naif sekali!" Pria itu berbalik dengan kedua tangannya yang di masukan ke saku celananya. "Ingatlah untuk menjaga tuan putri!" pungkasnya lalu berjalan meninggalkan Diangel yang masih terbaring ditempatnya.
Diangela tersenyum miring ketika pria itu sudah tak nampak dari penglihatannya. Laki-laki itu menopang kepalanya dengan tangan kanan. "Berusaha mengincar kakimu kau bilang?" Dingela terkekeh licik. Ia mengangkat tangan kirinya yang memegang sesuatu. "Aku sedari tadi mengincar ponselmu bodoh!" desisnya, sambil memainkan ponsel jadul itu, dengan melemparnya lalu menangkapnya lagi.
"Aku sudah tahu dari awal kalau perbedaan kekuatan dan pemahan kita tentang ilmu bela diri itu, sangat-sangatlah jauh. Jadi aku menargetkan ponselmu yang berada disaku celana belakangmu. Aku mengambil ponselmu, saat kau lengah. Yang dangkal itu adalah kau, bedeb4h sial4n!" desis Diangela.
Tapi kemudian Diangela mengernyit ketika menyadari sesuatu. "Aishh!! Kenapa aku masih berbaring dijalan begini, seperti pengemis?" Diangela bangkit berdiri dengan kesal. Ternyata perkataan pria tadi benar! Dia itu bodoh!
•••
__ADS_1
Akhirnya bisa up lagi setelah sekian lama. Tugas udah dikumpulin semua, rasanya beban yang ada dipundak hilang semua. Niatnya sih mau up kemaren, tapi COD sana sini. Sampai-sampai tersesat gara² google map! Tanganku ampe sakit loh! (ToT)