
Sudah dua minggu semenjak Diangela menghilang, dan sudah selama itu pula Stella kena bully sana sini.
Dan hanya Tata lah, yang setia menemani Stella dan tidak ikut menjauh seperti yang lain.
Stella menggerutu sebal. Punggungnya terasa panas, karna di tatap sinis oleh orang-orang di belakangnya. Bisikan-bisikan pasti terdengar setiap ada orang yang melewatinya.
Stella menenggelamkan kepalanya ke meja kantin. Ia sedang menunggu Tata yang membelikannya makanan.
"Cepatlah datang malaikatnya Stella. Aku takut, di sini cuma ada devil." Stella membatin sambil misuh-misuh.
"Nih, batagor pesanan lo." suara piring yang di letakan di meja, membuat Stella mendongak senang. Akhirnya malaikatnya sudah datang.
Stella menarik piring itu, "Ta!" panggil Stella.
Tata yang sudah duduk, menaikan sebelah alisnya seolah berkata 'apa.'
"Kenapa ya, semua orang di sekolah pada natap sinis sama Stella. Terus ngebully juga! Setahuku, aku nggak salah apa-apa!" Stella mengaduk-mgaduk Batagornya dengan malas.
Tata menghela nafas. Ia memasukan Bakso berukuran kecil ke mulutnya lalu ia mengunyahnya cepat dan menelannya. "Masih nggak tahu juga?" Stella menggeleng.
"Ini tuh, gara-gara lo yang berani ngelawan Diangela, 2 minggu yang lalu. Jadinya deh, orang-orang pada ngehindar dan ngebully lo karna nggak mau kena imbasnya." jelas Tata lalu kembali memasukan potongan Bakso ke mulutnya.
Stella memberengut kesal, "'masa sih, cuma gara-gara itu mereka bully aku." Stella menatap tak minat pada Batagornya dan mengaduk-ngaduknya tidak jelas.
"Eh, tapi kok Tata malah tetap temenan sama Stella. Nggak takut kena imbas juga?" Tanya Stella penasaran.
"Gue orangnya setia La. Kalau gue ngejauh, siapa dong yang nemenin sama lindungi lo? Gue nggak mau jadi temen freak buat lo."
Stella terharu mendengar itu, "Aaaaaa. Tata emang sahabat terbaikku." ucap Stella dengan suara lebay. Ia bangkit berdiri hendak memeluk Tata.
"Eitss. Mau ngapain lo? Duduk." Tata mendorong kening Stella hingga gadis itu kembali duduk. "Makan tuh! Jangan cuman di mainin doang."
Stella mengangguk-ngangguk kecil. Seketika mood untuk makannya naik. Saat hendak menyendok Batagornya, Stella meringis kesakitan ketika ada orang yang dengan sengaja menumpahkan kuah Bakso yang masih panas ke lengan Stella.
"Ssshhh, Awwww." mata Stella berair, ia melihat kulit lengannya yang sudah memerah. Tata yang melihat itu sontak marah dan berdiri sambil menggebrak meja.
"Eh, lo mau kemana? Tanggung jawab nih! Stella kena kuah Bakso lo." Tata mencengkram bahu pelaku yang merupakan perempuan dan kakak kelasnya.
Kakak kelas itu melirik sinis, "apaan sih?! Lepasin tangan menjijikan lo!" ucapnya menatap jijik pada tangan Tata yang memegang bahunya.
Tata balas dengan tatapan sengit, gadis itu dengan sengaja mendorongnya hingga terjatuh, dan membuat mangkuk berisi Bakso yang di pegangnya itu, juga pecah.
Setelahnya Tata menarik Stella untuk pergi.
"Awssss." Stella meringis ketika rambut pirangnya di tarik dengan kuat hingga ia ikut mundur ke belakang.
Tata menoleh panik, ia mencoba melepaskan tarikan di rambut Stella. "Apa-apaan sih! Lepasin nggak!" Tata berteriak ketika kedua lengannya di pegangi oleh dua orang, yang merupakan teman dari si Kakak kelas tadi.
Semua orang di kantin hanya terdiam, dan tidak melerai. Mereka malah menontoninya, ada juga orang yang merekam itu.
"Lepasin rambut Stella." Stella memberontak ketika rambutnya semakin di tarik kuat oleh si kakak kelas tadi.
Si kakak kelas yang bernama Violin itu menggeram, ia menarik Stella untuk berhadapan dengannya, "sujud dulu sama gue, baru gue lepasin."
__ADS_1
Stella menggeram marah, tanpa pikir panjang, ia mencakar wajah menyebalkan di depannya. Setelah terjatuh ke lantai, Stella duduk di atasnya dan memukulkan dahinya dengan keras ke hidung Violin, hingga berdarah.
Semua orang mematung. Yah, keberanian Stella patut di acungi jempol.
Tata tidak lagi memberontak, ia sama terkejutnya. "*****!! Gue nggak perlu bantuin deh, kayaknya. Kalian yang harusnya bantuin temen lo itu." Tata berucap pada kedua cewek yang masih memeganginya.
"Bila, Yuni! Pegangin dia." teriak Violin sambil menutupi hidungnya yang berdarah.
Sontak saja, kedua orang yang memegangi Tata langsung berlari dan menarik Stella agar berdiri lalu memeganginya.
"Eh, *****!! Padahal gue nggak berharap mereka bantuin si mak lampir itu." gumam Tata. Ia berjalan mendekat dan mencoba melepaskan Stella, tapi ia malah di dorong oleh Violin dengan keras ke lantai yang berserakan pecahan mangkuk, hingga membuat lengan Tata berdarah.
Tata meringis pelan lalu mencoba bangkit.
"Heh, kita mau apain ya, ni anak?" tanya Violin pada Stella yang masih memasang wajah menantang.
Violin menampar pipi kiri Stella, hingga menimbulkan suara yang keras.
Semua orang di kantin tampak bersorak senang. Suara orang-orang terdengar saling bersahutan.
"Pipi kanannya juga!"
"Tonjok dadanya."
"Anu-nya tendang tuh!"
"Lucutin bajunya aja! Biar malu. Gue mau lihat dalemannya." semua sontak tertawa mendengat celetukan yang berasal dari murid laki-laki yang berada di pojok kantin.
Violin menyeringai. "Wah, ide bagus tuh! Kita lucutin aja bajunya."
Stella memberontak, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Tata. Setelah berbagai usaha di upayakan, akhirnya ia berhasil lepas dari cengkraman Bila dan Yuni.
Stella pun berlari dan hendak membantu Tata yang sedang saling menjambak dengan Violin.
Tapi sayangnya ia terlambat, Tata sudah di dorong hingga jatuh sebelum Stella sampai. Stella menggeram marah, ia hendak memukul Violin, tapi tangannya lagi-lagi di pegangi oleh Bila dan Yuni.
Violin berdecih sebal. Ia melangkah maju menuju Stella, dan menampar pipi tembamnya beberapa kali. "Sial*n! Dasa— anj*ng! Siapa yang ganggu gue!?" Violin berteriak kesal ketika sebuah Yoyo mendarat dengan keras di kepalanya.
Kantin tiba-tiba jadi hening, ketika suara langkah kaki terdengar. Violin menoleh ke kiri, ia mengatupkan mulutnya tidak jadi mengumpat, ketika melihat Diangela berjalan ke arahnya dengan ekspresi marah yang kentara di wajah tampannya.
Diangela mengepalkan tangannya. Setelah sampai di tempat Violin, laki-laki itu tanpa simpati langsung menonjok wajah Violin dengan kekuatan penuhnya, hingga perempuan itu terlempar jauh dan pingsan.
Bahu laki-laki itu naik turun. Nafasnya tidak teratur akibat rasa marah menguasainya. Di tempatnya Stella mematung dengan kedua matanya yang sudah berlinang air mata.
Diangela menoleh dan menatap tajam pada Bila dan Yuni yang masih memegangi Stella. Kedua orang itu lantas melepaskan pegangannya, dan melangkah mundur dengan gemetar.
Diangela menarik Stella ke sampingnya. Mata tajamnya memindai semua orang di kantin yang berkeringat dingin.
"Lo! Kesini!" Diangela menunjuk pada laki-laki yang mengatakan untuk melucuti pakaian Stella.
Laki-laki itu menghampiri Diangela dengan gemetar. Jika ia tidak menghampiri Diangela, dia mungkin akan di habisi lebih parah. Jadinya lebih baik ia yang menghampiri laki-laki itu.
Setelah sampai, Diangela memukul wajahnya hingga laki-laki itu terjatuh. Diangela naik di atasnya dan mulai memukulinya.
__ADS_1
"Ini balasan untukmu, karna sudah menertawakan miliknya Diangela." Diangela memukul wajah laki-laki di bawahnya.
"Ini balasan karna sudah berani, bicara lancang sama miliknya Diangela!"
Diangela terus menggumamkan kata-kata itu saat memukuli si murid laki-laki tadi. Semua orang menahan nafas melihat itu. Bahkan ada yang sampai muntah.
Stella bergeming di tempatnya. Matanya tidak berkedip sama sekali.
Tata yang melihat itu, segera bangkit berdiri dan menghampiri Stella. Ia menutup kedua mata gadis itu agar tidak melihat adegan kekerasan di depannya.
Setelah laki-laki itu pingsan, Diangela bangkit dan berdiri. Ia menarik Stella ke sampingnya, lalu berteriak. "Gadis ini adalah milikku. Hanya aku yang boleh memaki dan melukainya! Jika ada dari kalian yang melakukan itu," Diangela menunjuk semua orang di kantin.
"Ku pastikan kalian semua, menghilang dari bumi ini!"
•••
"Kita mau kemana?" tanya Stella dengan suara bergetar.
"Pulang." Diangela memakaikan helm ke kepala Stella, tanpa persetujuan gadis itu.
"Ini masih jam belajar." ucapnya setelah melirik sekilas arlogi yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kau pikir kau bisa fokus belajar dari keadaan syok begini?" tanya Diangela sinis. "Cepat naik!" perintahnya.
Tidak mau mendapat bentakan lagi, Stella pun segera naik ke motor Diangela dengan susah payah.
Setelah Stella naik, Diangela pun menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, karna ia tahu gadis di belakangnya masih di landa syok. Mana mungkin, kan dia menjalankan motornya dengan kecepatan penuh? Bisa-bisa gadis di belakangnya itu pingsan.
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Stella. Stella pun turun dan gadis itu langsung berjalan menuju gerbang rumahnya tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu." Diangela melepas helmnya, kemudian turun dan melangkah menuju Stella.
Stella berbalik. "Apa?" tanyanya ketus.
"Helm." Diangela menunjuk helm yang masih terpasang di kepala Stella.
Seketika Stella langsung tersadar. Gadis itu meiringis pelan. Ia lalu melepaskan helmnya dan memberikannya pada Diangela, lalu kembali berbalik.
"Tunggu."
"Apa lagi?" Stella berbalik lagi dan bertanya geram.
Diangela melangkah mendekat. "Mulai sekarang kau tidak boleh dekat-dekat dengan laki-laki lain." Ucap Diangela setelah sampai di depan Stella.
Stella mengerutkan dahinya. "Nggak mau! Emangnya kenapa aku nggak boleh dekat-dekat sama laki-laki lain?"
"Karna miliknya Diangela tidak boleh di sentuh oleh siapapun, kecuali aku. Mengerti!?" Diangela menepuk-nepuk pelan kepala Stella.
Stella memberengut kesal, ia lalu menepis kasar tangan Diangela. "Nggak mau! Emangnya aku barang apa! Seenaknya ngomong Stella milik Diangela." ketusnya.
"Itu bahasa kasarnya. Kalau bahasa halusnya, kau itu kekasihku." Ucap Diangela agar Stella tidak protes lagi.
"Hah? Kekasih? Tapi tetap saja aku tidak mau! Lagian aku nggak suka sama kamu. Bukan tipeku."
__ADS_1
Diangela mendekatkan wajahnya dengan wajah Stella. "Aku tidak butuh jawabanmu. Aku tidak suka di bantah! Jadi jangan membantah ku, Little Sheep." bisik Diangela lalu tersenyum miring. Ia lalu berbalik menuju motornya.
"Little Sheep?" gumam Stella.