Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Sebuah clue


__ADS_3

"*Kenapa kau tidak jawab telponku?"


"Cepat jawab!! Kepala keluarga menanyakanmu terus!!!"


"Kenapa kau malah menghilang? Pergi kemana kau?"


"Kau tahu? Regis sedari tadi menjelekanmu! Kalau tidak mau namamu rusak, cepatlah kembali!!"


"Aishhhh!!!!! CEPATLAH KEMBALI DASAR ANAK DURHAKA*!!!"


Diangela sontak memundurkan handphonenya ketika teriakan Stevano terdengar di akhir pesan suara itu. Laki-laki itu menggulir layar ke bawah dan ternyata masih banyak pesan suara lainnya. Dengan malas, Diangela menonaktifkan handphonenya lalu memasukannya ke saku celana.


Saat ini ia sedang berada di Roma, Italia. Seharusnya ia menghadiri pertemuan keluarga saat ini, tapi kini dirinya berada di depan hutan belantara.


Diangela mendongak menatap pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di depannya. Pesan dari d.r Crombell sial4n itu yang mengarahkannya ke sini. Katanya dia akan mendapatkan petunjuk atas pertanyaannya, dan peristiwa kemarin.


Yup! Kemarin Diangela menghentikan aksi Aiden yang tengah menyiksa mental pria yang menguntit Stella selama ini. Belum sempat Diangela menginterogasi, pria itu tiba-tiba mati karna tertembak. Di lihat dari pelurunya, sepertinya itu ulah snipers.


Diangela lalu melangkah masuk ke hutan itu. Suasana hutan terasa mencekam dengan kabut yang samar-samar karna hari masih pagi. Yang terdengar hanyalah kicauan burung dan langkah kaki Diangela.


Angin dingin yang berhembus seolah menusuk kulit Diangela yang sudah terbiasa di cuaca panas. Walaupun begitu, ia tidak menggigil kedinginan. Jaket yang di pakaiannya sudah cukup untuk menghangatkan tubuhnya.


Semakin jauh melangkah, semakin mencekam pula suasananya. Diangela menarik nafas panjang. Ia benci hutan! Tapi keadaanya sekarang memaksanya untuk masuk wilayah yang sangat-sangat ia benci! Apalagi ini adalah hutan yang sama dimana peristiwa mengenaskan itu terjadi.


Diangela menghentikan langkahnya. "Di sini tidak ada apa-apa." Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Apa si bajing4n itu berbohong padaku? Apa dia hanya ingin mempermainkan ku, karna aku punya ingatan buruk di hutan ini?" alis Diangela mencuram ke bawah. Rahangnya mengeras.


"Ahhhh!!!" Diangdela mendongak ke atas sembari menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. "Seharusnya aku tidak mempercayai ucapan si bedeb4h itu dengan mudah!!" ucapnya.


Krekk!


Suara ranting pohon yang di injak terdengar. Membuat antensi Diangela tertuju ke arah sumber suara itu. Diangela menurunkan tangannya. Dengan tatapan menyelidik, ia mulai berjalan ke arah suara itu dengan hati-hati.


Suara derap langkah terdengar menyusul. Samar-samar Diangela mendengar suara wanita yang tengah bicara.


Setelah sampai, Diangela bersembunyi di balik pohon. Ia melihat seorang wanita dengan pakaian hitam di sekujur tubuhnya. Wanita itu sedang berjongkok, dan bicara pada tumpukan tanah di depannya. Payung hitam dan setangkai Bunga lily terlihat di sampingnya.


"Putrimu baik-baik saja bersamaku." Ucapnya.


Diangela menyipitkan mata, merasa familiar dengan suara wanita itu. Apalagi dia menggunakan bahasa Indonesia saat bicara.


"Aku membawakan bunga kesukaanmu!" ucapnya lagi, kemudian menoleh dan mengambil bunga lily berwarna biru itu.


Diangela melebarkan matanya ketika mengenali wajah wanita itu, walaupun dari samping. Diangela mengucek kedua matanya berulang kali, berusaha mencerna kejadian saat ini. Yang di lihatnya apakah nyata atau tidak?


"Kau tidak usah khawatir! Selain aku, ada laki-laki yang menjaga putrimu. Tapi sepertinya aku tidak bisa memonopolinya lagi, karna ada dia. Aku tidak bisa melarangnya keluar karna laki-laki itu. Putrimu itu terlalu naif dan polos! Aku khawatir dia bertemu bahaya di luar sana, mengingat musuh-musuh ayahnya berkeliaran di sana sini." Helaan nafas panjang terdengar di ujung.


Wanita itu menoleh ke samping, meraih payungnya lalu berdiri. "Kalau begitu aku pergi dulu. Dan kalian anak-anak, semoga bahagia di alam sana." Ucapnya lalu beranjak pergi dari sana.


Anak-anak? Tanya Diangela dalam hati. Setelah melihat punggung wanita itu menjauh, Diangela berjalan menuju tempat wanita itu tadi.


"Ternyata ini makam." Gumam Diangela ketika melihat batu nisa bertuliskan nama. Pandangannya lalu beralih pada batu nisan lainnya yang berjejer. Ternyata di samping makam besar ini, ada makam lainnya yang tidak di tembok seperti makam yang satu ini.


Tapi yang membuat Diangela mengernyit heran, adalah saat ia menyadari bahwa batu nisan di makam-makam kecil itu, tidak tertulis nama. Hanya batu yang sudah di tumbuhi rumput-rumput dan terlihat usang.


Diangela lalu mengalihkan tatapannya ke makam yang besar yang ada namanya. Laki-laki itu berjongkok. Matanya menyipit berusaha membaca tulisan yang terlihat tidak jelas di batu nisan itu.


"Sssss...... Sha... Shaennnnn...... Shaennnnnete. Shaenette!!!" di batu nisan yang satu itu pun, hanya tertulis nama saja. Tidak ada tanggal lahir dan tanggal meninggalnya.


Diangela mengusap-ngusap dagunya sambil berpikir keras. Ia merasa pernah mendengar nama ini! Tapi ia tidak ingat di mana? "Shaenette, Shaenette, Shaenette." Gumam Diangela berusaha mengingat.


"Shaen-" Diangela memiringkan kepalanya. Ia sontak berdiri ketika mengingat nama itu. "Auristella Allisya Lesham Shaenette. Itu nama belakang Stella." Ucapnya.

__ADS_1


Diangela menunduk ketika merasa kakinya menginjak sesuatu. Diangela mengangkat kakinya, lalu mengambil sesuatu yang terinjak olehnya. Ternyata itu adalah gelang yang terbuat dari logam. Diangela mengangkatnya. Alisnya langsung menukik tajam melihat tulisan di gelang itu.


057


Diangela meremas gelang itu kuat-kuat. Marah mendominasi dirinya sekarang!!! Itu adalah kode nama 'dia.' Giginya bergemeletuk dengan rahang kokohnya yang mengeras, pun dengan ekspresinya yang marah nan dingin. Tatapannya beku nan tajam menusuk.


"Sebenarnya ada hubungan apa kau dan dia, Zanna Kirania!!!" desis dan geram Diangela.


Ya!!! Wanita yang di lihat oleh Diangela tadi adalah, Zanna Kirania. Orang yang di panggil bunda oleh Stella.


•••


"Bunda nggak ada! Tata nggak ada! Kak Ian pun nggak ada!!" lirih Stella sembari menunduk menatap kakinya yang sedang berjalan. Sekarang ia dalam perjalanan pulang. Sendirian.


Tata menjenguk neneknya yang sakit di kampung. Ibunya pergi ke luar kota, karna urusan kerja. Dan Kak Iannya entah pergi kemana. Kak Jazztin, dan Ansell pun entah kemana. Stella menendang-nendang batu kecil, dengan wajah lesu. Langkahnya pun terlihat tidak semangat. Gerutuan-gerutuan kecil kadang terdengar dari bibir mungil Stella.


"Hello."


Sapaan itu membuat tubuh Stella membeku. Ia tahu betul itu suara siapa. Stella merapatkan bibir lalu memejamkan matanya rapat-rapat dengan kepalanya yang masih menunduk.


Jangan lagi!!!


Stella mendongak. Helaan nafas lelah terdengar ketika dugaannya benar. Sekarang Ethan dan Erlan tengah berada di depan gerbang rumahnya. Tersenyum tanpa dosa.


Senin!! Dari sekian hari yang ada, ini adalah hari tersialnya! Stella akan mencatat itu. Kenapa duo setan ini senang sekali mengusik kehidupannya!!


Mengabaikan mereka, Stella maju dan membuka pintu gerbangnya tanpa menoleh pada mereka.


"Eittsss!!!" Ethan menghalangi pegangan pintu dengan tubuhnya. "Mau masuk? Tidak semudah itu Ferguso!!"


"Fe? Ferguso?!!" delik Stella tak percaya. "Memangnya kau tahu apa itu Ferguso?"


"Manusia." Jawab Erlan. Bocah itu menegakan tubuhnya, tidak lagi bersandar di pintu gerbang. Ia maju sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Kau sudah memikirkan tawaran kami?"


"Bukankah itu bukan pilihan?" Stella berkacak pinggang. Sorot matanya menyiratkan kejengkelan tiada tara yang begitu kentara! "Dan lagi! Kalian ini tidak punya kerjaan selain merecoki ku terus, hah?"


"Kami kan masih kecil! Tentu saja tidak punya kerjaan." Balas Ethan.


"Aku tidak akan pernah bersekutu dengan kalian!! Cam kan itu!" tegas Stella lalu mendorong Ethan, dan menggeser gerbang itu. Baru satu langkah masuk, Erlan menghentikannya.


"Kau tidak penasaran kemana perginya Diangela and the geng?" tanya Erlan.


Stella menoleh pelan. "Geng?" ia mengernyit pelan. Tangannya memegang pegangan pintu gerbang.


"Maksudnya Diangela, Jazztin, dan Ansell." Jelas Ethan. "Kau tidak penasaran kemana mereka pergi?"


"Aku akan beri satu clue! Mereka pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini. Mungkin tak akan pernah kembali!" sahut Erlan.


Stella berbali dengan raut wajah kaget. "Apa kak Ian sudah bertemu tuhan?" tanyanya terkesiap pelan.


Erlan dan Ethan kompak memundurkan wajahnya sambil mengernyit.


"Kau mendoakan orang yang kau cintai, meninggal?" tanya Ethan tak percaya.


Erlan bertepuk tangan. "Bravo!!! Kau memang wanita iblis!!"


Stella mengangkat kepalan tangannya, hendak memukul Ethan dan Erlan. "Mau ku pukul, hah?"


"Mana ada orang yang mau di pukul!"


"Bodoh tetaplah bodoh!"

__ADS_1


Stella menghentakan kakinya jengah. "Ayolah!" rengeknya. "Bisakah kalian tidak merecoki ku terus!!! Aku tidak mau mati oleh di recoki oleh kalian!!"


"Makanya jadi sekutu kami!! Ini simbiosis mutualisme tahu!!"  ucap Erlan.


"Mutualisme?" beo Stella sambil terkekeh. "Bukannya simbiosis parasitisme ya?"


"Parasitisme apanya!?" bantah Ethan tak rela. "Mutualisme tahu!! Kau dapat informasi, kami dapat mainan!"


Stella memutar kedua bola matanya. "Ok!! Aku akan jadi sekutu kalian, PUAS!!!"


Ethan dan Erlan menyengir lebar. "Puas, sangat puas!!!"


Stella bersedekap lalu menyederkan punggungnya ke tembok. "Sekarang katakan di mana kak Ian."


"Oh, dia? Dia ada di Itali!" jawab Ethan.


"Itali? Sedang apa kak Ian di sana?"


"Pertemuan keluarga!" tukas Erlan. "Di keluarga kami biasanya di adakan pertemuan keluarga sebulan sekali, untuk mempererat rasa kekeluargaan."


"Tapi kenapa harus di Itali?"


"Karna kami memang aslinya berasal dari sana! Hanya saja kita pindah ke sini karna alasan tertentu."


"Biasanya ada 10-15 kepala keluarga yang hadir."


"Kepala keluarga?"


"Ya!! Keluarga kami itu sangat buesuarrrrr suekualia...." Ethan merentangkan tangannya.


"Oh, iya!! Setiap kepala keluarga juga mendapat peringkat! Dan peringkat yang paling tinggi, perintahnya adalah mutlak! Tidak boleh di bantah."


"Peringkat?" beo Stella mulai tertarik. "Seperti di sekolah saja! Kalau begitu keluarganya kak Ian berada di peringkat berapa?" tanya Stella antusias.


Kalau kak Ian sih pasti peringkat tinggi, kan? Batin Stella.


"Oh, itu! Keluarga kami dan Diangela berada di peringkat atas."


"Benarkah?" tanya Stella dengan matanya yang berbinar. Ia tersenyum lebar.


Erlan menabok kepala Ethan keras-keras. "Omong kosong! Orang keluarga kita dan Diangela itu berada di peringkat akhir!"


"Awww!! Aku kan belum selesai bicara!" Gerutu Ethan sambil mengusap kepalanya yang kenap pukulan telak dari Erlan. "Maksudku, peringkat atas dari bawah!" sahutnya sambil menatap kesal pada Erlan.


Bahu Stella merosot mendengar itu. "Terakhir?" ia mengernyitkan dahi.


"Iya! Karna keluarga kami sering berbuat onar! Jadinya kami berada di peringkat akhir." Kata Erlan.


"Apa yang kalian lakukan di pertemuan keluarga?" tanya Stella menelengkan kepalanya. "Apa kalian bermain?" tanya Stella dengan nada antusias.


"Sebenarnya itu tidak bisa di bilang pertemuan keluarga, tapi ajang pamer dan sindir-menyindir."


"Kenapa?"


"Ya, begitulah!! Setiap kepala keluarga selalu memerkan kehebatan anak-anak mereka. Atau pamer kekayaan. Beberapa kepala keluarga lainnya juga saling sindir! Dan keluarga kami yang sering terkena sindiran!"


"Ah, iya! Karna itu juga kami malas datang ke pertemuan keluarga."


"Oh, begitu ya!" Stella mengusap-ngusap dagunya sambil mengangguk-ngangguk kecil.


"Kami sudah memberi informasi." Ucap Erlan. "Sekarang..........."

__ADS_1


"AMBIL!!!" Ucap Ethan dan Erlan bersamaan dengan sebuah boneka yang di lempar.


__ADS_2