Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Debaran


__ADS_3

"Bun, boleh ya? Please. Sekali ini aja kok." Stella terus mengekori Zanna yang tengah menyiram bunga.


Zanna menghentikan kegiatannya, ia berbalik lalu menatap Stella. "Nggak boleh! Kalau bunda bilang nggak boleh ya nggak boleh!" tegasnya.


Stella memberengut. "Bun, Stella cuma mau main bareng Tata kok. Kenapa nggak di bolehin? Lagian nanti Tata bakal jemput aku ke sini. Jadi bunda nggak perlu khawatir, ya?" Stella mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menangkup tangan ibunya.


Zanna menghela nafas. "Bunda bilang apa tadi? NGGAK BOLEH!" Zanna memyilangkan tangannya. Ia lalu berbalik melanjutkan kegiatannya.


Stella menatap punggung ibunya yang menjauh. Bahunya naik turun menahan marah. Ia tahu ibunya sangat protect jika mengenai segala hal yang berhubungan dengannya. Tapi ia juga ingin seperti anak muda lainnya, main bareng, ngemall bareng, nonton bareng, nginep dan segala hal lainnya yang di lakukan anak remaja jaman sekarang. Ia ingin merasakannya juga. Ingin bebas dari segala peraturan ibunya. Salahkan dia jika ia menginginkan semua hal itu?


"Bun.... Stella juga pengen main kayak anak-anak lain. Stella nggak mau di rumah terus, bunda ngertiin nggak perasaan Stella kaya gimana?" tanya Stella dahi mengkerut. Gadis itu marah. Tapi ia menahannya sebisa mungkin.


Hening. Tidak ada jawaban.


"Stella frustasi di rumah terus dengan segala peraturan-peraturan yang nggak masuk akal yang di buat bunda." lanjut Stella mengeluarkan semua unek-unek nya.


Air muka gadis itu berubah menjadi sedih. "Stella nggak mau di kekang, nggak mau di larang ini itu. Stella itu udah kayak burung dalam sangkar bun....." lirih Stella sambil menunduk.


Terdengar suara isakan. Di tempatnya, Zanna masih bergeming. "Bunda sangkarnya. Tahu nggak bun? Kalau aku itu kadang depresi sama peraturan bunda. Harus ini lah, harus itulah. Walaupun nggak mau, aku tetep nurutin perkataan bunda. Bunda bisa nggak turutin satu permintaan ku kali ini. Cuma satu bunda... cuma satu. Baru pertama kali aku dapat teman bun, aku juga mau main sama dia. Bukan sama boneka Dombaku kayak dulu. Aku juga butuh sosialisasi bunda." Ucapnya dengan suara bergetar.


Zanna menghela nafas. Ia berbalik, menyimpan gembor di bawah lalu memegangi kedua bahu Stella. "Stella sayang dengerin bunda. Bunda cuma mau kamu selalu aman, bunda nggak mau kamu kena bahaya di luar sana. Bunda peduli sama kamu."


"Terus bahayanya apa?! Bilang sama Stella, bahayanya apa?!" teriak Stella setelah mendongak. Air matanya berlinangan di pipi, tapi raut wajahnya menunjukan kemarahan yang kentara.


Zanna tersentak melihat itu. Belum pernah sekalipun ia melihat Stella marah ataupun menangis. Matanya biasanya memancarkan kepolosan, dan kelembutan. Tapi sekarang, matanya menunjukan kemarahan.


Zanna menghela nafas. Ia berpikir, apakah selama ini dia terlalu keras pada Stella? Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. "Oke! Bunda izinin. Tapi, kalau nanti ada bahaya segera telpon bunda."


"Nggak punya handphone."


"Bawa handphone bunda aja. Nelponnya sama nomor telpon rumah, inget kan nomornya?"


"Huwaaaaa.... Yeeeeyyyyyyy. Sayang bunda." Stella meloncat girang. Ia mengecup singkat pipi Zanna lalu berbalik dan masuk rumah.


Zanna memegang pipinya yang bekas di kecup Stella, "cepet amat perubahan ekspresinya."


•••


"APAAA!!!! Si Regis sialan itu ada di Indonesia?" Ansell menggebrak meja makan dengan keras.


Stevano mengangguk-ngangguk. "Iya. Temuilah saudara kalian."


Jazztin memainkan pisau dapur, dengan tubuhnya yang masih terbalut celemek. Tidak menanggapi dengan heboh seperti Ansell.


"Kenapa Regis datang ke sini?" tanya Diangela.


"Mengejar Seira." Jawab Stevano.


"Dia belum menyerah mengejar Seira? Bahkan tahun lalu lamarannya di tolak." Ujar Jazztin lalu melemparkan pisaunya, menuju Ansell. Ansell sontak menunduk, dan pisau itu melesat dan menancap di sasaran panah di tembok depan, tepat di tengahnya.


Ansell mendongak. "Sial*n! Kau mau membunuhku hah?" tanyanya setelah berdiri sambil menggebrak meja.


Jazztin mengedikan bahu. "Targetku sasaran panah itu. Tapi kau menghalangi. Apa boleh buat." Ucapnya cuek.


"Setidaknya beritahu aku dulu. Bagaimana kalau pisau itu menancap di mataku?"

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan dapat satu koleksi mata lagi." Ucapnya dengan enteng.


"Sial*n! Kau mau berkelahi? Sini!"


"Berkelahi bukan gaya ku. Dasar kekanak-kanakan." Cibir Jazztin.


"Oh, ya? Apa kau tahu siapa yang mengotori semua pakaianmu dengan tanah?"


Jazztin menaikan sebelah alisnya. "Siapa?"


"Itu aku, sial*n!" Ansell mengacungkan jari tengahnya.


"Jadi itu perbuatan kau?! Bajing*n! Ayo berkelahi." Jazztin berdiri lalu menggebrak meja dengan raut wajah marah yang kentara.


"Birkilihi bikin giyiki. Disir, kikinik-kinikin!" tiru Ansell dengan bibir yang sengaja di monyong-monyongkan.


Stevano yang kesal, berdiri lalu menjambak rambut Jazztin dan Ansell, kemudian dengan sengaja menabrakan jidat mereka. "Berisik, sial*n! Daddymu ini sedang bicara tahu!"


"Ah, Stevano sial*n! Lepaskan tangan kotormu dari rambutku!" Jazztin berusaha melepaskan jambakan Stevano di rambutnya.


"Siapa orang asing ini? Kenapa menjambak rambutku?!" gerutu Ansell.


Diangela di tempatnya duduk dengan tenang, ia sedang minum teh.


Stevano menghela nafas. Ia melepaskan jambakannya. "Cepatlah bersiap! Sambut saudaramu. Jika tidak, aku tidak akan punya muka di hadapan pada kepala keluarga. Mereka pasti mengataiku, kalau aku tidak bisa mendidik anak-anaku dengan baik."


"Siapa yang anakmu?" tanya Ansell sambil mengusap-ngusap jidatnya.


"Aku tidak punya saudara bernama Regis." Diangela berucap pelan.


•••


"Ta, aku ke kamar mandi dulu ya." Izin Stella pada Tata yang tengah sibuk dengan makanannya. Setelah mendapat persetujuan dari Tata, gadis itu segera melangkah ke kamar mandi.


"Ah, segarnya." Stella bergidik setelah mencuci mukanya di wastapel. Ia sudah keluar dari toilet. Stella mengambil tisu di tas selempangannya, kemudian ia pakai untuk melap wajahnya yang basah.


Setelah sekesai, ia lalu berbalik hendak berjalan. Saat mendongak, gadis itu berjengit kaget ketika mendapati orang di depannya. Ternyata orang itu adalah Diangela.


"Kak Ian? Ngagetin aja! Ngapain di sini?" tanya Stella sembari mengelus dadanya, pada Diangela yang sedari tadi menunduk. Gadis itu mengernyit ketika melihat air muka Diangela, yang menunjukan kesedihan.


Matanya tampak redup, tatapannya kosong. Walaupun wajahnya kelihatan datar, tapi Stella dapat melihat dengan jelas bahwa laki-laki itu tengah bersedih.


"Kak Ian kenapa?" Stella nampaknya khawatir. Mengingat, Diangela adalah sosok yang tak pernah menunjukan ekspresi apapun kecuali marah.


Stella memekik ketika tangannya di tarik ke salah satu bilik toilet oleh Diangela. Setelah masuk, laki-laki itu mengunci pintunya. Karna pada dasarnya toilet itu kecil, Stella jadi terpojok.


Stella memalingkan wajahnya yang sudah merah seperti  kepiting rebus. "Ka-kak Ian ma-mau ngapain?" tanyanya agak tergagap.


Diangela tidak menjawab. Laki-laki itu malah menyandarkan kepalanya di bahu Stella.


"Kak Ian ngapain? Lepas nggak!" Stella berusaha mendorong Diangela. Ia sungguh canggung dengan situasi ini. Posisinya benar-benar intim. Walaupun Stella ini adalah seorang gadis polos, tapi ia sangat mengetahui hal-hal seperti ini. Tentu saja ia mempelajarinya, agar tidak mudah di tipu oleh orang lain.


Diangela mencekal tangan Stella, yang tengah berusaha mendorongnya. "Aku ingin tetap seperti ini. Sebentar saja! Kumohon." Bisik Diangela, membuat bulu kuduk Stella berdiri. Hembusan nafas Diangela terdengar dengan jelas di telinganya.


Stella berhenti memberontak. Ia jadi bingung, mendengar nada bicara Diangela yang lembut. Benar-benar berbeda dari yang biasanya.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu, Stella mengangkat tangannya dan mulai mengelus surai lembut Diangela. Entah kenapa, pipi serta telinganya mulai terasa panas, dan jantungnya berdetak tak karuan.


Diangela di tempatnya, memejamkan matanya. Ia menghirup dalam-dalam aroma menenangkan Stella. Ia merasakan ketenangan, setiap kali dirinya menghirup aroma itu.


Aroma yang sama, yang membuatnya jadi ingat pada seseorang. Sedari tadi, laki-laki itu tidak dapat menghilangkan semua pikirannya, tentang masa lalu.


Perkataan Regis, masih melekat di benaknya. Membuat semua usaha Diangela untuk mengubur dalam-dalam masa lalunya itu, langsung hancur lebur.


Tembok kokoh yang ia bangun, seketika hancur ketika kata 'bunuh' itu terdengar lagi di telinganya. Ia memang sering mendengat kata itu, tapi kali ini makna dari kata 'bunuh' yang di maksud oleh Regis, benar-benar berbeda.


Kata itu membuat, luka lamanya yang hampir tertutup, terbuka lagi. Bahkan lebih besar dari dulu.


Semua luka itu selalu menjadi mimpi buruknya setiap malam. Menerornya bagai hantu. Membuat rasa takut, sakit, dan sedih menyelimuti raga dan jiwanya.


Dan seperti sebuah keajaiban, ia langsung melupakan semua itu ketika melihat mata polos Stella. Entah kenapa, semua yang ada di diri Stella membuatnya tenang. Seolah gadis itu, adalah kata tenang itu sendiri.


Semua rasa sakit yang menghantam relung hatinya, perlahan menghilang di gantikan dengan rasa nyaman, yang sudah lama tidak ia rasakan lagi.


Mereka terus dalam posisi seperti itu selama beberapa menit lamanya.


"Jantung mu, berdetak kencang. Aku bisa mendengarnya." Lirih Diangela membuat Stella kelabakan sendiri.


"Pe-perempuan la-lain pun, pa-pasti akan seperti ini, jika terlalu dekat dengan laki-laki." Jawab Stella dengan wajah merah. Gadis itu menurunkan tangannya, berhenti mengelus kepala Diangela.


Diangela mencekal tangan Stella, ia lalu mendongak. Perlahan Diangela mengecup satu-persatu ujung jarinya, dan berakhir pada punggung tangannya.


Sentuhan lembut yang terasa di punggung tangannya, membuat jantung Stella semakin bergemuruh hebat, seolah akan keluar dari tempatnya. Sentuhan itu juga seakan menghantarkan aliran listrik yang membuat lengannya tersetrum kecil.


Diangela mencium punggung tangan Stella dengan mata terpejam, untuk waktu yang cukup lama. Ia lalu mendongak ketika sudah selesai. Pemandangan pertama yang ia lihat ketika membuka mata adalah, wajah Stella yang sepenuhnya merah.


"Apakah perempuan lain juga, jantungnya akan berdetak kencang, jika di perlakukan seperti ini?" tanya Diangela dengan sebelah alis yang terangkat.


Dalam hati, Diangela merutuki dirinya sendiri. Perbuatannya barusan, tidak ia rencanakan sama sekali. Tubuhnya bergerak sendiri untuk melakukan hal gila seperti itu.


Stella membelalakkan matanya. Tangannya masih di depan bibir Diangela, ia juga bisa melihat senyum miring laki-laki itu.


Dengan cepat, ia menarik tangannya. Lalu berbalik dan berusaha membuka kunci pintu.


"Telingamu merah tuh." Bisik Diangela tepat di telinga Stella.


Stella tidak tahu, jantungnya berdetak kencang karna marah atau karna alasan lainnya. Yang pasti, ia tidak mengerti perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.


Debaran aneh ini benar-benar........ ah! Stella tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.


Dengan tergesa-gesa, Stella membuka pintu toilet lalu keluar. Gadis itu segera menghirup udara sepuasnya. Berada di dekat Diangela membuatnya tidak bisa bernafas dengan leluasa.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Diangela lalu berlalu dari sana.


Oh, sepertinya laki-laki itu sudah kembali seperti biasanya. Terbukti dari nada bicaranya yang super-super datar.


Stella tidak menjawab. Gadis itu masih syok dengan perasaan asing yang tiba-tiba datang menghantam hati dan sekujur tubuhnya. Tapi entah kenapa, ia malah suka dengan perasaan asing itu.


Stella menyentuh dadanya yang masih bergemuruh hebat. Ia menoleh lalu menatap bahu, bekas sandaran Diangela.


Ia perlahan menyentuh bahu itu, dan mengernyit ketika menyadari sesuatu. Bahunya terasa basah walaupun sedikit. "Kak Ian, nangis?"

__ADS_1


__ADS_2