Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Rasanya mau mati saja!


__ADS_3

"Haha." Stella tertawa datar sambil menatap tajam, Diangela yang menampilkan wajah tanpa dosanya.


"MENCINTAI PALA MU!" teriak Stella kesal. Sedetik kemudian ia memukul-mukul bahu Diangela, dan menjambak rambut laki-laki itu beberapa kali dengan kuat.


"Kau mau membuatku mati, hah?!" tanya Stella geram. Ia menangkup pipi Diangela lalu mencubit pipi itu dengan kuat.


Diangela hanya bisa terdiam di perlakukan seperti itu. Pukulan, jambakan, serta cubitan Stella sama sekali tidak terasa. Karna kesal, Diangela melepaskan kedua tangannya dari pinggang Stella, membuat gadis itu hampir tenggelam lagi.


"Aaaaa." Teriak Stella, lalu dengan segera ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Diangela agar tak kembali tenggelam ke dasar kolam.


Diangela tersenyum samar, ia kembali meraih pinggang Stella dan mengangkatnya hingga wajah Stella berhadapan dengan wajahnya.


"Bukankah kau bilang, jika aku tidak membiarkan mu tenggelam, kau akan mencintaiku. Sekarang aku tidak membiarkan mu tenggelam sampai pingsan seperti tadi siang." Bisik Diangela. "Jadi, apa kau sudah mencintaiku?" lanjutnya.


Stella menukikan kedua alisnya. Dahinya mengerut sempurna. "Tentu saja TIDAK! Aku tenggelam sekarang karna perbuatanmu. Sedangkan tadi siang karna kecerobohanku."


Diangela memasang wajah bingung. "Tapi bukankah sama saja. Intinya aku tidak membiarkan mu tenggelam."


Stella memejamkan mata geram. "Tapi kau yang dengan sengaja membuatku tenggelam. Memangnya siapa yang akan jatuh cinta pada orang yang dengan sengaja membuatnya tenggelam?" Stella berucap sambil melotot kesal.


"Jadi...." Diangela mengernyit pelan. "Tindakanku salah?"


"TENTU SAJA SALAH!" Teriak Stella yang masih di kuasi oleh amarahnya.


Diangela tampak berpikir keras. "Jadi, apa yang harus ku lakukan agar kau mencintaiku dalam satu detik?" tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat.

__ADS_1


Mata Stella membulat. Pertanyaan apa lagi ini! "Satu detik?" tanyanya sambil terkekeh singkat. "Yang benar saja!" Stella memutar kedua bola matanya.


"Kau bertanya apa aku mencintaimu. Apa kau sendiri juga mencintaiku? Bukankah kau menjadikan ku kekasihmu, hanya untuk kau lukai dan maki hah?" tanya Stella kesal mengingat kejadian di kantin saat laki-laki itu berkata kalau hanya dialah yang boleh melukai dan memakinya.


"Memangnya aku pernah memaki dan melukaimu?" tanya Diangela.


"A... I-itu..." Stella jadi terdiam, karna memang faktanya selama ini Diangela tak pernah sekalipun memaki dan melukainya. Malahan menurutnya, Diangela bersikap baik. "Ya, te-terus kenapa kau mengatakan hal itu waktu aku di buli di kantin?"


"Emmm. Entahlah." Gedik Diangela. "Itu spontan keluar dari mulutku. Dan satu hal lagi! Aku sengaja membuat mu tenggelam juga untuk menghukum mu!" ucap Diangela mencari alasan agar dirinya tak di persalahkan lagi oleh Stella.


"Hu-hukum? Memang aku salah apa?"


"Selama aku tidak hadir di sekolah, kau malah asik berduaan dengan Ansell. Kau tidak ingat kalau kau punya kekasih?!" ucap Diangela teringat akan percakapan para murid perempuan saat ia kembali sekolah. Diangela juga sebenarnya tidak tahu dengan pasti, apakah perkataan para murid perempuan itu benar atau tidak.


"Berduaan apanya? Aku dan kak Ansell cuma makan bareng di kantin." Bantah Stella. "Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan kak Ansell, hah? Dia orangnya baik dan lembut. Tidak seperti kau yang dingin! Kau tahu, dia juga laki-laki yang gentleman!" Ucap Stella membuat Diangela menggeram marah. Entah kenapa, Diangela tak suka saat Stella memuji Ansell.


Perbuatan Diangela langsung saja membuat wajah Stella merah padam. Gadis itu melotot kaget. Jantungnya berdetak cepat.


"Apakah ini juga gentleman?" Diangela mencium pipi kanan Stella. "Yang ini juga?" ciumannya beralih pada pipi kiri Stella. Hingga saat ia ingin beralih ke bibir Stella, gadis itu menahannya dengan menutup bibir Diangela.


"Y-ya ya. Kau gentleman! Sangat-sangat gentleman!" Ucap Stella cepat dengan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus. Gadis itu memalingkan wajahnya. "Sekarang bawa aku keluar dari kolam ini! Aku kedinginan."


Diangela tidak puas dengan perkataan Stella. Ia menarik dagu Stella untuk menoleh padanya. "Hanya gentleman saja?! Ansell kau puji ini itu, sedangkan aku hanya gentleman saja?!" tanyanya tak terima.


Ya ampun! Rasanya aku mau mati saja! Batin Stella.

__ADS_1


Stella menatap ke samping, menghindari kontak mata dengan Diangela. "Kak Ian baik, tampan, dermawan, rajin menabung, mandiri, berbakti pada orang tua. Pokoknya calon suami idaman." Ucap Stella asal.


Baik apanya? Aku saja sudah pernah melihatnya memukul perempuan. Dermawan? Dari raut wajahnya saja sudah mengatakan kalau kak Ian bukan orang dermawan. Rajin menabung? Aku hanya asal ucap. Mandiri? Itu maksudnya mandi sendiri. Berbakti pada orang tua? Aku saja nggak tahu orang tua kak Ian. Calon suami idaman? Sedikit sih! Hanya satu-satunya pujianku yang benar. Yaitu tampan. Stella membatin cepat.


"Tatap aku saat bicara!" perintah Diangela.


Stella menoleh sambil tersenyum paksa. "Kak Ian, baik, tampan, dermawan, rajin menabung, mandiri, berbakti pada orang tua. Pokoknya calon suami idaman." Ucapnya sambil berusaha memahat senyum semanis perisa rasa jeruk, minuman ale-ale.


Walaupun pujian itu tak sepenuhnya benar, Diangela tersenyum puas.


•••


**Diangela: Like, comment, rate 5. Jika tidak ku bunuh kau! ( Bicara dengan datar sambil memainkan pisau lipatnya.)


Auristella: Emm, hai. Hehe. Jangan lupa like, comment, dan rate 5 ya 😊 Aku akan sangat berterima kasih jika ada yang melakukan itu. ( Bicara dengan suara ramah.)


Jazztin: Sebenarnya aku malas melakukan ini. Tapi authornya, mengancamku akan menghilangkan aku jika aku tidak melakukannya. Like, comment, dan rate 5. Karna orang yang melakukan itu, adalah orang bersih sepertiku. ( Bicara dengan muka malas.)


Ansell: Hai. Ah, aku lupa mau mengatakan apa. ( Menggaruk tengkuknya.)


Stevano: Doakan agar Diangela mencintai Stella ya. Jika tidak aku akan kehilangan ginjalku, hehe.


Aris: Abaikan perkataan Stevano!


Tata: HOLLA GUYSS. Akhirnya gue bisa berinteraksi langsung dengan para author dan readers yang setia membaca cerita ini. Eh, jangan lupa Like, Comment, dan yang pastinya rate 5 ya. Kalau nggak, mandul 7 turunan. ( Bicara dengan nada jenaka.)

__ADS_1


Zanna: Hemm. Like, comment, dan rate 5.


Author: Terima kasih yang sebesar-besarnya bagi para Author yang selalu mendukung cerita ini, juga para readers. Cerita ini tidak akan lengkap tanpa adanya kalian. 😁**


__ADS_2