
"Jadi dia memberikan pertanyaan untuk tes psikopat?" tanya Jazztin sambil menilik-nilik pakaian anak laki-laki di sebuah toko.
"Iya. Tapi aku heran kenapa Stella menanyakan hal itu? Apa mungkin dia tahu kalau aku ini psikopat?" ucap Diangela di sebrang telpon.
Jazztin mengedikan bahu. "Aku tidak tahu. Apa mungkin Stella hanya iseng saja?"
"Iseng?" sebuah kekehan terdengan di ujung telpon. "Bagaimana mungkin keisengan malah menjurus ke psikopat?"
"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada Stella, kenapa dia menanyakan pertanyaan untuk tes psikopat itu?" usul Jazztin.
"Aku lupa."
Jazztin terdiam ketika teringat sesuatu. Ia mengernyit pelan. "Kemarin Ansell pergi berburu."
"Apa?! Kenapa dia pergi berburu? Terakhir kali dia melakukan itu, kita hampir di tangkap polisi!"
"Menurutku kedua hal itu berhubungan. Mungkin saja kemarin malam, Ansell hendak membunuh Stella. Jadinya Stella menanyakan pertanyaan itu padamu, untuk memastikan."
"Hmm. Itu tidak mungkin! Kemarin aku melihat Stella dan Ansell berbincang seperti teman lama. Apa menurutmu Stella akan bersikap biasa saja saat tahu kalau Ansell ini psikopat?"
"Jadi... itu tidak berhubungan ya?"
"Menurutku berhubungan."
"Apanya yang berhubungan?"
"Tata. Teman Stella. Gadis itu sepertinya mengetahui sesuatu. Kemarin, dia ketakutan saat melihat Ansell datang. Dan ya... sepertinya gadis itu yang hampir di bunuh oleh Ansell. Dan dia memberitahukan hal itu pada Stella."
"Hei kau." Panggil Jazztin pada pegawai toko yang tak jauh darinya. "Berikan aku yang itu." Jazztin menunjuk setelan formal untuk anak laki-laki.
"Kau sedang apa?"
"Membeli baju untuk Aiden."
"Aiden? Anak itu sudah pulang dari Amerika?"
"Ya. Dan, Aiden kau....." Jazztin menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun.
"Aiden?"
"Kenapa?"
"Aiden tidak ada. Aku matikan dulu telponnya." Jazztin memutuskan sambungan telponnya, lalu keluar dari toko untuk mencari Aiden.
Kepanikan melanda Jazztin. Ia khawatir Aiden kenapa-kenapa, karna anak itu tidak memiliki sebelah kaki sejak lahir. Jadi, jika ada penjahat ia akan kesusahan saat lari.
Satu demi satu, ia menyapu toko untuk mencari Aiden.
__ADS_1
"Anak itu kemana sih?" Jazztin menggigiti kuku jempolnya dengan cemas, saat di dalam lif. Ketika pintu lif terbuka ia segera saja mencari anak itu di lantai bawah, setelah sebelumnya ia menyapu lantai atas untuk mencari Aiden.
Jazztin memundurkan langkahnya saat melihat Aiden tengah di kedai es krim bersama seorang perempuan beramput pirang.
Tanpa membuang waktu, Jazztin menghampiri mereka. Tapi langkahnya tiba-tiba melambat. Ia merasakan keanehan pada diri Aiden. Anak itu tersenyum.
Dan dari raut wajahnya dia kelihatan senang. Raut wajah yang belum pernah Jazztin lihat satu kali pun, dan anak itu malah menunjukan raut wajah yang sangat ingin di lihatnya pada orang asing?
Aiden yang tengah berbincang di kursi besi panjang, menyadari kehadiran Jazztin. Anak itu melambaikan tangannya.
"Ayah!" panggilnya sambil tersenyum. Ia meletakan cup es krimnya di kursi, mengambil tongkat truk nya dan berjalan menggunakan itu ke arah ayahnya yang tengah mematung.
Perempuan yang berbincang dengan Aiden ikut menoleh dan berdiri.
"Ayah! Aku menemukan ibu!" ucap Aiden senang sambil menarik-narik ujung lengan ayahnya.
Jazztin semakin mematung di tempatnya ketika mengetahui siapa orang yang di anggap ibu oleh Aiden.
"Stella?" gumamnya melihat Stella, yang saat ini juga tengah mematung.
"Kak Jazztin, punya anak?" tanya Stella sambil bergumam kecil.
"Ayah sangking senangnya sampai tidak bisa berkata-kata ya?" Aiden berucap antusias. "Akhirnya aku bertemu ibuku."
Jazztin menoleh pada anaknya itu. Ia berjongkok dan mensejajarkan tungginya dengan Aiden, lalu memegang kedua bahu anak itu. "Aiden." Panggil Jazztin lembut. "Dia bukan ibumu." tegasnya membuat Aiden mengerutkan dahi.
"Berarti dia ibu ku bukan?"
Jazztin menghela nafas. "Dia bukan ibumu. Ibumu itu sudah meninggal Aiden! Sudah berapa kali aku bilang, hem?" Jelasnya agak geram.
Aiden melangkah mundur sambil menatap tak percaya pada Jazztin. Ia berjalan menuju Stella. "Aku tidak percaya perkataan mu! Dia ini ibuku." keukeuh nya sambil memeluk kaki Stella.
Aiden mendongak menatap Stella. "Kau ibuku bukan?" tanyanya.
Stella ingin menyangkalnya, tapi tidak jadi saat melihat ekspresi Aiden yang penuh harap. Stella berjongkok daan menyamakan tingginya dengan tinggi Aiden.
Stella memahat senyum manis. "Iya! Aku ibumu!" ucapnya, lalu mengacak-ngacak rambutnya.
•••
"Kenapa kau berkata kau ini ibunya?" tanya Jazztin yang tengah menjalankan mobilnya, pada Stella yang berada di sampingnya dengan Aiden di pangkuannya yang tengah tertidur lelap.
Stella yang sedang mengusap-ngusap kepala Aiden, menoleh. "Aku hanya tidak ingin membuatnya sedih."
Jazztin memalingkan wajahnya ke samping. "Tidak ingin membuatnya sedih?" kekehnya. "Justru itu akan membuatnya semakin berharap. Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu itu? Bagaiman jika Aiden tahu kalau kau itu memang bukan ibu aslinya? Kau tidak memikirkan rasa kecewa yang akan di alaminya?"
Jazztin kembali menoleh pada Stella. "Terakhir kali dia kecewa, dia tidak pernah memperlihatkan senyumnya lagi!" ucapnya sambil menatap sendu pada Aiden yang tengah terlelap. Ia kemudian kembali menoleh ke depan. "Walaupun tubuhnya anak-anak, tapi sifatnya itu seperti orang dewasa."
__ADS_1
Stella menghela nafas. "Aku tahu." Lirihnya sambil menatap Aiden. "Aku tahu bagaimana rasanya hanya memiliki satu orang tua." Lanjut Stella.
"Aku tidak pernah tahu siapa ayah ku. Namanya, di mana dia sekarang. Apakah dia sudah mati atau masih hidup, aku tidak tahu. Bahkan aku tidak pernah melihat rupanya." Stella berucap dengan kedua matanya yang sayu. "Aku hanya ingin anak ini, merasakan kasih sayang orang tau sepenuhnya. Yah, walaupun itu pura-pura juga. Dan sepertinya aku mulai menyayangi Aiden. Hehe." Lanjutnya.
Jazztin menghela nafas panjang. "Jangan sampai Aiden tahu. Aku tidak ingin melihatnya kecewa. Dia satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup." Ucapnya dengan suara lembut.
"Harta berhargaku bersama Bella." Lanjutnya dengan lirih.
Stella menoleh cepat pada Jazztin lalu tersenyum lebar. "Aku akan merahasiakannya. Tenang saja!" ucapnya.
"Ehm. Kak Jazztin." Panggil Stella. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apakah tentang Diangela yang psikopat atau tidak?" tebak Jazztin tepat sasaran.
Stella mengerjap kaget. "Kak Jazztin kok bisa tahu? Apa benar kak Ian itu psikopat?"
Jazztin menoleh. "Ya." Ucapnya singkat kemudian kembali menoleh ke depan.
Stella mengernyit pelan. "Y-ya? Mak-maksudnya?"
"Diangela itu psikopat. Ansell, aku, termasuk ayah dan seluruh keluarga kami itu psikopat semua." Ucap Jazztin datar.
"Hah?" Stella tertawa canggung. "Seluruh keluarga?" tanyanya. Berarti saat ini ia tengah duduk di satu mobil dengan psikopat? Ia lalu menatap Aiden. "Apakah Aiden juga?"
"Ya. Dia juga mengidap penyakit alter ego. Kepribadian yang satunyalah yang bersifat psikopat.
"Al-alter ego?" tanya Stella terkesiap pelan. Tak bisa menahan rasa terkejutnya. "Anak sekecil ini?" ucapnya dengan nada tak percaya. "Bagaimana kau mengurusnya, sampai-sampai dia punya kepribadian seperti itu?"
Jazztin terdiam. "Aku terlalu fokus pada rasa sakit hatiku. Jadinya aku...." Laki-laki itu menghela nafas. "Ya. Aku tidak mengurusnya dengan benar." Akunya dengan nada sedih.
Stella menoleh ke kaca mobil. Pantulan dirinya dan juga Jazztin dapat di lihat di sana, walaupun samar-samar. "Jadi semua keluargamu itu psikopat?" tanyanya. "Tapi kenapa kak Jazztin malah memberitahu ku hal itu?"
"Kau tahu pepatah, "sepandai-pandainya tupai melompat, dia pasti akan terjatuh juga."
"Benar juga. Kalau begitu, bisakah kak Jazztin antarkan aku ke rumahnya kak Ian? Aku butuh bicara dengannya."
Jazztin menoleh kaget. "Kau sudah tahu dia psikopat, tapi kau masih ingin bertemu dengannya?" tanyanya tak percaya.
Stella mengangguk yakin. "Ya!"
"Kau tidak takut akan di bunuh olehnya?"
Stella mengeluarkan sesuatu dari tas selempangannya. "Ini akan membantuku." Ucapnya menunjukan stiky note, hadiah ulang tahun dari Diangela.
Jazztin menghela nafas, lalu bersandar di kursi mobil. "Tanpa itu pun, sepertinya Diangela tidak akan membunuhmu." Lirihnya.
"Apa?" tanya Stella yang tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan Jazztin.
__ADS_1
"Tidak."