Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Pertemuan Stevano dan Diangela


__ADS_3

"Kau dari mana saja anak durhaka!!!? Penerbangan kita jadinya tertunda 1 jam gara-gara menunggu tahu!!" geram Stevano.


Diangela mengabaikan Stevano, ia berjalan masuk menuju pesawat jet pribadi mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresinya beku dan tatapannya terlihat kosong.


Stevano yang hendak melanjutkan makiannya pun tidak jadi, ketika melihat ekspresi Diangela seperti saat mereka pertama kali bertemu.


Stevano menghela nafas panjang lalu masuk ke pesawat itu. Jazztin dan Ansell sudah masuk duluan. "Padahal aku sudah menyetok puluhan hujatan di sini." Ucap Stevano sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya.


Jujur saja, Stevano agak syok dan khawatir melihat ekspresi Diangela barusan! Ia jadi teringat saat pertemuan pertama mereka.


Flashback on


"*Kau yakin tidak mau ikut minum-minum dengan kami?" tanya Frans melihat Stevano yang berlalu, begitu ia turun dari limousinenya.


Stevano mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh. "Tidak terima kasih! Aku ada janji hari ini. Terima kasih untuk tumpangannya." Setelahnya Stevano menurunkan tangannya, memasukan sebelah tangannya itu ke saku celananya. Sedangkan tangan yang satunya menjingjing tas kerjanya yang berbentuk persegi.


Stevano menarik topi berjenis Fedoranya ke bawah hingga menutupi matanya. Ia menghentikan sebuah mobil taksi, begitu sampai di pinggir jalan.


"Ambil kembaliannya! Terima kasih." Ucap Stevano ketika sampai di tempat tujuannya.


"Tapi, sir! Ini bahkan tidak cukup untuk membeli solar." Protes sopir taksi. Ia keluar untuk mengejar Stevano, meminta agar uangnya di tambah. "Sir?" bingungnya ketika tidak mendapati siapapun.


Bola mata sopir taksi itu bergerak tak beraturan. Ia mulai sadar, kalau saat ini ia berada di jalan sepi dan sunyi. Tidak ada rumah, kendaraan, atau pun toko-toko. Yang ada hanyalah pohon-pohon yang menjulang tinggi, menghiasi sisi jalan. Tidak ada penerangan sama sekali.


Hanya lampu mobilnya yang berkedip-kedip saja yang menjadi penerangan di gelapnya malam. Sopir taksi itu menelan ludahnya susah payah. Ia menjatuhkan uang pemberian Stevano. Apa jangan-jangan ia mengantarkan hantu? Pikir si sopir Taksi.


Dengan bergidik ngeri, ia segera masuk ke mobilnya dan melenggang pergi dari sana.


Stevano menyeringai menyaksikan itu di balik pohon besar. Ia menarik topinya ke bawah, lalu berbalik dan masuk menuju hutan itu. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Stevano menemukan sebuah kastil besar yang terlihat kuno.


Ia pun masuk ke sana, karna ia kenal dengan sang pemilik. Malahan ia adalah teman dekatnya. Bau alkohol menyengat hidung Stevano, kala ia memasuki ruangan utama kastil itu.


"Kau sudah datang Stev?" sambut seorang pria dengan suara berat. Wajah pria itu tidak terlihat karna ruangannya tidak ada penerangan sama sekali.


"Kenapa kau tidak menyalakan lampunya?" tanya Stevano lalu berjalan menuju saklar lampu. "Oh, ini tidak bekerja! Apa sudah rusak?"


"Ya. Aku malas memperbaikinya. Ayo kau duduk di sini dan temani aku minum."


Stevano menghela nafas. Ia berjalan menuju sofa, meletakan tasnya ke meja dan membukanya kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Stevano meletakan lilin yang di ambilnya ke meja lalu menyalakannya.


"Oh, Astaga!!" Stevano berjengit kaget ke belakang, saat wajah temannya yang sudah memerah karna mabuk terlihat ketika lilin baru saja di nyalakan. "Mengagetkanku saja!!" Stevano mengelus dadanya. Matanya lalu beralih pada botol-botol alkohol yang terletak di lantai.


"Kenapa kau minum-minum? Padahal kau ini anti minuman keras!" ucap Stevano.


Pria itu meminum alkohol langsung dari botolnya, ia tertawa lalu meletakan botol nya ke meja dengan sempoyongan.


"Astaga! Kau sudah minum berapa botol?" tanya Stevano khawatir melihat temannya yang terlihat sangat mabuk.


"A.... Aku tidak tahu!" ucapnya linglung. Ia mengangkat tangannya, lalu menghitung jarinya. "Mungkin..... Segini, hehe." Ia menunjukan kelima jarinya. Rambut pria itu tampak berantakan, wajahnya merah, tatapannya sayu, di tambah jambanganya yang jambrik melengkapi penampilannya saat ini.


"Ah, tidak-tidak! Sepertinya segini." Ucapnya menunjukan ke sepuluh jari tangannya.


Stevano menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia memijit pelipisnya pelan. "Sebenarnya ada masalah apa, Sham?!!"


"Masalah?" kekehnya. "A......" Sham mengangkat telunjuknya dengan mata terpejam dan kedua asli terangkat. "Sebenarnya aku... Hehhhe bukan," Sham berusaha berdiri dengan sempoyongan. Ia hampir terjatuh jika saja Stevano tidak menangkapnya.


"Sebenarnya apa?"


"Ah... Lepaskan!" Sham menepis tangan Stevano yang berada di bahunya. "Aku bisa berjalan sendiri! Aku bukan anak kecil." racaunya lalu berjalan dengan sempoyongan. "Ahh!!! Kenapa semuanya berputar! Apa sedang gempa bumi?"


Stevano menghela nafas! Ia berjalan di belakang Sham dengan lilinnya. "Hati-hati!" teriak Stevano melihat Sham yang hampir terjatuh. Untungnya Sham berpegangan pada tembok.

__ADS_1


Sham menoleh pada Stevano, kemudian tersenyum konyol. Ia melambaikan tangannya. "Sini, sini!" ajaknya seperti anak kecil. Mau tidak mau, Stevano berjalan ke arah Sham. "Aku punya ruangan rahasia." kekehnya lalu menusuk-nusuk lukisan di dinding yang sedang ia sandari.


"Ruangan rahasia apanya? Ayo aku antar ke kamar mu! Kau sudah mabuk parah!" Stevano menggandengkan tangan kiri Sham ke bahunya.


"Sebentar! Ahhh..... Aku lupa bagaimana cara membukanya." Sham menyipitkan matanya ke lukisan yang masih di tusuk-tusuknya itu. "Ah iya! Kodenya itu, 31082003, hehe."


Stevano memutar kedua bola matanya malas. Sebenarnya apa alasan yang membuatnya sampai semabuk ini? Batin Stevano.  "31082003 apanya!! Ayo aku antar ke kamarmu."


"Itu tanggal lahir putriku!" ucapnya masih menusuk-nusuk lukisan itu.


"Putri?" Stevano menghentikan aksinya yang hendak menarik Sham. Ia sama sekali tidak tahu kalau temannya itu punya seorang anak.


Dugg!!! Bummm


Stevano mengerjap kaget ketika melihat tembok di depannya terbuka, dan terlihatlah tangga.


"Lihat kan? Aku punya ruangan rahasia." Ucap Sham tersenyum lebar sambil menunjuk tangga yang menuju ke bawah itu.


Stevano menoleh kaget pada Sham. "Kau sungguh-sungguh punya ruangan rahasia?" kagetnya tak percaya.


"Aku mau menunjukan sesuatu padamu."


Stevano memapah Sham menuju tangga itu. Setelah menuruni puluhan anak tangga, akhirnya Sham dan Stevano sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja.


Sham menarik tangannya dari bahu Stevano lalu berjalan menuju meja kerjanya. Stevano mengikuti Sham.


"Ini! Bacalah!" ucap Sham masih setengah sadar sambil memberikan tumpukan berkas pada Sham.


"Berkas apa ini Sham?" tanyanya.


"Ponsel ini juga." Sham menyodorkan ponsel lipat pada Stevano. Pria itu lalu menenggelamkan kepalanya ke meja.


Stevano benar-benar tak menyangka bahwa Sham menyembunyikan hal sebesar ini padanya. Ia mulai membaca dengan cepat lembaran demi lembaran berkas itu. Setelah membaca habis, ia mengambil berkas lainnya dan membacanya. Stevano membaca berkas itu sambil menatap tak percaya pada Sham yang tengah tertidur pulas.


"Astaga!! Kenapa ada manusia sekejam ini?!" Stevano menggigit kuku jarinya ketika melihat foto-foto amatir dan mengenaskan yang mampu menyayat hati Stevano saat ini.


Jantungnya berdetak kencang. Nafasnya kian memburu disusul dengan keringat yang mulai membanjiri wajahnya. Tangannya gemetar, Stevano menjatuhkan berkas yang di pegangnya. Ia tidak kuat lagi membacanya.


Stevano merapatkan bibirnya, berbalik sambil menjambak rambutnya frustasi. Sedih, marah, kecewa, kini tercampur aduk di dalam dirinya. Kebenaran yang baru di ketahuinya ini benar-benar membuatnya mati rasa.


Tatapannya lalu teralih pada ponsel lipat di meja. Ia lalu mengambilnya dan membukanya. Stevano mengotak-ngatik ponsel itu. Tidak ada apa-apa! Dengan lebih teliti, Stevano kembali mengotak-ngatik ponsel itu. Dan ia menemukan ribuan pesan.


Stevano membacanya satu persatu. Ia hanya membaca seperempat dari pesan itu, tapi kini jantung dan hatinya terasa di cengkram kuat oleh besi berduri. Stevano tak menyangka akan hal ini.


Pria itu lalu menunduk ketika merasa ia menginjak sesuatu. Itu adalah buku diary Sham. Stevano mengambilnya dan membacanya. Awalnya ia tidak ingin membacanya karna itu privasi temannya. Tapi bagian terdalam dalam dirinya menyuruhnya untuk membacanya.


Lagi dan lagi Stevano di buat terkejut setengah mati. Ia menintikan air matanya, sambil menatap Sham yang tengah tertidur lelap.


"Bagaimana kau menanggung semua ini Sham?" ucap Stevano dengan suara parau. Ia mengerjap-gerjapkan matanya membuat air matanya merembes keluar.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku hah?" tanyanya. "Aku tidak akan menganggapmu penjahat, seperti yang kau tulis di buku diary mu! Kita sudah berteman selama 10 tahun Sham!!! Aku tidak menyangka kau menyembunyikan hal sebesar ini dari ku! Kau tidak percaya padaku?"


Stevano marah dan kesal mengetahui Sham, menyembunyikan hal sebesar ini padanya. Tapi rasa putus asa dan sedih lebih mendominasi nya saat ini. Ia merasa tak berguna menjadi seorang teman, karna tidak menemani Sham di saat-saat sulitnya. Sedangkan Sham?


Dia selalu menemaninya saat dirinya dalam keadaan sulit. Ia merasa sedih dengan penderitaan yang di alami Sham. Dirinya yang tidak mengalaminya saja sudah merasa sedih, bagaimana dengan Sham yang menjalaninya? Jika itu dirinya mungkin ia sudah bunuh diri.


Stevano segera membereskan semua berkas-berkas itu ke tempatnya semula. Setelahnya ia melenggang pergi dari sana setelah menghilangkan jejak-jejak kedatangannya.


Stevano akan berlagak tidak tahu apa-apa. Ia akan menunggu sampai Sham menyampaikan sendiri padanya tentang semua masalah-masalahnya. Stevano tahu dari buku diary Sham, bahwa ia tidak memberitahu dirinya tentang semua masalahnya itu, karna alasan lainnya.


Jika Stevano tidak pura-pura tidak tahu, maka Sham pasti akan menghindarinya dan berusaha untuk tidak muncul di depannya. Karna jika ada orang yang mengetahui berkas-berkas itu, maka mereka akan mati. Stevano percaya tulisan itu, karna Sham tak pernah berbohong soal kata hatinya.

__ADS_1


2 hari setelah kejadian itu.


"Hos hosh hosh!" derap langkah kaki terdengar terdengar bersamaan dengan suara nafas memburuh.


"Aku telah membunuhnya, aku telah membunuhnya, aku telah membunuhnya." Gumamnya beberapa kali dengan bahasa Italia fasih. Isakan tangis terdengar menyusul.


"Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf. " Racaunya lagi sambil menggenggam gelang besi di tangannya dengan erat. Pakaian berwarna putihnya terlihat compang-camping dan kotor. Wajah dan sekujur tubuhnya di penuhi darah.


Ia berlari di kegelapan hutan tanpa memakai alas kaki. Membuat kakinya terluka. Namun luka itu tak cukup sakit di banding rasa sakit di hatinya ini. Rasa bersalah kini membelenggu jiwa dan raganya.


Ia terus berlari kencang tanpa memperdulikan tangannya yabg tergores ranting, kakinya yang tertusuk duri, dan rasa pening di kepalanya.


Setelah berlari cukup lama, ia menemukan sebuah jalan beraspal yang sepi. Ia menghela nafas, lalu mendongak dan menatap langit hitam tanpa bulan dan bintang di atas. Matanya masih mengeluarkan air mata dengan isakan kecil yang terkadang meluncur dari bibirnya.


Ia kembali menunduk, membawa kepalan tangannya menuju wajahnya lalu membukanya. Gelang besi dengan tulisan 056 terlihat ketika ia membuka kepalan tangannya.


Ia menoleh ke kanan ketika mendengar deru mobil, tangannya terangkat untuk menutupi matanya karna silau oleh lampu mobil. Mobil itu melaju cepat! Perlahan ia menurunkan tangannya, berbalik menghadap mobil, lalu merentangkan tangannya dengan mata terpejam.


Ya! Sepertinya mati lebih baik!


Ketika ia siap mendapat benturan, decitan ban mobil yang bergesekan dengan jalan beraspal, terdengar. Ia membuka matanya.


Seorang pria keluar dari sana, "kau mau mati?" teriaknya pada anak laki-laki berusia 13 tahunan itu. 


"Ya! Aku mau mati! Kenapa?" tanyanya menggertakan gigi.


Stevano memundurkan wajahnya tak mengerti, kenapa anak ini malah marah padanya? "Hei! Kenapa jadi kau yang marah?!!" tanya Stevano tak habis pikir.


Anak laki-laki itu maju. Tingginya yang hampir mancapai pundak Stevano, mampu membuatnya menarik kerah baju pria itu.


"Kenapa kau malah berhenti?" tanyanya tajam nan dingin. Tatapannya kosong tapi terlihat sayu. Ekspresinya dingin tapi terlihat sedih. "KENAPA KAU MALAH BERHENTI?!!!! SEHARUSNYA KAU BIARKAN AKU MATI!!!" teriaknya. "Seharusnya kau biarkan aku mati." Tubuh anak itu mulai merosot ke bawah. Ia jadi berjongkok sambil menenggelamkan wajahnya di lututnya. "Seharusnya kau biarkan aku mati!" bisiknya sambil terisak.


Stevano terdiam. Ia menatap miris pada anak itu. Ia jadi teringat dirinya sendiri di masa lalu. Dan Ia juga baru sadar kalau sekujur tubuh anak itu di penuhi luka.


"Hey nak!" panggil Stevano. "Kau mau ikut denganku?" spontan Stevano. Pria itu bahkan tidak mengerti kenapa ia malah ingin mengajak anak itu untuk tinggal bersamanya? Entahlah! Ia hanya merasa ingin mengajak anak ini.


"Aku tidak mau! Aku mau mati! Aku telah membunuh orang-orang yang ku sayang."


Stevano ikut berjongkok. "Jika kau sayang, kau tidak mungkin membunuhnya! Pasti ada alasan kuat di balik itu, kan?"


"Tetap saja aku membunuh mereka!" ucapnya dengan suara parau lalu mendongak. Stevano tersentak melihat ekspresi anak itu. Ekspresinya benar-benar....... Ah! Ia tak dapat menjabarkannya.


Sedih bercampur marah mungkin? Atau sedih, marah, menyesal, murung, gelap, bercampur?


"Aku mau mati, agar bisa meminta maaf langsung pada mereka!" lanjutnya lagi.


Stevano menghela nafas. Ia mengangkat tangannya lalu mengelus puncak kepala anak laki-laki itu. "Memangnya teman-teman mu akan setuju kalau kau mati?"


"Dari mana kau tahu kalau mereka teman-temanku?"


"Yah! Aku hanya menebaknya! Ternyata tebakanku benar!  Aku akan beryanya padamu, memangnya kalau kau mati, kau tahu dunia setelah kematian itu seperti apa? Bagaimana jika semua teman-teman mu masuk surga, dan kau masuk neraka karna perbuatan salahmu? Jadi bagaimana kau akan meminta maaf pada mereka? Jadi kau harus tetap hidup untuk menebus semua kesalahanmu!"


Stevano berdiri. Ia mengulurkan tangannya. "Jadi.... Apa kau mau ikut dengan ku?"


Anak laki-laki itu mendongak menatap wajah Stevano. Tatapannya lalu beralih ke tangan pria itu, dengan ragu-ragu, ia mengangkat tangannya hendak menerima uluran tangan itu.


Stevano memutar kedua bola matanya malas. Dengan cepat ia menarik tangan anak laki-laki itu ke tangannya. "Siapa namamu?"


"Diangela*."


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2