Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Kesamaan itu lagi


__ADS_3

Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi. 


Diangela menatap pintu kamar mandi itu dengan datar. Ia lalu melangkah menuju ranjang dan berbaring di sana, menunggu si pemilik kamar menyelesaikan ritual mandinya.


Selang beberapa menit, suara gemericik itu tidak terdengar lagi. Suara pintu di buka terdengar.


Seorang perempuan yang terbalut piyama bermotif Domba keluar dari kamar mandi itu. Kepalanya terlilit handuk, guna membantu proses mengeringnya rambut.


"Aaaaaa....." Stella berteriak kencang ketika melihat seorang laki-laki terbaring di ranjangnya.


Diangela berdecak sebal di tempatnya. Ia perlahan bangkit dan duduk, lalu menatap datar pada Stella yang mengkeret ke lemari, dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Devil ngapain di sini?" tanyanya, memasang sikap waspada.


Diangela menutupi mulutnya yang menguap lebar. "Membawakan tasmu yang tadi tertinggal. Lalu menculikmu. Dan satu lagi, namaku bukan devil!" tegasnya lalu kembali berbaring.


Stella melebarkan matanya, "menculik apaan sih! Pergi nggak, sebelum aku teriak." Stella memasang wajah garang. Ia menunjuk jendela balkon yang terbuka, menyuruh laki-laki itu keluar lewat sana.


Diangela bangkit lagi. Ia meraih satu boneka Domba kesayangan Stella. "Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku mencabik-cabik boneka jelekmu ini?" tanya Diangela menyeringai pelan. Ia mengambil cutter yang kebetulan ada di nakas, lalu mengarahkannya pada leher boneka Domba itu.


"Jangan sakitin, pete!" teriaknya kesal. Ia langsung berlari menuju Diangela, hendak menyelamatkan boneka kesayangannya dari genggaman devil tampan ini.


Diangela berdiri di ranjang, lalu mengacungkan bonekanya tinggi-tinggi ketika Stella hendak meraihnya. "Namanya pete? Tapi kelihatannya dia seperti betina." nada suara Diangela terdengar mengejek di telinga Stella.


Gadis itu berhenti meloncat, ia mengerucutkan bibirnya sebal. "Dia jantan tahu! Kata penjualnya juga! buruan lepasin my pete!" ucapnya lalu kembali melompat untuk meraih boneka itu.


"Silahkan kalau bisa."


Stella menatap kesal pada Diangela, ia ikut naik ke ranjang dan kembali melompat sambil berpegangan pada baju Diangela agar tidak terjatuh.


Diangela tersenyum miring, melihat Stella yang berusaha mati-matian untuk senggokan rongsokan kotor seperti ini.


"Kembalikan!" Stella menatap sengit pada Diangela. Gadis itu semakin kesal ketika Diangela menunjukan senyum remehnya.


Detik berikutnya Diangela mematung, ketika Stella meloncat naik ke tubuhnya, dan bergelantung di sana.


"Kembalikan!" tangan kanan Stella mencoba meraih boneka Dombanya, sedangkan tangan yang satunya ia kalungkan di leher Diangela agar tidak terjatuh.


Stella tersenyum senang ketika ia berhasil mendapatkan bonekanya. Ketika menolehkan wajahnya, hidung Stella langsung beradu dengan hidung Diangela.


Senyum gadis itu luntur, ketika matanya langsung bertatapan dengan mata dingin itu. Stella hendak turun tapi Diangela tidak bisa mempertahankan keseimbangannya, akibat gerakan gadis itu, hingga akhirnya mereka terjatuh.


"Aaaaaaaa." Stella memejamkan mata sambil memeluk erat Diangela, hingga membuat boneka Domba yang di pegangnya jatuh entah kemana. Handuk yang melilit kepalanya, juga ikut lepas dan terjatuh.


Brukk!


Suara debuman keras terdengar di ruangan itu. Mereka terjatuh dengan posisi Stella yang berada di atas Diangela.


Dahi mereka saling bertubrukan dengan keras. Wangi stroberi langsung menyeruak di indra penciuman Diangela, saat handuk yang di kenakan Stella, lepas begitu saja. Percikan air dari rambut Stella yang masih basah, membuat Diangela memejamkan matanya.


"Awwss." Stella mengaduh kesakitan. Ia perlahan bangkit. Gadis itu tidak sadar ia sedang duduk di atas perut Diangela. "Sakit banget!" ringisnya sambil mengusap-ngusap dahinya yang terbentur keras dengan dahi Diangela.


Diangela membuka matanya. "Sakit? Apa tidak terbalik? Tubuh besarmu menimpaku, tahu!?" sinis Diangela. Tatapannya lalu beralih, pada kalung bintang yang di kenakan Stella.


Stella yang tersadar, segera bangkit dari perut Diangela. Ia lalu duduk di tepi ranjang. "Ekhemm." Stella berdekhem untuk menetralisir rasa malunya. Ia melirik kecil pada Diangela yang tengah berusaha bangkit.


"Dapat kalung itu darimana?" tanya Diangela tanpa basa-basi.


Stella mengernyit, ia lalu menunduk menatap kalung yang menggantung di lehernya. "Ini?" tanyanya memastikan, sambil menunjukan bintang kecil di kalung itu.


Diangela mengangguk.


"Ini itu had—"


Tok tok!


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Stella.


"Sayang, kamu baik-baik aja, kan? Kenapa teriak-teriak?" suara Zanna terdengar di balik pintu. Nada suaranya menyiratkan kekhawatiran.

__ADS_1


"Eng-enggak apa-apa kok, bun. Tadi Stella nonton film horor di tv." alibi Stella. Kamar Stella memang di lengkapi dengan televisi.


Terdengar decakan dan helaan nafas panjang di sebrang sana. "Lain kali, teriakannya jangan keras-keras!"


"Iya bun."


Setelah di rasa ibunya sudah pergi, Stella kembali menoleh pada Diangela. "Tadi aku ngomong apa? Oh iya. Kalung ini hadiah dari bunda. Kenapa nanya?" Stella memiringkan kepalanya.


Sial! Melihat Stella dengan pose itu, ia jadi kembali teringat dengan 'gadis itu.' Diangela mendengus sebal lalu memalingkan wajahnya.


Ia bertanya tentang kalung itu, karna dia juga memberikan kalung yang sama pada 'gadis itu.'


Stella menepuk bahu Diangela. "Kenapa?" tanyanya.


Diangela menggelengkan kepala pelan, "cepat ganti baju! Kita akan pergi keluar." perintah Diangela mutlak.


Stella mengernyit, "ngapain? Lagian aku juga nggak mau. Kalau mau juga, mana di bolehin sama bunda." Gadis itu menggeleng pelan.


Diangela berdecak. "Ck! Kita perginya diam-diam. Jadi tidak ketahuan oleh ibu mu yang over protektif itu."


"Nggak mau ah! Udah malem."


"Baru juga pukul tujuh." Diangela menatap sekilas pada jam dinding di kamar Stella.


"Tetap aja nggak mau!" kekeh gadis itu sambil menggeleng.


"Yakin?" Stella mengangguk yakin.


"Padahal mau di bawa ke drama musikal, sama makan cheesee cake di restoran desert." Diangela pura-pura memasang raut wajah sedih. Ia tahu betul kesukaan Stella, setelah sebelumnya ia mencaritahu seluk beluk gadis itu.


"Yaudah kalau nggak mau." Diangela bangkit berdiri. Ia hendak berjalan tapi tangannya di tahan oleh Stella. Diangela menoleh, "apa? Katanya nggak mau."


Stella menggeleng. "Mau kok! Bentar. Aku ganti baju dulu. Jangan pergi kemana-mana dan duduk di sini." Stella mendudukkan Diangela di tepi ranjang. Ia lalu berlari menuju lemari dan mengambil asal bajunya, lalu menuju kamar mandi untuk mengganti baju.


Diangela menaikan sebelah alisnya ketika melihat penampilan kekanakan Stella.


Rambut pirangnya diikat dua. Saat ini Stella tengah berdiri di depan Diangela sambil tersenyum manis.


"Kita akan pergi lewat mana?" tanyanya tak sabar.


Diangela bangkit. Ia mencopot kedua ikat rambut Stella hingga membuatnya jadi tergerai.


Stella memekik protes, "ih! Kok di copot sih!" gerutunya, sambil memayunkan bibirnya.


"Di gerai lebih baik." Diangela memasangkan topi hitamnya ke kepala Stella. Ia lalu menarik gadis itu ke balkon.


"Tunggu-tunggu!" Stella menghentikan langkahnya. "Ini jalannya lewat balkon?"


Diangela mengangguk.


Stella langsung melepas tangan Diangela yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kalau jalan balkon mah, nggak jadi ah! Aku nggak bisa turunnya. Aku takut tinggi."


Diangela memutar kedua bola mata, ia lalu berjongkok di depan Stella. "Naik! Aku gendong." perintahnya.


Stella menatap ragu-ragu pada punggung Diangela. "Nggak ah! Tadi katanya badan aku besar. Gimana kalau nanti kita jatuh lagi gara-gara aku berat?"


Diangela berdecak, laki-laki itu tanpa aba-aba menarik tangan Stella hingga gadis itu jatuh di punggungnya, lalu menggendongnya.


"Nggak berat, kan?" tanya Stella khawatir.


"Nggak! Beratmu setara dengan bola bekel." Ejek Diangela lalu berjalan keluar lewat jendela kamar.


Stella mengerucutkan bibirnya.


"Kalau kau takut, tutup saja matamu." Ucap Diangela yang langsung membuat Stella menutup kedua matanya erat-erat.


Laki-laki itu lalu meloncat ke dahan pohon mangga, yang ada di depan balkon dengan mulus. Ia kemudian berjalan menuju batang pohon, tangan kanannya memegang dahan pohon berukuran sedang lalu melompat ke bawah.


"Kita sudah sampai di bawah." Ucap Diangela melihat Stella yang masih memeluknya erat.

__ADS_1


Stella membuka matanya satu persatu. Ia langsung melompat turun dari punggung Diangela. "Wah, nggak nyangka aku bisa turun lewat balkon." Stella berdecak kagum sambil melirik balkon kamarnya.


Diangela melirik sinis, "aku yang membantumu." Ucapnya lalu menarik Stella keluar.


"Pakai ini." Diangela menyodorkan jaketnya pada Stella, tanpa menoleh pada gadis itu.


"Untuk apa?" tanya Stella sambil menerima jaket itu ragu-ragu.


"Biar kau tidak kedinginan." Ucap Diangela lalu memakai helm full facenya. Setelah memakainya, ia berbalik untuk memberikan helm pada Stella.


Senyum miring terbit di bibir Diangela saat melihat Stella yang sudah memakai jaketnya. Jaket itu sangat besar di tubuh mungil Stella, sampai-sampai itu menutupi pahanya. Dan jari-jari Stella juga tidak kelihatan karna lengan jaketnya yang kepanjangan.


Sempat tebersit keinginan untuk memasukan gadis itu ke karung, membawanya ke kamarnya, dan memandanginya seorang diri, tanpa orang lain bisa ikut melihat Stella dalam penampilan itu.


Tapi itu hanya keinginan yang tebersit Diangela, hanya tebersit! Laki-laki itu juga langsung menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran tak masuk akalnya, yang sempat tebersit sebentar di otak psikopatnya. Bisa-bisanya seorang psikopat sepertinya berpikiran seperti itu.


"Pakai helm ini, dan cepat naik." Ujarnya dingin.


"Eh, tapi topinya bagaimana?" Stella mencopot topi di kepalanya.


"Kau pegang saja."


Stella mengangguk lalu mengambil helm itu dan memakainya, lalu naik ke motor ninja Diangela.


"Aku harus berpegangan kemana?" tanya Stella bingung. Tidak mungkin kan dia memeluk devil di depannya ini. Lagipula dia juga tidak mau.


Diangela menarik tangan Stella, lalu ia lingkarkan di perutnya. "Peluk saja. Aku akan mengebut."


Stella hendak melayangkan protesnya, tapi tidak jadi karna Diangela sudah menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.


Mau tidak mau, Stella memeluk Diangela erat sambil memejamkan matanya. Ia berasa naik roler coaster.


Suara bising kendaraan, suara decitan ban mobil karna rem mendadak, dan suara umpatan karna ulah Diangela yang membawa motor dengan cepat, di abaikan oleh Stella.


Ketakutan akan kecelakaan lalu lintas, terus berputar di kepala Stella. Apakah ini yang di namakan, pergi ke akhirat lewat jalur motor?


Stella terus merutuki Diangela di dalam hatinya. Lihat saja, setelah mereka berhenti, Stella akan memukuli Diangela.


Hanya butuh waktu 5 menit bagi mereka untuk sampai di tempat drama musikal, karna Diangela mengebut.


"Sudah sampai." Ucap Diangela lalu melepaskan helm full facenya. Ia membereskan rambut acak-acakannya.


Stella masih memeluk erat Diangela dengan mata terpejamnya. Gadis itu tidak sadar bahwa sedari tadi, mereka sudah berhenti.


Diangela membiarkannya selama beberapa menit.


"Hey! Kita sudah sampai." Diangela menepuk tangan Stella yang melingkar di perutnya. Laki-laki itu tidak nyaman dengan tatapan orang yang berlalu lalang.


Plak!


Diangela menggeplak tangan Stella dengan keras, hingga membuat gadis itu meringis.


"Awww. Ish dev—"


"Kita sudah sampai." Ucap Diangela lalu turun dari motor.


Stella langsung melepas helmnya, ia lalu memakai topi yang sedari tadi di pegangnya dengan erat.


"Gendong." Stella mengangkat kedua tangannya. "Nggak bisa turun! Kaki Stella masih gemeteran." rengeknya ketika Diangela malah menatapnya datar.


Laki-laki itu pun akhirnya menggendong Stella, setelah sebelumnya menghela nafas panjang.


"Ingat! Kau harus bersikap lembut, dan mau menuruti perkataan si Sella-sella itu agar dia cepat jatuh cinta padamu."


Kata-kata Ansell terus berputar di kepalanya. Ok! Dia harus sabar.


Ketika Stella menjejakan kaki di tanah, ia semponyongan. Rasa pusing masih menguasai dirinya. Ia lalu menggelengkan kepala untuk mengusir rasa pusing itu.


"Ayo kita masuk." Diangela menarik Stella masuk ke gedung teater di depan.

__ADS_1


__ADS_2