
"Kenapa si?!" tanya Tata melihat Stella yang sedari tadi misuh-misuh tidak jelas.
Di tempatnya Stella menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu sendiri mengingat mimpinya semalam. Bisa ia rasakan jantungnya sekarang berdetak kencang.
Bisa-bisanya semalam ia bermimpi kalau dirinya bercinta dengan Diangela. Apa segitu besarnya efek yang di timbulkan oleh perbuatan Diangela semalam saat di kolam renang?
Stella juga di buat pusing dengan jantungnya yang akhir-akhir ini selalu berdetak kencang.
"Hey!" Tata menepuk pundak Stella agak keras. "Kenapa sih?!" tanyanya agak heran.
Stella menurunkan tangannya. Ia menoleh pada Tata dengan wajah melas. "Ta. Kayaknya aku punya penyakit jantung deh!" ucapnya membuat Tata kaget.
"Apa?!" Teriaknya. "Lo udah periksa ke dokter? Kalau punya penyakit jantung kenapa malah sekolah?! Ayo gue anter lo ke UKS, sekarang!" ucap Tata panik.
Stella meringis lalu menarik Tata agar kembali duduk di bangkunya. "Ish! Dengerin dulu penjelasan aku!"
"Buat apa dengerin penjelasan lo! Udah sekarang kita ke UKS. Kenapa juga malah ikut kelas Olahraga."
"Stella belum periksa ke dokter. Dan penyakit jantungnya juga aneh!"
"Aneh?"
"Iya." Angguk Stella. "Penyakit jantungnya itu selalu muncul setiap aku ada di dekat kak Ian."
"Hah? Maksudnya?"
"Iya gitu! Jantung ku selalu berdetak kencang sampai-sampai kayak mau keluar dari tempatnya, kalau Stella deketan sama kak Ian."
Tata mengerjapkam matanya sambil mengernyit pelan. Sedetik kemudian dia tertawa kencang. "Hahahaha. Penyakit jantung?! Hahahahah, aduh Stella! lo polos banget!"
"Ih Tata! Ketawanya jangan kenceng-kenceng! Lihatin orang lain tuh." Tegus Stella.
"Ok, ok!" Tata mulai menghentikan tawanya. "Stella sayang, yang lo alamin itu bukan penyakit jantung!"
"Terus apa dong?"
"Itu artinya lo jatuh cinta sama kak Dian."
"Hah? Jatuh cinta? Mana mungkinlah!"
Tata memutar kedua bola matanya malas. "Ck! Gue tanya sama lo. Lo pernah nggak ngalamin hal yang kayak gitu ke cowok lainnya. Misalnya kak Ansell?"
Stella menggeleng pelan. "Cuman sama kak Ian doang kok."
Tata menjentikan jarinya. "Itu artinya lo emang jatuh cinta sama kak Ian. Lo selalu ngerasa nyaman nggak kalau deket sama kak Dian?" Stella mengangguk.
"Lo ngerasa khawatir setiap dia sedih?" Stella mengangguk. Pikirannya langsung tertuju pada ingatan, di mana Diangela menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Lo suka sama perasaan yang lo rasakan itu?" Stella mengangguk.
"Fix! Lo emang udah jatuh cinta sama kak Dian.
__ADS_1
Stella mengernyit. "Nggak mau jatuh cinta ah! Di mana-mana yang namanya jatuh pasti sakit, kan?"
Ucapan Stella membuat Tata agak terkejut. "Bisa ae lo! Yaudah. Lo udah cinta sama kak Ian. Bukan jatuh cinta."
Stella mendongak menatap langit. Ia jadi berpikir, apakah dirinya memanh sudah mencintai Diangela? Stella sendiri tidak terlalu mengerti dengan kata cinta itu sendiri.
Apa benar ya, aku udah cinta sama kak Ian, karna kak Ian nggak ngebiarin aku tenggelam di kolam, malam tadi?
Dari lantai 3, Diangela memperhatikan Stella yang tengah berbincang-bincang dengan temannya, secara intens. Ia menghela nafas panjang ketika teringat sesuatu.
"Besok adalah ulang tahun little sheep. Kira-kira aku harus memberi hadiah apa?" tanya Diangela pelan.
"Apa aku menghadiahkan berlian saja? Atau...... berlian? Kalau bukan berlian.... berlian?" gumam Diangela bingung.
*Keesokan harinya*
Stella menonton TV sambil memakan kudapannya, di ranjangnya sendiri. Gadis itu terkadang tertawa saat menonton. Sesekali ia melirik kecil jendela kamarnya. Menunggu kedatangan seseorang yang biasanya datang di jam-jam seperti ini.
Stella sampai mati kebosanan menunggu Diangela. Gadis itu mengembungkan pipinya saat melihat jam yang menunjukan pukul 22.00 malam. Biasanya Diangela datang sekitar pukul 19.00-21.00, dan akan pulang pukul 22.00 saat dirinya sudah tertidur.
Stella jadi kesal sendiri ketika mengingat Diangela mendiamkan dirinya di sekolah. Ia juga tidak mendapatkan cheesee cake seperti biasanya. Apa dirinya berbuat salah lagi? Tapi jika ia berbuat salah, Diangela sudah menghukumnya saat ini.
Padahal Stella menunggu-nunggu saat Diangela mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Stella pikir Diangela ikut serta saat bundanya memberikan kejutan di tengah malam. Tapi yang ikut serta hanyalah Tata saja!
Stella mengunyah keripik singkongnya dengan cepat, menyalurkan rasa kesalnya.
Tok
Tok
"Cih! Biarkan saja dia menunggu!" ucapnya kesal.
Tok
Tok
Stella tetap cuek dengan suara ketukan itu. Ia ingin memberi sedikit pelajaran pada Diangela karna sudah sangat berani mendiamkan dirinya.
Tapi kemudian, gadis itu menatap khawatir pada jendela kamarnya, karna suara ketukan itu tidak terdengar lagi.
"Masuk aja! Nggak di kunci kok."
Hening. Tidak ada yang menjawab. Stella dengan cepat turun dari ranjang dan membuka jendela. Gadis itu mengernyit ketika tidak melihat siapapun di balkon kamarnya.
Stella mendengus kecewa, tapi sedetik kemudian dia mengernyit ketika melihat sebuah kado tergeletak di sana. Stella pun mengambilnya dan segera menutup jendela. Ia berjalan sambil membolak-balikan kado itu, dan dia menemukan sebuah stiky note.
Buka kadonya pelan-pelan. Kertasnya berlapis-lapis.
Stella duduk di tepi ranjang. Ia membuka pelan kertas kadonya mengikuti instruksi dari stiky note itu. Ketika sudah membuka habis kertasnya, Stella bukannya menemukan hadiah atau kotaknya, melainkan kertas kado bermotif Domba lagi.
Di sana juga terdapat stiky note.
__ADS_1
Emm hai. Hanya itu yang tertulis di sana, membuat Stella mengernyit. Ia kemudian kembali membuka kertasnya dan menemukan hal yang sama dengan tadi.
Aku terlambat memberimu hadiah ini, karna aku tidak tahu harus memberikan apa. Itulah yang tertulis di stiky notenya.
Senyum Stella perlahan mengembang. Apakah mungkin hadiah ini Dari Diangela?
Stella terus membuka kertas kadonya dan hal yang sebelumnya terjadi.
Apakah bungkus kadonya terlihat aneh? Sebenarnya ide untuk membungkus hadiahnya berlapis-lapis adalah idenya Ansell. Itulah yang tertulis dari stiky note yang ketiga.
Stella tertawa pelan. Ternyata benar! Kado ini dari Diangela.
Stiky note keempat dan lapisan kado keempat.
Jika memang menurutmu ini jelek, salahkan lah Ansell! Bukan aku.
Stiky note kelima dan lapisan kado kelima.
Sebenarnya, Ansell juga menyuruhku menulis, kata-kata puitis untuk mu.
Stiky note keenam dan lapisan kado keenam.
"Kata-kata puitis untuk mu." Sudahkan?
Stella terbahak membaca itu.
Stiky note ke tujuh dan lapisan kado ke tujuh.
Awalnya aku hanya merencanakan melapis kado ini sebanyak lima lembar. Tapi Ansell menyuruh ku untuk melapisnya sebanyak sepuluh lembar.
Stiky note ke delapan dan lapisan kado ke delapan.
Awalnya aku tidak mau. Tapi dia bilang sepuluh lembar lebih romantis. Apakah memang benar romantis?
Stiky note ke sembilan dan lapisan kado ke sembilan.
Sebenarnya aku mau memberikannya langsung padamu. Tapi aku ada urusan.
Stiky note ke sepuluh dan lapisan kado ke sepuluh.
Hbd.
Stella mendengus membaca stiky note yang terakhir itu. "Setidaknya ucapan selamatnya, jangan di singkat kek!" gerutunya sebal, lalu menyobek kertas kado yang terakhir itu dengan kasar. Stella mendapati sebuah kotak berukuran sedang ketika sudah menyobek kertasnya.
Stella membukanya dengan perasaan senang. Tapi kemudian wajahnya berubah masam saat melihat satu stiky note yang kosong, tergelatak di tengah kotak.
Stella mendengus kesal hendak menutup kotak itu, sebelum perhatiannya teralih pada sebuah kertas yang terlipat-lipat yang letaknya berada di ujung kotak.
Tanpa membuang waktu, Stella langsung mengambilnya dan membukanya.
Ini adalah tiket permintaan. Bukan stiky note. Tulislah permintaan mu di sana, dan kekasihmu ini akan mengabulkannya.
__ADS_1
••••
Nih, yang minta up nya banyak. 😁