
"Iya, iya!" ucap Tata, lalu mengapit handphonenya di antara telinga dan bahunya, ketika dia hendak memilah-milah cemilan yang akan di belinya.
"Iya, mah!" Jawab Tata mulai geram dengan sifat mamanya yang terlalu protectif. Padahal dia cuma pergi ke supermarket saja, dan mamanya ini mewantinya ini itu.
Tata hanya mengangguk malas ketika mendengar omelan ibunya di sebrang telpon.
"Ini kayaknya enak deh! Pilih nya yang ini aja deh!" Tata memasukan salah satu snack ke dalam troly belanjaannya yang sudah penuh dengan beberapa makanan lainnya.
"Jovanka! Kamu denger mama ngomong nggak?!" Tegur mama Tata di sebrang telpon.
"Iya iya. Denger kok!" ucap Tata dengan malas. Ia mengangkak kepalanya, mengambil handphonenya, lalu menempelkannya ke telinga. Tidak mengapitnya seperti tadi.
Tata kembali berjalan menelusuri rak-rak berisi snack, sambil berdekhem malas mendengar ocehan ibunya.
"Inget! Pulangnya jangan lewat gang situ. Banyak pembunuhan yang terjadi di sana!" peringat mama Tata, yang hanya di balas dengan anggukan malas oleh gadis itu.
"Kamu yang serius dong dengerin perkataan mamanya!"
"Ini juga udah serius kok." Bantah Tata lalu berjalan menuju kasir hendak melakukan pembayaran.
"Pokoknya kamu jangan lewat gang sana ya."
"Tapi kan jauh mah, kalau nggak lewat sana. Kalau jalan biasa lama sampenya." Protes Tata sambil memberikan satu persatu barang yang di belinya pada kasir.
"Kamu nggak denger, mama tadi bilang apa, hah?!"
Tata terdiam. Ia jadi bingung harus mengatakan apa, karna memang sedari tadi ia tidak mendengar perkataan mamanya.
"Aduh! Tadi mama ngomong apa, ya?" batinnya bingung.
"Denger kok!" ucap Tata agar tidak di omeli ini itu oleh mamanya.
"Kalau udah denger, ngapain nekat mau jalan situ! Udah tahu gang itu banyak banget terjadi pembunuhan. Gimana kalau kamu ketemu pembunuh di sana?!"
"Semuanya 234 ribu ya mbak." Ucap kasir sambil memberikan semua belanjaan pada Tata.
"Ini uangnya mbak. Makasih ya." Ucap Tata sambil tersenyum setelah mengambil kresek berisi belanjaannya dari mbak kasir itu. Gadis itu lalu keluar dari supermarket itu.
"Pulang jangan lewat gang itu! Ada pembunuh!"
"Tapi, kan ma. Itu berita hoax! Kalau emang bener, Polisi pasti udah nemuin tu pembunuh. Orang itu beritanya udah satu tahun yang lalu!" balas Tata sambil memutar kedua bola matanya.
"Walaupun beritanya udah satu tahun yang lalu, pokoknya kamu jangan lewat sana! Jalan biasa aja!"
"Tapi kan jauh ma!" rengek Tata. Gadis itu tengah berjalan di pinggir jalan sambil menenteng belanjaannya.
"Kan kamu bisa naik angkot atau taksi. Kalau nggak kamu bisa pakek Ojol!"
"Ngabisin duit, ma!" ucap Tata beralasan.
"Terus kamu jajan malem-malem gini, nggak ngabisin duit? Gitu, hah?!"
"Ya nggak gitu juga kali." ringis Tata sambil tertawa canggung.
"Yaudah! Nurut perintah mama. Jangan lewat gang itu!"
__ADS_1
"Iya iya! Nggak akan lewat gang itu." Ucap Tata. Tapi boong!
"Beneran?! Awas aja kalau lewat gang sana!"
"Beneran ma! Udah dulu ya, mau nyari angkotnya." Ucap Tata.
"Yaudah mama matiin telponnya. Hati-hati!"
"Iya." Ucap Tata sambil tersenyum, lalu setelah mematikan sambungan telponnya, gadis itu mendengus.
"Siapa emang pembunuhnya? Setiap hari gue lewat sana, nggak nemu apa-apa kok. Lagian ini juga belum terlalu malem. Mana adalah pembunuh di jam segini. Kalaupun ada, bakal gue jabanin." Tata bermonolog sendiri dengan wajah percaya diri.
Gadis itu terus berjalan menunju gang yang di sebutkan oleh mamanya tadi, sambil mengomel ini itu perihal kekhawatiran ibunya yang berlebihan dan berita pembunuhan yang menurutnya hoax itu.
Tanpa di sadari oleh Tata, gadis itu tengah di ikuti seseorang sedari tadi. Perawakan orang itu tinggi semampai dan tubuhnya terbalut oleh hoodie hitam, dan celananya yang juga berwarna hitam.
Wajahnya tidak kelihatan karna kupluk hoodie itu bertengger manis di kepalanya. Kedua tangannya di masukan ke saku hoodienya yang berada di depan, tepatnya berada di depan perutnya.
Dengan intens, laki-laki itu memperhatikan Tata yang masih belum menyadari keberadaanya.
Di tempatnya, Tata masih mengomel tanpa menyadari ada orang yang mengikutinya dari belakang. Ia tersenyum saat melihat gang yang di tujunya sudah dekat.
"Kita lihat, apakah ada pembunuh? Gue jamin bakalan nggak ada!" Ucap Tata yakin. Gadis itu mulai meloncat-loncat kecil sambil bernyanyi.
Dia sudah memasuki gang, dan hal-hal ganjal tidak terjadi. Udah gue duga! Nggak ada pembunuh. Mamanya aja yang terlalu berlebihan.
Senyum gadis itu luntur ketika mendengar suara kaleng yang di injak. Tata lantas berbalik dan mendapati seseorang berpakain serba hitam di sana.
Wajahnya tidak terlihat karna gelapnya gang ini. Jantung Tata mulai berdetak kencang. Ia mulai was-was, dan keringat dingin sudah bercucuran di pelipisnya.
Tidak ada pergerakan dari laki-laki di depannya. Hingga suara kekehan seram yang pelan, membuat jantung Tata seakan mau copot dari tempatnya. Tata melangkah ke belakang dengan pelan.
"L-lo si-siapa?!" niatnya mau bertanya dengan nada intimidasi, Tata malah bertanya dengan suara gemetar dan takut. Gadis itu memejamkan matanya sambil memalingkan wajahnya ke samping.
Seketika ia teringat perkataannya sendiri, yang bilang akan menjabani si pembunuh itu. Tapi sekarang ia malah tak berkutik.
Tapi tunggu! Laki-laki di depannya belum tentu benar seorang pembunuh, kan?
"Siapa? Kau bertanya siapa aku?" laki-laki itu maju satu langkah dengan kekehannya. "Lucu sekali kau bertanya seperti itu pada orang yang mau membunuh mu." Ucapnya.
Kaki Tata seketika gemetar. Bulu judulnya berdiri. Nafasnya tidak beraturan, dan matanya membelalak dengan sempurna saat melihat laki-laki itu mengeluarkan pisau dari saku hoodienya.
Sangking gemetarnya, Tata sampai menjatuhkan kresek berisi belanjaannya. Ia mundur satu langkah dengan gemetar. Pelupuk matanya mulai berair.
"Kau takut?"
Memangnya siapa yang tidak akan takut jika bertemu pembunuh seperti ini? Tata membatin sambil terus melapalkan do'a. Ini sepertinya karma baginya karna tidak mendengarkan nasihat mamanya dengan baik.
Maafkan aku mama. Hiks! Anakmu ini bertemu pembunuh.
"Aku ingin segera membunuh mu. Tapi sepertinya aku kepikiran sebuah permainan." Ucapnya sambil memainkan pisau lipatnya.
Permainan?
"Bagaimana dengan petak umpet? Aku yang jaga, dan kau sembunyi." Bisa Tata lihat dari tempatnya, si pembunuh itu menyeringai seram.
__ADS_1
"Pe-petak umpet?" tanya Tata mencoba sebisa mungkin agar suaranya tidak bergetar.
"Ya. Aku akan menghitung selama 10 detik, dan selama itu kau harus berusaha bersembunyi. Tapi jika kau di temukan olehku......." si pembunuh itu menjilat pisaunya. "kau. Akan. Mati!"
Hanya tiga kata. Dan itu sanggup membuat Tata ketakutan setengah mati. Gadis itu bahkan sampai menangis.
"Hehehe. Sepertinya akan menyenangkan." Kekehnya. "Baiklah! Aku akan mulai menghitung. Cepatlah sembunyi." Laki-laki itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia lalu mulai menghitung.
"1."
Tanpa membuang waktu, Tata segera berlari sekuat tenaga.
"2."
Tata celingukan ke kanan dan ke kiri sambil berlari. Ia berusaha menemukan tempat bersembunyi, karna tidak mungkin ia berlari dari sini ke rumahnya karna jaraknya lumayan jauh. Belum sampai rumahnya, dia pasti sudah tepar sendiri, mengingat ia mudah capek.
Di tambah gang ini gelap, hingga membuatnya tidak dapat berlari dengan leluasa. Sambil berlari, Tata terus berdo'a.
"3."
"4."
"E.... Aku lupa menghitung sampai berapa. Ah, iya. 9!"
"10!" teriaknya membuat Tata kaget.
Apa-apaan? Bahkan hitungannya belum sampe ke lima. Gawat! gue belum sembunyi lagi!
"Siap atau tidak, aku akan membunuh mu." Ucapnya lalu menurunkan kedua tangannya, kemudian berjalan santai mengikuti jejak kaki yang di tinggalkan oleh Tata. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau jejaknya sendiri dapat mengantarkannya ke kematian.
"Ah! Ini tidak seru sama sekali. Aku sudah tahu kelinci kecilku ini akan bersembunyi di mana." Ucapnya malas sambil memainkan pisau lipatnya.
Sedangkan Tata saat ini sudah bersembunyi di balik pohon besar sambil membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apapun.
Tata mengintip kecil, dan dia langsung bersembunyi ketika melihat si pembunuh itu. Jantungnya berdetak lebih kencang dari tadi! Jadi ini rasanya di incar oleh pembunuh?
Melihat adegan pembunuh lewat film yang di tonton nya saja, sudah membuat jantungnya berolahraga. Apalagi mengalaminya langsung? Bisa-bisa ia terkena penyakit jantung.
"Kelinci kecil!!!! Sembunyi di mana kau?" teriak si pembunuh itu.
"Kelinci kecil!!" teriaknya sekali lagi sambil berjalan menjauh dari tempat Tata.
Tata menghela nafas lega, saat melihat pembunuh itu sudah tidak terlihat. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, lalu ia menangis sejadinya.
Tunggu! Ini bukan saatnya gue nangis kayak gini. Gue harus segera pergi dari sini.
Tata segera berdiri sambil mengusap air matanya di pipi. Saat ia sudah siap berjalan, tiba-tiba....
"Ah! Ternyata kau sembunyi di sini, kelinci kecil."
Degh!
Tata menoleh ke belakang dengan kaku. Ia melihat pembunuh itu sudah berada tepat di belakangnya dengan seringainya.
Wait, wait! Wajahnya terasa familiar. Tata membelalakan matanya, lalu berbalik.
__ADS_1
"KAK ANSELL?!"