
Suara jeritan dan teriakan orang kesakitan menyambut Stella, saat gadis itu masuk ke rum- mansionnya Diangela lebih tepatnya.
Stella tertawa canggung. Ia menghentikan langkahnya tepat di pintu masuk. Jazztin yang sedang menggendong Aiden, ikut berhenti dan menoleh pada Stella.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Jazztin.
Stella meneguk ludahnya susah payah. Ia menggeleng pelan dengan keringat dingin di wajahnya. "Tidak! Aku tidak takut." Ucap Stella membulatkan tekadnya.
"Kalau begitu kenapa kau berhenti."
"Untuk menenangkan diriku dulu." Stella memejamkan matanya lalu menarika nafa panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.
Ok! Ia sudah siap.
Stella melangkah masuk mengekori Jazztin. Seketika rasa takutnya perlahan pudar saat melihat interior mansion ini yang sangat elegan dan klasik. Banyak sekali lukisan-lukisan besar yang terpampang di tembok-tembok.
Stella berdecak kagum ketika mendongak ke atas, ia melihat lampu gantung yang sangat besar.
Tapi kekagumannya berhenti ketika suara teriakan itu terdengar lagi.
"Kau sudah pulang?" Ansell muncul dari tangga. Ia memakan keripik singkong dari toples yang ia dekap di dadanya.
"Diangela sedang membunuh orang?" tanya Jazztin lalu menidurkan Aiden di sofa.
"Iya. Dia marah karna pesan dari dr. Crombell itu datang lagi. Jadi dia melampiaskannya dengan membunuh orang." Jawab Ansell. Stella yang mendengar itu, memegang dengan erat tali tas selempangannya sambil menelan salivanya susah payah.
Ansell menoleh lalu menatap bingung pada Stella. Stella tersenyum lalu menunjukan gelang yang terbuat dari benang rajut itu pada Ansell.
"Oh. Kau Stella." Ucapnya lalu berjalan menghampiri Stella.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Ansell sembari tersenyum. Suara meminta ampun dan jeritan membuat Ansell membelalakkan matanya. "Ah, i-itu hanya suara dari film." Ucapnya gelagapan.
"Aku tahu." Sahut Stella. "Kak Ian sedang membunuh, kan? Kak Ian, kak Ansell, kak Jazztin dan seluruh keluarga kalian psikopat semua, kan?" Ucap Stella membuat Ansell menganga.
"Kau.... tahu?"
Stella mengangguk. "Jadi di mana kak Ian? Aku ingin bicara padanya."
"Dia itu psikopat dan sekarang dia sedang membunuh! Dan kau malah ingin menemuinya?" tanya Ansell tak percaya. Stella mengangguk yakin.
"Ruangannya ada di balik tangga itu." Sela Jazztin membuat Ansell menoleh kesal pada laki-laki itu.
"Kau gila! Kenapa kau malah menggiringnya bertemu tuhan?"
"Bukankah kau juga menanti kematian Stella untuk kau kuliti? Kenapa sekarang malah tak terima?"
"A.... itu sebenarnya. Yah, begitulah!" Ansell kembali berbalik. "Stella kau-" Ansell mengerjap pelan mendapati Stella tidak ada di tempatnya.
•••
Sebelum masuk, Stella memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sedari tadi bergemuruh hebat karna suara teriakan. Dengan pelan, Stella membuka pintu itu dan melangkah masuk.
__ADS_1
Stella terdiam di tempatnya, ketika melihat Diangela memukulkan palu pada seorang laki-laki yang merupakan korbannya. Dari raut wajahnya, Diangela kelihatan senang saat menyiksa korban.
Walaupun laki-laki itu sudah mati, Diangela tetap memukulkan palu itu ke tubuh si korban tanpa belas kasih. Stella merasakan perutnya bergejolak ketika melihat Diangela mencungkil bola mata laki-laki itu dengan pisau lipat, dari kepalanya yang sudah setengah hancur.
Stella memalingkan wajahnya saat melihat organ-organ tubuh si korban berceceran di lantai.
"Bola matanya cukup bagus untuk jadi koleksi Jazztin. Benar, kan Stella?" tanya Diangela membuat Stella berjengit kaget.
Stella menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa takut yang mulai menjalari dirinya.
Diangela melempar bola mata itu hingga mengenai ujung pentopel Domba, yang di kenakan Stella. Gadis itu menatap ngeri ke arah bola mata berwarna coklat itu, lalu ia mendongak menatap Diangela.
"Yah. Rahasiaku terbongkar sudah." Diangela menatap dingin pada Stella yang menatapnya takut dan terkejut.
Di tendangnya korban kekejamannya yang entah ke berapa kalinya itu dengan enteng. Diangela memainkan palu berlumuran darah itu sambil melangkah maju menuju kekasihnya yang berdiri dengan gemetar.
Bau darah menyeruak di indra penciuman Stella kala Diangela berjalan mendekat ke arahnya. Ia menunduk, memindai Diangela dari ujung kaki hingga kepalanya. Sekujur tubuh laki-laki itu tertutupi oleh darah.
Setelah sampai tepat di depan kekasihnya, Diangela menunduk lalu menatap Stella yang tingginya hanya sebatas dada bidangnya saja. Tatapan laki-laki itu kosong. Kemudian dia mengangkat dagu Stella dengan pisau lipat yang berlumuran darah korbannya.
"Kenapa? Kau takut?" Tanya Diangela kemudian tertawa sinis, melihat Stella yang memalingkan pandangannya ke bawah.
"Kau psikopat?" Tanya Stella. Iris matanya yang sebiru laut menatap iris mata Diangela yang hitam pekat.
Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya, ia menyunggingkan senyum miring. "Menurutmu?"
"Kau sudah pasti psikopat gila." mata Stella yang tadinya menunjukkan ketakukan, berubah menjadi tatapan menantang.
"Gila? Berarti kau punya kekasih orang gila?" Tanya Diangela memojokkan Stella ke tembok di belakangnya.
"Merubahku? Itu mustahil sayang." Diangela mengelus pipi Stella dengan pisau lipatnya hingga membuat pipi gadis itu berdarah.
"Upss. Maaf, aku sengaja." Kekehnya ketika mendengar ringisan Stella.
Diangela meletakkan palu di tangan kanannya ke samping tubuh Stella. "Kau tahu, sejak awal kau itu mangsaku. Aku memacarimu hanya untuk membunuhmu, sayang." bisik Diangela di telinga Stella.
"Sejak awal kau hanyalah tikus yang sudah masuk perangkapku." lanjut Diangela lalu meniup wajah Stella membuat gadis itu memejamkan matanya.
"Jika kau memacariku hanya untuk kau bunuh, kenapa dari awal sejak kita menjadi sepasang kekasih kau tidak membunuhku?" tanya Stella setelah membuka kedua matanya.
Diangela terdiam mendengar itu. Ia memang selalu menunda untuk membunuh Stella. Aku akan membunuhnya sekarang, kemudian hasrat itu entah kenapa menghilang setiap melihat senyum Stella.
Pada akhirnya ia menundanya hingga esok harinya, tapi pada hari itu dia menundanya juga hingga esok hari. Menundanya esok hari, menundanya esok hari, esok hari, esok hari dan esok hari hingga berminggu-minggu ia tidak membunuhnya juga.
Diangela benci itu. Benci akan perasaan nyaman saat melihat wajah Stella. Dia ingin membunuhnya, tapi selalu ada tembok kasat mata yang menghalanginya setiap dia akan melakukannya.
Rahang Diangela mengeras mengingat hal itu. Garis wajahnya menunjukkan amarahnya yang meletup-letup, ia mengintimidasi Stella melalui tatapan tajamnya.
Sayangnya Stella tidak gentar di hadiahi tatapan mengintimidasi itu. "Cih! Tatapan tajam pak Syamsul, guru Matematika SMP, lebih serem dari tatapan kak Ian." ucap Stella sambil mengangkat dagunya tinggi. Ia tidak boleh terlihat lemah.
Kemarahan Diangela memuncak mendengar ucapan remeh Stella. Ia menusukkan pisau lipat di tangannya ke tembok tepat di samping kepala Stella.
__ADS_1
"Kenapa nggak sekalian, kak Ian tusuk ke mata aku kayak korban kakak yang itu." Tanpa gentar sedikitpun Stella menunjuk mayat laki-laki di belakang Diangela.
Diangela berdecih, "Cih! Little Sheep yang pemberani." Ejeknya. "Harusnya kau berterima kasih padaku karna aku tidak langsung mencabik-cabik wajah cantikmu itu sayang."
"Oh. Akhirnya kau mengakui juga kalau aku cantik." Stella tersenyum manis tanpa rasa takut sekalipun.
Diangela terdiam melihat senyuman itu. Sial! Perasaan hangat itu datang kembali merayapi hatinya. Membuat sekujur tubuhnya berteriak kesenangan.
Hanya karna satu senyuman, dia melanggar prinsipnya? Hanya karna itu? Jika teman-teman psikopatnya yang lain mengetahui itu, mereka mungkin sudah menertawakan dirinya.
Ia ingin membunuh Stella sekarang juga. Dan ya! Lagi-lagi rasa tidak rela untuk kehilangan senyum Stella kini kembali memorak-porandakan pertahanannya selama ini.
Laki-laki itu mendengus sebal.
"Pergi dari hadapanku, sebelum aku membunuh mu." Diangela beranjak dari posisinya. Laki-laki itu mencabut pisau dan mengambil palu lalu berbalik dan berjalan menjauh.
"Bunuh saja aku sekarang." Tanpa di duga oleh Diangela, Stella malah menantang laki-laki itu.
Diangela berbalik menatap Stella, ia menyimpan palu berukuran sedang itu bahu kanannya. tangannya memainkan pisau itu dengan kekehan sinisnya.
"Membunuh mu? Baiklah." Diangela melempar pisau itu ke arah Stella. Sontak saja, gadis itu memejamkan kedua matanya.
"Yah. Sepertinya kau beruntung. Lemparanku meleset." Stella menatap dengan kaku ke arah pisau yang tertancap di samping kepalanya.
"Tidak!"
Diangela yang hendak berbalik, terhenti ketika mendengar teriakan Stella. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya.
"Lemparan Kak Ian tidak meleset. Itu di sengaja oleh kak Ian sendiri."
Lemparan yang meleset itu memang di sengaja oleh Diangela. Laki-laki itu mau tak mau mengakuinya secara tidak langsung.
"Tidak. Itu tidak meleset." Sanggahnya kemudian kembali berbalik.
"Kak Ian udah jatuh cinta sama aku."
Degh!
Diangela menghentikan langkahnya. Ia tertegun sebentar. "Psikopat sama sekali tidak bisa merasakan emosi apapun. Menurutmu apakah mungkin psikopat bisa mencintai? Itu pertanyaan bodoh!" ucap Diangela dingin. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Hubungan kita berakhir." Diangela kembali melangkah.
"Bukankah kau akan membunuhku saat aku sudah jatuh cinta padaku?" ucapan Stella lagi-lagi menghentikan pergerakan Diangela. Stella kembali bicara sambil melangkah mendekat pada Diangela. "Aku sudah jatuh cinta padamu, apa kau tidak akan membunuhku?"
Diangela berbalik. "Darimana kau tahu itu?"
Stella mengedikan bahunya. "Saat kau masuk kamarku dan bertanya. "Apakah little sheep pemberani ini kubunuh atau tidak ya?" ku kira waktu itu aku sedang bermimpi. Ternyata itu nyata."
Stella mengambil stiky note di tas selempangannya yang sudah di tuliskan satu permintaan di sana, dan menunjukan nya ke Diangela.
"Aku menggunakan tiket permintaan dari mu." Diangela menaikan sebelah alisnya membaca permintaan itu.
Stiky note itu bertuliskan,
__ADS_1
Aku tidak ingin hubungan kita putus. Aku akan membuat kak Ian jatuh cinta padaku dalam waktu 2 bulan. Dan jika dalam waktu itu aku tidak bisa membuat kak Ian jatuh cinta, kak Ian boleh membunuhku.
Sungguh Little Sheep yang pemberani.