
"Baru juga kami jenguk lo, Dona, tapi uda mau pulang aja."
Jadi, maunya Liana ini ia sakit terus? Huu... Dasar manusia bermuka dua. Di depan Hiro, Olla, Viko dan Riko, berlagak sok paling baik dan perhatian sedunia. Aslinya mah, bangkeee!
"Tentu dong, gue kan strong! Sakit segini doang mah, sepele." Meski tau, Liana ini adalah dalang dirinya masuk ke rumah sakit, Dona tetap terlihat ramah ke Liana di depan semua orang. Toh, percuma berkoar koar, sementara dirinya tidak ada bukti nyata kejahatan Liana. Istimewa di ruangan inepnya saat ini ada duo Mama yang sedang berbenah kepulangannya. Dona enggan membuat Mamanya cemas kalau mengetahui dirinya sebenarnya di luar sana kerap mendapat bully-an. Takutnya, Mamanya itu lama lama stres mengkhawatirkan dirinya tiap ia keluar dari rumah.
Saat ditanya oleh keluarganya tentang kenapa kepalanya bisa terluka? Ia hanya beralasan jatuh.
"Don, kok nggak pernah cerita kalau kamu punya banyak teman baik. Setahu Mama, Olla doang yang menerima kamu apa adanya." Hilda menatap hangat satu persatu teman sekelas Dona. "Pasti pulang sekolah langsung kemari ya? Dan itu artinya, kalian semua belum makan. Bagaimana kalau pulang dari sini, kalian mampir dulu ke rumah, Tante masakin. Mau?"
"Jangan, Ma!" Dona dan Hiro kompak berseru cepat.
Viko dan Liana yang belum tahu status pernikahan Dona dan Hiro, merasa ada yang ganjil saat mendapati Hiro pun memanggil Ibu Hilda sebagai 'Mama.' Kalau Olla dan Riko sih, diam membisu satu sama lain karena sudah mengetahui kenyataan.
"Oh, iya. Kan pulang dari sini, Mama ada acara penting. Lain waktu saja ya." Mamanya Dona itu segera meralat ajakannya manakala Tania - Mama Hiro memberinya kode kode yang seakan mengatakan, jaga rahasia anak.
"No problem, Tante." Liana menjawab maklum dengan senyum manisnya. Dalam hatinya sih, ia juga ogah ogahan berkunjung ke rumah Dona. Lain halnya kalau Mamanya Hiro yang mengajaknya, tentu saja nggak nolak pakai banget. Tapi, kenapa ya Mama Hiro berada juga di mari? Mana perhatian banget lagi pada Dona. Kan, dirinya cemburu.
"Kalau begitu, kami pamit ya, Tante," tutur Liana yang muak melihat keakraban Dona dengan Mamanya Hiro. Seperti ingin menegaskan ke Tania kalau pacarnya Hiro itu adalah dirinya, Liana tanpa jaim segera melingkarkan tangannya ke sela sela lengan Hiro. "Ayo, Hiro. Antar gue balik."
"Hey, stop..." Tania menyilang tangannya ke dada dengan tatapan tajam ke gandengan Liana. Sebagai wanita, Tania paham betul perasaan Dona yang pasti terluka tapi tidak protes menyuarakan haknya sebagai istri rahasia. Oleh sebab itu, ia yang akan mewakili menantunya.
" Kamu siapanya Hiro? Kenapa terlihat mesra sampai pakai gandengan? Lepas, itu tidak baik!" Ultimatum Tania terdengar pedas ke telinga Liana.
Diam diam, Dona dan Olla saling lirik, lalu tersenyum simpul.
Liana mencoba tersenyum ramah, tapi hatinya merasa kesal. "Aku pacarnya Hiro, Tan. Salam kenal..." Liana menurut paksa melepaskan tangan Hiro.
"Pacar?" Hiro menunduk manakala tatapan mata Mamanya begitu menusuk. "Jelaskan ke Mama atau sebaliknya Mama yang akan memperjelas batasan yang tidak boleh kamu langgar." Tania benar-benar tidak mengetahui kalau Hiro itu punya kekasih.
__ADS_1
"Maaf, Ma."
Tania masih tau arti privasi. Oleh sebab itu, ia mengangkat tangannya untuk menghentikan Hiro bertutur. Dengan gantinya, Tania berkata dengan nada sopan ke Liana bahwa, "Tante tau, kalau masa masa remaja memang indah di lewati, tapi Liana, Hiro sebenarnya tidak boleh pacaran. Dia sudah berjanji pada keluarga dengan satu alasan. Sampai di penjelasan ini, semoga kamu paham maksud Tante."
Liana ngambek. Berlalu pergi begitu saja dengan tampang bete. Apalagi saat melihat sejenak ke belakang, Hiro tidak ada tanda-tanda ingin membela atau mengejarnya.
" Sialan... " Liana mendumel kesal. Mendengar sepotong kalimat Tania yang katanya Hiro tidak boleh pacaran karena satu alasan. Liana pun jadi ingat, waktu di mana ia memaksa Hiro menerima cintanya dan sebagai timbal baliknya, ia akan menyetujui permintaan Hiro yang sangat menginginkan dirinya sebagai teman duet vokalis band Fourged di kala waktu beberapa bulan lalu.
Kira kira suatu alasan itu apa ya? Kepenasaran Liana, tak kalah di rasakan pun oleh Dona. Meski mengakui keluarganya itu dekat dengan keluarga Hiro, tapi soal permasalahan pribadi tentu saja dirahasiakan. Ah, nanti akan ia ulik.
"Eh, mau kemana?" Hiro ditegur lagi oleh Tania saat hendak pergi.
"Kan katanya mau pulang! Aku dan kawan kawan juga ada janji latihan band, Ma," jawab Hiro datar.
Riko dan Viko serta Olla jadi penonton bisu. Ternyata, Mama Hiro galak uih. Itulah kesan mereka.
"Benar, Tan," sahut Riko tidak berbohong.
"Kalau libur sehari nggak masalah kan?"
"Nggak lah, Tan." Jawaban spontan yang terdengar semangat dari bibir Viko, mendapat plototan dari Hiro. Viko garuk kepala. Salah ngomong apa ya?
Tania tersenyum penuh arti. Matanya beralih ke Olla. "La, kamu bisa kan bawa motor gede?"
Olla mengangguk. "Bisa, Tan. Bajai pun bisa saya bawa."
Viko memutar mata malas mendengar candaan garing Olla.
"Kalau begitu, tolong bawa motor Hiro pulang ya, Nak. Hari ini, Tante malas sekali nyetir. Hiro akan pulang bersama kami."
__ADS_1
"Siap, Tan." Olla menjawab semangat sembari menangadakan telapak tangannya ke Hiro sebagai kode meminta kunci motor.
Kepergian Viko, Riko dan Olla di ruangan itu, Hiro langsung saja memperlihatkan wajah bete nya ke Tania yang tak di respon oleh Mamanya itu. Sang Mama malah berjalan santai bersama besannya. Sementara ia dan Dona ditinggal di belakang.
"Hir, kok gue baru tau kalau lo ternyata nggak boleh pacaran? Kalau tau kayak gitu, sedari awal gue ngadu ke Mama lo tentang hubungan lo sama Liana." Dona berbisik bisik menggoda Hiro.
"Bawel... Lo kayaknya senang sekali ya gue dapat ulti dari Mama?"
Jelas dong.
"Ih, suudzon nggak baik loh. Dosaaah kata pak Ustadz mah," elak Dona.
"Kalian akan pulang, tapi bukan ke rumah Mama ataupun ke Mama Hilda." Tania berseru saat mereka semua berada di parkiran. Inilah alasannya, mengapa ia menyuruh Olla membawa motor Hiro pulang.
"Terus ke mana, Ma? Jangan bilang kami berdua akan dibuang ke panti asuhan."
Tania dan Hilda saling tatap lalu terkekeh geli bersama, mengabaikan wajah wajah penasaran Hiro dan Dona.
"Atau mau di ajak makan di resto dulu ya, Ma?" tebak Dona.
Hiro mendelik horor. "Makan mulu pikiran lo."
"Uda uda, nanti kalian juga akan tau. Ayo berangkat."
Eh, katanya lagi malas nyetir mobil, tapi Mamanya ini malah masuk ke kemudi. Di susul mertuanya masuk di sebelahnya.
"Mereka merencanakan apa sih, Ndut?" Hiro yang curiga, akhirnya bertanya pada Dona.
"Mana ku ketek... Eh, mana kutahu."
__ADS_1