
"Selamat pagi Suamiku!" Cup...
Hiro yang baru keluar dari kamar dengan seragam rapi membalut tubuh atletisnya, tiba tiba terpaku di tempat akan tingkah Dona yang main mencium pipinya.
Dona dari tadi sudah stay di depan kamarnya ternyata. Dan ia ... kecolongan
Lirik ke samping, Dona malah tersenyum manis tanpa dosa padanya.
"Nduuuut..." sebel Hiro. Dona ngacir karena Hiro mengejarnya sembari mengangkat tasnya hendak memukulnya.
Jika ada dilihat mata orang lain, maka kesannya seperi tom dan jerry.
"Hihihih..." Bukannya takut, Dona malah cekikan sembari memutari meja makan kecil yang ada di dapurnya. Saran chat Olla sebagai pakar cintanya, ia harus memperlakukan Hiro romantis katanya. Berhubung ia sering melihat papa mamanya kiss morning pipi kiri dan kanan, ya... Dona pun menirunya. Toh, Hiro itu adalah suaminya yang sudah halal diapain aja kan. Jadi kagak dosa dong.
"Ndut, berhenti nggak?!"
Oke, Dona menurut. Secepatnya membalik tubuhnya tanpa Hiro prediksi. Alhasil, tubuh mereka bertubrukan.
Hiro terjengkang ke belakang. Pantatnya ngilu tercium marmer dingin. Ia meringis ringis dengan wajah bete sekali.
"Maaf..." kata Dona sudah berjongkok di depan duduknya Hiro dengan tangan terulur ingin membantu. Namun Hiro cuma memandang tangan itu. Berdiri sendiri tak mempedulikan niat bantuan Dona.
Dona tersenyum kecut sembari menarik tangannya kembali. "Sarapan dulu..." katanya mengalihkan suasana hati Hiro yang nampak bete padanya.
Hiro yang hendak pergi, seketika melirik meja makan. Ada dua piring nasi goreng telor ceplok di sana.
"Nggak ada racun kok. Aman juga dari pelet." Dona duduk terlebih dahulu. Melihat Hiro masih bergeming, ia pun kembali berkata, "Gue tau, lo nggak suka sama gue. Tapi setidaknya, hargai jerih payah gue." Dona sangat berharap, Hiro mau mencicipi masakannya.
Tapi Hiro benar benar tidak mau memberi cela padanya untuk masuk ke dalam hati itu. Bukannya duduk di table makan, Hiro malah beranjak keluar dari dapur.
" Apa gue harus nyerah sekarang?" gumam Dona sembari menarik piring bagian Hiro. Tidak mau masakannya mubazir, Dona segera mengambil kotak makan, memindahkan makanan itu. Setelahnya, ia mengejar langkah Hiro yang sudah di luar unit apartemen.
Mereka bertemu di depan lift. Tanpa satu kata pun, dari belakang Dona membuka tas Hiro sembari berkata tegas menghentikan protesnya Hiro. "Lo harus sarapan!"
__ADS_1
Kotak makan itu sudah aman di dalam tas, Dona pun beranjak pergi ke arah unit lagi untuk mengambil tas sekolahnya. Tidak mau melihat ekspresi Hiro yang entah menerima bekal nasi itu atau tidak.
***
"Eh, Dona... Kok lo di halte sini?"
Dona berjengit kaget saat pundaknya tiba tiba ditepuk dari samping. Ternyata Riko.
"Hai..." Dona sekadar menyapa tanpa niat menjelaskan kalau tempat tinggalnya sekarang di apartemen belakang sana.
"Dari pada naik bus, mending ikut motor gue? Ini uda siang loh." Riko menunujuk motor matic hitam miliknya yang ia parkiran asal asalan. Tadi, saat melewati halte, ia melihat Dona, makanya ia putar balik lagi. "Lo nggak mau dihukum lagi, kan?" imbuh Riko membuat Dona membayangkan toilet kotor yang bisa saja ia bersihkan lagi, kena hukum.
"Tapi lo nggak minta cium pipi lagi sebagai bayarannya kan?"
Riko terkekeh kecil. "Nggak kok." Karena lo uda jadi istri sahabat gue. Lanjutnya membatin. Ia tulus membantu Dona tanpa ada hal terselubung.
"Kalau motor lo tiba-tiba kempes, jangan salahin gue ya, Rik. Lo kan tau sendiri beban gue berat." Dona siap naik ke boncengan Riko. Mengingat ban motor Hiro yang kempes semalam, takutnya Riko pun kena sialnya.
Sampai di sekolahan, Hiro tidak sengaja melihat kebersamaan Dona dan Riko masuk ke kelas. Viko dan Liana serta Olla dari tempat duduk masing-masing pun melihatnya.
Kotak makan pemberian Dona yang hendak dimakan oleh Hiro, kembali ia tutup. Entah kenapa ia bete sendiri melihat canda tawa Dona dan Riko sebelum langkah mereka terpisah menuju bangku masing-masing.
Saat Riko duduk di sebelahnya, Hiro memberikan kotak makannya ke Riko sembari berkata, "Sarapan buat lo." Suara ia besarkan biar Dona mendengarnya yang memang tidak jauh posisi bangkunya.
"Gue belum sarapan tau. Buat gue aja ya, Sayang."
Dona cemberut saat Liana tiba-tiba merebut kotak itu dari tangan Riko. Meja Liana memang berada di depan bangku Hiro dan Riko.
"Ambil aja, gue uda kenyang."
Dona kian bete mendengar suara Hiro yang mengijinkannya.
"Terimakasih, Sayang."
__ADS_1
Sayang sayang pala luuu ... batin Dona kesal. Ia juga tidak bisa melakukan apa apa kecuali melihat Liana membuka kotak yang disiapkan penuh cinta untuk Hiro.
"Tau mau dimakan Liana, gue beri tai ayam dah," gumam Dona yang berhasil di dengar oleh Olla yang memang duduk di sampingnya.
"Jadi, itu sarapan lo yang buat?" tanya Olla memastikan sembari memperhatikan Liana yang sedang mengendus endus aroma makan seperti kucing.
Dona mengangguk lemas.
"Tenang, kalau lo nggak rela, Liana nggak akan memakannya." Entah apa yang akan di lakukan Olla yang main berdiri dari bangku dan berjalan santai ke sisi bangku Liana. Dona hanya memandang bokong Olla yang sengaja digeol geolkan.
Mprooot...
Hening sesaat dari kebisingan random para siswa, ingin memastikan asal bunyi ekstrim itu dari mana.
"Ollaaaaa! Lo ngentutit gue, njiiirtt," murka Liana dengan wajah putih itu memerah padam. Selera makannya hilang sudah akan bau kentut Olla.
Olla malah cengengesan bodoh lalu berkata, "Hehe, maaf Liana. Lubang bokong gue otomatisan remnya."
Tawa pecah, Dona yang tadinya bete. Ikut tertawa akan tingkah somplak Olla.
"Duh, makanan lo uda tercemar kentut gue. Bagaimana kalau itu buat gue aja. Mubazir kalau dibuang!" Belum direspon oleh Liana, kotak makanan milik Dona sudah ditangan Olla. "Terimakasih ya, cantik," intonasi Olla seperti orang mengejek.
"Dasar cewek jadi jadian!" umpat Liana pada punggung Olla yang sudah beranjak kembali ke bangkunya.
Olla mendengarnya, namun ia tidak peduli. Ia hanya tersenyum penuh kemenangan ke arah Dona. Alis itu naik turun bangga.
Tanpa jijik, Olla dengan lahap memakan isi kotak makanan itu. Dona hanya menggeleng geleng dengan senyum menggelitik perut tak bisa ia hentikan.
"Hir, Dona kira kira uda punya cowok belum ya?" Pertanyaan Riko yang tiba-tiba membuat Hiro tersentak.
"Ma-na gue tau!" Hiro menjawab dengan nada terbata bata penuh kelirian. Sesama cowok, Hiro paham betul kalau tatapan Riko ke Dona adalah tatapan suka penuh minat. Dilihat lihat, meski Dona gendut tapi wajah nya cukup menarik lawan jenis.
"Kalau gue dekati Dona, ada yang marah nggak ya?" Riko sengaja ingin mengetes Hiro. Namun sebelum dijawab, guru fisika sudah masuk. Hening seketika karena para siswa tau, Pak Guru di depan sana adalah guru terkiller di sekolah itu.
__ADS_1