
Melihat hasil postingan Liana tentang video badut itu, Dona merasa terpukul sekali. Baru beberapa menit tersebar, sudah banyak like dan komen serta posting ulang dari akun akun lain, yang sangat membuat hati Dona teriris iris sakit.
Mereka hanya bisa tertawa melihatnya tanpa mengetahui orang yang dipaksa melakukan lelucon badut itu, merasakan trauma luar biasa.
Tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan postingan itu beredar luas, Dona hanya pasrah menenggelamkan kepalanya di atas bantal. Berteriak histeris dan menangis dengan suara tertahan oleh benda empuk itu.
"Hiks... Papa, Mama...!" Seorang remaja dengan pikiran masih labil, tentu saja selalu mengingat kedua orang tuanya baik duka maupun suka. Dona ingin sekali pulang lalu bersembunyi di kedua ketek orang tuanya yang aman dan nyaman itu. Tapi, ia berpikir lagi, masalahnya akan terus ada tanpa penyelesaian jika hanya kabur.
Melihat tanggal di atas meja belajarnya, Dona sedikit bernafas lega sembari mengusap sisa sisa air matanya, karena besok merupakan tanggal merah dengan artian, ia akan terhindar dari ancaman bullyan Liana untuk sesaat.
Tapi hari hari berikutnya? Bagaimana?
Jujur, Dona takut berangkat ke sekolah karena mungkin saja, bullyan Liana akan lebih ekstrim dari perlakuan mereka yang baru saja didapatkannya sore tadi.
Kelelahan menangis, Dona berujung terlelap dengan pipi masih lembab oleh air mata.
***
Jam empat subuh, Hiro yang memang sering bangun di waktu tersebut, dibuat kaget oleh Dona. Gadis itu tumben tumbenan sudah berada di ruang tamu dengan mata fokus pada buku buku pelajaran yang ia tumpuk semalam.
Itu benar Dona atau hantu yang menyamar?
"Don, lo baik baik aja kan?" kata Hiro ingin memastikan.
Dona mengangkat pandangannya sesaat. Lalu kembali fokus untuk belajar lebih giat lagi.
"Ih, kok ngeri gue..." lirih Hiro yang samar terdengar oleh Dona.
Dona berdecak malas lalu berkata datar sembari memandang lekat lekat muka bantal Hiro, "Lo pikir gue setan?"
Alhamdulillah, ternyata Dona asli.
__ADS_1
"Yaak, gue heran aja. Lo yang biasanya masih molor, uda bangun buat belajar di pagi buta."
"Jangan selalu memandang orang dengan kebiasaan jelek atau keburukan lainnya, mana tau orang yang tadinya serampangan hidupnya, justru bisa lebih mujur. Begitupun cita cita yang bisa berubah. Like a word-nya, mungkin banyak wanita yang mendambakan menjadi Cinderalla, tapi jika berpikir lebih cermat lagi. Buat apa jadi Cinderalla yang hanya bisa mengandalkan seorang pangeran datang menjemputnya demi bebas dari ibu tirinya yang jahat? Kenapa nggak jadi wonder women aja agar bisa langsung membasmi orang orang jahat di sekitarnya, bukan? "
Suara sarkas Dona, membuat Hiro berpikir keras. Dona saat ini mulai pandai bermain kata kata perumpamaan yang mungkin menyindir dirinya. Tapi bodo amat bagi Hiro. Melihat Dona tidak mempersulit rencananya sebagai syarat pergi study musik keluar negeri, sudah cukup membuat Hiro tenang.
"Dari pada lo berdiri bengong di situ, lebih baik jelaskan rumus fisika ini," pinta Dona dingin dengan sangat terpaksa meminta bantuan Hiro. Toh, jika ia lulus dengan nilai memuaskan, Hiro juga yang akan diuntungkan nanti.
Hiro menurut patuh. Dengan sabar, ia menjelaskan materi yang sudah di tandai Dona yang entah sejak jam berapa gadis ini memulai belajarnya.
Dona sangat serius menyerap ilmu yang Hiro jelaskan padanya. Tidak ada kata modus atau apapun itu ke Hiro lagi, demi menjaga dirinya dari kata kata bullyan atau hal menyakitkan lainnya yang mungkin saja Hiro cuatkan begitu saja.
Jika dulu dulu ia biasa saja mendengar Hiro dan orang lain mengatai-ngatainya dengan ejekan, namun untuk kali ini, hatinya sudah mudah tersinggung dan rapuh saking banyaknya bullyan body shaming yang ia tampung.
Di suasana serius itu, Dona yang ingin mengambil buku paket, tangannya tidak sengaja di genggam oleh Hiro yang tadinya juga akan meraih buku yang sama.
Hiro tertegun dengan bola mata itu sangat serius menatap wajah Dona yang juga menatapnya intens.
"Tangan gue, lepas!" kata Dona dingin.
Dona tetap bergeming datar. Meski jujur, ia pun kaget saat tangan Hiro tidak sengaja menggenggamnya.
Suasana yang canggung di antaranya, Dona cairkan dengan berkata, "Terimakasih untuk sesi pelajaran kali ini. Gue mau jogging dulu."
"Don, bukunya di bereskan dulu," protes Hiro berteriak. Ia tidak suka dengan hal yang berantakan. Tapi, Dona yang dipanggilnya tetap melanjutkan langkahnya menuju pintu utama membuat Hiro kembali jengkel dengan sikap suka suka Dona.
***
Kali ini, Dona jogging bukan di area pelataran apartemen. Ia berlari tanpa arah tujuan sampai kakinya itu berhenti di sebuah taman kota yang cukup ramai digunakan oleh pe-jogging dari kalangan random.
Karena capek sedari tadi olahraga terus. Dona memutuskan untuk duduk asal asalan. Sembari menyeka keringat dengan handuk kecil yang dilingkarkan di leher, matanya menyapu orang orang sekitar.
__ADS_1
"Liana?" gumamnya kaget. Dona yang masih trauma, buru buru menunduk, bersembunyi di sela-sela tanaman privet yang sering dikenal pagar tanaman.
Di belakang sana di antara tanaman privet, lebih tepatnya di kursi panjang taman, Dona melihat Liana duduk bersama pria berumur yang Dona prediksi Papa Liana.
"Tapi, Om harus transfer dulu."
Eh...
Dona yang tadinya ingin pergi karena takut ketahuan, tiba-tiba terpaku di tempat. Suara manja manja Liana yang terdengar menggoda lawan jenis ini, bukan ciri ciri untuk 'om' kandungnya.
Dona yang curiga dengan sikap genit Liana, secepatnya mengeluarkan hapenya dengan mata camera on yang ia selipkan pelan pelan di antara sela tanaman.
"Transfer?"
"Iya, Om. Kan aku butuh baju cantik dan make up. Demi bisa tampil sempurna saat kita bertemu di tempat karaoke-an."
Karaoke-an? Dona curiga, kalau Liana ini salah satu pemandu karaoke plus plus.
Duh duh, itu tangan si Om ngapa nakal sekali. Pakai raba raba training Liana tepat di bagian paha. Mana tatapan matanya sungguh lapar sekali.
Keharanan Dona, Liana kok malah tersenyum seakan-akan menyukai sentuhan itu. "Edaaan ... jijik, ueeh... " gumam Dona dalam hati, dengan bahunya itu refleks bergidik ngeri.
"Oke deh, Om akan transfer. Tapi ingat ya cantik, nanti malam kamu jangan ambil pelanggan lain. Cukup sama Om dulu."
Dona lagi lagi meringis saat tangan om menyentuh manja dagu Liana.
"Sip, Om. Pokoknya, aku tunggu Om deh sampai datang," imbuh Liana. Lagi lagi manja mengoda pada si Om yang saat ini memainkan hape, yang Dona prediksi siap mentransfer uang ke Liana.
"Uda masuk, Om. Terimakasih ya."
"Iya, Sayang. Tapi ingat, dandan yang cantik. Kalau istri om tidurnya cepat, maka Om pasti akan datang cepat juga."
__ADS_1
Merasa jijik berlama-lama menyaksikan pemandangan yang merusak otak suci nya, Dona segera mematikan tombol off yang tadinya merekam segala tindak tanduk buruk Liana.
" Hehehe... Foto AS gue lawannya video cabul lo, Liana." Dona membatin puas. Beban yang di pikulnya terasa terangkat plong. Tidak menyangka, jogging nya yang jauh ke taman kota, membuahkan hasil yang luar biasa untuk mematahkan kelakuan buruk Liana padanya.