
Jam istirahat, Liana diam diam mengikuti langkah Hiro menuju rooftop sekolah. Kebetulan, pria itu seorang diri tanpa ada Viko dan Riko menemani. Kesempatan tersebut akan ia pergunakan baik untuk berbicara serius dengan Hiro.
"Hiro...!"
Merasa dipanggil, Hiro yang baru menginjak lantai rooftop, segera membalik tubuhnya. Alisnya terangkat satu sembari bertanya, "Ngapain lo ngikutin gue kemari?"
"Gue pengin tau, kenapa nyokap lo ngelarang kita pacaran? Sangat katro tau, nggak!" tutur Liana tanpa tedeng aling aling.
Mendengar Mamanya dihina, Hiro dengan pedas mengatakan, "Bukan mama gue yang katro, tapi lo yang tukang paksa. Lo kan tau betul, gue terpaksa nerima cinta lo, asalkan lo mau gabung di grup band kami."
Tidak berselera lagi menghabiskan waktu istirahat di tempat sepi karena gangguan Liana, Hiro dengan cepat meninggalkan Liana. Sikapnya di belakang para mata siswa, ia memang dingin pada Liana.
" Hiro! Gue belum selesai ngomong! Hirooo...!"
Teriakan Liana percuma saja, orang yang dipanggilnya terasa tak memiliki kuping.
Hiro berlari kecil menuruni anak tangga. Tepat di depan perpustakaan, melalui jendela ujung matanya tidak sengaja melihat Dona di dalam sana bersama Riko. Sedang ... entah? tapi intinya, mereka berdua duduk bersebelahan dengan mata tertuju pada sebuah buku di hadapannya.
Hiro yang penasaran mereka sedang membicarakan apa, berniat memasuki perpustakaan, tapi Viko dari kejauhan memanggilnya.
"Bro, gue punya kabar bagus buat band kita!" Viko dengan semangat memberi brosur yang ia bawa.
Hiro meraihnya. Wajah yang tadinya bete, semberinga seketika. "Fourged harus ikut audisi ini. Kalau kita lolos kan, itu tandanya kita punya penghasilan manggung setiap malam dari cafe ini."
Masalah Hiro tentang pekerjaan yang disuruh mandiri oleh para orang tua, seketika menguap jika memang band mereka lolos menjadi penghibur tetap pelanggan cafe.
" Sebelum audisi, kita sebaiknya latihan giat, Hiro. Tapi lo kan tau sendiri, kita nggak punya studio khusus buat latihan. Di sekolah? Nggak mungkin juga karena sudah ada jadwal masing-masing yang menggunakan aula. Sewa? Itu apalagi, kita kan masih ditanggung orang tua. Malu dong minta minta terus. "
Benar juga perkataan Viko. "Gue ada studio buat latihan di apartemen. Lo lo pada datang aja." Tanpa berpikir panjang, Hiro menawarkan Viko datang ke apartemennya. Melupakan adanya Dona pun di sana.
"Lo punya apartemen?"
Viko dan Hiro berbalik ke arah Liana dan ternyata di gawang pintu perpustakaan, Riko dan Dona pun mendengar percakapan itu sedari tadi.
Melihat keberadaan Dona, Hiro baru sadar apa yang ia ucapkan di depan teman temannya. Dalam hatinya ia merutuki kebodohannya sendiri karena salah bicara mengajak teman temannya datang ke apartemen yang ia rahasiakan bersama Dona.
"Rik, gue duluan ya." Dona berlalu tanpa berniat melirik ke arah Hiro.
Setelah Dona jauh, Viko membuka suara, "Nanti lo share loc aja alamat apartemen lo, kami akan datang. Iya, kan teman-teman?" Viko bertanya pada Riko dan Liana.
__ADS_1
Liana menyeringai sembari mengangguk. Ia masih tidak mau melepaskan Hiro sebagai kekasihnya. Oleh sebab itu, ia tidak lagi mempermasalahkan sikap cuek Hiro yang sama sekali tidak ada kata romantisnya selama ini.
Lain halnya Riko yang diam diam tahu kesalahan ucap Hiro, ia hanya membisu seribu bahasa.
***
Tok tok tok...
Satu jam waktu janjian latihan akan tiba, mau tidak mau Hiro mengetuk kamar Dona. Sepulang sekolah, Dona sama sekali tidak menampakkan diri padahal Hiro ingin berbicara serius.
"Ndut, gue tau lo belum tidur. Buka dulu pintunya!" paksa Hiro sampai gagang pintu ia tekan tekan tak sabaran padahal terkunci.
Di dalam kamar, Dona berdecak. Konsentrasi buyar yang tadinya sibuk membuat sajak di cacatannya. Dengan malas, ia beranjak dari meja belajarnya.
Ceklek...
"Apa sih?" tanya Dona, hanya kepala yang melongok keluar.
Hiro segera mendorong pintu agar terbuka lebar, meraih pergelangan tangan Dona. Menariknya ke arah pintu utama berniat menyuruh Dona pergi selama teman teman datang untuk latihan.
"Lo harus keluar dari unit sebelum mereka datang, Ndut."
Dengan keras, Dona menghentakkan tangan Hiro dari kulitnya.
"Don__"
"Gue nggak mau! Enak aja!" tolak Dona mensergah perkataan Hiro.
"Please, Dona..." Suara Hiro melembut dengan raut wajah memohon. "Lo nggak mau kan kita dikeluarkan di sekolah karena ketahuan? Ini cuma sementara kok."
"Tapi kan lo juga tau, ini sudah malam. Gila aja gue keluyuran sendiri di luar kayak orang hilang."
Hiro kehilangan kata kata karena merasa bahwa perkataan Dona benar juga.
Merasa tidak ada jalan, Hiro hanya duduk lemas dengan tampang tak berdaya.
Dona malah iba melihatnya. Tidak bisa melihat raut wajah kebingungan Hiro, dengan terpaksa Dona pun menyetujui keinginan Hiro.
"Telepon gue kalau lo uda selesai latihannya."
__ADS_1
Dona berjalan ke arah pintu utama, mengalah demi orang tercintanya tidak ada salahnya juga karena memang merasa hubungan mereka memang harus disembunyikan sampai lulus kelak.
Hiro yang ingin berterima kasih atas pengertian Dona, mengekor menyamai langkah langkah panjang Dona.
"Terima kasih ya, Ndut. Tapi ingat, jaga diri. Gue nggak mau bokap lo nyalahin gue karena dikira nggak becus jagain anaknya."
Dona kira, Hiro benar-benar mencemaskannya, tau taunya hanya karena rasa tanggung jawab yang terpaksa.
Dona malas menjawab, lebih memilih membuka pintu. Namun setelah itu, Dona dan Hiro terciduk. Liana dan Viko serta Riko sudah ada di depan pintu.
" Loh, Don. Kok lo ada di sini?"
Liana dan Viko menunjukkan ekspresi wajah terkesiap hebat secara bersama. Dona dan Hiro pun nampak gelagapan. Sementara Riko, ia tetap stay cool dalam diamnya, menunggu alasan Dona dan Hiro untuk mengelak.
"Anu ... Itu, Dona adalah babu paruh waktu di apartemen gue. Iya, kan, Ndut."
BABU? SUMPAH DEMI APAPUN, DONA SAKIT HATIIIIIII DIKATAIN PEMBANTU.
Tidak adakah alasan yang baik untuk alasannya?
Mati matian matanya menahan banjir bandah yang akan membasahi pipinya. Selama ini, ia selalu menerima segala perkataan jutek dan perlakuan tidak baik Hiro padanya. Tapi kali ini, rasa perih di dalam sana sudah tidak bisa ia tahan hanya karena satu kata 'babu' yang seperti benda tajam menusuk hatinya sampai berdarah darah tak kasat mata.
"Oh, babu? Gue kira ada hal lain yang nggak gue tau," desis Liana penuh ejekan sembari beranjak berdiri di sisi Hiro. Lebih tepatnya, Liana menggeser paksa Dona untuk menjauh dari Hiro.
Dengan senyum kecut, Dona menjawab membenarkan biar Hiro puas, "Iya, gue CUMA BABU! Permisi, BABU mau lewat."
Hiro melengoskan pandangannya saat Dona menatapnya lekat lekat dengan binar mata memerah penuh kekecewaan.
Tidak bisa berbuat banyak, Hiro cuma bisa menyuruh tiga orang itu masuk. Tinggallah dirinya paling belakang, menoleh ke arah punggung Dona yang berjalan ke arah lift.
"Hir, hape gue sepertinya tertinggal di dalam jog motor deh. Gue ambil dulu ya." Riko izin hanya berniat menemui Dona yang entah akan pergi kemana malam malam.
"Jangan lama-lama, gue cuma bisa latihan satu jam."
Riko mengangguk lalu beranjak cepat. Sekali lagi, ia melirik ke arah lift sudah tidak menampakkan Dona di sana. Hanya ada Riko. Dengan pikiran penuh beban, Hiro terpaksa masuk. Menggiring Viko dan Liana ke studio khusus yang Papanya siapkan sebelumnya.
Hiks hiks...
Riko yang menunggu lift terbuka, samar samar mendengar sebuah isakan tangis yang suaranya tidak asing.
__ADS_1
Riko mengikuti arah suara itu ... di balik pintu baja tangga darurat. Riko membukanya perlahan dan benar saja, ada Dona yang duduk di anak tangga dengan kepala ia sembunyikan di antara lutut tertekuk.
"Gue benci, Hiro. Gue benci! Gue nggak mau jatuh cinta pada orang jahat seperti dia lagi. Gue benci! Benci!" racau Dona dengan isakan tak henti hentinya. Ia masih tidak menyadari keberadaan Riko yang bersandar di tembok.