Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 40# Tikus Nakal


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Dona yang tidak bisa pulang karena kunci pintu di kantongi Hiro, memutuskan untuk masuk saja ke kamar yang sebelumnya ia tinggalin.


"Kok kamarnya bersih?" gumamnya sembari menyentuh meja riasnya yang sama sekali tidak dihinggapi debu. Dona jadi berpikir, kalau Hiro pasti selalu berbenah di kamarnya setelah ia tinggalkan.


Dona yang tidak mau ambil pusing, kembali cuek dengan cara mengedikkan bahunya.


Cek lemari, baju yang tidak sempat ia bawa pulang, masih tergantung rapi dan wangi. Ia pun memutuskan untuk mengganti bajunya. Karena tidak nyaman tidur mengenakan jeans ketat, Dona memilih mengeluarkan sebuah hot pants khusus untuk dipakainya di dalam kamar saja.


Sementara di kamar sebelah, Hiro sedang sibuk melirik hapenya yang sama sekali tidak ada notif apapun.


"Lama banget sih," gumamnya seperti menunggu sesuatu di hari yang sudah di bilang pertengahan malam.


Mondar mandir di depan kasur, akhirnya hape yang ia letakkan di sebelah bantal, berbunyi nyaring.


"Datang juga lo pada." Hiro segera keluar kamar setelah membaca chat, 'Gue dan Viko uda di depan lobby.' Pesan tersebut dari Riko.


"Kalian tunggu aja di bawa. Gue on the way. Jangan naik, Okay." Chat Hiro mengandung larangan mutlak. Jelas saja, rencananya tidak mau gagal akan kehadiran kedua sahabatnya tersebut.


"Kita nggak boleh naik, Vik," kata Riko yang kini mereka berada di depan pintu lift lantai satu.


"Ya uda, kita tunggu aja dia datang. Gue mah malah penasaran dengan mainan tikus tikusan beremot ini. Buat apa coba Hiro maksa kita beliin mainan sekarang juga? Sampai tengah malam kita mutar mutar loh." Setengah mendumel, Viko menatap kantong biru yang berada di tangannya.


Karena Riko pun tidak tahu menahu, pria yang mengenakan jeans hitam bolong di lutut itu, hanya mengedikkan bahu sebagai jawabannya.


Ting...


Dentingan lift membuat atensi Viko dan Riko tertuju ke pintu lift yang berangsur angsur terbuka. Terlihat sosok Hiro yang hanya mengenakan kaos putih polos dipadu celana chino cream selutut dengan topi khas di kepalanya di miringkan ke belakang.


"Mana pesanan gue?" tanya Hiro cepat. Belum di jawab oleh dua sahabatnya, ia sudah merebut kantong yang berada di tangan Viko.


"Buat apa sih tikus mainan itu? Jijik tau nggak." Riko bergidik sembari mundur satu langkah kecil menjauhi Hiro yang kini memamerkan duplikat tikus got yang sebelas dua belas hampir sama persis dengan aslinya. Hitam, jelek dan berbulu.


Hiro malah terkekeh. Jika Riko dan Viko aja jijik, bagaimana dengan reaksi Dona yang ia ketahui istri nya itu takut parah sama hewan tersebut? Membayangkan itu, senyum di wajahnya kian melebar sampai sampai memperlihatkan dua lesung kecil di pipinya, tampan sekali.


"Jangan bilang, lo jadi rada rada gila karena Fourged sudah tinggal nama saja, Hir?" Viko bertanya dengan wajah prihatin menatap sang sahabat.


"Eum, gue memang gila. Tapi gilanya kali ini disebabkan cinta."


Mendengar pernyataan enteng Hiro, Viko dan Riko saling pandang, lalu menatap Hiro kembali dengan kompak. Pergerakan mata tersebut beberapa kali terulang. Mereka sedikit aneh dengan sikap Hiro yang terdengar bucin nan lebay. Ini, bukan Hiro yang jutek.


"Cinta dan mainan tikus jelek itu? Apa hubungannya?" Viko bertanya sembari menggaruk pelan kepalanya tanpa sadar. "Tunggu dulu, lo ngomong soal asmara. Itu tandanya tertuju ke Dona. Dan itu tandanya juga, lo nggak marah sama sekali dengan tindakan Dona yang berujung kita malu?"


Bukannya menjawab, Hiro hanya tersenyum santai lalu mengucapkan, "Terima kasih ya, lo lo pada uda boleh pergi. Bye bye..."


"Kampret lo, habis manis sepah di buang," protes Riko memerengut.


"Kita mau naik ke apartemen lo. Nginep sambil ngobrol ngobrol tentang perkuliahan." Viko memaksa.


Namun Hiro dengan cepat menolaknya secara halus. "Soal itu, besok kita bicarakan. Di kamar ada Papa dan Mama juga Dona," dusta Hiro dengan tampang yang sangat meyakinkan.


Viko dan Riko auto mengalah mendengar nama orang tua Hiro. Pergi dengan rasa penasaran masing-masing tentang mainan jelek yang sudah di bawa masuk ke dalam lift oleh Hiro. Mau buat apa kira kira?


Sampai di dalam unit, Hiro menaruh satu mainan tikus di bawa sofa panjang yang berada di depan televisi. Sejurus mengendap endap di depan kamar Dona. Ceklek... Alhamdulilah, tidak terkunci. Intip dulu di celah pintu yang sedikit ia buka.


Di dalam kamar yang pencahayaannya sedikit redup, Dona terlihat mainan hape dengan posisi miring di balik selimut. Bagus, Dona belum tidur.


Sebelum ketahuan, Hiro dengan cepat menaruh mainan tikus lainnya itu ke lantai. Dengan remot di tangannya, hewan yang mirip aslinya tersebut berjalan masuk sesuai keinginan Hiro yang mengendalikannya.

__ADS_1


Cara itu ia lakukan agar Dona meninggalkan kamar pribadinya, pergi ke kamarnya untuk tidur bersama. Sedikit licik nan iseng sih, tapi ya bagaimana lagi. Ia kan cuma berusaha mendekatkan diri dengan Dona sesuai caranya sendiri. Mau diminta langsung seperti 'ayo, tidur bersama.' Pasti Dona akan menolak karena merasa dirinya ingin balas dendam semata soal Fourged yang sudah hancur.


Suasana masih hening karena Dona memang belum menyadari hewan mainan yang berangsur angsur mendekati kasur.


Di balik persembunyiannya, Hiro mengembangkan senyuman jahil nya sembari menekan sebuah tombol di tangannya yang membuat mainan tikus itu berdecit suara khas seperti aslinya.


Menyadari hal itu, Dona terlihat menggerakkan batang leher nya, kiri dan kanan. "Itu suara apa tadi? Nggak mungkin ada tikus kan?" gumamnya yang tidak di dengar Hiro karena posisi mereka memang sedikit berjarak. Merasa tidak ada suara lagi, Dona mengira itu hanya perasaan nya saja.


Kembali beraksi lebih jahil, Hiro sengaja menabrakkan mainannya ke kaki nakas. Hal itu membuat perhatian Dona tertuju ke lantai.


"Aaarggh... Ada tikus..." Dona menjerit histeris karena hewan itu memang paling ia takuti.


Cit... Cit..


Tikus itu kembali bersuara membuat Dona merasa jijik dan geli. Gadis itu sudah berdiri tegang di atas kasur. "Husst... Husst..." sembari mengusir tikus laknat yang malah tidak mau pergi pergi.


Hiro menahan mati matian tawanya melihat Dona mengusir mainannya dengan cara dilempari bantal, bar bar.


"Alamaaak, kok lo malah muter muter doang di situ sih? Husssttttttt... Pergi nggak loh, atau gue gorok!!!" ancam Dona dengan suara ketakutan.


"Gorok pakai apa? Megang aja lo nggak berani," batin Hiro nambah jahil dengan cara mata tikus ia nyalakan layaknya memerah di dalam cahaya yang redup. Hal itu membuat Dona kian jingkrak jingkrak ketakutan di atas kasur empuk sampai membal membal bak mainan trampolin.


"Aaarggh..." Dona semakin dibuat gila oleh keberadaan tikus yang malah berangsur naik ke bantal, bak prajurit sedang menantangnya untuk bertarung.


Karena posisi bantal yang numpuk numpuk berantakan, Hiro bisa membuat tikus mainannya memanjat naik ke kasur. Hal itu membuat Dona segera loncat ke bawah dengan suara menggelegar memanggil, "HIROOOO..."


Sang pemilik nama, segera pergi dari ambang pintu karena Dona pasti akan keluar dari sana.


Cepat cepat Hiro melempar topinya asal asalan lalu mengacak acak rambutnya agar terlihat berantakan seperti khas bangun tidur. Saat ini, Dona itu sudah mengetuk etuk tak sabaran daun pintu kamarnya.


Ceklek...


"Apa sih, Don? Ganggu tidur gue tau nggak!"


"Di kamar gue ada tikus setan. Matanya menyala dan nggak ada takut-takut nya gue usirin padahal uda gue ancam juga mau gue gorok tapi malah naik ke kasur gue. Tolong usirin dong, Hir.." pinta Dona dengan wajah masih panik.


"Lo mimpi kali ah. Masa ada tikus setan? Meski itu tikus benaran, nggak mungkin juga bisa masuk ke apartemen. Kebersihan gedung ini kan uda terjamin." Hiro berpura-pura tidak percaya.


"Gue nggak bohong, Hirooo. Ayo usirin..." Dona sampai merengek dengan cara menarik paksa pergelangan tangan Hiro. Sang Empu kulit, tersenyum lebar di belakang sana dengan bergerak sok sokan enggan melangkah.


Di depan pintu kamarnya, Dona berhenti lalu berbalik. Hiro segera mengubah mimik wajahnya agar tidak dicurigai. "Ayo masuk, periksa sana. Usir atau jika perlu tangkap aja biar besok jadi bukti ke pengelola gedung. Mereka harus bekerja lebih baik."


"Oke, gue cek ya."


Setelahnya, Hiro masuk ke dalam kamar dengan berpura pura kaget akan keadaan kamar Dona yang terkena badai.


"Tadi di atas kasur. Coba lo cek di bawah selimut," perintah Dona yang berada di tengah-tengah gawang pintu. Ia ogah ogahan melangkah lebih masuk lagi. Takut tikusnya malah berlari ke kakinya.


"Gue pastiin lo itu cuma mimpi __Aaarggh, ada tikus benaran ..." Hiro menjerit akting. Dan jeritan itu tertular spontan ke Dona.


Hiro yang berpura pura ketakutan, terpaksa berlari ke arah Dona yang mematung tegang di pintu. Mata istrinya ini tertutup rapat karena takut, kasihan sih. Tapi biarkan, demi usahanya.


"Dona, tikusnya di dekat kaki lo," dusta Hiro membuat Dona loncat loncat dengan mata tidak berani ia buka.


"Aaarggh..." Hiro menjerit lagi tapi bibirnya tersenyum geli.


"Aaarggh..." Otomatis Dona ikut berteriak.

__ADS_1


Dona sampai tidak sadar sudah memeluk Hiro begitu erat dengan mulut sedia kalanya histeris. Kuping Hiro sampai berdengung tapi tak masalah, Dona kini ia peluk peluk gemas dengan senyum merekah penuh kemenangan.


"Hiro, tikusnya masih ada nggak?" tanya Dona pelan. Karena lubang hidungnya terganggu dengan aroma maskulin parfum Hiro, ia jadi sadar dengan posisi tanpa jarak itu. Tapi, ia yang panik dan cemas masih ada tikus, Dona enggan untuk bergerak barang sedikit pun. Bahkan kakinya itupun berada di atas punggung kaki lebar Hiro.


"Uda nggak ada."


"Hufff..." nafas lega Dona sampai terdengar. Ia pun akhirnya menjauh dari Hiro dengan wajah memerah malu.


"Tapi, tikusnya masuk lagi ke kamar lo. Lo sebaiknya tidur di kamar gue aja." Hiro melancarkan aksi keduanya.


"Ka-kamar lo?" Dona tidak salah dengar kan?


" Yaak, terserah lo aja sih." Hiro yang tidak mau dicurigai, memilih untuk tidak memaksa. Ia bahkan berlalu dari hadapan Dona. "Kalau tikusnya ada lagi, lo boleh masuk ke kamar gue. Nggak di kunci kok," imbuh Hiro sebelum ia menghilang dari balik pintu kamarnya.


Dengan mulut melongo, Dona menatap kamar nya lalu tertuju ke kamar milik Hiro. "Nggak, nggak! Gue lebih baik tidur di sofa," kata Dona yang di dengar oleh Hiro karena pria itu sengaja menempelkan telinganya di daun pintu.


"Hehehe... Di kolong sofa juga ada tikus lebih besar..." Hiro terkekeh geli. Ia kembali berbuat jahil dengan remot sudah berada di tangan.


Merasa keberadaan Dona tidak lagi di sekitar kamar, Hiro segera membukanya pelan pelan sekali. Betul, Dona pasti sudah berada di ruangan tv. Karena ada tembok penghalang, Hiro harus keluar dari kamarnya dan mengintip ke ruangan sebelah.


Di sana, Dona lagi duduk termenung dengan pandangan kosong ke layar tv yang bahkan tidak menyala.


"Tikusnya kemari nggak ya?" monolognya cemas sembari memutar mata untuk memindai keadaan lantai sekitarnya.


Tidak mau buang buang waktu lagi, Hiro kembali beraksi jahil. Tikus yang memang lebih awal di taruhnya di kolong sofa itu, perlahan keluar tepat berhenti di selah - selah kaki Dona yang belum di sadari wanita itu.


"Bagaimana reaksi Dona kalau kulitnya di sentuh bulu buatan itu." Hiro sengaja menggerakkan sedikit mainannya, membuat ekor tikus tersebut menggelitik kaki Dona. Rekleks Dona bergerak brutal. Ia sampai tidak sadar telah melangkahi punggung sofa dengan teriakan membahana memanggil nama Hiro.


Lagi, Hiro buru buru masuk ke kemar. Dan tanpa berpikir lama, ia membanting tubuhnya naik ke kasur nyamannya.


Seperkian detik kemudian, Dona pun tiba membuka kasar pintu dan tak lupa ia tutup rapat rapat. Hiro berpura-pura tidak mendengar kegaduhan parah yang dibuat Dona.


Sampai sebuah tubuh mendidihi punggungnya karena posisi tidur bohongnya itu memang tertelungkup.


"Donaaa, sakit."


Bodo amat. Dona tidak peduli. Ia melangkahi tubuh Hiro dengan cara merangkak. Mulutnya yang panik menjelaskan akan adanya tikus laknat itu.


Dalam hati, Hiro benar benar tertawa ngakak. Tapi syukur ia masih bisa menahan dirinya.


"Gue juga bilang apa, lo tidur di sini aja. Pasti di sini aman deh." Hiro menepuk nepuk bantal di sisinya.


Dona menegang. Tadi tikus yang membuat nya jantungan, sekarang Hiro juga berhasil membuat degup jantungnya berdentam hebat. Sialan!


"Lo tidur di bawa." Kaki mulus Dona terulur ingin menendang Hiro. Tapi, kali ini ia gagal membuat bokong Hiro menyium lantai karena kakinya di cekal kuat.


" Gue mah ogah tidur di bawa, takut tikusnya masuk ke kamar. Biar sama sama aman, lo dan gue tidur berdua di atas kasur. Tenang aja, gue nggak bakal macam macam kecuali lo mancing mancing hormon laki gue." Mata Hiro sebenarnya silau dengan paha Dona yang hanya menggunakan hot pants. Kalau dulu ia tidak tergoda meski pernah melihat tubuh Dona secara tidak sengaja yang hanya mengenakan dalam** saja, kali ini lain cerita lagi, karena sudah menggunakan hati adik Hiro jadi berkedut beraksi di bawah sana. Alhamdulilah, gue normal, batinnya kemudian.


"Benar ya. Awas kalau lo ngingkar janji, gue suruh papa buat nyunat lo sampai habis." Dona membuat pergerakan menebas jari telunjuk nya. Hiro yang paham maksud ancaman Dona, reflek meringis dengan tangan spontan memegang yang ada di bawa.


Dona melototinnya, tapi ia malah tersenyum lebar di depan wajah Dona.


" Lo mau gue cium sebagai pengantar tidur nggak?" goda Hiro genit matanya juga berkedip kedip lucu di balik ruangan yang pencahayaannya cuma pakai lampu tidur yang berkelap kelip di atas langit langit kamarnya.


"Lo__"


"Iya, iya, gue nggak akan ngegoda lagi kok. Selamat malam." Cup... Hanya katanya, tapi Hiro mencuri ciuman pipi. Lalu segera bersembunyi di balik selimut dengan hanya punggungnya yang ia berikan ke Dona.

__ADS_1


Sementara Dona yang di cium, mulutnya melongo dengan tangan kini meraba permukaan detak kehidupannya. Hiro ini membuatnya hampir jantungan.


Satu, dua, tiga. Hiro berhitung dalam hati, ia berpikir Dona akan mendendang bokongnya ke lantai. Tapi, kok aman sentosa? Fixed, Dona masih punya rasa padanya, buktinya Dona hanya terpaku tanpa mengomel. Okelah kalau kenyataannya seperti itu, ia akan terus berjuang mendapatkan hati Dona sampai gadis itu tidak gengsi lagi membuang keraguan hatinya, meski dengan cara sedikit jahil, modus dan gila.


__ADS_2