Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 45# Super Hiro yang Gagal


__ADS_3

"Lo gilanya kian menjadi jadi sih, Hiro. Kemarin kita di suruh beli mainan tikus - tikusan, sekarang lo nyuruh kita kita jadi penjahat bohongan demi lo bisa jadi super hero bagi Dona. Nggak sekalian aja lo nyuruh kita nikahin Dona juga." Viko mengomel menyembur Hiro yang bucin nya itu rada rada gila menurutnya.


Lain halnya Riko yang malah terkekeh kekeh geli melihat kebucinan Hiro yang menurutnya wajar wajarr saja dalam cinta. Kan nama tengah cinta itu gila, bukan hanya buta doang.


"Kalau Viko nggak mau, biar gue aja. Tenang, meski gue sempat suka dengan istri lo tapi tetap gue sahabat lo yang akan mendukung kebahagiaan lo."


Alhamdullilah ada juga yang paham tentang dirinya. Hiro setengah terharu dan selebihnya mengkel juga mendengar pernyataan Riko yang terang terangan mengatakan suka pada Dona.


Mendengar dukungan Riko, Viko dengan keras menendang tulang kering Riko di bawa meja sana. Saat ini, mereka memang berada di cafe Intan yang sama dengan Dona kunjungi. Bedanya, Dona berada di ruangan VIP karena ibu Suci memang sedari awal meeting dengan seseorang sebelum bertemu dengan Dona.


"Ihh..., sakit Bego," umpat Riko sembari mengelus betisnya yang ngilu di bawa sana.


"Lagian lo sama saja gilanya dengan Hiro. Kalian nggak mikir ya, Dona lah orang yang menghancurkan karir kita. Tapi lo lo pada masih care dengannya." Viko terang terangan memamerkan rasa tidak sukanya ke Dona meski di depan Hiro yang notabenenya adalah suami Dona. Pikirnya, agar otak butek teman-temannya pada jernih.


"Lo kalau nggak ada niat bantu gue, ya uda, nggak apa - apa. Tapi jangan coba sekali kali lagi jelekin Dona di depan mata dan kuping gue. Jika ada yang di salahkan tentang nama baik kita yang tercoreng, maka itu adalah Liana dan kita semua juga termasuk! Gue harap lo nggak lupa saat Dona mengamuk memberi tahukan kita tentang kelakuan Liana. Adakah yang percaya di antara kita? Nggak ada! so, pikir pakai otak lo yang hanya memikirkan diri sendiri sebelum menyalakan istri gue. Dona adalah sesungguhnya korban dari Fourged. Itulah kenyataannya. Paham!"


Wajah Hiro memerah menahan marah luar biasa yang tidak terima istrinya dijelek-jelekin tepat di depan mukanya pula. Sebagai pria yang baru saja memahami arti seorang suami dari buku yang ia baca, maka wajib dirinya melindungi sosok wanita halal baginya.


Syukur - syukur Hiro tau tempat yang kini berada di antara keramaian cafe. Jadi tangannya yang terkepal kuat tidak jatuh ke mulut pedas Viko.


Menyadari kesalahannya yang langsung terbuka otaknya dari penjelasan Hiro jika Dona adalah sejatinya korban yang membela haknya, Viko akhirnya memberanikan diri meminta maaf dan mengakui kesalahanya.


Tapi, Hiro masih mengabaikan tangan Viko yang terulur.


"Ayolah, Bro. Kita adalah sahabat dari SMP, masa harus hancur begitu saja. Bahkan, luar dalam kita sudah saling mengenal sifat baik buruk masing masing." Riko mencoba mencairkan suasana hati buruk Hiro yang nampak diam saja, enggan memaafkan Viko.

__ADS_1


"Jadi ngga kita menjalankan misinya? nanti Dona keburu keluar dari ruang VIP loh." Usaha Riko kali ini berhasil membuat Hiro mengesampingkan kekesalannya.


"Jadilah. Dan untuk lo, Vik, gue mau maafin asalkan jangan ulangin lagi kesalahan lo." Hiro meninju pelan lengan Viko.


Lantas, Viko tersenyum lega dan setuju juga membantu rencana Hiro yang nampak konyol tapi ya sudahlah.


"Tapi ingat ya, lo lo pada cuma godain saja tanpa harus menyentuh. Nanti gue datang nolong Dona dari penyamaran preman kalian." Hiro memberi instruksi. "Dan harus berhati hati, jangan sampai penyamaran kalian ketahuan yang lebih utamanya."


Biar sang sahabat senang, maka di iya iya saja dari pada ngambek. Viko dan Riko akan memaklumi saja cara konyol nan basi Hiro ini yang ingin jadi ala ala pahlawan untuk Dona.


*****


Selesai acara pertemuannya dengan ibu Suci, Dona kini meninggalkan cafe Intan. Dona yang lebih suka naik bus daripada taksi yang harganya relatif mahal, memutuskan berjalan ke arah halte. Dan kebetulan, predeksi Hiro masuk hitungan rencana.


Melihat situasi terbilang kondusif, Viko dan Riko yang sudah menyamar seapik mungkin menggunakan rambut palsu serta kumis palsu juga dihiasi bewok hasil coret coret, segera melangsungkan tugasnya.


Dona mendongak menatap wajah wajah setengah sangar di depannya. Dibilang preman, tapi kok tampangnya meragukan.


"Sendiri aja nih?" imbuh Riko sengaja tersenyum nakal ke Dona diiringi tatapan mata yang nampak ingin memangsa.


Dona mulai waspada, ia kira tadi dua pria ini sekadar ingin menggoda biasa di tengah waktu menunggu bus. Tapi kian kurang ajar saja. Lebih lebih ia sudah berada di antara dua preman ini membuat Dona segera beranjak dari kursi halte, ingin pergi tanpa menimbulkan kegaduhan.


Akan tetapi, salah satu preman itu memblokir jalannya.


"Mau kemana, Sayang? Ayo ikut abang ke rumah kosong sana." Ting ting ting, Viko berkedip kedip genit.

__ADS_1


Akting kedua nya sangat sempurna. Tapi kok, kenapa ya muka Dona tidak ada tampang tampang takutnya? Viko dan Riko jadi penasaran.


Ingin menguji ketenangan Dona, Viko yang sudah di wanti - wanti oleh Hiro bahwa haram hukumnya menyentuh seinci kulit Dona, sedikit ingin melanggar dengan cara mencekal pergelangan tangan Dona.


Tapi oh tapi, pergerakan perlawanan Dona sangat elegan dan cepat seperti angin yang berhembus, Dona berhasil membuat tangannya berbunyi kreeek akan pitingan kuat Dona dan sentuhan akhirnya, Dona yang sudah berada di belakang tubuhnya, berhasil menendang bokongnya. Wajah Viko masuk ke tong sampah halte dengan pemandangan bokong nungging nungging susah menarik kepala nya keluar. Apessss dah.


Riko dan Hiro di tempat berbeda, takjub dengan pertahanan Dona yang diam diam punya kemampuan bela diri.


"Maju lo," tantang Dona pada Riko sembari tangan itu melambai lambai ejek. Inilah saatnya ia memperagakan hasil latihannya selama ini di club muay thay. Kata Bang Iko mah, selain dapat tubuh ideal, plus nya bisa bela diri di saat saat genting seperti yang ia alami.


"Hehehe... Ampun, Cantik. Kita cuma di__" Hampir saja Riko keceplosan mengatakan yang sesungguhnya tentang perbuatan Hiro. Untung, keberadaan Hiro ia lihat yang baru datang menggunakan motor.


Cepat cepat Riko menarik bokong Viko yang masih terjebak kepala nya di tong sampah. Lalu kabur terbirit birit layaknya orang takut yang asli nya memang jiper dengan ketangkasan Dona yang hendak bertindak lagi ingin menghajar mereka.


Sial, Hiro nggak ngomong akan keahlian Dona, rutuk mereka dalam pelariannya.


"Huu... Dasar sampah masyarakat." Dona menepuk nepuk telapak tangan nya bak menghilangkan debu yang menempel. Sejurus menggosok gosok hidung nya, bangga. "Jurus kick gue padahal belum nyentuh burung burung lo pada. Tapi uda kabur aja. Dasar payah..."


"Lo kenapa sih?" Hiro pura pura tidak tahu yang baru sampai di sisi berdiri Dona. Padahal kenyataannya, ia ngilu tiba-tiba saat Dona mengatakan burung. Kan pernah tuh, Dona menendang adiknya yang sakitnya naudzubillah. Hufff... Ngeri.


"Nggak apa apa, tadi ada preman yang nggak sengaja kesandung. Eh, lo kok di sini?"


Hiro nyengir kuda. Gagal menjadi super hero kesiangan, lebih baik ia melulukan hati Dona dengan cara yang baik seperti memberi perhatian lebih layaknya saat ini yang katanya,"Gue mau jemput lo. Secara, kan lo istri tercinta gue."


Dona yang di gombali seperti itu, tidak kuasa menahan diri untuk tersenyum. Tapi mengingat ia harus jual mahal kata Olla, jadinya muka datar nya kembali terpatri.

__ADS_1


"Boleh deh lo jadi ojek gue, tapi jangan balik ke rumah ya. Antar gue ke club muay thai. Mau olahraga biar jadi kuat."


Ojek? Nggak apa-apa lah dianggap demikian dulu. Nanti di boncengan kan bisa modus modus mainin gas motor nya biar Dona memeluknya dari belakang.


__ADS_2