Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 47# Keraguan yang Hilang


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu dari waktu Hiro mengamuk di club muay thai tempat Dona berolahraga. Dan selama itu pula, Dona mendapat larangan keras dari Hiro untuk jangan lagi datang berlatih. Segala masalah yang terjadi waktu itu, Hiro limpahkan ke Olla dan Bang Iko untuk mengurus tiga trainer cabul tersebut.


"Dafaaa!" teriak Dona pada adik Hiro yang sedang asyik mendrible bola basket.


Wusshh...


Lemparan bola Dafa yang tertuju ke ring, meleset ke arah kucing Olla yang sedang numpang boker di halaman rumahnya gara gara kaget dengan teriakan hakiki Dona.


"Lo lihat abang lo, nggak?" tanya Dona sembari mendekati Dafa. Lima hari ini, Hiro jarang terlihat di rumah. Pergi siang, pulang malam. Entah sibuk apa? Dona tidak tahu dan tentunya ia dibuat penasaran. Gara gara Hiro sering menghilang pula, Dona jadi mulai kehilangan kepercayaannya kembali tentang kesungguhan Hiro padanya.


"Nggak!" jawab Dafa jutek. Gara gara kakak iparnya ini, bola yang ia lempar jadi tercemar eek kucing milik Olla. Bauuuu...


"Dasar kucing jelek... Sini nggak lo, gue eein balik!"


Dona hanya geleng geleng kepala diabaikan oleh Dafa. Adik iparnya itu malah sibuk nguber kucing Olla alih alih mempedulikannya. Sungguh, Dona melihat bayangan Hiro cilik dari sikap jutek Dafa. Memang dasarnya adik kakak ini cetakannya sama.


"Woi... Kucing gue mau lo apain? Sini, balikin."


Wah, runyam ini mah. Si Emaknya kucing yang sudah ditangkap Dafa datang merebut kucingnya. Biar tidak kena masalah, Dona memutuskan untuk diam mengamati saja. Mana tau perdebatan unfaedah Olla dan Dafa bisa meredemkan kebosanannya.


" Nah, kebetulan kak Olla ada di waktu yang TEPAT! Kucing kak Olla si belang itu noh, uda hamilin si mpus kesayangan Dafa. Pokoknya, Dafa nggak terima kucing Dafa hamilin belang di luar nikah. Itu nggak baik, Kak. Karena apa? karena kata guru ngaji Dafa, hamil tanpa ada suaminya itu haram hukumnya. Pokoknya, Kak Olla harus tanggung jawab nikahin mereka atau Dafa akan laporin si Belang ke warga untuk ngarak dia!"


Dona dan Olla saling pandang. Sejurus ngakak bersama mendengar omelan polos Dafa yang terdengar lucu alih alih menyebalkan.


" Ih, kok kalian malah ketawa? " Bibir Dafa sudah manyun manyun sebal. Wong lagi sewot dikira ngelawak." Apa yang lucu coba, hah?"


"Hahaha... Nggak ada ding..." Olla menghentikan tawanya lalu memasang wajah seriusnya biar Dafa tidak ngambek. "Nanti kak Olla cari penghulu ya, Daf, sama Kak Dona sekarang juga. Lo jangan khawatir, oke."


"Eeh..." kaget Dona yang main di tarik tangannya oleh Olla untuk pergi.


"Benar ya, kak Olla. Dafa tungguin!" teriak Dafa.


Olla yang berjalan ke arah motornya hanya memberi isyarat 'oke' sembari terus menarik Dona ikut bersamanya.

__ADS_1


"La, lo mau ajak gue kemana? Nggak mungkin ke KUA untuk daftarin pernikahan kucing lo pada kan?" Dona malas diribetkan hal yang sangat konyol.


"BUKAN!"


"Yaaak, biasa aja dong. Ludah lo ampe nyiprat ke pipi gue!"


Olla nyengir. "Ada yang mau gue perlihatkan ke lo. Ini tentang Hiro__ Husst, jangan banyak tanya, nanti lo juga akan lihat." Olla sudah stay bersama motornya. "Ayo naik!" titah nya pada Dona yang nampak wajahnya itu ingin bertanya penasaran A sampai Z yang Olla sangat malas untuk didengarnya.


"Ih, lelet amat sih. Buruan naik!"


"Iya, iya... Bawel!" Dona akhirnya bergegas naik ke boncengan setelah mendapat bentakan Olla.


Di sepanjang perjalanan, Dona terus menerka nerka apa yang Olla ingin perlihatkan? Sampai - sampai Olla rela relaan menyelipkan si matic ke jalanan yang padat merayat macet di dekat lampu merah jalanan kota yang jauh dari area rumah mereka.


"Noh, Don. Di seberang jalan sana, lo lihat ada tiga orang pengamen kagak?"


Dona mencoba menajamkan penglihatannya ke arah telunjuk Olla. Di sana, memang ada tiga orang pengamen yang dibalut hoodie hitam bertudung yang sangat sulit di lihat wajahnya. Tapi, rasa rasanya Dona mengenali model baju hitam salah satu tiga orang sana. Mirip... "Itu Hiro kan, La?" tanya Dona demi meyakinkan tebakannya.


"Iya, Don. Ini yang mau gue beri tau ke lo. Hiro, Viko dan Riko jadi pengamen. Kemarin gue nggak sengaja lihat mereka di sekitaran lampu merah itu."


" La, ikutin, La. Cepat, La. Jangan sampai kehilangan jejak." Dona menepuk bahu Olla sangat keras.


"Sakit, Donaaa..."


"Duh, macet lagi... Gue turun aja deh. Eeh, gue pinjam topi sama jaket lo. Buruaaann...." Dona tidak peduli dengan ringisan Olla. Ia bergegas turun dari motor setelah mendapat barang barang Olla untuk penyamarannya nanti.


"Nanti sharloc ya. Gue akan jemput lo!" teriak Olla yang tak dijawab Dona karena buru buru mengikuti gerombolan Hiro yang memang sudah nyaris tidak kelihatan keberadaannya.


Usaha Dona yang berlarian menelusuri jembatan khusus penyeberangan akhirnya tidak sia sia. Ia menemukan Hiro dan dua sahabatnya nongkrong di sebuah warung nasi kaki lima.


Karena Dona penasaran dengan percakapan Hiro, ia nekat berjalan masuk di tengah-tengah langkah pengunjung baru di sampingnya ini. Istimewanya, ruangan buat makan si ibu cukup nyaman dan sedikit luas sehingga Dona bisa leluasa mengambil duduk tidak jauh dari bangku panjang Hiro.


Sedikit menoleh, Dona melihat Riko sedang menghitung hasil ngamen mereka. Hiro dan Viko menikmati rakus rakus es teh manisnya selepas berpanas panasan.

__ADS_1


"Nih, Hir. Hasil ngamen kita lumayan banyak hari ini. Mudah mudahan kado buat Dona tercukupi."


Hah? Kado buat dirinya?


Dona kaget mendengar hal tersebut dari mulut Riko. Ingin lebih dalam mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan Hiro, ia memutuskan tetap merapatkan jaket dan topi yang ia rampas dari Olla tadi.


"Lo kenapa mau capek capek ngamen sih, Hir? Kan, lo ada duit buat ngajak Dona dinner di tempat impiannya." Kali ini, Viko yang bertanya.


"Dinner di Lounge In the Sky adalah impian Dona, jadi gue mau wujudin impian kecil dia dengan hasil keringat gue. Bukan dari uang Papa mama gue."


Ya Tuhan, Dona sangat terharu mendengarnya. Satu tahun lalu saat ia hobi menggoda Hiro, dirinya memang bermimpi dinner ekstrim hanya berdua dengan Hiro di ketinggian sekitaran lima puluh meter dari permukaan tanah dan tempatnya itu memang di Lounge In the Sky. Segala sesuatu godaan dan keinginannya, diam diam ternyata Hiro menampungnya? Ia kira, Hiro sangat cuek padanya.


"Dan semoga, segala ketulusan dan usaha gue naklukin hatinya nggak diragukan lagi oleh Dona."


"Lo benar-benar sayang sama Dona ya, Hir?"


Jantung Dona berdetak tidak sabar mendengar jawaban Hiro yang ditanyakan oleh Riko.


"Eum, Sayang banget! Kesalahan telah menyadarkan hati gue yang sempat mengabaikan dia. Dan jikalau pun usaha gue yang terakhir ini nggak berhasil, gue akan coba ikhlas dan menerima jika Dona benar-benar sudah nggak mau buang buang waktunya untuk ngeberi gue kesempatan kedua. Dia pantas bahagia dengan keputusannya."


Jawaban Hiro tersebut berhasil melulu lantakkan hati keraguan Dona. Praduganya ternyata salah. Hiro bukan untuk balas dendam melainkan tulus padanya.


Sepertinya, cukup sudah dirinya jual mahal pada Hiro. Ia tidak mau menyesal di kemudian hari jika Hiro membuktikan dirinya akan mundur kalau ia menolak lagi.


"Eh, Bro. Gue nggak salah dapat Email kan? Lihat, dari institusi Seni yang Dona dapat beasiswa."


Saat Dona ingin pergi sebelum terciduk, ia tertahan akan suara girang Riko yang barusan mendapat email.


Alhamdulillah, itu artinya, Ibu Suci mengabulkan permohonannya.


" Iya, loh. Selamat ya__"


Ting...

__ADS_1


Hiro terjeda akan notif yang masuk dari hapenya. Sejurus, Viko pun mendapatkan hal yang sama membuat tiga sekawan itu bersorak bahagia karena mendapat undangan istimewa dari universitas yang mereka dambakan. Meski gagal keluar Negeri, Hiro tetap bersyukur karena bisa kuliah tanpa jauh jauh dari Dona.


Dona sendiri lebih memilih pergi, ia tidak ada niat menyampaikan jikalau undangan khusus itu awalnya berasal dari sedikit bantuannya. Bukan apa-apa, takutnya tiga sekawan itu ada yang tersinggung atau faktor lainnya. Toh, sejatinya membantu itu lebih baik dalam diam dari pada berkoar koar demi sebuah ucapan timbal balik.


__ADS_2