
Melihat kedatangan Dona memasuki kelas, Liana dan kedua sahabatnya saling lirik lirikan penuh arti. Namun mereka tidak ada yang bergeming, satu sama lain hanya duduk anteng seperti tidak ada hal yang terencana.
"Lapar gue, La," ujar Dona ke Olla sembari duduk lemas.
"Lo datang datang ngeluh. Terus itu wajah, ngapa lesu sekali?" Dengan cemas, Olla membolak balik pipi Dona untuk ia lihat dalam dalam. "Lo sakit?"
"Ish," Dona menepis. "Dibilang lapar juga, ah."
"Yak, makan atuh. Masa lapar malah diam diam aja. Ayo ke kantin sebelum bel keagunan berbunyi."
Olla yang berniat menarik tangan Dona, terjeda mendengar pernyataan Dona, "Gue diet, La." Tidak biasa sarapan buah, membuat cacing cacingnya sudah berdemo mendeklarasikan haknya di dalam sana.
"Diet?" Olla bertanya dengan tersirat senyum tipis di wajah tirusnya. Dona mengangguk dengan kepala itu tertumpu di atas meja.
"Gitu dong. Gue setuju lo diet. Biar orang-orang yang kerap ngebully lo gendut itu, pada terkesima nantinya saat lihat lo kurus," tutur se semangat Olla membayangkan masa indah bagi Dona itu akan tiba.
"Tapi usus usus melar gue pada melilit nih, La. Bagaimana dong?"
Riko yang sejak tadi mencuri pendengaran, seketika mengeluarkan roti dalam tasnya. "Ini buat lo." Ia sudah berdiri di sisi meja Dona sembari menyodorkan sarapan miliknya itu.
Belum juga Dona meraihnya, tiba-tiba tangan Hiro yang baru datang itu main menyerobotnya. "Dona lagi diet, uda sarapan juga. Jadi ini lebih cocok bagi gue." Tanpa dosa, Hiro memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya begitu santai. Tak peduli dengan wajah wajah memerengut Riko dan Dona. Hiro malah beranjak duduk ke kursinya dengan roti masih ia gigit tanpa di pegangnya.
Ditempatnya, Liana hanya menjadi penonton manis. Ia masih berbaik hati melihat nafas tenang Dona. Tapi lihat saja nanti, ia akan membuat kejutan istimewa untuk Dona.
"Selamat pagi, anak - anak!"
__ADS_1
Kedatangan Pak Jamal seketika membungkam suara suara para siswa yang tadinya bising kerandoman. Riko yang hendak protes ke Hiro, tidak jadi dan lebih memilih menelan suaranya.
"Tinggal menghitung hari, kalian akan menghadapi ujian. Oleh sebab itu, bapak akan mengetes kemampuan kalian hari ini dengan ulangan dadakan."
Uuuuhhh...
Sorak keluh para siswa menggema. Tapi Pak Jamal dengan tega main membagikan lembaran demi lembaran soal untuk dioper siswa ke arah belakang.
"Dilarang keras menyontek. Tanamkan kejujuran dalam diri kalian supaya nanti bangsa negara kita sedikit banyaknya terbebas dari para calon koruptor. Paham anak anak?" Pak Jamal berpidato sembari berkeliling mengumpulkan satu persatu handphone para murid untuk dimasukkan ke kotak. Selama latihan ujian, tidak ada yang boleh membuka diam diam rumus melalui internet.
" Paham, Pak!"
Kemudian, hening.
Sesekali Dona tersenyum tipis manakala ada beberapa soal, sudah ia pahami akan ajaran Hiro waktu itu. Tapi tidak semuanya, Dona masih sedikit kesusahan mengerjakannya.
"Karena masih ada jam pelajaran Bapak, saat ini juga Bapak akan memeriksa beberapa lembaran jawaban dari kalian." Pak Jamal langsung mencari milik Dona yang cap sendikit punya masalah dengan pelajaran matematika.
Tapi tidak ia sangkah, muridnya itu ada kemujuan. Beberapa soal memang ada yang kurang valid. Tapi tidak separah dulu.
" Good, Dona. Pertahankan semangat belajar mu." Pak Jamal melirik Dona yang langsung tersenyum lega kepadanya. Lalu sekilas melirik Hiro. Melalui pak Fauzi, Pak Jamal lah yang meminta agar Dona dibimbing oleh Hiro yang berprestasi cerdas itu.
"Dan kau, Liana. Tumben-tumbenan nilai mu buruk!" cela Pak Jamal.
Liana menggertakkan giginya kesal. Sialan, dirinya dipermalukan di atas penyanjungan Dona.
__ADS_1
Karena hape sudah dibagikan lagi, Liana diam diam mengirim chat gambar ke Dona dengan caption, "Kalau ini viral, bagaimana ya pendapat semua siswa?" Di ujung chat itu ada emoji mengejek Dona.
Di sisi Dona, Liana melihat gadis gendut itu membuka hapenya dengan terang terangan karena jam pelajaran Pak Jamal sudah selesai.
Saking shocknya, Dona tanpa sengaja menjatuhkan hapenya ke lantai. Tangannya bergetar sendiri mengetahui foto yang dikirim Liana adalah potret pernikahannya.
"Lo kenapa?" Olla bertanya cemas menyadari muka Dona tiba tiba memucat.
Dona sekadar menggeleng seperti orang linglung yang bodoh. Lalu bergegas menunduk meraih hapenya. Takut takut ia melirik ke arah Liana yang menyeringai ejek padanya sembari tangan lentik itu membuat pergerakan menebas lehernya. Matilah dirinya.
"Tapi muka lo pucat sekali? Kayak ibu ibu yang akan ditagih cicilan panci tapi kagak punya duit, tau nggak. Kalau lo memang nggak kuat diet, lo makan dulu deh ke kantin. Gue ngeri lo pingsan nanti, Don. Siapa coba yang akan ngangkat tubuh berat lo?" cerewet Olla yang terkesan perhatian meski intonasi suaranya bertolak belakang bin tidak ada lembut lembutnya.
" Nggak, La. Gue uda nggak lapar kok. Gue hanya __" Dona terjeda karena dentingan chat masuk lagi padahal tadinya ia ingin jujur pada Olla akan Liana yang sudah mengetahui stasusnya. Namun, setelah membaca pesan dari Liana lagi, 'Jangan coba coba ngadu ke Olla apalagi ke Hiro, kalau lo nggak mau foto itu tersebar. Sebagai gantinya, kalau lo mau foto ini gue hapus, kita ketemuan di belakang gedung sekolah.'
"Gue nggak mau nurut, lo mau apa?" Dona menulis kalimat tantangan tersebut sebenarnya dengan tangan bergetar. Ia sedikit tahu sifat buruk Liana yang nekatan orangnya. Oleh sebab itu, ia harus mengetahui terlebih dulu konsekuensi yang akan ia terima jika menolak mengikuti perintah Liana.
'Mau apa, tanya lo? Hehehe... Di sini, bukan hanya lo dan Hiro yang kehilangan masa depan dengan dinyatakan akan dikeluarkan dari sekolah. Tapiiii... Pak Fauzi, selaku Papa Hiro dan kepala sekolah kita yang akan paling malu di depan umum karena sudah melanggar peraturan sekolah. Papa mertua lo akan didepak juga oleh yayasan. "
Huuwaah ... Dona ingin mencak-mencak kejer saat itu juga. Tapi ia tahan tahan demi harga diri.
Tidak! Papa mertua kesayangannya tidak boleh kena getah dari pernikahan bodohnya. Kalau pun ada yang menderita di sini, maka hanya dirinyalah yang pantas menanggung, karena di awal kesalahpahaman sehingga terjadinya pernikahan, dirinyalah yang terlalu menikmati dengan alasan akan mudah mendapat cinta Hiro.
'Jangan ikut campurkan Pak Fauzi. Ini urusan kita berdua,' balas Dona.
'Fine! Gue anggap lo setuju nemuin gue di belakang sekolah. Masalah foto ini bocor nggak nya, itu kembali lagi pada sikap nurut lo sama gue.'
__ADS_1
Dona tidak lagi membalas kalimat penuh kemenangan Liana. Ia tahu, hari harinya akan mulai 'lebih' tidak tenang lagi. Biarlah, hari ini menurut dulu kemauan Liana sembari mencari cela atau jalan keluarnya nanti.