
Sudah satu pekan berlalu, tapi sekali pun, Hiro tidak mendapat kesempatan banyak untuk mendekati Dona karena wanita itu selalu menghindarinya.
Belakangan ini, Dona jarang sekali terlihat. Pulang sekolah, selalu pergi bersama Olla. Pernah ia buntuti, tapi Olla lagi lagi berhasil mengelak dari kejaran motornya. Bertanya pada orang tua Dona? mereka seperti sengaja menutupi aktivitas Dona padanya.
Apa sih yang membuat Dona sibuk sehabis pulang sekolah? Mana pulangnya kadang jam sepuluh malam lagi. Ah, kepo maksimalkan Hiro jadinya.
Pokoknya di halaman rumahnya dengan bola basket di tangan, Hiro akan menunggu Dona pulang.
Biar tidak bosan, ia kini bermain basket di jam hampir menunjukkan angka sepuluh malam. Mengabaikan angin malam menerpa keringat pori porinya.
***
"Aaarggh..."
Olla dan Bang Iko, sampai ternyengit kaget mendengar teriakan heboh Dona yang kini berada di atas timbangan. Mereka semua baru selesai latihan. Para Nak Muay, sudah pada bubar kecuali tiga orang tersebut.
"Lo ngapa, Don? Sepatu loh ada pakunya? Atau __"
"Shut up, Olla. Lo lihat deh, sini..." Dona melambai lambai heboh dengan wajah nampak resah.
Bukan hanya Olla yang mendekat, Bang Iko pun demikian. Penasaran, apakah yang ingin di tunjukkan oleh Dona.
"Dari delapan puluh kilo, kok timbangan gue malah naik hampir dua kali lipat sih? Gilaaa..." Dona menunujuk angka yang berada di bawah kakinya dengan sangat prustasi. "Hiks..." Ia sampai terisak isak sedih meski belum ada air matanya. "Padahal kan, gue itu diet ketat, La. Lo tau sendiri kan. Terus, Bang Iko juga uda berusaha maksimal bantuin gue olahraga. Kok malah naik? Huawaa..."
Bang Iko dan Olla yang ingin bersuara menjelaskan sesuatu, terus di jeda oleh Dona yang cerewet.
"Bagaimana dong, La. Gue harus bagaimana lagi? Masa iya gue puasa tiga puluh hari full, bukannya kurus, gue pasti akan berpindah alam."
Lagi, Olla dan Bang Iko harus menelan perkataannya yang sudah hampir mencuat.
"Ya Tuhaaan... Saya itu baik hati loh, saya mau berbagi lemak ke Olla yang ramping, biar bokongnya sedikit montok. Tuhaaan, kabulkan lah..."
"Pfufuu..." Terdengar tawa tertahan Bang Iko melihat wajah asem Olla yang barusan dikatain tepos oleh Dona secara tidak langsung dalam doanya.
"Lo ya, mulut kayaknya minta di lakban deh." Dona yang ingin berdoa prustasi lagi, berujung dibekap mulutnya oleh Olla secara brutal.
"Ummm..."
Bodo amat dengan Dona yang memberontak.
"Lo diam aja sih, Bang. Cepat ambilin timbangan baru. Timbangan ini kan yang rusak itu?" Olla mentitah kesal abang sepupunya yang cuma nonton sembari terkekeh. Memang ada yang lucu? Adanya, ini si Dona nyebelin parah.
__ADS_1
"Aww...! Lo kok gigit gue sih?"
"Tangan lo bau terasi, sumpah!" Dona bermimik mual. Ia tidak berbohong akan tuduhannya.
"Hehehe, kan habis pakai kos kaki. Jadinya tangan gue terkontaminasi." Olla nyengir bodoh. Sejurus, mencium tangannya yang memang ikut penasaran dengan perkataan Dona. "Hoekkk... Iya, gila. Bau banget, malah ditambah jigong lo deh, Don."
Lupakan hal jijik tersebut, Dona yang mendengar timbangan rusak barusan, segera menargetkan atensinya itu ke Bang Iko yang masih betah tersenyum senyum lucu sendiri.
"Bang, benar ini rusak?"
Bang Iko mengangguk cepat dengan gigi gigi putih itu masih dipamerkan.
Dona elus dada lega seketika. "Gue kira, bobot gue menjadi jadi aja, Bang. Selamat... Eh, belum ding. Gue mau cek beban gue menggunakan timbangan lain."
Selama diet dan olahraga ketat dalam beberapa hari ini, ia memang sengaja tidak menyentuh timbangan. Berhubungan ada perubahan celananya yang sedikit melonggar, Dona jadi tidak sabar ingin mengetahui berapa kilo lemaknya yang berhasil ia jadikan energi.
"Waaaah..." Dona sampai bertepuk tangan saking heboh dan senangnya. "La, berat gue turun sebelas kilo. Amazing kan. Gue senang bingiitz, Laaaa..."
Olla ikut tersenyum melihat kegirangan Dona. Sahabatnya ini tadinya berbobot 84 kilo dengan tinggi badan 160 cm. Berat ideal yang memiliki tinggi tersebut berkisaran 55 hingga 60 kilo. Oke, Dona masih terbilang gendut gendut aduhai yang sekarang berbobot 73 kilo.
"Apa gue bilang, gerakan muay thay itu sangat berpengaruh karena setiap sesinya melibatkan seluruh otot otot tubuh kita bekerja semua. Penjelasan gue benar kan, Bang Iko?"
Bang Iko yang ditanya Olla, mengangguk pelan. "Berhubung ini sudah malam, gue akan kawal motor kalian dari belakang, bahaya cewek cewek di jalan tanpa pengawasan seorang lelaki. Ayo pulang!" serunya mengingatkan anak remaja ini yang sepertinya lupa waktu.
***
Broomm...
Mendengar mesin motor lebih dari satu yang kini berhenti di luar pagar, Hiro yang sedia kalanya menderita digigit nyamuk menunggu kepulangan Dona, secepatnya membuka pintu gerbang. Ada cowok asing yang harus ia interogasi.
"Lo siapa?" tanya Hiro tanpa tedeng aling aling pada cowok yang berada di atas motor trail hitam itu.
Bang Iko menaikkan satu alisnya sembari menatap Dona dan Olla yang kini mendekat.
"Gue yang nanyain, bukan Dona dan Olla! Matanya tuh kemari," kata Hiro bersungut sungut galak. Posisinya merasa terancam karena ada predator lain yang mungkin saja berniat mendekati istrinya.
"Apaan sih, Hir. Uda kayak preman mau malak sewaan yang nunggak." Dona memberi plototan peringatan ke Hiro supaya tidak bersikap jutek pada trainernya.
"Bang, maafin ya. Dia memang orangnya jutek pakai banget. Dan terimakasih untuk waktunya malam ini. Bye..."
"Eeh, waktu apaan maksud lo, Ndut?" Hiro yang di cemooh jutek tepat di depan mukanya sendiri dan parahnya di dengar oleh orang asing, jadi meradang. Giliran mau protes, Dona main geret geret masuk ke rumaaaah, ahaaa... Si Dona menariknya tanpa sadar ke rumah mertua.
__ADS_1
Lah, kok malah berhenti di depan pintu yang sudah dibuka?
"Uda sono lo pulang ke rumah sendiri!" kata Dona mengusir tanpa hati, tanpa peduli dengan wajah Hiro yang tidak terima.
"Ohh, kagak bisa. Gue mau masuk..." Hiro ingin menerobos. Tapi Dona sigap menghadang di tengah - tengah gawang pintu. Mereka seperti anak kecil yang memperebutkan pintu.
"Hirooo! jadi orang jangan nyebelin kek! Sono lo pulang..." Dona tetap kekeuh mempertahankan pintu.
"Lo yang nyebelin! Bukan gue, buktinya lo uda berani di antar pulang oleh cowok lain. Hayo, siapa cowok itu, eummmm?" Hiro cemburu berat.
"Itu bukan urusan lo."
"Kata siapa, hah... Lo itu masih istri gue. Jangan durhaka lo."
Istri? Cih... Kemarin kemana aja!
Dona yang kesal, benar benar tak mengijinkan Hiro masuk, dengan tega hati menendang lutut kering Hiro. Hais... Salah sasaran, coek.
"Donaaaaa..." erang Hiro ngilu ngilu sakit sembari memegangi barang berharganya yang ada di tengah-tengah pahanya itu.
"Aduh ... aduh ... gue nggak sengaja, sumpah. Duh, ahhh ... Kok ... aduh." Dona salah tingkah sendiri karena tadi tangannya itu terulur reflek ingin menyentuh aset Hiro yang sempat ia lukai dengan tidak sengaja. Tentu saja ia kembali menarik tangannya yang gemeteran.
"Ini pecah, Don. Lo harus tanggung jawab!" tuntut Hiro masih sempat menyeringai iseng di tengah-tengah kemalangan nasib adiknya.
"Alamaaak, ta-tanggung jawab? Maksudnya, burung imut lo keseleo dan, dan..." Dona tergagap. Ia tidak bisa membayangkan tangannya yang suci harus mengoleskan obat ke adik Hiro.
"Maaaa, toloong Dona. Burung Hiro minta diberi balseeeemmm..." Dona yang panik, jadi berteriak konyol.
Hilda dan Amar yang sedang nanggung di kamar, berpura-pura tidak mendengar. Sayang, nanti sudah tak enak lagi kalau harus ditinggal.
"Don, gue mau pingsan nih. Don, tolongiiin..." Hiro yang tidak mau diusir, terpaksa memanipulatih keadaan dengan cara modus modus busuk. Adiknya yang tadi nyeri parah itu, sudah sedikit redah jadi ia bisa mengontrol pergerakannya yang berangsur angsur ingin jatuh ke lantai. Dalam hatinya, ia berharap Dona segera menangkap lajunya.
"Duh, lo jangan mati dong. Nanti gue dituntut kekerasan sama nyokap bokap lo."
Akhirnya, ia di papah Dona menuju anak tangga.
"Eh, harusnya gue anter lo ke rumah lo sendiri." Dona yang sudah sadar dari kepanikannya, ingin berbelok haluan.
Tapi, Hiro yang sudah di dalam rumah Dona dan enggan balik ke rumahnya sendiri, tentu saja kembali bermodus busuk dengan cara memberatkan beban tubuhnya sembari menutup matanya rapat rapat agar tidak dicurigai. Hampir saja Dona terhuyung karena tidak kuat. Namun berhasil, Dona tidak jadi membalik ke arah pintu utama.
" Ya Allah, lo dosanya pasti banyak banget dah. Beraaat sekali." nafas Dona engap berusaha berjalan terseok menbawa Hiro.
__ADS_1
Apa boleh buat, Dona yang merasa bersalah karena sudah melukai aset berharga seorang pria, mau tak mau membawa Hiro masuk ke kamar nya dengan rencana nya nanti, ia akan tidur di kamar si kembar Nora dan Nara.