Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 29# Curhat


__ADS_3

" Mama kira kamu lupa ingatan setelah membuat masalah!"


Hiro yang baru sampai ke rumah orangtuanya, langsung saja dapat semburan dari Tania. Ia hanya diam seribu bahasa dengan nafas terhela pelan.


"Dafa, selesai makan, kamu masuk kamar langsung, Mama dan Papa punya urusan penting dengan kakakmu yang harus dibicarakan." Tania terus mencerocos sembari sibuk menata makanan di jam malam.


Dafa mengangguk sembari berkata patuh, "Iya, Ma."


"Duduklah, kita makan bersama," ujar Pak Fauzi mempersilakan Hiro dengan lembut. Ia kasihan juga melihat anaknya yang nampak berantakan.


"Hiro mau mandi dulu, Pa. Boleh?" tolak Hiro pada makanan yang sebenarnya menggugah di mata tapi selera makan Hiro lagi bad.


"Yaak, sana mandi. Bila perlu, otak mu yang selalu juara kelas itu, dicuci juga..."


Sarkas amat Mamanya ini. Nampak emosi. Apa sih yang dikatakan Dona pada orangtuanya? Hiro jadi penasaran. Ia yang ingin membersihkan tubuhnya dari debu jalanan yang gagal menemukan keberadaan Olla dan Dona, ia abaikan dulu karena tidak sabar mempertanyakan Dona mengatakan apa pada orangtuanya.


Hiro duduk di dekat Dafa. Mamanya kembali membuatnya sakit telinga dengan berkata jutek, "Katanya mau mandi!"


"Nanti aja, Ma," jawab Hiro sabar. Meski Mamanya ini galak, tetap selalu ia hormati.


"Sudahlah, Ma. Biarkan Hiro makan dengan tenang dulu," lerai Pak Fauzi lembut. Tania akhirnya diam.


Selesai acara makan malam itu, Dafa langsung diusir masuk ke kamar oleh Tania. Kesempatan bagi Hiro untuk mempertanyakan rasa penasarannya terlebih dahulu yang memang sudah diujung lidah.


"Dona ngomong apa sama Mama dan Papa? Jelekin Hiro pasti..." katanya setengah menuduh.


"Jelekin? Mana ada Dona ngomongin kamu dengan kata-kata buruknya. Kami mau bertemu aja, Dona nolak. Ngurung terus di kamar. Mendengar kata perceraian pun, hanya lewat orang tuanya," tutur Tania membuat Hiro merasa bersalah karena awalnya sudah berpikir negatif pada Dona.


Ngurung? Tapi tadi keluar tuh, bahkan belum pulang. Hiro hanya mencibir dalam hati.


"Mama, sabar dulu bisa kan? Dari tadi sewot melulu. Kan, kita sudah sepakat agar Dona dan Hiro menyelesaikan ujiannya dulu baru kita urus masalah satu ini," sela Pak Fauzi bijak. Sejurus, kali ini tatapan tegasnya jatuh pada Hiro. "Dan kamu Hiro, Papa harap kamu bisa menyelesaikan masalah mu sendiri dengan baik. Bagaimanapun, ini adalah hidupmu. Kamu yang lebih tahu harus melangkah seperti apa ke depannya. Tapi kalau kami boleh jujur, Papa dan Mama sangat menyayangkan adanya perpisahan."


Hiro membuka lebar lebar telinganya mendengar seluruh kalimat lembut lembut terselip nada kekecewaan sang Papa.


Sejurus, ia berjengit saat bahunya ditepuk oleh Papanya yang kini siap siap meninggalkan meja makan. "Papa mau istirahat!" katanya yang disusul suara kursi sang Mama yang ikut beranjak dari tempat.


"Ma," seru Hiro. Tania yang sedang menumpuk piring kotor, sekadar melirik malas.


"Hiro memang salah. Tapi yang ingin bercerai itu Dona, bukan Hiro," terangnya membela diri. Memang kenyataannya bukan, Dona yang pertama ingin memilih perpisahan.


"Fine, anggaplah Dona yang mau bercerai. Tapi kamu tahu masalahnya kenapa kan?" serang balik Tania.


Hiro langsung bungkam. Kepalanya ia rebahkan ke meja makan seperti orang prustasi dengan mata sibuk memindai aktivitas sang Mama.

__ADS_1


"Mama dan Dona adalah sesama wanita. Jika kaum hawa sudah kecewa karena tak dianggap oleh pasangan, maka mundur adalah salah satunya. Apalagi Dona, yang katanya cintanya itu tidak dibalas."


Ini, yang anaknya itu Dona apa dirinya sih?Alih alih membelanya, Mamanya ini belum puas terus memojokkan dirinya.


"Jangan bengong saja di situ, angkat kemari gelas gelas kotornya," titah Tania yang sekarang berdiri di depan bak cuci piring.


Hiro menurut dengan wajah tertekuk bak kehilangan semangat.


"Kenapa cemberut gitu?" tanya Tania sembari menerima gelas yang di tangan anaknya.


Hiro menggeleng bohong. Padahal, ia ingin protes pada Tania karena merasa Dona selalu dibela.


"Mama ingin bertanya serius dan Abang harus jawab yang jujur." Kali ini, Tania lagi mode kalem sampai kata sayang berupa 'abang' terucap.


Karena takut di dengar sang suami, Tania sejenak melirik keadaan sekitar. Merasa kondusif, bibir pink nude itu terbuka bertanya, "Apa iya, kamu setuju bercerai?" Suaminya melerai untuk membahas perceraian terlebih dahulu, makanya Tania berbisik bisik.


Hiro tidak langsung menjawab. Oleh sebab itu, Tania kembali bertanya seperti paparazi, "Dan apa iya, kamu nggak ada sedikit rasa pun pada Dona? Dia uda lama loh cinta sama kamu. Kadang tanpa jaim, Dona nitip salam sayang ke kamu melalui Mama. Masa iya, hati mu itu seperti gunung yang nggak bisa digeser? Atau jangan jangan, kamu masih ingat kejadian masa masa SMP kalian ya?"


Wajah Hiro tiba-tiba memerah, Mamanya ini mengingatkan hal memalukan hidupnya di depan teman sekolah SMP waktu itu.


Awal Hiro benci Dona itu, karena ... Dulu, lebih tepatnya saat mata pelajaran olahraga. Dona yang nyungsep ke lantai, pernah tidak sengaja menarik celana color basket yang selutut itu, dan berujung membuat ****** bolong bagian bokongnya jadi terekspos. Bayangkan, ia diketawain satu lapangan basket. Dan itu gara gara tangan kurang ajar Dona yang mengakibatkan ia dibully dengan kata kata '****** bolong.' Malunya luar biasa sampai mendarah daging di otak Hiro.


Bukan hanya Dona yang salah waktu itu, Mamanya juga, karena semua cucian masih basah, mau tidak mau Hiro memakai ****** bolong tengahnya yang tersisa di lemari, daripada tidak menggunakan sama sekali. Dan mana ia tahu juga, tangan kurang ajar Dona tidak sengaja menariknya dengan dalih minta tolong dibangunin dari lantai.


"Hiro, ih... Malah melamun. Kamu cinta nggak sama Dona?"


Tania tersenyum full seketika mendengar pernyataan spontan yang pasti valid itu. Kan, namanya jawaban spontan pertama yang keluar dari mulut itu, sama saja kejujuran bukan?


"Itu tandanya, kamu nggak mengajukan surat perceraian kan?" selidik Tania ingin meyakinkan keingintahuannya.


Nampak samar, Hiro mengangguk. Tania yang girang, mencubit gemas pipi Hiro padahal tangannya itu penuh busa cucian piring.


"Mama..." adu Hiro sembari mengusap busa tersebut. Tania tercengir tanpa dosa. Tapi melihat wajah anaknya nampak murung lagi, ia pun kembali bertanya cerewet, "Ada apa lagi?"


Hiro yang butuh teman curhat, berangsur mengambil kursi makan, menyeretnya ke sisi Tania yang masih mode bebersih piring.


"Tapi Dona malah nyuekin Hiro, Ma," curhatnya dengan wajah bete. Apalagi mengingat kalimat provokasi Olla yang katanya Dona akan pergi mencari cowok yang bertanggung jawab. Gedek deh jika mengingat itu.


"Ya iyalah ... Kamu kan tadinya jual mahal, lama lama Dona kecewa dan sakit hati lah. Apalagi Dona tau kamu ada hubungan dengan Liana." Ingin rasanya Tania mengetuk kepala anaknya yang pintar tapi bodoh juga jika mengingat Liana punya hubungan dengan anak nya yang sebenarnya ia pun baru tahu pas di rumah sakit tempo hari itu.


"Jangan bahas Liana, Ma," Hiro memutar mata malas. "Ini tentang Dona, bagaimana dong?" katanya minta saran.


"Perjuangkan Hirooo..." gemas Tania sampai berseru panjang menekan. Kali ini, ia benar benar mengetuk jidat anaknya tapi pelan. Hiro sampai merem-merem dikira akan ditoyor kasar.

__ADS_1


"Kamu itu persis Papa, pintar tapi masalah menyenangkan hati perempuan paling cemen! Dengar ya, ego laki laki memang tinggi, tapi ego wanita yang tersakiti, lebih tinggi lagi dari kaum kalian. Seperti cinta Dona contohnya, meski luasnya masih selautan, tapi kamunya sudah kelewatan mengecewakannya, maka buyaaar... Orang cerdas seperti ego Dona itu mengutamakan harga diri, bukan cinta lagi yang dikiranya masih bertepuk sebelah tangan."


" Perjuangkan? " gumam Hiro yang masih di dengar Mamanya.


" Iya, PERJUANGKAN!" seru Tania sekali lagi dengan tekanan suara hebat.


" Tapi, Ma. Kalau Dona tetap kekeuh ingin pisah, bagaimana? Masa iya, Hiro harus menyembah di kakinya?"


Tania sampai tepuk jidat yang tangannya masih basah sehabis mencuci piring. Otak anaknya memang sekilo kurang se-ons jika menyangkut asmara, tidak heran, Papanya itu lah yang murunkan gen bodohnya yang kurang peka terhadap perasaan perempuan.


"Kok Mama mukanya malah asem sih?" Hiro bertanya tanpa dosa karena memang tidak mengerti apa kesalahan pertanyaannya.


"Ya Allah, semoga Dafa nggak niru Papa dan Abangnya," doa Tania dengan kedua tangan menangada ke atas.


"Ma__" rengekan Hiro yang polos tejeda.


"Jangan banyak tanya dulu, Nak. Intinya, kamu berjuang sepenuh hati. Masalah hasilnya, kita lihat nanti. Sekarang, lebih baik kamu pergi mandi yang wangi, lalu tidur di sebelah."


"Maksudnya, di rumah Dona?"


"Iyalah, masa di rumah Olla!" Tania beranjak pergi, lama lama ia bisa stres kalau terus menjadi teman curhat Hiro yang miskin perasaan cinta itu. Biarkan anaknya berjuang sendiri supaya hasilnya afdol.


***


Sudah mandi, wangi dan rapi. Pokoknya, ganteng punya. Hiro kini, menunggu di teras rumah Dona. Kata Mama mertuanya - Hilda, Dona belum pulang. Merasa sedikit lega, Papa dan Mama mertuanya yang sempat kecewa pun, kini memberi kesempatan kedua untuk menyembuhkan hati Dona. Alhamdulilah karena itu.


Tapi, Hiro yang menanyakan keberadaan Dona pergi kemana bersama Olla tadi sore menjelang senja itu, malah tidak tahu juga katanya. Dan jadilah dirinya duduk galau di kursi teras rumah Dona yang kini jam di pergelantangan tangannya menunujuk pukul sembilan malam.


Broomm...


Pucuk dicinta ulam pun tiba, orang yang dinantinya sudah pulang yang kini turun dari boncengan motor matic songong Olla di seberang sana.


Dona mendekat. Hiro segera berdiri dari kursi dengan mata memperhatikan wajah Dona yang nampak cepak sekali.


"Don..."


Dona berhenti melangkah karena ada tubuh Hiro memblokir jalannya.


"Kata Mama, gue harus tidur di sini," ujar Hiro tanpa basa basi.


Kata Mama? Bukan keinginan sendiri kan?Dona tersenyum kecut mendengarnya.


"Nggak boleh. Rumah gue sempit!" tolak Dona mutlak. Sejurus, meninggalkan teras lalu dengan cepat menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


Hiro? Melongo tidak percaya, Dona menolaknya lagi. Sabaaaar...


***


__ADS_2