Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 30# Membiarkan Melambung Tinggi


__ADS_3

Ceklek...


Tania yang masih stay di ruang keluarga, sedikit memiringkan kepalanya untuk mengetahui, siapa gerangan yang sekarang membuka pintu tanpa memberi salam.


"Hiro?" gumamnya menatap heran anaknya yang kini mengikis jarak padanya.


"Kamu kok balik lagi sih?" tanya Tania tak sabaran ingin mendengar jawaban Hiro yang wajahnya sedang bete parah.


"Nggak boleh sama Dona. Kata dia, rumahnya sempit," terangnya dengan nada bete.


"Memangnya, kamu bilang seperti apa?" Tania penasaran cara ngomong anaknya yang tidak ada pengalaman merayu gadis sebelumnya. Pasti melakukan kesalahan.


"Hiro kalem kok ngomongnya, Ma. Seperti ini... Kata Mama, gue disuruh nginep di sini. Gitu, Ma," jelasnya merasa tidak ada yang aneh.


Tapi... Kenapa pula Mamanya ini tepok jidat.


"Memangnya, ada yang salah cara ngomong Hiro ya, Ma?" tanyanya polos.


"Ya salaaam! Fixed, lo bodoh kalau soal hati, Nak," cibir Tania. Bibir Hiro cemberut akut seketika.


Rasanya, Tania mau melambaikan tangan saja ke kamera, tapi kasihan juga dengan anaknya yang terlihat bingung. "Harusnya, jangan kata Mama, Hiro. Tunjukin, kalau kamu melakukan sesuatu tanpa paksaan, gitu loh!"


"Oh, salahnya di situ ya, Ma? Yaa, maaf." Dengan wajah bersalah, Hiro tersenyum kaku. "Perempuan memang ribet, Ma. Tadinya ngaku cinta, tapi giliran mau dibalas, eh__ duh, kok Mama nyubit sih? Sakit tau."


"Makanya, jangan sembarangan ngomong. Wanita ribet pada dasarnya pasangannya yang kurang peka," sembur Tania galak sembari geleng-geleng kepala, speechless. "Mama mau istirahat, selamat malam." Kepala Tania berdenyut sendiri dibuat kepolosan dan kepayahan anaknya tentang rayu merayu.


"Huft..."


Hiro yang ditinggal sendirian, beberapa kali menghela nafas berat. Di ruangan sepi itu, Hiro memutuskan rebahan di atas sofa. Otaknya mengembara jauh pada kalimat Dona, *'Jangan galak-galak sama istri, ah. Nanti kalau uda bucin, gue nya yang jual mahal loh.' *


"Kampret lah, gue kena karmanya," gumamnya merana.


***

__ADS_1


"Pagi, Ma."


Pagi - pagi, Hiro yang sudah rapi dengan seragamnya, kini berada di teras rumah Dona, menyapa Hilda yang membukakan pintu.


"Pagi," sahut Hilda diakhiri membalas senyum Hiro yang nampak semangat pagi ini.


"Mau jemput Dona sekolah barang, Ma," ujar Hiro menyampaikan niatnya. Ini perjuangan kedua dengan inisiatif sendiri. Kalau semalam kan, perintah Mamanya jadi Dona menolaknya.


Semoga keinisiatifannya kali ini berbuah nangka eh manis.


"Lah, Dona kan uda berangkat bersama Olla."


Alamaak, telat dong namanya. Tapi ini masih pagi sekali loh. Embun aja belum kering semua.


Hiro hanya bisa menggerutu di dalam hati akan keleletannya. Baiklah, besok kalau perlu, ia akan datang menjemput Dona di jam lima subuh.


"Kalau begitu, Hiro pamit ya, Ma. Assalamualaikum..." selesai mencium punggung tangan Mama mertuanya, Hiro segera cabut.


***


"Nggak, Hir. Dona dan Olla kayaknya belum datang deh. Noh, tas mereka aja masih nggak ada di bangku kan."


Hiro ikut melirik bangku yang ada di sana, kosong melompong sesuai perkataan Riko. Kemana mereka? "Pasti bolos lagi," lirihnya sembari mengecek jam di dinding yang bentar lagi bel pelajaran pertama akan dimulai.


"Eh, Hir, Ko. Lo kok malah masuk kelas sih? Fourged kan ikut kompetisi di sekolah Cakrawala." Viko datang dengan wajah yang nampak asem. "Ayo berangkat, sudah ditunggu ibu Gea dan Liana di parkiran."


Terpaksa, Hiro mengikuti langkah Riko dan Viko. Saat di parkiran, ia tidak sengaja bertemu dengan Dona dan Olla yang baru tiba.


Hiro yang ingin menghampiri, dicegah Liana dengan dalih, "Ayo berangkat, Hiro. Ibu Gea dan lainnya sudah jalan, nanti kalau kena macet, bisa di diskualifikasi." Liana berkata sembari mengulurkan tangannya menaruh helm ke kepala Hiro dengan paksa.


Sangat romantis di sudut mata Dona. Olla yang ada di sampingnya, jadi ikut gemas. Padahal mereka tidak mendengar penolakan Hiro ke Liana.


" Woiiii, mau sekolah apa pacaran? Sono noh, di empang sekalian ngeberi boker ke ikan ikan," teriak Olla mencibir. Dona yang malas cari ribut, segera menghela lengan sang sahabat untuk pergi bersama di area parkiran itu.

__ADS_1


"Kok mereka pergi benaran, Don? Mau kemana ya kira kira?" tanya Olla sesekali melirik ke belakang, Hiro dan Liana boncengan.


Mereka memang tidak tahu kalau Hiro bersama band nya mengikuti lomba karena kemarin bolos bersama.


"Mungkin ke empang kali, sesuai ucapan lo tadi," sahut Dona sok cuek. Tapi jujur, perasaannya pun diselimuti rasa penasaran.


Beberapa jam berlalu kepergian Hiro dan kawan-kawannya, grup chat sekolah mendadak ramai memperbincangkan kemenangan Fourged. Dona yang hendak pulang meninggalkan kelas bersama Olla, jadi penasaran pada sekelompok teman sekelasnya yang terlihat excited dalam merumpi alih alih pulang ke rumah masing-masing.


"Lo pada nonton apa sih? Bok** ya?" Kok pada histeris... 'ihh, kereeen parah, keren parah.' Memangnya, apa yang keren?" Olla yang penasaran, main tarik hape cewek yang ada di sampingnya yang kebetulan itu adalah Yuna.


"Ih, tomboy. Balikin...Dan ralat pikiran kotor lo! Enak nya ngomong bok**!" kesal Yuna ingin merebut kembali hape yang di tangan Olla. Tapi, sahabat Dona ini malah menghindar dengan tatapan mata terus melotot video Hiro dan Liana sedang manggung bersama.


Dona yang penasaran akan berita tersebut, akhirnya membuka hapenya sendiri yang sengaja ia silent sejak tadi pagi.


Setelah melihat video tersebut, nampak seketika wajah Dona tertekuk sedih. Lagunya yang dicuri Liana, berhasil mengundang pujian dari banyak orang termasuk guru guru.


"Jangan sedih, ayo kita pulang," kata Olla simpati sembari menarik tangan Dona menjauhi sekelompok siswi alay yang masih mendamba dambakan performance Hiro dan Liana yang nampak serasi.


"Hiro benar-benar nggak percaya sama gue, La. Buktinya, dia begitu enjoy membawakan lagu gue tanpa beban secuil pun," keluh Dona kecewa berat. Agenda yang baru tadi pagi ia dapatkan dari Bang Iko yang sempat diamankan oleh sepupu Olla, ia peluk erat erat sembari berjalan gontai ke parkiran bersama Olla. "Gue tadinya mau ikhlas kehilangan satu lagu itu, tapi melihatnya sukses dibawain Fourged, gue jadi nggak rela juga," imbuhnya meluapkan isi hati kecewanya.


"Makanya, cepetan sembuhin glossophobia lo yang laknat itu. Kita bungkam mereka dengan cara elegan," kata Olla menggebu gebu sudah tidak sabar menjalankan rencana yang sudah diaturnya bersama Dona kelak perpisahan sekolah nanti.


"Eum, lo benar." Bahu Dona yang tadinya mencelos lesu, jadi tegak kembali. Ia akan membuktikan nanti, bahwa orang yang selalu dipandang sebelah mata oleh mereka semua, tidak selalu buruk. Tergantung pada diri masing-masing, ingin terus dibully atau berdiri melawan keadilan diri sendiri.


"Gue nggak jadi memperlihatkan pembuktian agenda ini ke Hiro sekarang, La. Biarkan orang-orang menyanjung Liana, Hiro dan bandnya, semakin tinggi mereka melambung maka jatuhnya pun akan terasa sakit bukan."


Olla yang baru pertama melihat seringai delmon Dona, jadi tertegun ngeri sendiri.


Katakanlah Dona kali ini jahat karena ingin mempermalukan band Hiro apalagi biang keroknya itu, yakni Liana. Namun bukan kah keadilan harus ditegakkan? Kalau bukan dirinya yang memperjuangkan haknya, siapa lagi coba?


"Ayo, kita pergi latihan nyembuhin glossophobia lo lagi." Olla merangkul pundak Dona sembari tersenyum hangat.


Dan jadwal Dona di rumah Olla, hanya belakang dan latihan piano yang sekarang piano lamanya sengaja ia taruh di rumah Olla, agar leluasa latihan tanpa ada Hiro yang melihat dan mendengarnya, karena niatnya memang ingin memberi kejutan bagi orang orang yang meremehkannya.

__ADS_1


__ADS_2