
"Wow, ini Dona anak Mama? Cantik sekali..."
Pujian sang Mama yang baru masuk ke dalam kamarnya, hanya direspon cengiran malu malu kucing oleh Dona yang saat ini pipinya itu ditangkup halus halus gemas oleh Hilda.
Hari ini adalah hari pelepasan dan perpisahan SMA Garuda Bangsa, diwajibkan mengenakan make up beserta outfit yang berhubungan dengan graduation.
"Mama panglin loh, Don. Olahragah dan diet ketatmu sepertinya sudah berhasil. Lihatlah..."
Dona yang di geret ke depan kaca full, hanya bisa menurut. Dan terlihatlah sosok wanita yang 'sedikit' langsing dari Dona big yang lalu lalu.
Benar juga kata sang Mama, kebaya yang membalut tubuhnya dengan make up tipis tipis segar, membuatnya nampak berbeda hari ini.
"Tapi, Dona nggak pede, Ma." Meski sedikit kurusan, tetap saja masih ada lemak jahat yang perlu dibabat.
"Ingat, Nak. Tidak ada fisik yang sempurna. Kita ... kaum wanita, akan terlihat cantik dan berharga di depan mata orang yang tepat."
Berharga di depan orang yang tepat? Dona mencerna kalimat penuh makna sang Mama.
Apakah ia ingin kurus karena berharap Hiro akan terpesona padanya? Sejurus, Dona menggeleng menepis pertanyaan batinnya. Ia hanya tidak suka mendapat bullyan atau pandangan mengolok - olok dirinya karena fisiknya itu. Selain tidak terima dibully terus, ia memang harus diet demi kesehatan nya sendiri yang amit amit bisa terkana obesitas. Hanya itu, titik! Bukan karena ingin mendapat perhatian oleh Hiro. Bukan sama sekali!
"Hey, malah melamun. Jadi nggak berangkatnya? Papa sudah menunggu loh." Tepukan lembut sang Mama di bahunya membuat Dona tersadar dari pemikirannya sendiri. Ia tidak boleh oleng karena misinya akan ia laksanakan hari ini.
"Huffft, semoga berjalan lancar." Dona berdoa dalam hati sembari mensejajarkan langkah-langkah anggun sang Mama.
***
Laju mobil Amar kini berbelok masuk ke dalam area parkiran sekolah yang sudah ramai kendaraan berjejer. Hal itu membuat Dona jadi gugup dalam diamnya.
" Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Nggak ada waktu baik setelah hari ini." Dona terus mensugesti batinnya agar segala keraguannya dihilangkan.
Dengan hati mantap, Dona memutuskan untuk turun dari mobil. "Mama dan Papa ke kursi khusus parah wali duluan, Dona mau mencari Olla," ucap Dona yang disetujui kedua orangtuanya.
Setelah seorang diri, mata Dona memindai sekitaran yang rame. Tak luput dirinya mendapati tatapan aneh dari beberapa teman seangkatannya.
Dona terus bersikap cuek padahal jujur, ia penasaran, keanehan apa yang ada di wajah nya kini sampai orang yang ia lewati memandangnya penuh arti?
"Apa iya, gue sejelek itu?" Dona bergumam sembari merapa pipinya yang sebelah kanan.
Bugh...
Karena tidak konsen dalam berjalan yang sesekali menoleh ke samping, Dona sampai menabrak tubuh seseorang. Hampir saja terjengkang ke lantai kalau tangan seseorang itu tidak menahan pinggangnya.
Hiro?
Dona mengenali pemilik aroma parfum ini. Oleh sebab itu, Dona terus menunduk menghindari tatapan Hiro.
"Hati hati," kata Hiro belum sadar, cewek semok semok seksi yang mengenakan outfit brukat caremel ini adalah Dona.
Setelah menekan kegugupannya, Dona dengan percaya diri mengangkat wajahnya. Tersenyum sekenanya lalu mengatakan, "Maaf..."
__ADS_1
"Dona!"
Bukan hanya Hiro yang tercengang, Riko yang memang berada di samping Hiro sedari tadi, pun berseru kompak menyebut nama tersebut.
Dona menaikkan alisnya satu, dengan bingung terus memindai penampilannya naik turun karena mata dua pria di depannya hampir tidak mau berkedip.
Tidak ada yang sobek kok.
"Happy graduation," ucap Dona tersenyum datar lalu pergi begitu saja.
Hiro dan Riko kompak membalik tubuhnya, masih dengan wajah tercengang mereka memandang bayangan Dona memasuki aula acara.
"Woii... Istri gue itu, mata kondisikan..." sewot Hiro setengah berbisik sembari mengusap kasar wajah mupeng Riko.
Riko mengabaikan peringatan Hiro dengan berkata, "Hir, cepat ceraiin Dona, gue mau maju paling depan daftar jadi pacarnya. Dengan begitu kan, gue nggak dicap nikung sahabat__ aduu!"
"Kurang ajar?" Hiro siap kembali menendang bokong Riko yang berkata sesuka hati tanpa memikirkan perasaannya.
"Ampun, Hir..." Riko ngebirit kabur. Tampang Hiro benar benar mau menelan mentah mentah daging manusia.
Mengabaikan Riko, Hiro segera masuk ke aula yang sudah diramaikan tamu para wali siswa, niat hati mencari Dona tapi niatnya terurung karena pak Jamal menghadangnya di dekat pintu masuk.
"Kamu itu dari mana saja? Buruan ke belakang panggung. Setelah anak tari selesai, Fourged yang akan langsung tampil."
Dengan keadaan terpaksa, Hiro kembali terhalang mendekati Dona yang sebenarnya sudah terlihat di mata yang kini berada di antara siswi sana.
" Don, kamu siap kan?" tanya Olla meyakinkan rencana mereka yang tinggal menghitung menit.
Olla tersenyum hangat sembari menyentuh punggung tangan Dona yang nampak tegang. "Rileks, aja. Lo uda berusaha keras menunggu hari ini. Jangan sia siakan latihan lo selama ini," tutur Olla menyemangati.
Atensi Dona dan Olla tiba-tiba tertuju ke panggung. Di mana anak tari sudah mendapat tepuk tangan riuh dari para audiens akan tampilannya yang cukup menghibur.
Seperkian detik, MC yang mempersilakan nama Fourged untuk naik ke panggung, lebih lebih mendapat respon meriah dari pada excitednya ke anak tari barusan.
Kecuali, Olla dan Dona yang sekedar diam seribu bahasa tapi tatapan mereka tidak lepas dari arah panggung.
Entah benar atau salah penglihatannya, Dona sejenak melihat Hiro tersenyum manis padanya. 'Itu cuma halusinasi,' batinnya mengingat kalau ia punya sifat buruk yang suka halu.
Lagi, Hiro tersenyum untuk kedua kalinya sembari membenarkan posisi gitar yang di gendongnya.
"La, gue salah nggak sih, kalau gue ngira Hiro sedang tersenyum ke gue?" tanya Dona meyakinkan matanya.
"Ge'er atau mengharap lo?"
Okay, matanya yang salah berarti, buktinya Olla menyemprotnya sembari mencubit punggung tangannya yang mungkin bermaksud menyadarkannya dari halu tingkat dewanya.
Dan saat intro musik sudah masuk, Perasaan Dona yang sempat merasa Hiro memandang nya istimewa, jadi sirna seketika. Lagi lagi, Dona diingatkan lagunya yang dicuri Liana, membuat niat Dona untuk mempermalukan Fourged sudah matang, bahkan sudah kelewat gosong saat pandangannya kembali disuguhkan Liana dan Hiro kini saling memandang romantis sembari bernyanyi bersama demi mendapat kemistri sempurna yang profesional.
Saking emosi nya, Dona sampai meremat jari jemarinya sendiri demi mendinginkan egonya yang sudah tidak sabar menskatmat Liana.
__ADS_1
"Sstt, duduk dulu..." Dona yang tanpa sadar berdiri geram dari kursinya, segera ditarik cepat oleh Olla. "Jangan gegabah. Biarkan mereka menikmati pujian terakhirnya," tekan Olla memperingati Dona yang hampir lepas kendali. "Bukannya permainan akan seru jika membiarkan lawan merasa menang telak terlebih dahulu?" Olla berkata dengan mata kali ini menatap sinis ke arah Liana yang bernyanyi membawakan lagu hasil curian itu tanpa beban.
Dengan menghela nafas kasar, Dona berusaha menahan emosinya yang sebenarnya sudah meronta ronta ingin meluapkan segala gundah gulana yang hampir meledak di dadanya.
Prokk... Prokkk... Prokk...
Tepukan meriah lagi lagi menghadiahi penampilan band Hiro. Dona memang tidak bisa menyangkal bahwa performance band tersebut sangat memukau dengan kemerduan suara Liana dipadu dengan suara jernih Hiro.
"Wow.... Fourged band nya Garuda Bangsa memang is the best. Ucapan saya benar kan para audiens?"
Seruan MC yang menahan personil Fourged di atas panggung kini, diberi tepuk tangan meriah dari orang-orang sekeliling Dona dan Olla untuk membenarkan ucapan sang MC yang tak lain adalah Yuni, sahabat Liana beserta satu pria dari kelas lain.
Bahkan, sudut mata Dona juga melihat orang tuanya serta Mama mertuanya nampak bersemangat memberi sorakan bahagia akan pencapaian Hiro.
"Maaf, Ma. Band anak Mama akan saya permalukan hari ini," batin Dona yang sebenarnya juga berat hati yang pasti akan mengecewakan orang tua Hiro. Semua itu ia lakukan karena sisi hatinya yang lain menolak ditindas, sudah tidak bisa Dona toleransi lagi.
"Dengar dengar, lagu ini ciptaan kalian sendiri, benarkah begitu?"
Yuni memprovokasi dengan berpura-pura tidak tahu asal mula lagu tersebut. Teman Liana itu ingin mendongkrak nama Liana di depan para wali dan guru guru tentunya.
Kuping Dona yang panas, sangat penasaran jawaban empat personil Fourged.
" Ya, benar. Ini adalah lagu original Fourged__" Pengakuan Liana terjeda akan tepuk tangan para wali yang memberi upresiasi. Liana tersenyum bangga tak tahu malu menerima pujian tersebut. Matanya sedikit menoleh keberadaan Dona yang nampak kebakaran jenggot. Kasihan, Liana membatin ejek karena Dona kalah mutlak tak bisa membela haknya.
"Kalau boleh tau, kamu terinspirasi dari mana sampai bisa menghasilkan karya yang begitu indah di dengar?" tanya MC cowok rekan Yuni.
Sebelum menjawab, Liana menatap Hiro penuh damba. Para siswi yang menyadari itu, bersorak excited yang seakan-akan paham makna tersebut. Yang di tatap, lebih fokus pandanganya ke arah Dona yang nampak gusar di sana.
"Inspirasinya dari Hiro kali ya..."
Uuuhh...
Jawaban Liana kembali disambut heboh oleh para siswi penggemar Hiro.
"Hiro, sebagai ketua Fourged, apakah kamu senang mendapat teman duet yang cerdas dan menjanjikan seperti Liana?" tanya Yuni mewawancarai Hiro.
Yang ditanya tidak langsung menjawab karena kurang konsentrasi. Ia nampak gelagapan setelah lamunannya buyar.
"Tentu bangga dong!" Bukan Hiro yang menjawab melainkan Viko yang bermaksud ingin menyelamatkan Hiro yang nampak linglung.
Setelah sesi tanya jawab singkat itu selesai, acara masih berlanjut dengan beberapa persembahan dari beberapa siswa siswi. Dan inilah waktu yang ditunggu tunggu oleh Dona telah tiba.
Saat nama Hiro di sebut yang merupakan siswa paling berprestasi dengan nilai kelulusan paling tertinggi, Dona mengambil kesempatan itu untuk mendahului Hiro naik ke panggung.
Bukan Hiro yang akan mengisi kesan dan pesan selama bersekolah di tempat tersebut, tapi Srimadona Putri yang sengaja merebut pidato Hiro dengan pidato karangan bebasnya nanti.
Hening.
Tentu saja mata para orang orang di sana nampak kebingungan, apalagi Hiro yang kini mematung di depan panggung.
__ADS_1
Guru guru serta pak Fauzi, nampak pasrah menunggu aksi Dona yang entah akan berbuat apa?
"Pa, Mba Tania, Dona mau apa?" cemas Hilda. Perasaan ibu itu tidak tenang karena takut aksi Dona akan mendapat cemooh dari semua orang.