Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 35# Kesan Dan Pesan


__ADS_3

Dona tidak peduli dengan bisik bisik tajam dari beberapa orang sekitar. Setelah berdoa dalam hati dan mencoba mensugesti otaknya dari glossophobia dengan membatin 'Anggap semuanya hanya patung' barulah tangan itu meraih mikrofon tanpa gentar lagi.


"Selamat siang Bapak Kepala sekolah, Bapak guru dan ibu guru serta para tamu yang saya hormati. Dan juga... teman teman sekalian yang jika boleh saya sayangi."


Masih hening dalam kebingungan, tidak ada yang menyahuti salam Dona. Tapi tatapan penuh rasa penasaran, mereka pancarankan masing masing.


"Pasti pada bertanya tanya kan? Kenapa bukan Alhiro Sitepu yang berada di sini untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama menjadi murid di Garuda Bangsa? Kenapa malah Srimadona Putri yang bahkan tidak ada prestasinya sama sekali begitu lancang naik ke panggung? Tenang ... Hiro, anak emas sekolah kita akan ada di sini setelah pidato singkat saya. Dan sebelumnya, Hiro sudah berbesar hati memberikan sedikit pengertian untuk keberadaan saya di sini. Betul begitu, Teman?"


Tatapan serta pertanyaan Dona yang tertuju padanya, terpaksa Hiro angguki padahal ia pun bingung, kapan ia memberi izin pada Dona mengambil waktunya.


Dona menyeringai tipis akan anggukan Hiro yang nampak terpaksa itu.


"Saya tidak akan mengambil banyak waktu kalian, saya berdiri di sini hanya ingin menyampaikan kesan dan pesan saya selama tiga tahun menempuh pendidikan. Dan..." Dona menjeda demi mencari sosok Liana yang... Ah, di tengah-tengah duduknya Riko dan Viko di sana. "Dan sebuah kebenaran yang perlu diluruskan, seluruh-lurusnya!"


Entah kenapa, tatapan Dona menggetarkan kepercayaan diri Liana.


Dan para audiensi, tentu saja makin penasaran tentang 'kebenaran' yang tercuat dari Dona. Apakah itu?


"Dulu, saya berpikir sekolah itu adalah tempat yang paling menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman baru, sharing tentang pengalaman, belajar dan bermain bersama. Sungguh, dulu saya sangat tidak sabar menunggu hari sekolah hanya demi bertemu dengan kalian yang bisa kita sebut 'teman-teman.' Akan tetapi, persepsi saya malah berbanding terbalik. Semua pikiran keberharapan saya pupus, hanya karena bentuk fisik saya yang di atas rata-rata, sebagian besar dari kalian memandang saya sebelah mata. Dihina, diejek, bahkan dibully dengan julukan julukan tidak manusiawi untuk di dengar hati kuat saya tapi aslinya sangat rapuh, contohnya seperti gentong berjalan, kuda nil, gajah berkaki dua dan sapi bocor."


Deg...


Hiro tersentak dalam wajah tertunduk sesal. Sapi bocor itu adalah julukan khusus darinya. Ternyata, Dona begitu terluka olehnya.


"Meski niat kalian bercanda, tapi satu persatu saya menampung pembullyan kalian di sini... " Dona menekan permukaan dadanya. Suaranya juga mulai sedikit bergetar karena mengingat serangkaian cemoohan yang mempermasalahkan bobot tubuhnya yang jika bisa memilih, ia pun tidak mau mendapat fisik yang seistimewa itu.


"Ibarat kertas yang diberi tinta, tidak bisa akan bersih lagi. Begitu pun dengan hati saya, meski saya memaafkan candaan kelewatan yang membuat kalian tertawa bahagia di atas diamnya saya dibully, tapi jujurli.... Di sini, tepat di perasaan saya rasanya sangat terluka. Mari kita berpikir, jika salah satu dari kalian mendapat bullyan, apakah bisa menerimanya? Apakah bisa kuat? Diluar sana, banyak kasus pembullyan yang berujung tragis bagi sang korban karena mungkin hatinya sudah penuh menampung apa yang tidak pantas diterimanya. Satu pertanyaan untuk para pembully, apakah kalian merasa bangga dengan kenakalan kalian?"


Di sana, lebih tepatnya di kursi para wali, Ibu Dona berada di pelukan suaminya dengan air mata mengalir sedih. Ternyata, anaknya selama ini mendapat perlakuan tak mengenakan di lingkungan sekolah. Anaknya begitu pandai membunyikan apa yang dialaminya dengan sikap humorisnya. Ingin rasanya, Hilda berlari ke panggung, mengelus dada serta merengkuh sayang sang anak, tapi ia sadar kalau Dona tidak akan kuat menyelesaikan pidatonya jika ia memberi sentuhan yang menyentuh egonya. Kemungkinan besar, Dona akan menangis di pelukannya yang sebenarnya Hilda pun tahu, kini Dona mati matian menahan suara sesaknya demi memperlihatkan pada semua pembullynya kalau ia adalah anak kuat.

__ADS_1


"Kata Mama saya, kesempurnaan fisik tidak ada yang sempurna. Oleh sebab itu, marilah teman teman sekalian yang jika boleh saya sayangi, kita spion diri kita terlebih dahulu, baru kita membunyikan klakson pada orang lain."


Kalimat terakhir Dona mengakhiri ultimatumnya pada pelaku pembully. Bukan hanya Liana dan anak nakal lain yang ia tujukan dengan harapan bisa sadar dari perbuatan tak terpujinya, tapi pada korban seperti Dona Dona lain pun yang ingin ia buka matanya lebar lebar, jika pembullyan bisa dilawan sebelum terlambat yang mungkin saja berujung kena mental parah.


"Soal kata bodoh..." Kali ini, Dona pun ingin menyerukan unek uneknya pada guru guru yang memandang sebelah mata siswa yang kurang dalam akademik. Dengan sopan, tatapannya jatuh pada sederetan kursi istimewa sekelompok guru terutama orangnya Pak Jamal. "Tanpa mengurangi kesopanan, saya mohon maaf sedalam dalamnya terucap sedari awal. Tidak ingin bermaksud kurang ajar, tapi apakah saya boleh mengeluarkan unek unek saya kepada Bapak dan Ibu guru yang saya hormati? Pa __ Pak Fauzi, apakah boleh?" Hampir saja Dona keceplosan memanggil Papa pada orang tua Hiro.


Pak Fauzi sebagai kepala sekolah di sana, berdiri takzim lalu meraih mikrofon lain. "Tentu saja boleh! Dengan keberanian mu mengungkapkan adanya pembullyan yang kami tidak tahu menahu, mata kami jadi terbuka selebar lebarnya, jikalau area sekolah yang kami lihat tentram dan baik baik saja, ternyata mengecoh mata. Kedepannya, insyaallah kami akan banyak membenahi banyak hal demi menciptakan lingkungan sehat."


Dona tersenyum simpul mendapat izin dari Papa mertuanya.


Lantas, tatapannya kini jatuh pada Pak Jamal. Namun, demi menghargai pamor beliau, Dona tidak akan menyebut nama guru yang sama saja membully secara tidak sadar.


"Definisi bodoh itu seperti apa bagi Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati? Apakah standarnya bodoh bisa dinyatakan jika satu siswa kurang dalam hal akademik? Bagaimana kalau satu siswa yang dicap bodoh itu, memupuni non-akademik yang bisa mengharukan nama sekolah? Apa itu masih bisa dibilang bodoh di mata kalian karena hasil nilai ujiannya berada di paling urutan belakang? Beberapa hari yang lalu, saya mendapat hinaan, jika pintar itu hanya sebatas urutan nilai ujiannya di atas rata-rata."


Pak Jamal yang merasa disinggung, tertunduk malu dalam diamnya. Antara geram dan bersyukur, Dona tidak menyebutkan nama.


Dona terpaksa menghentikan pidatonya saat sudut matanya melihat Pak Jamal meraih mikrofon lain di sana. Waktu yang dimintanya cuma sedikit, rupanya akan mengaret karena dilihat lihat, Pak Jamal akan mendebatnya rupanya. Nah, kan, benar sekali dugaannya. Beliau bahkan berjalan ke arah tangga panggung dengan mata tertuju padanya.


Tepat saat Pak Jamal berhenti melangkah di sisi kanannya, Dona dengan gestur tubuh yang sangat takzim, memberi salam senyum sopannya. Dalam hatinya, ia sangat penasaran, apakah yang ingin disampaikan Pak Jamal padanya. Tapi dilihat dari wajahnya yang memerah, beliau akan mempersulitnya.


It's okay. Dona sejatinya memang sudah menyiapkan mental baja, sebelum jauh jauh hari yang ia pun yakini bahwa apapun yang direncanakan dengan matang, pasti akan ada duri penghalangnya, bak orang pebisnis saja yang tidak akan mudah menjadi sukses dengan usaha satu atau dua kali semata.


"Srimadona Putri, nama yang cantik. Saya pribadi terkesima akan keberanian mu mengungkapkan kasus pembullyan yang kamu terima."


Memuji, tapi pasti ada tapinya. Dona yakin itu.


"Terimakasih, Pak. Untung saya tidak ditimpuk karena sudah membuang waktu hak Hiro di sini." Dona mencoba bercanda sedikit demi mengurai ketegangannya.


"Tentu tidak membuang waktu, sepertinya kita berdiskusi buka - bukaan di depan audiens sangat membuat para tamu kian antusias tentang sekolah kita."

__ADS_1


Tepuk tangan setuju dari para wali, membuat Pak Jamal tidak menyesal sudah naik ke panggung untuk memberi sedikit tekanan pada siswinya yang berani membuat slide yang tersusun rapi, jadi sedikit berantakan. Bukan apa-apa, sebagai guru yang dipercayai merangkai acara tersebut, ia harus bertanggung jawab menyelesaikannya bukan?


"Definisi bodoh topik yang kita akan perbincangkan di sini, benar kan Dona?"


Dona mengangguk. Dengan suara mantap, ia berkata, "Betul, Pak."


Pak Jamal tersenyum. Tapi yang ditangkap oleh Dona, senyum itu palsu untuk ia lihat. Seperti senyum ejek.


"Baiklah, jika begitu. Maaf, mungkin pertanyaan Bapak sedikit kasar menurutmu. Eum, apakah... Maksud Bapak, coba nilai diri kamu dan sampaikan pada kami, apakah kamu termasuk siswi bodoh atau tidak?"


Benar dugaannya, Pak Jamal ini ingin membuat wajahnya tertunduk malu menuruni tangga panggung karena sudah lancang menyinggung guru. Tidak masalah, apapun resikonya, Dona akan hadapi. Dan sesuai rencananya, bukan hanya para pembully dan kebusukan Liana yang akan ia bongkar, tapi juga kekecewaannya pada guru nya ini yang hanya menilai kemampuan siswa siswinya dari sisi akademik saja.


"Saya?" Dona tersenyum kecut. "Harus saya akui, kalau otak saya tidak memupini akademik. Saya bodoh, Pak. Melihat rumus matematika saja, sudah membuat selera belajar saya down__"


"Terus, apakah kamu berprestasi di bidang non akademik? Bisa dijabarkan, Dona? Apa saja prestasi mu?"


Pertanyaan yang sangat memojokkannya. Dona mengeraskan rahangnya barang sesaat. Tidak mau terlihat tegang, ia mencoba menarik nafas tenang untuk merilekskannya.


Pak Jamal ini benar-benar tidak mau memberinya ampun sepertinya. Tapi, pertanyaan sarkasme pak Jamal tersebut, membuat Dona menyeringai puas setelah sadar kalau misinya mempermalukan Liana dan Fourged terarah ke titik yang sama.


"Baiklah, Pak. Karena saya menolak dipermalukan. Saya... Eum, maksudnya. Saya ingin menyapa dulu salah satu tamu penting sekolah yang telah menghadirkan perwakilan Dosen - Dosen hebat dari bidangnya. Dan saya ingin menyapa dan memberi hormat pada Ibu Suci Sri Ningsi dari Universitas Institut Seni yang berada di sana. Salam, Bu."


Dona membungkuk takzim ke arah perempuan yang nampak bingung karena kelancangannya yang sok kenal. Ia memang mengenal beliau, tapi Ibu Suci ini memang belum mengenalnya secara langsung, tapi lewat virtual, mereka sudah sering bertukar sapa membicarakan tentang ciptaan lagunya yang beberapa judul pernah dibeli oleh beliau.


"Ibu Suci, maaf membuat Anda bingung. Anda mungkin tidak mengenal Srimadona Putri yang ini, tapi saya berharap Anda tidak lupa pada pencipta lagu yang ber-pena-kan Miss Gemoy?" Dona meringis seketika karena menyayangkan nama pena-nya yang asal asal ia ciptakan awal ia berkarir freelance. Miss Gemoy sangat narsis di telinganya. Hufft.... Lupakan tentang pena itu. Dona malah salah fokus pada sosok Ibu Suci yang sekarang nampak antusias. Si Ibu bahkan berdiri dan ikut naik ke panggung.


"Jadi, kamu penulis lagu yang sering karyanya di beli oleh Ibu?" Ibu yang memiliki garis wajah tegas tegas galak ini, nampak kaget dan tak percaya.


Dan pertanyaan spontan si Ibu Dosen dari perwakilan Universitas Institut Seni ini, mampu mencengangkan para semua orang yang mempunyai kuping. Lebih lebih Hiro dan orang tua Dona sendiri yang benar-benar tidak tahu bakat asli sang anak. Kecuali Olla, gadis tengil itu malah asyik ngupil ngupil jijik. Hidungnya yang sensitif, tercemar oleh aroma parfum parfum bermacam jenis yang menyeruak bebas di ruangan luas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2