
"Ku harap cita cita Hiro, nggak akan direnggut oleh keadaan, Pa. Selama ini, Hiro sudah menurut segalanya. Jadi Hiro mohon, setelah lulus nanti, rencana Hiro yang ingin kuliah di Institut Royal College of Mucis London, nggak dibatalkan secara sepihak. Apapun alasannya, titik."
" Papa masih mengingat itu, Hiro. Meski sekarang kamu mempunyai istri yang harus ditanggung, tapi insyaallah Papa akan usahakan untuk berbicara pada Dona dan keluarganya. Tugas penting kamu saat ini adalah bimbing Dona dalam hal pelajaran. Jika Dona tidak lulus, maka kuburkan saja keinginan kuliahmu di luar negeri."
Dona yang lagi galau menopang dagunya sembari mengingat ingat separuh percakapan Hiro dan Papa mertuanya, dibuat kaget oleh kedatangan Hiro yang main menaruh beberapa buku paket di hadapannya.
" Waktunya belajar! Kamu harus lulus di nilai yang memuaskan," tutur Hiro bak guru pada muridnya.
Dona melirik malas buku buku tersebut. Mengetahui nanti Hiro akan pergi keluar Negeri, membuat semangatnya meredup.
Bagaimana kalau ia tidak menurut saja? Kalau ia tidak lulus kan, otomatis Hiro pun akan gagal pergi meninggalkannya?
"Ide bagus," gumamnya dalam hati sembari tersenyum tipis, puas akan cara pemikirannya sendiri. "Tapi..." Dona menggeleng menepis ide yang awalnya bagus malah jadi buruk.
Selain Hiro yang memiliki mimpi besar dalam hal musik, ia pun sama punya cita-cita. Duh, Dona jadi bimbang. Dan mengapa pula Hiro punya keinginan berkuliah di luar Negeri. Universitas Institut kan banyak di kotanya.
"Dona, please. Nurut kali ini saja. Giat belajar biar jadi orang berguna," intonasi Hiro kali ini sangat lembut karena ada maunya.
Tanpa suara sepatah pun, Dona meraih satu buku. Membukanya dengan pergerakan malas tanpa ia sadari, bukunya itu terbalik.
"Lo, sariawan?"
Dona tidak menjawab. Bahkan, melirik ke wajah Hiro yang berada di sampingnya pun sangat enggan.
"Kita langsung di tahap uji soal. Tanyakan jika ada yang nggak lo pahami."
Lagi, Dona tidak bersuara. Membuat Hiro menarik buku yang berada di tangan Dona.
"Lo kenapa, eum? Buku terbalik pun lo nggak tau!"
"Gue nggak mau belajar!"
Aejrjfkdkdjff... Ingin rasanya Hiro mengomel. Tapi sabar, Dona harus ia bujuk halus. Jangan sampai gara gara Dona tidak lulus, maka cita-cita nya berkuliah di luar negeri ikut terkubur.
"Bagaimana kalau selesai belajar, gue traktir lo makan di luar?"
Alaaah, ada maksud terselubung aja, merayu sabar. Tapi, baiklah... ia akan hargai. Kapan lagi Hiro ini mau ngedate bersamanya bukan?
"Oke, gue mau. Tapi lo jangan bohongin gue dan lo jangan tinggalin gue di jalan lagi ya?"
"Iya... Nggak akan! Ayo mulai belajarnya."
Awalnya bete karena materi sangat susah ia serap. Namun, penjelasan Hiro yang simpel, membuat Dona cepat paham dan bersemangat mengerjakan uji soal di buku itu.
"Coba cek, uda benar apa belum?"
Hiro menerima catatan buku Dona. Memeriksa jawaban soal matematika dengan sangat teliti. Selesai, senyum manisnya tersemat sembari mengusap lembut kepala Dona tanpa sadar. "Ini baru Dona__" Hiro menjeda suaranya.
Dona yang menerima perlakuan manis itu, jadi terbuai. Lekat lekat ia memandang Hiro yang salah tingkah menarik tangannya dari kepalanya.
"A-apa lihat lihat?" Hiro tergagap. Nadanya mulai songong lagi. "Cepat sono siap siap, kan mau gue traktir. Tapi kalau lo berubah pikiran sih, gue mau tidur aja."
__ADS_1
"Enak aja tidur. Tungguin lima menit." Dona ngacir masuk ke kemar pribadinya. Tadi, setelah para orang tua sudah pada pulang, ia dan Hiro sempat berdebat soal kamar. Hingga memutuskan untuk tidur di lain kamar masing-masing.
***
Di boncengan, Dona senyum senyum bahagia menikmati waktu berdua dengan Hiro. Meski ia tahu kebahagiaan yang ia rasakan hanya sementara waktu. Pokoknya, sebelum Hiro pergi, ia akan mencoba mencatat kenangan bersama, walaupun bagi Hiro hanyalah hal biasa.
Chiiit...
Dona yang kaget karena Hiro menurunkan gas secara mendadak, reflek memeluk pinggang Hiro. Ternyata, ada kucing yang nyebrang begitu saja.
"Mundur sedikit, Ndut. Ini sangat sempit."
"Ih, pelit amat sih, gue kan nggak sengaja meluk lo. Salah lo sendiri tadi nge-rem dadakan...!" Dona mendumel sembari menggeser pelan cara duduknya ke belakang.
Dona tidak tahu saja, kalau 'adik' Hiro benar-benar kejepit. Moge dengan jog nungging di tambah tubuh besar Dona yang di boncengnya, semakin mempersempit tempat.
Setelah beberapa menit berkendara, Hiro menghentikan motornya di depan penjual masakan pecel lele plus ayam.
"Nggak apa kan, kita makan di sini? Kan tahu sendiri, kita harus hemat," tutur Hiro sebelum turun dari motor. Rencananya, kalau Dona menolak makan di pinggir jalan, maka akan mencari cafe murah tapi layak buat makan.
"Nggak apa-apa lah, makan di bawah jembatan pun, gue rela rela aja kalau sama lo." Dona turun dari boncengannya. Lantas, Hiro pun demikian, langsung memesan dua porsi menu sebelum duduk di meja sederhana itu.
Sembari menunggu makanan dianter, Hiro membuka suara ke Dona tentang hidup mereka yang di suruh mandiri. "Ndut, gue kalau nggak bisa beri lo nafkah, makan apa coba? Kan tau sendiri, gue nggak kerja. Sementara uang lima juta paling bertahan beberapa hari sih? Lo juga tau, kalau kita itu masih pelajar."
Hiro pusing memikirkan beban rumah tangga yang tiba-tiba ia hadapi. Ya Tuhan, nasib nikah muda. Mana makannya Dona ia sangat tahu porsinya, banyaaaak.
"Bagaimana kalau setiap waktunya makan, kita pulang ke rumah Mama. Kan hemat tuh."
Dona memanyunkan bibirnya. Saat ingin bersuara, si Abang penjual tiba mengantar makanan. Tiba tiba, otak Dona punya ide lagi. Tanpa jaim, ia bertanya pada si Abang, "Bang, di sini ada lowongan nggak?"
Uhuuk... Hiro sampai keselek ludahnya.
"Kenapa memang, Neng? Mau kerja?" respon ramah si Abang sembari menata takzim makanan.
"Bukan saya, Bang. Kalau saya kerja di sini mah, yang ada nanti ayam habis saya cicipi terus tiap ngegoreng."
Si Abang tersenyum lucu akan kejujuran Dona yang bermaksud mengatakan dia tukang makan. Makanya subur tubuhnya.
"Terus, buat siapa atuh?"
"Tuh, buat suami saya, Bang. Dia lagi pusing karena takut nggak bisa beri makan saya katanya."
Atensi si Abang jatuh pada Hiro yang sedang tersenyum paksa padanya. "Dia cuma becanda, Bang. Maaf ya..." Hiro mengelak.
Abangnya menjawab maklum dan berlalu pergi.
"Lo apaan sih, gue mana bisa kerja di sini. Ngegorong air aja kagak bisa yang ada pelanggan pada lari," Hiro mengomel pelan.
"Ih, goreng air yang jelas platak pletuk lah__" Dona di jedah akan Hiro yang main menyuapinya lalapan timun.
"Makan, jangan banyak omong. Nih, sekalian nasi gue separuh buat lo. Gue tau, sepiring itu lo nggak cukup."
__ADS_1
"Ini ngejek gue atau perhatian? Gue nggak bisa bedain." Dona memandang tangan sibuk Hiro yang memindahkan nasi ke piring nya. Baper? Tentu saja!
"Anggap aja keduanya! Buruan makan!"
Melihat makanan di depannya yang menggugah selera, Dona auto menurut. Makan sembari memandang wajah Hiro sudah membuat perasaan Dona bahagia.
Selesai makan, Hiro tidak berlama lama. Segera membayar makanan lalu mengajak Dona pulang.
"Jalan jalan sebentar, kek."
"Nggak ada. Gue takut kita keciduk sama teman sekolah."
Padahal, Dona masih ingin berduaan. Kalau di rumah, Hiro pasti menyendiri di kamarnya.
Malas malasan, Dona naik ke boncengan. Beberapa menit berkendara, Hiro tiba tiba menghentikan lajunya.
"Kenapa?"
"Bocor kayaknya deh, Ndut. Lo turun dulu, mau gue lihat bentar."
Kalimat Hiro tersebut membuat Dona trauma. "Ogah, ah! Nanti gue ditinggal lagi!"
"Astagfirullah, nggak, Donaaa. Buruan turun."
"Hir, jangan ngerjain gue. Lo nggak lihat keadaan, malam dan sepi tau. Kalau gue diculik, bagaimana?" rengek Dona sambil gigitin ujung jaket Hiro bagian pundak.
"Rugi orang yang mau nyulik tukang makan kayak lo. Sumpah, gue nggak bohong. Turuuuun, Dona!"
Mendengar Hiro mulai kesal, Dona akhirnya turun. Pasrah jika memang Hiro mau meninggalkannya. Tapi tidak demikian, Hiro benar-benar ikut turun mengecek ban motor.
"Kempes, tau," kata Hiro putus asa.
"Motor kok nyusahin. Tampang mah keren, tapi butut. Mending timbang kilo aja deh, lumayan buat nyambung hidup. Huuu...Aduh, aduh..." Dona meringis ringis karena menendang ban motor bocor. Ia kesakitan sendiri.
"Lo nggak sadar diri?" Di omelin lagi. "Bukan motor gue yang salah, tapi lo yang kelebihan beban."
"Ohh.." Dona menjawab singkat dengan nada menyebalkan membuat Hiro geleng geleng.
Melihat ada tukang ojek yang kebetulan lewat, Hiro segera memanggilnya.
"Lo balik duluan naik ojek aja, Ndut! Gue mau cari bengkel dekat dulu," seru Hiro sembari melirik tukang ojek yang sudah stay.
"Nggak ah, gue mau nemenin lo. Pulang ke apartemen kan sepi, seram kalau sendiri," tolak Dona.
Lantas Hiro beralih pada si ojek. "Maaf, Bang. Nggak jadi katanya."
"Oh, baguslah. Ngeri nemen lihat orang yang mau Inyong bonceng! Pantatnya lebar!" kata si abang dengan logat logat Jawa kentalnya. Saat Dona ingin mengeluarkan jurusnya, si Abang sudah tancap gas duluan.
"Woi... Jangan kabur, gue pantatin nih! Gue pantatin sambil kentutiiinn!"
Hiro cekikikan, tidak kuasa menahan tawanya pecah saat melihat Dona memberi si abang jurus nungging.
__ADS_1
Saat Dona meliriknya, tiba tiba hening. Hiro mengulum bibirnya. Dalam hati berkata, "Semoga seiringnya waktu, tawa pertama lo tetap ada buat gue."