
Sesampainya di dalam unit, samar samar Dona masih mendengar suara alat musik yang bersahutan di dalam studio teritori Hiro.
"Mereka masih latihan? Yang benar saja..." Dona memindai jam dinding yang menunjukkan angka setengah sepuluh malam.
Dona yang pengertian, tadinya enggan menganggu mereka. Berlalu cuek ke arah kamarnya, namun saat lirik dan not nada terdengar tidak asing baginya, Dona berbalik spontan. Memicing curiga ke arah pintu coklat studio Hiro.
"Lagu ini__?" Perasaan Dona tidak karuan. Ingin memastikan, ia segera menekan pintu studio musik Hiro tanpa permisi terlebih dahulu.
Dona masih mematung di ambang pintu tanpa disadari keberadaannya, ingin lebih memperjelas kupingnya itu yang ia harap memang salah dengar. Tapi kenyataannya, pendengarannya memang disuguhkan karya nada indah ciptaannya.
Dona yang tidak terima, lantas tergesa gesa melangkah lebih masuk dan berhenti tepat di depan Hiro dan Liana membuat latihan mereka terhenti.
"Ndut!" geram Hiro tertahan karena kemunculannya yang tiba-tiba membuat takut akan rahasia pernikahan mereka terbongkar.
Tangannya menangkap pergelangan tangan Dona, tapi ditepik langsung oleh Dona secara kasar dengan tatapan nyalang menghardik satu persatu empat orang di depannya.
Hiro yang masih ingin merahasiakan hubungan mereka, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengeraskan wajah.
"Tolong keluar, kami sedang latihan," usir Hiro masih bernada sopan nan lembut.
"Latihan? Apa kalian nggak tau apa itu plagiarisme berikut pasal hukumnya di undang undang? Mau gue jabarin?"
Ceceran Dona yang berapi api itu tidak dimengerti oleh tiga pria di depannya, kecuali Liana yang masih menampilkan wajah wajah polos beracunnya.
" Lo ngelantur ya!" Hiro mulai terpancing emosi. "Ikut gue __"
"Lagu yang kalian bawakan barusan adalah milik gue! Ciptaan gue!" serka Dona menjeda suara Hiro.
Lantas, Hiro, Viko dan Riko menatap Liana penuh tanda tanya.
Liana yang merasa cukup diam, membuka suaranya dengan nada tenang bertanya pada Dona, "Yakin punya lo? Sejak kapan lo bisa ciptain lagu? Lo main musik aja engga bisa tapi sok sokan mengakui karya gue. Lo mimpi kok sambil berjalan!" ejek Liana merendahkan.
Itulah yang diragukan Hiro, Dona tidak pernah ia lihat memegang alat musik sekalipun. Sementara, kalau menciptakan lagu lengkap not iramanya itu harus piawai bermain musik, minimal satu alat musik harus dikuasai.
"Apa lo bilang? Karya lo? Oh, jadi lo biang keroknya? Dasar pencuri!" Akhirnya Dona tahu akar permasalahannya di sini adalah Liana. Ia kira, Hiro adalah pelakunya.
"Iih, Hiro. Dona jahat amat sih, gue dibilang pencuri," adu Liana dengan nada manja pada Hiro.
__ADS_1
Dona muak mendengarnya apalagi melihat tangan Liana yang menyentuh lengan Hiro membuatnya berang.
"Gini deh, biar nggak ribut, gue setuju dengan perkataan Liana yang meminta bukti." Riko menyela dengan tatapan lurus lurus ke Dona yang sama saja kurang percaya dengan pengakuan Dona. Ia pikir, Dona sangat keterlaluan hanya karena cemburu buta, sampai rela membuat kericuhan di dalam bandnya.
Dengan emosi membuncah di dada, Dona yang paham kalau tidak ada orang yang percaya padanya, bergegas membuka tas yang digendongnya. Tidak sabar ingin membungkam kelompok band di depannya ini dengan cara memperlihatkan agendanya yang berisi beberapa kumpulan ciptaannya.
"Shiit, agenda gue di mana?" Dona sampai menuang isi tasnya secara brutal sampai seluruh yang ada di dalamnya tumpah berserakan ke lantai termasuk baju bekas olahraga muay thainya. "Gue ada bukti, sumpah demi apapun lagu itu milik gue!"
Dona kelabakan. Ia tidak tahu agendanya menghilang kemana? Seingatnya, saat jam terakhir pelajaran, ia masih melihat buku cantik bersampul pink itu di dalam tasnya.
"Oh, astaga..." Dona merutuki keteledorannya seraya menghentikan tangannya mengacak acak barangnya di lantai.
Di club muay thai, agendanya itu sempat ia keluarkan dari dalam tas dan menaruhnya di loker karena tasnya yang kecil tidak muat menampung baju seragam sekolahnya. Niatnya sih, setelah sesi olahraga selesai ia akan mengambilnya, tapi lupa.
"Dona, please! Kehaluan lo membuat latihan kami hancur. Lo keluar aja..." Kesabaran Hiro benar-benar diuji oleh tingkah ke kanak-kanakan Dona menurutnya. Ia menarik Dona agar mau ikut keluar.
Tapi suara Liana menghentikan, "Nggak bisa gitu! Dona yang sudah mengaku akui lagu gue, harus berani membuktikannya. Kalau dia benar penciptanya, maka nggak sulit dong menyanyikannya dengan alat musik." Inilah tujuan Liana, mempermalukan Dona sampai titik terendah di depan Hiro dan lainnya karena ia tahu betul kalau Dona ini punya glossophobia yang tidak sengaja ia dengar dari Dona sendiri ketika waktu itu bertukar cerita dengan Olla.
" Sini... " Liana menarik paksa Dona ke arah Viko. Lebih tepatnya, ingin menyuruh Dona memainkan piano yang berada di depan Viko. "Ayo, buktikan!" paksa Liana. Ia menyadari tangan Dona sudah bergetar efek glossophobia.
"Gu--gue..." Suara Dona tercekat karena merasa kejadian buruk di waktu lampau kini menyoraki dirinya.
Dona payah!
Dona gendut!
Gembrot!
Hahaha...
Semua ejekan dan tawa hina dari teman teman lesnya terasa memenuhi pendengarannya, jika ia dihadapkan dengan situasi yang sama, Ini lah sebabnya, ia tidak pernah tampil memperlihatkan skillnya yang sebenarnya ia sangat memimpikan menjadi pianis sekaligus pencipta lagu ternama.
"Sudahlah, Dona. Karena gue orang baik hati, gue akan maafin lo." Liana mencari muka di depan Hiro dengan cara tidak akan memperpanjang masalah yang diciptakan Dona. Namun suara susulan Liana yang sengaja berbisik ejek membuat Dona naik pitam, "Lagu lo sekarang adalah milik gue!"
"Dasar pencuri!" Dona terpekik. Sekonyong-konyongnya, ia menghantam Liana yang berhasil mempermainkan kesabarannya.
Liana yang tidak tahu pergerakan bar bar Dona yang tak terduga itu, terjatuh ke lantai. Dona dengan mudah sudah duduk di atas perut Liana. Bayangkan, tubuh bignya menindihi badan kurus Liana dengan rambut itu adalah sasaran empuk Dona untuk dijambak brutal olehnya. "Lo boleh milikin lagu gue, anji**. Tapi lo harus bayar dengan ini..."
__ADS_1
Dona seperti kesetanan. Beberapa helai rambut Liana sudah berakhir putus di tangannya. Ia tak peduli dengan ringis kesakitan Liana.
Hiro, Viko dan Riko saja sampai kelimpungan mengalahkan tenaga Dona yang emosi tingkat dewa itu. Tiga pria tersebut susah payah mengangkat beban big Dona dari tubuh Liana.
"Huwaaaa... Sakit..." Liana menangis histeris. Ia tidak bisa melawan tangan bar bar Dona. Istimewa, pergerakannya itu terkunci oleh tubuh Dona yang menduduki perutnya sampai sesak.
"DONAAAA! BERHENTI! LO GILA, HAH? KALAU LIANA MATI BAGAIMANA?" bentak Hiro tak ada pilihan supaya Dona terbebas dari emosi yang tak terkontrol.
Riko berhasil mengunci tangan Dona yang tadinya ingin mencakar wajah Liana. Kesempatan itu, diambil oleh Hiro dan Viko menarik paksa Dona turun dari perut Liana.
"Aaarggh, lepasin gue. Pokoknya, gue baru puas kalau rambut Liana botak sebagai gantiin lagu gue!" Dona ingin menerkam lagi.
Tapi Liana bergegas bangun dan bersembunyi di belakang tinggi tubuh Hiro, Viko dan Riko yang kini kompak menghadang kereokan Dona.
" Hiks, Hiro. Dona jahat banget, kepala gue sakit tau," adu Liana minta dikasihani di belakang sana. Tangannya berangsur bergelendot manja di lengan kiri Hiro membuat mata memerah Dona kian tersulut marah.
"Don, ayo kita pergi!" bujuk Riko lembut.
Tapi Dona sengaja mengabaikannya. Ia ingin menegaskan pada Liana kalau ia menolak keras untuk ditindas lagi, meski caranya kali ini cukup bar bar. "Selain lo pencuri, lo juga perempuan gatel! Lo nempel terus sama suami orang!"
"DONA!" bentak Hiro dengan mata marah ke Dona karena mengakui pernikahan tersembunyi mereka.
"APA?" Dona balas membentak Hiro. Ia sudah tidak peduli dengan rahasianya di ketahui, toh Riko dan Liana sudah tahu kecuali Viko yang terperangah mencerna pengakuannya itu.
"Lo itu sudah gila! Ngelantur! Ikut gue..." Dengan kekuatan, Hiro mencengkeram pergelangan tangan Dona lalu menariknya ke arah pintu.
"Lepasin gue! Gue belum selesai!" Dona yang masih terbawa emosi, berhasil menepis tangan Hiro.
Mata merah murka itu menatap lurus lurus wajah Hiro. "Lo cinta pada Liana, makanya lo belaian sampai mati! Lo nggak mau percaya ama gue karena lo care dengannya. Fine, gue nggak peduli lagi. Intinya, gue akan bebasin lo dari pernikahan yang nggak lo inginkan dari awal dengan perceraian kita!" Dona mengambil keputusan tersebut karena sadar pada 'hatinya' yang harus ia jaga dari sakit tak berdaya.
"Dona, dengerin gue!" panggil Hiro sembari mengejar langkah Dona yang berlari masuk ke kamar. Entah kenapa, kata perceraian dari keputusan Dona, membuatnya resah.
Blaam... Wajah Hiro hampir saja tercium daun pintu.
"Apa gue doang yang nggak tau pernikahan Hiro dan Dona?" tanya Viko pelan. Riko sekadar mengangkat bahunya, tanda tidak ingin berkomentar dahulu.
Liana? Tentu saja menyeringai jumawa di antara nyeri kepalanya. Ia puas mendengar keputusan Dona yang ingin bercerai.
__ADS_1