
Sehabis olahraga pagi, Dona yang sudah harum dari keringat jogging, berjalan ke arah dapur. Membuka kulkas mencari buah naga yang ditaruhnya kemarin.
"Haus begini tuh, enaknya nge-jus. Loh ... loh, kok buah gue nggak ada?" Dona menelisik segala penjuru isi kulkas yang cuma didominasi air putih isi ulang di botol yang ukurannya 300 ml.
"Hirooooo...!" pekik Dona membahana. Dari habis jogging tadi, ia sudah membayangkan nikmatnya minum jus sehat ala buatannya, tapi bahan pokoknya malah raup. Tentu saja hal itu membuat emosinya naik ke kepala. Apalagi usus ususnya yang diajarinya diet, sekarang membutuhkan amunisi.
Tidak ada sahutan dari pemilik nama yang Dona pun tidak tahu keberadaan Hiro, Dona mengambil langkah cepat menuju kamar Hiro.
"Eh, mau apa lo di depan kamar gue?"
Belum sempat menekan gagang pintu, suara pemilik kamar sudah berada di belakangnya.
Lantas, Dona berbalik cepat. Mendelik ke Hiro sembari berkata, "Buah milik gue di kemanain?"
"Buah?" Dengan spontan, Hiro melirik bagian dada Dona.
Dona yang peka akan tatapan salah kaprah Hiro, segera menyilangkan kedua tangannya. "Cihh, dasar mesum. Gue nyari buah naga yang kemarin gue taruh di kulkas!"
"Oh, itu. Ada, tapi di sini. Aman kan ya?" Tanpa dosa, Hiro menunujuk perutnya sembari tersenyum lebar. Mulut Dona sampai melongo setengah terbuka, speechless.
Hiro memang sengaja ingin membuat Dona kesal.
"Kok lo ambil sih? Itu kan punya gue. Pokoknya, keluarin dari perut lo! Gue nggak relaaa..." Dona mengguncang guncang perut Hiro, memaksanya bergolak tanpa memikirkan sang pemilik tubuh.
"Ndut, woii... Lo sadis amat sih. Gue mual tau."
"Bodo amat! Siapa suruh lo main makan punya orang!"
"Dasar pelit! Nanti gue ganti. Ikut gue..." Hiro menarik paksa tangan Dona ke arah dapur. "Lo duduk aja di meja makan. Gue masakin mie sebagai gantinya."
"Nggak! Gue ogah makan mie! Itu kalorinya sampai seribu. Lo jangan jangan sengaja mau buat acara diet gue gagal. Iya kan? Ayo ngaku!" cecar Dona.
Hiro menyeringai. "Memang...!"katanya enteng dengan senyum menyebalkan ke Dona.
" Awas, lo, Hir. Gue balas nanti!" Dona melempar kain lap kompor kecil ke arah wajah Hiro dengan kesal. Lalu ngacir cepat cepat untuk menghindari balasan lemparan Hiro.
__ADS_1
Mereka seperti kucing dan tikus.
"Ndut... Lo jangan kabur. Hari ini, lo kudu bantuin ngedorong motor gue ke bengkel. Lo harus tanggung jawab karena gue tau lo yang membuat kedua ban itu kempes kemarin!"
Aih, musibah. Hiro kok bisa tau?
Lantas Dona terpaku di tempat. Hiro yang tadinya mengintil di belakang, tidak sengaja menbubruk punggung Dona sampai tubuh bagian depan Dona terhempit tembok.
"Hirooo! Ah, cepat minggir bego. Sesak nih...!" nafas Dona engap.
" Ck, jangan salahin gue. Lo nya aja berhenti tanpa nyalain sein," dengus Hiro sembari mundur satu langkah.
"Lo pikir gue kendaraan. Huu..." Dona lebih ketus mengomel. Dan Ja-jangan nuduh tanpa adanya bukti," tutur Dona ingin mengelak dari kenyataan. Tapi suara terbatanya, lirikan mata serta raut wajahnya itu tidak bisa tenang karena ia memang terlalu payah untuk berakting berbohong.
"Ini buktinya...!" Hiro mematahkan elakan Dona sembari memamerkan jepitan kecil milik gadis itu. "Gue nemuin jepitan milik lo di dekat ban motor gue. Mau ngelak bagaimana lo, eummm???" Sengaja, Hiro memajukan kepalanya dengan mata melotot sok seram ke Dona.
"Mundurin pala lo..." Dona menoyor berani jidat Hiro. Merasa di tatap horor, Dona kembali bersuara mengakui perbuatannya. "Iya, gue yang lakuin! Gue mau bantu lo dorong, tapi gue butuh sarapan dulu."
Pengakuan ini yang ingin di dengar Hiro.
Kening Dona mengkerut dengan mata memandang heran kepergian Hiro. Ia tidak salah dengar kan? Hiro punya sarapan bagus untuk program diet nya katanya. Bukannya tadi di dapur, Hiro mengatakan akan menggagalkan usaha diet nya? Ah, Dona jadi galau. Tidak bisa menebak jalan pikiran Hiro. Apakah Hiro raja tega atau orang yang peduli padanya? Bingung!
"Nih, jus wortel. Kalorinya cuma empat puluh kkal per seratus gram. Jus paling cocok untuk diet. Ambillah..."
Hiro kembali dengan tangan kanan menjulurkan segelas jus berwarna cantik untuk Dona raih.
"Nggak ada gula dan hal lainnya kan?" Dona memandang curiga gelas tinggi itu.
"Kalau nggak mau, gue minum sendiri __"
"Eh, enak aja!" Seperti angin, Dona merampas gelas di tangan Hiro.
Di cecapnya sedikit demi mematahkan kecurigaan nya ke Hiro. Manatau Hiro ini dalam mode jahil bukan? Tapi, kok enak. Auto minum sampai habis. Legaaa rasanya.
"Nah, kan lo uda ada energi nih. Ayo, dorong motor gue."
__ADS_1
Kampret... Ternyata itu alasan Hiro. Ia kira, Hiro berubah baik dengan tulus. Tapi, di suruh jadi kacung.
***
"Ya Allah, Hir. Bengkelnya ngapa jauh amat sih dari apartemen? Gue tadi uda wangi loh, sekarang uda mandi keringat lagi." Dona mengeluh. Di bawah terik sinar matahari, ia membantu mendorong motor Hiro dari belakang yang kini sudah hampir tiga puluh menit melakukannya.
"Ngapa lo nggak nyuruh montir aja datang ke apartemen sih? Kan enak, nggak perlu capek capek dan panas panasan juga seperti ini. Kulit gue bisa gosong tau." Dona kembali cerewet. Tangannya sesekali menyeka keringat yang berlomba lomba keluar dari pori pori wajahnya.
"Bawel, lo! Kalau gue nelepon montir, yang ada pembayarannya dua kali lipat. Gue kan belum kerja. Harus irit! Lagian, siapa suruh lo jahil dengan cara merusak ban motor gue. Sekarang, lo menanggung juga getahnya," balas Hiro jutek.
Dona yang sadar diri, akhirnya diam seribu bahasa.
Tanpa mereka ketahui, sepasang mata sipit Liana dari dalam taksi, melihat kesengsaraan Dona dan Hiro yang malah terkesan romantis di mata iri Liana. Wajah tirus gadis itu, mengetat marah. Sewaktu menjadikan Dona badutnya, ia sudah menegaskan pada gadis gendut itu agar menjaga jarak dengan Hiro. Tapi ini...?
"Damn... Lihat saja besok, Dona. Bullyan gue akan lebih parah dari kemarin!" selesai bergumam jahat. Liana segera mentitah pak supir taksi untuk kembali melanjutkan perjalanan.
" Huaa... Capek ... Puaanas ... haus, gue mau mati, tapi nggak jadi karena bengkel sudah di depan mata." Nafas Dona ngos ngosan parah. Ia membiarkan Hiro mendorong motor nya masuk ke area bengkel sendiri. Sementara ia memilih mengambil duduk di ruang tunggu bengkel yang antriannya cukup lumayan rame. Suara 'krek' kursi yang Dona duduki, membuat seorang ibu yang memangku anak sekitar tiga tahunan, mendelik seketika.
Dona tercengir kikuk. "Ibu..." katanya menyapa. Tidak enak di pandang aneh begitu, Dona beringsut ke arah Hiro yang sedang mengobrol dengan salah satu montir kosong di sana.
"Uda benar duduk di sana. Malah ke sini. Ayo, duduk lagi." Hiro berjalan duluan ke arah ruang tunggu, mengambil duduk di sebelah si ibu tadi.
Cuaca yang tadinya panas, tiba-tiba mendung dan turun air hujan begitu saja.
Mata Dona yang berbinar melihat itu. "Hir, gue mau mandi hujan. Enak kayaknya." Dona ngacir begitu saja. Ia sama sekali tak peduli dengan mata orang-orang yang memperhatikannya. Baginya, ia terbebas dari tubuh gerah yang sudah capek mendorong motor.
Hiro tersenyum tipis melihat tingkah Dona yang memang dari kecil suka dengan mandi hujan. Ia jadi membayangkan waktu mereka masih berumur delapan tahun. Dona yang main hujan waktu itu, terpeleset seperti kodok kejengkang masuk ke got dangkal. Di kira tidak ada yang melihat kesialannya, Dona berujung bermain di got dengan sendal kedua orang tua nya di jadikan kapal kapalan yang berlombaan, sampai sendal sendal itu hilang ke bawa air. Masih tak punya rasa dosa, Dona yang kehabisan sendal, malah mengendap endap mencuri sendal dirinya di teras. Lagi, Dona menghilangkan sendal kesayangannya membuat Hiro marah waktu itu.
"Cup, cup, cup ... diam ya, Nak. Lihat sono noh, ada kuda nil mandi hujan."
Lamunan Hiro di masa kecil buyar, manakala mendengar suara si ibu yang duduk di samping nya, sedang membujuk anaknya agar diam dari rewelnya.
Ada kuda nil mandi hujan katanya? Waah... Dona di katain kuda nil. Hiro meradang. Yang boleh mengejek Dona itu hanya mutlak dirinya, ia tidak rela kalau ada orang lain yang ikut ikutan membully body shaming Dona.
"Ibu nggak sekalian mandi hujan sana? Biar kuda nil nya ada dua gitu!"
__ADS_1
Si ibu menoleh canggung ke arah Hiro. Lalu melirik tubuhnya yang tak kalah berlemak dan gembrotnya dari Dona. Kemudian, hening.