Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 26# Merelakan Meski Terpaksa dan Sakit


__ADS_3

Di dalam kamar, Dona menangis terisak isak sembari merapikan barang pribadinya. Malam ini, ia berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Mengambil keputusan perpisahan, sebenarnya sangat terpaksa dan berat baginya, tapi demi kebahagiaan Hiro yang tidak menginginkan pernikahan itu dari awal, ia harus siap mengorbankan perasaannya.


Ceklek...


"Kita harus bicara..."


Baru keluar dari kamar, langkah Dona langsung di blokir oleh Hiro dengan nada tak mau dibantah.


"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tenang aja, gue nggak bakalan jelek jelekin nama lo di depan orang tua," tutur Dona sadar diri jika pernikahan itu awalnya tidak diinginkan Hiro.


Sejenak, Dona mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Sepi, mungkin Liana dan lainnya sudah pulang.


Setelah bersuara, Dona melangkah ke samping ingin menghindar dari blokiran Hiro yang menghalangi jalannya. Tapi, Hiro dengan sigap menahan lengan Dona.

__ADS_1


" Lo yakin mau cerai?" tanya Hiro ingin mendengar sekali lagi keputusan Dona yang tak terduga sebelumnya. Ia kira, Dona ini cinta mati padanya. Tapi, kenapa ingin bercerai?


Hening sesaat.


Tangan Dona yang menjinjing tas barang barang pribadinya, ia letakkan ke lantai sedikit kasar karena Hiro enggan melepaskan cekalan di lengannya. Menatap Hiro dalam dalam sembari berkata, "Lo pasti senang kan? Untuk perceraian ini, gue ngeberi lo kebebasan mengurusnya. Kapanpun surat perceraian turun, gue nggak akan mempersulit." Dona tersenyum pahit.


Hiro yang ingin bersuara, didahului Dona, "Seharusnya gue sadar lebih awal, kalau sosok pangeran hanya milik cindirella. Ibaratkan, gue cuma setitik debu dalam kehidupan lo yang memang seharusnya dibersihkan. Gue juga salah prediksi, dengan berpikir cinta akan bersemi seiring waktu kebersamaan kita. Tapi, malah sebaliknya, kita malah saling menyakiti. Ah, maksud gue ... gue yang nyakitin lo atas nama cinta bodoh gue." Suara Dona pelan nan bergetar. Ia mati matian menahan air matanya agar tidak terlihat menyedihkan di depan Hiro. Melepaskan atau merelakan sesuatu yang berharga dalam hidup itu rasanya sangat berat bukan? Itulah yang Dona rasakan.


"Dona _" Lagi, ucapan Hiro terjeda akan tangan Dona yang terangkat. Dona benar benar tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Hiro yang menurutnya tidak ada gunanya lagi. Ia kecewa karena Hiro lebih care pada Liana ketimbang membela apalagi mempercayai dirinya.


Kali ini, langkah Dona tidak lagi dihentikan Hiro. Pria itu terpaku di tempat dengan perasaan tak karuan. Ia senang lepas dari pernikahan rahasianya? Atau malah sebaliknya? Entah, Hiro pun tidak bisa mendeskripsikan isi hatinya untuk saat ini.


***


" Loh, Dona?"

__ADS_1


Hilda - Mamanya itu nampak kaget melihat kedatangannya dengan tangan membawa tas barang pribadinya.


"Mama..." Dona berhambur masuk ke dalam pelukan Hilda.


"Apa yang terjadi?" Meski sudah menebak kalau rumah tangga anaknya ada masalah karena Dona sampai membawa barang barang, Hilda tetap ingin penjelasan detailnya.


"Masuk dulu..."


Hilda langsung membawa Dona ke kamar yang sudah ditinggalkan selama menikah dengan Hiro.


"Papa sudah tidur. Sebaiknya, kamu cerita sama mama saja dulu. Apa yang terjadi, Nak?" Sebagai seorang Ibu, Hilda siap membuka lebar lebar telinganya untuk mendengar cerita anaknya.


Dona yang memutuskan mengambil cara perpisahan, mau tak mau harus jujur menceritakan dari awal kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Hiro sampai berujung menikah, tapi ia benar benar menepati janjinya yang tidak akan menjelek-jelekkan nama Hiro dengan cara tidak menyangkut pautkan Liana dan masalah lainnya. Ia tidak ingin nantinya membuat persahabatan dua keluarga pecah hanya karena perpisahan mereka.


"Ini semua salah Dona, Ma. Dona yang terlalu percaya diri bisa meraih cintanya dengan cara adanya pernikahan kami. Tapi, Dona salah duga. Hiro terluka, akupun demikian yang ingin melampaui batas dengan cara memaksa hati Hiro mencintai Dona."

__ADS_1


Tangan kanan Hilda terulur menyeka air mata anaknya yang berjatuhan ke pipi. Hilda tidak berkomentar atau menjeda Dona karena ingin menunggu waktu tepat untuk bersuara. Biarkan anaknya ini menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu, meski jujur, ujung lidahnya sudah banyak kata kata yang ingin mencuat.


__ADS_2