
"Ya ampun, Hiro. Sakit sih sakit, tapi kalau pala lo terus di bahu gue, yang ada bukan hanya perut lo yang diperiksa Dokter, tapi kepala lo juga yang lama lama akan tengleng karena tubuh lo yang tinggi itu nggak pantes nyandar di gue yang pendek. Lo mau batang leher lo sakit, hah?"
Dona mengomel pelan. Ia merasa aksi Hiro ini terlalu berlebihan darinya. Ingat ingat, dulu dulu ia cuma berani menggoda Hiro di tempat tempat tertentu dan juga di depan orang-orang terdekatnya.
Namun Hiro? Dari arae luar unit apartemen, di dalam taksi sampai di rumah sakit pun, pria ini terus ngegelendot seperti anak kecil ke emaknya. Alhasil, para mata pengunjung dan beberapa suster memperhatikan langkah mereka di koridor rumah sakit saat ini.
"Gue lemas, Don. Jangan ngomel napa, kan gue sakit begini karena lo juga," rajuk Hiro sama sekali tidak peduli dengan tatapan tatapan aneh dan pendapat dari orang orang asing sekelilingnya.
"Gue kan begini ingin membuktikan kalau gue nggak mau lagi pernikahan kita di rahasiakan. Toh, kita kan uda lulus sekolah. Jadi nggak ada masalah lagi dong pernikahan kita dipublikasikan?"
Bugh...
Dona yang ingin bersuara terjeda akan seseorang yang tidak sengaja menabrak sisi tubuhnya, tepat ketika langkah mereka di belokan.
" Aww... " desis orang bertopi itu kesakitan.
Suaranya tidak asing bagi Dona ."Bang Iko?" panggilnya ingin memastikan karena setahu Dona, trainernya itu tidak dalam keadaan terluka. Tapi, pria yang masih sibuk menunduk seraya meringis ringis menetralkan rasa sakit, satu tangannya di gips kain khusus medis. Itulah yang menyebabkan Dona ragu pada pria di depannya ini karena setahu nya, Bang Iko itu sehat walafiat.
"Hai, Dona." Bang Iko menyapa ramah yang tadinya sempat ingin memaki orang yang sudah membuat lengan cederanya tersenggol yang menyebabkan kian berdenyut sakit.
Bang Iko? Merasa tidak asing namanya bagi Hiro, pria itu gegas gegas menegakkan posisi tubuhnya yang tadinya masih berada di bahu kiri Dona. Ia yang merasa garis teritorinya terancam, seketika melupakan perutnya yang masih kadang kadang nyeri, matanya tertuju tajam ke arah Bang Iko dengan tangan berangsur merangkul pinggang Dona, mesra.
"Kok, tangan Bang Iko di gips? Kenapa?" tanya Dona perhatian sebagai seorang teman. Namun matanya itu tertuju ke bawah, lebih tepatnya ke tangan nakal Hiro yang semakin mempererat rangkulannya.
"Oh, ini. Semalam pas lagi duel sama trainer lain, gue dapat pukulan keras yang nggak sengaja sampai seperti ini," terang Bang Iko sembari melirik ke aksi tangan Hiro pun yang nampak nampaknya pria tampan di sisi Dona itu sangat posesif.
__ADS_1
Dalam diamnya, Bang Iko yang sedikit tahu pernikahan kilat Dona dari cerita Olla, jadi penasaran berat, apakah Dona dan suaminya kembali rujuk? Baru juga ada niat mau pendekatan setelah Dona resmi menjadi single yang kata Olla, Dona itu calon calon janda perawan.
Ini namanya sih, kalah sebelum berperang.
"Owalahh, ceritanya gitu ya, Bang." Dona yang bolos latihan kemarin, jadi ketinggalan info. "Lekas sembuh ya, Bang Iko_"
"Hey, Bro. Kenalin, gue suamiiiii Dona." Hiro yang muak di kacangin, terpaksa menjeda Dona dan gantinya ia mengulurkan tangan untuk berjabat sembari menekan kata suami. Dona miliknya, kagak boleh di tatap damba seperti yang di pancarkan si Abang bakso eh Iko.
"Gue Iko, trainer Dona di club muay thay."
Fixed, Hiro nanti akan ikut jadi member club yang dimaksud pria ini. Bukan untuk berlatih sih, tapi untuk menjaga istrinya. Hiro jelas tau, di sana pasti banyak pria lain yang amit amit ada yang ditaksir Dona, begitu pun sebaliknya.
Meski mereka sudah berumah tangga, tapi sesungguhnya Hiro paham kalau status suami istri mereka hanya nama-namaan saja karena masih rapuh stasusnya. Ibarat tumbuhan, rumah tangganya itu masih dianggap kecambah toge yang belum punya pondasi kuat.
"Bang, kami duluan ya. Mau ke poli Gastroentero Hepatologi. Permisi." Mendengar beberapa kata patah Hiro yang halus halus nyolot, terpaksa Dona harus undur diri. Jangan sampai, Bang Iko yang ia hormati, jadi kekesalan tak berdasar Hiro.
"Gue nggak suka sama trainer lo, Don." Di sepanjang langkah langkahnya, Hiro mengeluarkan unek uneknya. Ia cemburu tapi Dona tidak peka.
"Ya memang begitu, lo kan kodratnya laki laki. Sebagai sesama jenis, memang haram hukumnya saling menyukai bukan?"
Anzeem... Dona menanggapinya santai sekali. Mana kalimatnya itu menyebalkan sekali. Sebaiknya ia jujur saja. "Gue itu cemburu tau."
Dan pengakuan Hiro, membuat Dona menoleh bak angin ke arah samping. Mereka saling pandang dengan langkah masih terus berlanjut.
Bugh...
__ADS_1
Kali ini, Hiro yang di tabrak seseorang.
Liana? Yaak, Liana sekarang membungkuk mengambil plastik berisi obat yang baru ia tebus.
"Kalau jalan pakai mata dong, Mas. Kan, obat Mama gue jadi berantakan. Untung nggak rusak___ Hiro?" Liana menghentikan omelannya saat ia mendongak ke orang tersangkanya. Sejurus ia melirik ke samping, di mana ada Dona yang memandangnya datar.
"Sorry, gue nggak sengaja, Na." Demi ettitude, Hiro yang salah tetap harus meminta maaf. Meski jujur, ia pun malas untuk bertukar sapa lagi dengan tokoh tersangka utama yang membuat pemicu karir musik nya down di titik terendah.
Setelah melakukan klarifikasi secara offline dan Online, Hiro sampai saat ini tidak berani membuat jejaring sosial media, baik itu akun pribadinya maupun akun khusus Fourged karena ngeri membaca banyak komenan yang pasti merusak mood jika dibaca.
"Iya, nggak apa. Dan, Hir. Gue sebenarnya ingin __"
"Duh, Nak. Sabar napa, calon bapak lo lagi ngomong sama mantan eh apa masih pacar ya? Mama juga nggak tau persis. Apa, Nak? Lo di dalam pengin mukulin bapak lo? Jangan dong, nggak baik ah. Apa apa? Kalau nggak di izinin mukul, kamu mau cabut bulu bulu kaki nya? Ah, ada ada aja deh, tapi Mama izinin kalau cabut zembuuutnya. Uda yuk, kita ke dokter kandungan berdua aja. Nggak apa-apa mereka reunian dulu. "
Demi apa, Hiro yang mendengar kalimat Dona yang menceracau asal asalan karena ia tahu aksi nya itu di picu dengan rasa cemburu, tercenung dan terpaku di tempat. Sejurus, senyuman di wajahnya melebar full yang tak luput dari penglihatan Liana.
" Astaga... Heheh..." Hiro terkekeh kecil sembari menggerakkan kakinya mengejar Dona yang sudah beranjak sedari tadi setelah kalimat karangan bebasnya yang lucu lucu itu tercuat. Rasa sakit perutnya seperti sudah sembuh tanpa diobati oleh resep dokter, cukup Dona cemburu terus padanya maka pasti akan bebas dari penyakit. Kan, cemburu itu tanda cinta?
"Cemburunya lucu..." goda Hiro dengan tangan ingin meraba perut Dona yang ngarang bebas katanya sedang hamil itu. "Yuk, nyetak adonan dedek beneran."
"Diam, lo..." Dona mencubit lengan Hiro.
Dari tempat yang tadi, seluruh gerak gerik Dona dan Hiro tak pernah luput dari pengawasan Liana yang terkesan sangat menggemaskan. Ia juga termakan mentah mentah karangan Dona yang katanya lagi hamil itu, karena godaan Hiro yang jauh di sana, tidak ia dengar.
"Semoga kalian selalu bahagia dan selalu dilindungi pernikahannya." Semenjak kejadian memalukan hari itu, ia memang sudah tak ada niat muncul di depan Hiro dan Dona lagi. Karena kelakuan buruk nya pula, Mama nya kini jatuh sakit karena banyak pikiran.
__ADS_1