
"Don, kantin yuk." Dona yang lagi nulis histori di agenda khusus ciptaan lirik lagunya, diganggu oleh Olla.
"Ngaak ah, gue lagi diet. Yang ada nanti perut gue lompat lompat nyiumin aroma baso, mie ayam, soto dan makanan enak lainnya," tolak Dona merana. Jujur, perutnya meronta ronta laknat saat membayangkan betapa nikmatnya kuah baso di siang hari.
"Ah, lo mah, nggak asyik. Masa gue sendirian sih? Kan lo tinggal jajan air putih aja. " Olla menggerutu manja. Sekali lagi, ia membujuk Dona dengan cara menggoyangkan lengannya. Di tambah dengan puppy eyesnya yang membuat Dona tidak tega menolaknya.
"Jijik gue lihat muka memelas lo." Dona menutup bukunya, menaruh catatan penting itu ke dalam tasnya. Lalu meninggalkan kelas bersama Olla yang tersenyum girang.
Melihat Dona sudah meninggalkan bangkunya, Yuni segera memberi laporan ke Liana.
"Na, Dona dan Olla sudah pergi dari kelas. Sisanya, hanya ada beberapa teman yang ngerumpi," baca Liana akan chat Yuna.
Liana yang saat ini berada di aula dengan band Hiro, mencoba berpikir keras agar bisa kabur sejenak dari latihan band mereka.
"Auhh..." ringis akting Liana sembari memegangi perutnya yang tidak sakit. "Gue boleh izin ke toilet bentar nggak. Mules nih..." bohong Liana. Agar meyakinkan, ia memasang wajah wajah kebelet di depan Hiro, Viko dan Riko yang kini sudah pada stay dengan alat musik masing-masing.
__ADS_1
"Ya uda sana, tapi jangan lama lama. Nanti anak seni tari mau latihan setelah kita."
Jempol Liana terangkat 'okay' ke arah Hiro. Lalu secepatnya ngacir ke arah yang berlawanan dari toilet.
Sampai di kelas, Yuni sudah menyambutnya dengan senyum licik.
"Beri kode kalau Dona atau Olla datang," titah Liana pada Yuna. Sementara Icha, sejak tadi sudah menjalankan tugasnya yakni meramaikan rumpian beberapa siswa sekelas mereka itu dengan cara ikut nimbrung, supaya mereka semua tidak sadar apa yang akan dilakukan oleh Liana.
Agar tidak dicurigai, Liana berpura-pura main hape dengan santai di bangku milik Dona. Satu tangannya merogoh masuk ke dalam tas Dona. Ia ingin membalas Dona perilah di ruangan loker tadi, dengan cara mengambil buku PR gadis itu. Setelah istirahat, pelajaran fisika yang gurunya terkenal killer non toleran itu yang akan mengajar. Auto, Dona akan dihukum jika tidak mengumpulkan tugas.
"Agenda?" Liana takjub melihat sampul pink cantik di tangannya. Dengan penasaran, ia membuka halaman catatan penuh lirik lagu ciptaan Dona. Mata sipit Liana seketika lebih membelalak takjub lagi dari sebelumnya, setelah menyadari ia telah mendapatkan hal berharga bak harta karung.
Sumpah, Liana tidak menyangka, kalau Dona sangat mahir menciptakan lagu dengan not not irama sudah lengkap pula. "Ini, tinggal di nyanyikan aja," lirih Liana semberinga. Seringai licik tersemat di bibirnya. Buku PR sudah tidak menarik lagi baginya.
"Na, Dona dan Olla mau kemari. Buruan kerjain, mereka sudah di anak tangga," lapor bisik Yuni yang baru datang dengan nafas ngos ngosan.
__ADS_1
Liana yang kaget, tidak sengaja menjatuhkan agenda berharga Dona. Tidak mau kehilangan kesempatan bagus yang tak datang dua kali, Liana yang awalnya ingin memiliki dengan cara mengambil buku itu, berujung hanya menyobek satu halaman saja supaya Dona tidak heboh kehilangan nanti.
"Ayo..." Sudah rapi kembali, Liana segera menjauh dari bangku Dona dan Olla.
Mereka bertemu tepat di depan tengah tengah gawang pintu. Liana sengaja tidak mau menyingkir saat Dona ingin melangkah masuk ke kelas.
"Lo nyari ribut? Minggir, nggak?" Olla sudah geram duluan. Kesabaran sahabat Dona ini memang setipis rambut.
"Yeek, nyolot amat lo. Yang ada, kalian lah yang harus minggir," balas Liana tak mau kalah.
Dona sih masih stay cool. "Udahlah, Olla. Kita sebagai orang waras harus ngalah aja. Bila perlu, kita sambut langkah mereka. Seperti ini... Ehemm..." Dona berdeham sejenak sembari sedikit mengambil langkah tipis ke samping sebagai jalan lewat Liana. Dengan ejek, Dona mulai bersuara, "Silakan lewat Tuan putri... Ah, ralat. Maksud gue, sialahkan lewat mak jago..."
Olla tertawa ngakak melihat ekspresi kesal Liana pada ejekan Dona.
"Dasar cewek cewek aneh." Liana mencibir sebelum melangkah cepat yang memang tidak banyak waktu meladeni Dona dan Olla karena sudah ditunggu latihan dengan Hiro dan lainnya.
__ADS_1
"Ya, ya, ya... Lo boleh senang kali ini. Tapi lihat saja, apa yang akan gue lakuin dengan lagu ciptaan lo," batin Liana merasa jumawa satu langkah di depan Dona.