Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 39# Mengubur Cita-cita Demi Memperjuangkan Keinginan Hati


__ADS_3

Hiro yang galau, memutuskan pulang ke apartemen untuk sekedar menenangkan pikiran kacaunya setelah hura hara yang dilakukan Dona.


Saat ini, tatapan kosongnya jatuh pada peralatan musik yang berada di dalam studio kecilnya.


Dengan ujung ujung jemarinya, Hiro menyentuh nalar gitar yang sering dimainkannya.


"Perjalanan kita sampai di sini. Maaf..." Seperti memiliki nyawa, Hiro mengajak berbicara gitar kesayangannya dengan suara pelan nan terdengar sedih. Sejurus, ia mengambil sarung khusus gitar untuk dikemasnya.


Bukan hanya gitar saja yang akan di pensiunkan entah sampai kapan itu, tetapi seluruh alat musik yang berada di dalam ruangan tersebut, Hiro kemas dengan penutup kain putih yang bersih.


Hiro memutuskan untuk mengubur cita - citanya sebagai musisi. Study yang ia rencanakan keluar negeri pun, sudah ia pikir masak masak untuk digagalkan nya. Sedih sih, tapi ia sudah tidak punya muka untuk kembali ke dunia tarik suara.


Untuk kuliahnya nanti, ia pun tidak tahu harus mengambil jurusan apa kecuali musik yang sudah ia kubur mulai hari ini.


Sementara di sisi Dona, sepulang dari acara sekolah yang kacau karenanya, gadis itu mengurung diri di kamar dengan perasaan tak kalah kacaunya.


Dona pikir, setelah melihat Fourged hancur, ia akan merasakan kepuasan. Tapi malah sebaliknya. Ia membenci Hiro karena sudah dikecewakan, tapi melihat wajah pria itu terpuruk hancur dalam ketidakberdayaan, Dona jadi serba salah dibuatnya.


Tidak mau munafik, dalam hatinya mengakui, kalau cintanya itu masih dimiliki oleh nama Hiro. Tapi, Dona yang yakin tidak bisa memiliki hati pria itu, saat ini sudah memutuskan hal yang paling terbesar dalam hidupnya.


"Jika cinta nggak bisa dimiliki, maka melepaskan adalah jalan satu satunya, Dona."


Dona menasehati dirinya sendiri demi kesejahteraan hidupnya di masa mendatang, sembari menatap map coklat yang berada di atas meja belajarnya. Isinya adalah sebuah surat perceraian yang sebenarnya sudah beberapa hari lalu ia siapkan. Ia sadar diri, kalau apa yang telah diperbuatnya tadi siang adalah pemicu kebencian Hiro yang pasti bertambah dua kali lipat padanya. Hiro pasti tidak sudi mau melihatnya lagi.


Tidak mau membuang buang waktu lagi, Dona bergegas keluar kamar dengan berkas perceraian itu ia bawa bersamanya.


"Mau kemana, Dona?" tanya sang Mama menghentikan langkah gadis itu di anak tangga paling terakhir.


"Ada urusan penting, Ma. Cuma sebentar kok." Muacch... Tanpa memberi kesempatan Hilda berbicara banyak, Dona pergi begitu saja setelah mencium pipi sang Mama.


Hanya hitungan menit, Dona sudah berada di rumah orang tua Hiro yang memang cuma sebelahan.


Papa mertuanya yang telah menyambut Kedatangannya dengan ramah, Dona yang sempat membuat kekacauan, tentu saja jadi merasa canggung pada orang tua Hiro.


Tunggu dulu, kenapa Papa mertuanya ini masih sedia kalanya bersikap baik pada nya? Apakah tidak merasa marah karena ia sudah berhasil membuat nama anaknya tercemar?


"Uda makan malam belum? Ayo, kita makan bersama, Nak. Sekian hari, akhirnya kamu mau menginjak rumah Papa lagi. Ayo, masuk."


Dona tercenung dengan sikap Pak Fauzi yang nampak tidak mempermasalahkan hal yang berlalu, sampai tidak sadar jika lengan yang dihela oleh Papa Hiro ini sudah berada di ruang makan. Ada Tania dan Dafa tanpa ke keberadaan Hiro di depannya.


"Kak Dona, sini duduk di kursi kak Hiro. Mumpung orangnya ngilang entah kemana," celetuk Dafa membuat Dona bertanya tanya.


"Ngilang? Ke mana, Ma, Pa?" Demi membunuh rasa penasarannya, Dona bertanya cepat. Jangan bilang, Hiro putus asa dan berujung bunuh diri. Alamaakk... Ia akan merasa bersalah seumur hidup karena secara tidak langsung, ialah pengacau hidup Hiro.


"Jangan dengerin Dafa. Lebih baik makan dulu sama kita, Hiro ada kok. Tapi di apartemen milik kalian," kata Tania menjelaskan.


Hufft, Dona bernafas lega. Pikirannya terlalu paranoid.


"Dona uda makan, Pa, Ma. Sebenarnya Dona mau bertemu Hiro. Sebaiknya, Dona pergi sekarang aja ya, biar nggak kemalaman di jalan. Assalamualaikum..." Dona yang terburu buru, tidak bisa dihentikan oleh Tania.


"Jangan jangan, Dona mau bahas soal perceraian mereka, Pa?" tebak Tania sedih. Ia berpikir demikian karena ujian mereka memang sudah usai.


"Mereka sudah besar, Ma. Apapun keputusan mereka, itulah yang terbaik bagi keduanya." Pak Fauzi nampak pasrah dengan hubungan anak mantunya.


***


Hampir satu jam di perjalanan, akhirnya Dona sampai di depan pintu unit yang pernah ia tempati bersama dengan Hiro.

__ADS_1


Inhale exhale...


Beberapa kali, Dona menarik nafas, buang nafas secara teratur sebelum mengakses pintu.


Klikkk...


Mendengar suara pintu terakses, Hiro yang duduk termenung di sofa, menujukan atensinya ke arah pintu.


"Dona?" katanya kaget dengan hanya gerakan bibir saja.


"Gue kira, lo mau bunuh diri karena prustasi berat." Seperti sedia kalanya, mulut ceplas ceplos Dona terdengar menyebalkan, tapi bagi Hiro, hatinya malah terobati mendapati Dona berada di depan matanya.


"Jangan tatap gue seperti mangsa. Kalau mau marah, caci aja sekarang juga daripada dipendam pendam, nanti lo punya jerawat batu."


Sebenarnya, Dona tidak nyaman ditatap intens, Akan hal itu, ia sengaja bersikap konyol demi mengurangi kegugupannya.


"Gue mau ngomong sesuatu."


"Sama," imbuh Dona menyahut sembari menjatuhkan bokongnya ke sofa.


"Lo duluan, katakanlah." Dona kembali bersuara. Ia pikir, Hiro pasti mau memaki makinya demi mengeluarkan kekecewaannya tentang kehancuran karirnya tersebut. Tarik nafas dulu, sebagai persiapan menerima emosi Hiro.


"Lo dulu aja. Sebagai laki laki, gue harus ngalah." Hiro belajar dari kesalahannya kemarin.


Demi membangun hubungan bersama Dona kembali, ia rela dan ikhlas untuk tidak membahas tentang karirnya yang sudah jatuh ke titik dasar. Toh, nasi sudah menjadi bubur. Lain halnya dengan hubungan pribadinya, Hiro masih berharap bisa memulai dari nol bersama Dona.


Dona menaikkan satu alisnya. Sedikit aneh dengan sikap tenang Hiro. "Baiklah!" katanya sembari menyerahkan map coklat yang sedari tadi dibawanya ke arah hadapan Hiro.


"Ini apa?" Hiro berangsur meraihnya.


"Kertas kebebasan lo," kata Dona ambigu.


"Surat perceraian!" Jantung Hiro benar-benar mencelos lemas. Selain kehilangan impian dalam bermusik, Dona pun akan pergi darinya?


Oh, tidak bisa!


Breeeebett...


Tanpa banyak kata lagi, Hiro main merobek kertas itu. Lalu meremasnya di depan mata Dona. Ia jadi menyesal telah memberi Dona kesempatan duluan menyampaikan niatnya. Harusnya, ialah dulu mengatakan maaf dan harapannya untuk bisa kembali berumah tangga.


"Eh, eh, kok lo sobek sih?"


Dengan pandangan nalar ke kertas yang sudah sobek, mulut Dona melongo bingung. "Mau lo apa sih?" serunya mempertanyakan apa yang telah terpikirkan oleh otak Hiro. Kan, dari dulu katanya Hiro ini tidak suka padanya. Lah, ngapa malah merobek kertasnya? Pusing kepala Dona karena tidak bisa menebak jalan pikiran seorang pria.


Tidak niat menjawab, Hiro malah menelepon dengan panggilan video call ke Papa mertuanya. Istimewa, Papa Dona itu langsung menanggapinya di seberang sana. Buru buru, Hiro merangkul bahu Dona membuat gadis itu menegang kaget akan pergerakan Hiro yang tidak terduga.


Saat ingin melepaskan dari rangkulan paksa Hiro, Dona jadi mematung kembali ketika menyadari pemilik wajah wajah di hape Hiro.


"Halo, Pa. Hay, Mama Hilda."


"Halo..." jawab Hilda dan suaminya pelan, lebih penasaran dengan pose keakraban pasutri muda di layarnya. Bukannya tadi siang, hubungan mereka di titik kerenggangan ya? Ini kok...?


"Kami sudah berbicara serius, dan memutuskan untuk rujuk kembali."


"Alhamdulillah. Mama senang mendengar kabar baiknya, Nak. Dan semoga ke depannya rumah tangga kalian di lindungi dari segala hal negatif," doa Hilda penuh ketulusan.


Melihat senyum haru sang Mama, Dona tidak bisa untuk berkata kata. Kampret memang ini sih, Hiro. Maunya apa sebenarnya?

__ADS_1


" Aamiin ... Oh, Ma, Pa. Malam ini kami nginep di apartemen. Mama dan Papa jangan tunggu Dona pulang. Kunci semua gerbang, jendela dan pintu agar nggak ada maling, Pa. Itu aja sih yang mau disampaikan Hiro. Assalamualaikum, Pa, Ma."


"Waalaikumsalam..."


Setelah salam dijawab, Hiro buru buru mematikan sambungan supaya Dona tidak bersuara macam macam ke orang tuanya.


"Lo itu mabuk ya ... Dasar..."


Bugh...


"Awww..."


Demi bebas dari rangkulan Hiro, Dona menginjak ujung jempol Hiro membuat sang empu kaki mengerang sakit.


"Katakan sejujurnya, lo maunya apa?" Dona kembali menanyakan ketidakpahamannya maksud Hiro yang mengarang bebas ke orang tuanya tadi.


"Lo itu bodoh atau apa sih?" Hiro yang gemas, mengetuk jidat Dona sedikit keras. Membuat sang Empu cemberut sembari mengelus kulitnya yang berdenyut. "Gue nggak mau cerai! Buka lebar lebar kuping lo. Sekali lagi gue perjelas! Kalau gue nggak mau cerai. Titik!"


Kepala Dona sampai dimiringkan demi bisa melihat ekspresi wajah Hiro. Ia ingin mencari sebuah kebenaran di sana. Tapi, ekspresi Hiro itu tak bisa ia baca karena Dona memang bukan ahli pengamat mimik seseorang.


"Apa?" tantang Hiro. Mimik wajah Dona mencurigakan. Pasti berpikir yang tidak tidak padanya.


"Lo ingin balas dendam ke gue ya? Hayo ngaku aja!"


Tuh kan, apa ia bilang, Dona suudzon padanya.


"Lo mau bukti apa, eum? Ngebelah dada gue biar lo tau kalau gue bersungguh-sungguh? Ayo belah?"


"Dih, gombalan basi." Dona masih tetap menuduh Hiro yang tidak tidak. Bisa saja, Hiro ini sedang menjadi serigala berbulu domba kan?


"Basi? Baiklah, kalau begitu gue akan buktiin dengan cara membuat adonan anak langsung?" Hiro menyeringai jahil. Ternyata seru juga menggoda Dona yang tukang godain dirinya sebelumnya.


"Bu-buat anak?" Dona terbata bata gugup. Ia mundur mundur jiper. "Lo-lo akan ngebuat gue hamil, terus saat waktu nya lo nyampakin gue begitu aja kan? Nggak! Gue nggak mau ketipu."


Sabar... Memang butuh waktu untuk meluluhkan hati yang sudah kehilangan kepercayaan untuknya.


"Dona, gue nggak mau sesumbar mengatakan 'gue cinta lo'. Itu hanya sebuah kata yang nggak berarti untuk lo saat ini. Tapi jika lo mau bukti, gue akan buktikan dengan perbuatan, bukan sekadar kata kata bullshiit. Moga moga, dengan ketulusan pembuktian gue, lo bisa berangsur angsur melupakan kekecewaan yang pernah gue buat. Gue cuma minta waktu!" pinta Hiro dengan suara memohon.


Duh, boleh percaya nggak sih kata kata manis Hiro? Tapi, tapi ... Ah, Dona juga curiga kalau Hiro ini mau balas dendam semata.


" Dona...?" kata Hiro meminta jawaban pada Dona yang terlihat berpikir keras.


" Jangan ganggu dulu! Gue lagi menimbang-nimbang, antara percaya atau nggak!" sahut Dona seraya menatap wajah Hiro yang terlihat berantakan tapi masih stay cakep.


"Jangan galak-galak sama istri, nanti bucin, gue nya yang jual mahal loh."


Selintas, Dona yang sedang berpikir keras malah mengingat kalimatnya saat itu ke Hiro.


"Jual mahal? Ide bagus! Gue akan lihat perjuangan lo. Baru bisa terbukti, apa lo benar cuma sekadar mau balas dendam atau sudah benar benar kena karma," batin Dona dengan seringai penuh misterius.


"Pokoknya, lo nggak beri kesempatan, gue juga tetap berusaha," putus Hiro. Sejurus bergegas ke arah pintu utama.


Klik...


Kunci aman biar Dona tidak pulang ke rumah orangtuanya.


"Weey, kok di kunci?"

__ADS_1


"Biar lo nggak kabur. Gue mau pesan makan online, lo mau menu apa? Dan ah, mulai sekarang, jangan terlalu menyiksa diri sendiri dengan cara diet ketat. Gue akan cinta lo apa adanya."


Duh, kenapa sih harus sekarang Hiro bermulut manis? Ah, kan Dona jadi bimbang.


__ADS_2