
"Eh, kalau ngomong itu dijaga ya. Saya akan menuntut mu atas kasus pencemaran nama baik. Sekata kata kamu nuduh anak saya pencuri! Pokoknya, saya tidak terima, anak bau kencur seperti mu bertindak sampai tidak tahu batasan! Orang tua macam apa yang mendidik anaknya kurang ettitude seperti ini."
Mama Liana yang bernama Novia ini, meradang tingkat ubun ubun. Ia yang berada di depan panggung sampai menunjuk nunjuk kasar ke arah Dona yang masih stay di atas panggung. Naluri ibunya meronta ronta anaknya dikatain maling oleh Dona. Istimewa, Dona ini sudah berani mempermalukan anaknya di depan khalayak umum. Harga dirinya ikut terinjak injak oleh kelancangan Dona. Tidak bisa dibiarkan, anak bau kencur itu harus sedikit diberi pelajaran hidup, biar kedepannya kudu ngotak dulu, agar tidak berbicara ngasal.
Sementara, si tersangka kini bak ikan yang habis terkena bius listrik, Liana punya rongga tapi melupakan cara bernafas bebas. Ia yang tahu, dirinya lah yang bersalah, tidak bisa banyak bacot. Dalam hatinya, ia merutuki keputusan Mamanya yang membawa nama polisi. Matilah dirinya kalau terbukti bersalah.
Lain halnya Hilda, melihat anaknya mendapat semburan galak tepat di depan mukanya. Lebih lebih, wanita sebayanya itu sudah mempertanyakan cara didik penuh kasih sayang dan ketegasannya selama ini, memutuskan untuk turun tangan juga. Cukuplah waktu berlalu ia tidak bisa melindungi anaknya dari bullyan, karena memang Dona tidak terbuka dalam keluarga. Sekarang? Oh, tidak bisa. Mari berperang demi harga diri anak masing-masing.
"Meski saya baru mendengar insiden ini, saya pribadi sangat percaya dengan anak saya. Enak saja Anda ini mempertanyakan cara didik saya. Daripada mengatakan hal buruk tentang cara didik mendidik, lebih baik mempertanyakan terlebih dahulu cara didik Anda, sudah benar atau masih kurang? Karena ini sudah merupakan perjuangan harga diri, saya setuju saja kalau memang Anda menginginkan permasalahan ini ke jalur hukum! Toh, undang undang tentang plagiator memang sudah tercatat jelas pasalnya."
Hilda ikut berkacak pinggang galak. Kalau mau gulat layaknya petarung bebas, ya hayo hayo saja. Toh, mama Liana ini menang dempul dan mulut pedas doang, tenaganya kerempeng seperti anaknya yang imut imut kayak marmut.
Tidak bisa bersikap elegan nan tenang lagi, Dona memutuskan untuk turun dari panggung, rencananya sedikit keluar jalur karena para orang tua sudah turut ikut campur. Lebih lebih, Mamanya serta Mama Liana sudah berhadap hadapan bak predator siap memamerkan taring pemangsanya. Jangan sampai jambak jambakan dah, runyam.
Baru juga Dona sampai di sisi Hilda, Papa mertuanya berikut beberapa guru turun tangan mengurus masalah yang bukan perkara biasa lagi, karena kedua belah pihak sudah menyebut nyebut jalur hukum. Ekstrim ini mah, ekstriiim.
Pak Fauzi sebagai kepala sekolah, tentu saja tidak bisa diam melihat cela buruk akan nama baik sekolahnya.
"Tenang, tenang dulu, tenaaaaang!" karena diabaikan, Pak Fauzi sampai berteriak menggunakan mikrofon. Suara 'nyiiiing' dari pengeras suara yang sengaja dimainkan Pak Fauzi, berhasil membuat telinga orang-orang berdengung. Dan seketika... hening. Syukur, mikrofon masih aman dari bantingannya. Tidak jadi rusak fasilitas sekolah itu.
"Tolong kerja samanya! Ini sudah menyangkut nama baik sekolah, jadi saya sebagai pemimpin di sini, melarang keras adanya pihak berwajib terlebih dahulu. Semua masalah, pasti ada jalan keluarnya. Jadi ku mohon, bagi pihak yang bersangkutan, mari ikut saya ke ruangan guru untuk membicarakannya secara kepala dingin. Karena ini sudah hal sensitif untuk di bicarakan di depan umum. Dona, Liana serta personil Fourged lainnya, mari ikut Bapak. Dan bagi para tamu yang terhormat, saya pribadi serta seluruh tim sangat sangat meminta permohonan maafnya karena adanya insiden tak terduga ini."
Dengan wajah tertunduk malu, Pak Fauzi membungkuk takzim kepada para tamunya, mulai dari perwakilan Universitas sampai ke para wali.
Apa boleh buat, semua yang bersangkutan harus menuruti perintah Bapak kapsek. Para wali Fourged pun ikut serta, begitupun dengan orang tua Dona yang menggebu gebu memperjuangkan harga diri anaknya.
Karena sudah menyangkut harga diri itulah, Hilda dan Amar kali ini mengesampingkan kekerabatan keluargaannya dengan Tania dan Pak Fauzi yang merupakan besannya. Pasti, orang tua itu membela Hiro - anaknya bukan?
"Silakan duduk semuanya." Setelah di dalam ruangan privasi, Pak Fauzi mempersilakan sopan para tamu tamunya. "Ibu Gea, tolong siapkan minuman dingin terlebih dahulu, biar tamu tamu kita bisa diajak berbicara secara adem." Sedikit ada sendiran halus di suara Pak Fauzi. Di sini, ia berada di tengah-tengah tamunya itu sebagai kepala sekolah yang akan berlaku adil, seadil-adilnya.
"Nggak ada namanya acara minum ala ala dipantai layaknya sedang santai. Langsung saja ke intinya, karena saya sudah tidak sabar mendengar ada orang yang meminta maaf sampai berlinang air mata ke anak saya." Mulut nyinyir pedas Ibu Novia ini memang menyebalkan.
"Maaf, Bu. Kalau Anda cuma mau memperkeruh keadaan yang memang sudah tidak kondusif ini, maka terpaksa saya akan menyuruh Anda keluar. Tapi jikalau Anda ingin masih stay di sini, maka saya meminta kerja samanya. Perkara tidak akan menemukan jalan keluarnya, kalau kita semua menggunakan emosi!"
Ibu Novia yang tidak mau di usir oleh suara tegas tegas sopan Pak Fauzi, terpaksa menutup mulutnya rapat rapat, tapi tidak dengan tatapannya yang sinis ke arah pihak Dona.
"Bapak akan mendengar cerita dua sisi dari kalian. Siapa duluan yang akan bercerita? Dona apa Liana?" Dengan bijak, Pak Fauzi mempersilakan dua orang yang bersangkutan ini untuk menyampaikan pembuktian masing-masing.
Dona dan Liana saling menatap, bukan hanya Liana, melainkan Hiro dan dua kawan Fourged lainnya kompak menatap penasaran ke Dona.
__ADS_1
Seperkian detik, para siswa-siswi itu hanya diam seribu bahasa. Kalau Dona sih, sebenarnya masih ingin mendengar pengakuan gentlman Liana. Maka sebagai gantinya, ia bisa memberi kata maaf.
"Kalian semua kenapa mendadak membisu? Dona, bisa dijelaskan, kenapa lagu yang beberapa hari ini Fourged populerkan, kamu akui secara tiba tiba? Jelasin pada Bapak," tutur Pak Fauzi mode kapsek yang berwibawa.
"Saya akui karena lagu itu memang milik saya," ungkap Dona benar-benar deal tidak akan memberi ampun pada Fourged.
"Ada buktinya?" Kali ini, Ibu Gea sebagai guru Seni di sana, ikut mencecar Dona.
"Bukti, tentu ada, Bu. Saya tidak akan bertindak asal asalan mengakui jika tidak memiliki bukti kuat."
Liana tiba tiba berkeringat dingin. Wajahnya memucat seakan-akan darah enggan mengaliri area tersebut. Ia serba keder, mau maju atau mundur sudah tidak ada jalan lagi.
"Mana buktinya, coba perlihatkan pada kami semua." Viko yang sedari tadi diam saja, akhirnya bersuara karena sangat gemas dengan kericuhan yang terjadi.
"Gue __maksudnya, Saya menunggu Olla. Tas yang saya titipkan sebelum naik ke panggung ada bersamanya." Dona menjawab tenang. Ia yang sadar jika tatapan Hiro tak pernah beralih darinya, sedikit tidak nyaman. "Mama, tolong telepon Olla. Hape Dona ada di tas," pinta Dona pada Mamanya dan mencoba mengabaikan atensi Hiro.
Hening, mereka diam dengan tatapan ke Hilda sedang menghubungi Olla. "Biar real, saya akan menyalakan speakernya."
"Halo, Tan." Tersambung, suara Olla terdengar aneh. Seperti ... sedang mengeden.
"Cepat ke kantor, Dona membutuhkan tasnya yang kamu bawa."
Hilda meringis, baru sadar kalau Olla di seberang sana ternyata lagi boker.
Matiin cepat dari pada bayangan Olla yang lagi buang racun perutnya, jadi terbayang bayang.
"Seraya menunggu Olla datang, Bapak ingin bukti dari mu, Liana."
Liana jelas gelagapan. Bingung harus memberi pembuktiannya kepada Pak Fauzi.
"Kok lo diam saja si, Na? Cepat buktikan!" tuntut Viko tak sabaran.
Ibu Novia yang ingin membela anaknya, jadi tertelan akan suara Hiro. "Liana sepertinya memang membohongi kita."
Andai dari awal Hiro mengatakan itu, mungkin Dona tidak akan terlalu merasakan kekecewaan. Dan mungkin juga, suasana tak mengenakkan ini, tidak akan pernah ada. Sayang, kesadaran Hiro sudah tidak berguna bagi Dona. Terlambat!
"Bukan begitu," tepis Liana masih ingin menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.
Dona tersenyum miring mendengarnya, kali ini ia sangat menikmati tampang Liana yang serba salah.
__ADS_1
"Kalau memang benar lagu itu milik lo, seharusnya lo nggak diam saja!" Riko kini yang mencecar Liana.
"Pembuktian apa yang kalian minta, saya yang membuat lagu itu, jadi sebagai tukang ngaku, Dona sendirilah yang harus membuktikannya."
Masih punya mulut besar, padahal sudah terpojok. Dona muak, sangat.
"Assalamualaikum, saya datang membawa barang yang ditunggu__" Karena ditatap semua orang, Olla yang baru datang dengan sikap aslinya yang tengil dan serampangan, jadi terjeda. Olla segera memberikan tas cantik Dona dengan mulut tertutup rapat, tidak mau mengganggu acara sidang orang-orang di depannya.
"Tunggu apalagi, silakan keluar, Olla."
Owalaaa, setelah diberi tatapan dingin oleh Pak Fauzi, pakai di usir pula. Kan, ia mau jadi saksi antusias nasib buruk Liana. Ia juga sudah mempersiapkan goyangan ala ala jaipong khasnya untuk mengejek Liana nanti. Gagal deh.
"Baik, Pak. Waalaikumsalam, eh assalamualaikum." Dengan kaki terpaksa, Olla pergi dari ruangan panas panas menegangkan itu.
Belum sempat Dona mengeluarkan bukti yang dimaksud, pernyataan Liana yang selama ini Dona tunggu tunggu akhirnya tercuat begitu saja.
" Sa_saya mengaku salah. Saya memang mencurinya dari Dona!"
Dan pengakuan itu, membuat mata kaget orang-orang tertuju semua ke Liana yang tertunduk dalam dalam dengan jari jemarinya diremat gugup.
"Kamu itu kenapa bisa linglung begini? Pasti kamu tertekan karena dipojokkan, jangan mengakui yang tidak tidak!" Ibu Novia yang terlanjur malu sudah bernyap-nyap sedari tadi, rasanya tidak mau menerima kesalahan anaknya yang ada. Malu coeg.
"Dona, ma_maaf..." Liana tidak mengindahkan omelan sang Mama. Selain meminta maaf, ia tidak punya pilihan lain. Dan semoga, Dona tidak mempersalahkannya lagi.
"Kenapa harus buru buru meminta maaf. Bahkan, bukti saya yang diminta semua orang, belum saya perlihatkan, bukan." Sudah ia bilang dari sebelumnya, Liana ini sudah terlambat. Mentegakan hatinya, Dona memberi bukti pada Pak Fauzi dan kuping kuping lainnya untuk mendengar audio ketidaktahuan Liana mengakui kejahatannya sendiri di toilet tempo hari.
Waktu itu, Dona yang terlebih dahulu berada di salah satu toilet, tidak sengaja mendengar percakapan Liana dan Yuna yang baru masuk, membahas soal kecurangan lagunya. Tentu saja ia mengambil kesempatan emas itu untuk merekam suara mereka. Skakmat kan.
"Hiks... Hiks, Dona, tolong maafin gue..." Karma mulut besar Ibu Novia terjadi langsung. Bukan Dona yang memohon sembari menangis meminta kata maaf, melainkan anaknya sendiri yang ketakutan karena mengira Dona dan keluarganya akan menuntut ke meja hijau atas tuduhan pencurian dan plegiarisme sebuah karya.
"Dona, bagaimana? Apa kamu mau memaafkan Liana?" tanya Pak Fauzi. Karena sudah berjanji dari awal akan bertindak adil, maka ia harus melaksanakannya. Semua keputusan ada pada Dona saat ini.
"Maaf, Pak. Liana, maksud saya Fourged sudah memakai lagu saya tanpa ada kata izin. Jadi, saya ingin menuntut hak."
"Mampus lo pada, mampusss..." Olla yang bandel, ternyata masih setia menguping di ambang pintu yang terbuka sedikit, sengaja dilakukannya demi tidak melewatkan sidang yang sangat seru ditonton.
"Fourged? Apa maksudmu? Di sini, Liana yang bersalah. Bukan band kami? Jadi, lo__maksudnya, kamu tidak boleh menyangkut pautkannya." Hiro yang mendengar Dona menyangkut pautkan nama band nya terpaksa harus memprotes.
Dona menyeringai tajam, inilah salah satu momen yang ia tunggu tunggu yakni berargumen ketat dengan ketua Fourged. Hiro ini cinta mati dengan hal musik, kalau ia menghancurkannya, apa yang akan Hiro perbuat?
__ADS_1