Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 7# Pakar Cinta Ala-Ala


__ADS_3

"Lo gimana sih, La, kok yang kena malah si Hiro?" Dona ngomel ngomel saat mereka sudah sampai di ruangan loker para siswa.


"Yaaah, jangan salahin gue!"


"Terus nyalain siapa?"


"Sono, salahin Pak Presiden!" Olla menjawab malas sembari membuka pintu lokernya. "Ya tentu aja salahin Hiro sendiri lah. Lo kan nggak buta, Hiro lindungi Liana." Baju seragam putih abu abu Olla keluarin dari loker, tidak minat lagi lanjutin main futsalnya di buat oleh kebawelan Dona.


Dug dug dug...


Atensi Dona dan Olla tertuju seketika pada bola yang terpantul ke pintu loker satu ke yang lainnya. Ulaaaah..." Mampus, Hiro kemari, La."


Olla sih biasa saja. Dona yang kelabakan, celana futsal Olla bagian belakang ia tarik tarik sampai melorot setengah. Cepat cepat sang empu celana menepis tangan Dona sembari menoleh horor.


"Itu bola siapa?" tanya Hiro sembari berdecak pinggang galak menatap Dona dan Olla bergantian.


"Punya Olla. Tapi, gue yang salah." Dona mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku saja. Berani jahil, berani pula bertanggungjawab bukan? "Maaf, Hiro." katanya pelan dengan nada penuh rasa bersalah. Kasihan hidung suaminya yang saat ini salah satu lubangnya disumpel oleh kapas kecil.


"Maaf? Lo lihat kan hidung gue? Ter-lu-ka!" Saking jengkelnya, Hiro sampai menekan ujung kalimatnya. "Kamu terlalu kekanak kanakan."


Dona yang merasa bersalah, hanya bisa diam saja dengan kepala tertunduk.


"Bukan Dona yang kanak kanakan, tapi lo. Dia itu cuma ingin membeli apa yang Liana lakuin. Pacar lo itu, uda berhasil membuat Dona dihukum sendiri ngebersihin toilet. Sedangkan dia, apa coba? Nyanyi mesra sama lo. Gue aja enek lihatnya apalagi Dona sebagai is__"


"Diam!"

__ADS_1


Hiro segera pergi. Meladeni Olla sama saja bunuh diri. Buktinya si tomboy itu nyaris keceplosan stasusnya bersama Dona. Untung ruang loker sepi.


"Pasti Hiro makin benci deh sama gue," ujar Dona merana dengan bibir cemberut lesu.


Olla berdecak resah. Ia paling tidak tega melihat wajah ceria Dona di sapu ombak galau.


"Jangan galau lagi. Kalau lo memang benar-benar ingin berusaha mendapatkan cinta Hiro, gue bantuin deh." Apa boleh buat, Olla harus mengalah demi kebahagiaan Dona.


"Seriusan?" wajah Dona kembali bersinar. Olla mengangguk. "Aaarggh... Lo memang sohib sejati gue," puji Dona sembari memeluk erat erat tubuh rata Olla.


"Lebay ... lepas ah. Sesak niiiih..."


Dona terkekeh sembari melepaskan pelukannya. Mengikuti Olla yang hendak keruangan kecil khusus mengganti pakaian.


"Tapi, caranya gimana, La. Lo kan tahu sendiri, Hiro susah ditaklukin." Dona bertanya di balik pintu.


Ceklek...


"Bhahaha..." Dona ngakak melihat penampilan kancing Olla. "Lo dan Nara oon-nya sama. Suka ngancingin baju miring melintang."


"Kampret!" desis Olla mengomeli bajunya sembari membetulkan apa yang salah. "Mingkem nggak? Atau gue nggak akan bantu lo."


Tawa Dona seketika redah. "Jangan gitu, La. Cepat katakan, caranya gimana sebelum jam pelajaran lanjut nih."


"Ntar, gue nanya dulu sama mbah gugul." Seperti pakar cinta, Olla dengan percaya dirinya mengeluarkan hape. "Okay google, bagaimana cara menaklukkan cinta seseorang," kata Olla ke hapenya itu.

__ADS_1


Sederet kalimat cerewet dari suara perempuan terdengar seketika oleh Dona dan Olla. Keduanya saling pandang penuh arti lalu tertawa bersama.


"Tatap matanya lekat lekat katanya, La!" seru Dona merangkum singkat instruksi dari mbah google.


"Hooh, Don. Dari mata turun ke hati," kata Olla dengan gaya pakar cinta ala alanya. Dada ia tepuk bangga.


"Let's see! I'm ready, gooooo...!" Dona siap mempraktekkannya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Gadis yang dijuluki sapi bocor itu, main pergi mencari keberadaan Hiro. Olla menggeleng pelan di belakang sana. Membiarkan Dona melakukan sesuai kesenangan sahabatnya itu.


Sepersekian menit mencari Hiro, akhirnya si suami cogan ketemu juga yang berada di dalam ruangan Osis bersama Viko dan Riko serta Liana. Cewek itu ngintil melulu. Sebal Dona deh. Tapi nggak masalah, sebentar lagi Hiro akan klepek - klepek padanya.


"Hai, Dona. Nyari gue, ya?" sambut Riko ramah.


Mendengar nama Dona, Hiro yang tadinya mencatat sesuatu, seketika mengangkat pandangannya. Mau apalagi tuh si sapi bocor. Pakai melotot segala ke arahnya. Liana uda bete saja mukanya. Awas saja nanti kalau macam macam.


"Eh, Dona ke serupan kali ya. Matanya melotot terus ke lo, Hir. Mana disapa tadi oleh Riko tapi nggak nyahut nyahut. Kalau bukan keserupan, apalagi coba?" bisik Viko was was. Riko pun berpikiran sama. Mungkin si Ndut mau balas dendam kali padanya gara gara di depan pagar tadi, ia minta sun pipi oleh si Ndut berwajah imut lucu ini. Seraaam. Liana yang mendengar itu, auto kicep juga.


Tidak pikir panjang, Viko dan Riko serta Liana ngacir brutal. Saat ingin melewati sisi Dona dekat pintu itu, ketiganya malah nabrak ujung kusen. Sakitnya tuh di pundak.


"Dona...?" Hiro yang tadinya santai karena mengira Dona cuma caper saja, berujung was was juga karena terus dipelototin. Fixed ... ciri ciri Dona ini memang seperti orang kesurupan.


Hiro bangkit dari kursi, hendak ngacir menyusul Viko dan Riko serta Liana yang tidak setia kawan.


Saat posisi mereka tinggal satu langkah lagi, Dona tiba-tiba memeluk Hiro. "Aaarggh... Pergi kau setaaaan." Hiro yang kaget gemetaran, mencak-mencak di pelukan itu supaya dilepas oleh Dona.


Terlepas!

__ADS_1


Kabuuuuuur....!


"Gagal ya? Kok kabur sih? Apa gue terlalu seram menatapnya? Sialan, gue malah dikira setan," gumam Dona dengan ekspresi bodohnya.


__ADS_2